Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 gema kematian di tengah rimba
Langit Hutan Ilusi tidak mengenal pergantian siang dan malam, hanya awan ungu kelabu yang berputar statis, memancarkan pendar redup tanpa ujung. Memasuki hari kelima, atmosfer di dalam dimensi lipatan ini berubah dari antusiasme berburu menjadi keputusasaan murni. Banyak kelompok murid mulai menyadari bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah binatang buas atau ilusi hutan, melainkan sesama murid yang kalap berebut sumber daya.
Di dekat sebuah sungai bawah tanah yang berair hitam pekat, kelompok kecil beranggotakan tiga orang murid tingkat empat sedang beristirahat. Wajah mereka kelelahan, jubah abu-abu mereka kotor oleh lumpur dan noda darah. Salah satu dari mereka, seorang pemuda berwajah tirus, sedang membersihkan pedangnya yang sumbing.
"Kita hanya mendapatkan sepuluh batu urat roh tingkat rendah setelah bertarung setengah mati melawan kawanan kera bayangan," gerutunya kesal, meludah ke arah sungai. "Dua teman kita mati, dan hasilnya bahkan tidak cukup untuk menutupi biaya penyembuhan jika kita kembali hidup-hidup."
"Diamlah, Liu," tegur rekannya yang memiliki codet di dahi. "Kita lebih beruntung daripada kelompok si Gendut Wang. Kudengar seluruh kelompoknya dibantai oleh Fraksi Pedang Darah kemarin lusa hanya karena mereka menolak menyerahkan hasil buruan."
Murid ketiga, seorang gadis bertubuh kurus, menghela napas panjang. "Fraksi Pedang Darah benar-benar merajalela di Hutan Ilusi tahun ini. Mo Jue memimpin puluhan elit masuk ke dimensi ini. Tidak ada satu pun tetua yang mengawasi. Mereka bertindak bagai dewa kematian."
Saat ketiga murid itu sibuk berkeluh kesah, angin dingin tiba-tiba berhembus, membawa aroma tembaga berkarat yang menyengat.
Ketiganya langsung terdiam. Naluri bertahan hidup mereka yang diasah selama lima hari terakhir mengirimkan sinyal bahaya ekstrem. Pemuda berwajah tirus mencengkeram gagang pedangnya erat-erat, matanya menyapu pepohonan kristal di seberang sungai.
"Siapa di sana?! Keluar!" teriaknya memecah kesunyian, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya.
Dari balik kegelapan rimbunnya hutan, sesosok bayangan perlahan melangkah maju, membiarkan cahaya redup hutan menyoroti wajahnya.
Itu adalah seorang pemuda dengan jubah abu-abu yang robek di beberapa bagian, memperlihatkan otot padat berwarna perunggu keabu-abuan. Rambutnya diikat asal-asalan. Tidak ada senjata di tangannya, matanya memancarkan ketenangan absolut layaknya danau beku.
Ketiga murid itu saling pandang, mencoba mengenali sosok tersebut. Gadis kurus itu tiba-tiba tersentak mundur, wajahnya memucat seputih kertas.
"L-Lin Chen..." bisiknya dengan bibir gemetar. "Iblis Pelataran Luar..."
Mendengar nama itu, kedua pemuda lainnya langsung mundur dua langkah, pedang mereka terangkat tinggi dengan postur bertahan. Reputasi Lin Chen yang membunuh Li Kuang sang raksasa hanya dengan satu pukulan di arena masih menghantui mereka. Mereka tahu pemuda ini bukan tandingan praktisi tingkat empat biasa.
Lin Chen menghentikan langkahnya di tepi sungai. Ia tidak memandang mereka sebagai musuh atau mangsa. Matanya menyapu sekitar, lalu menatap ketiga murid ketakutan itu dengan ekspresi datar.
"Aku tidak berminat pada nyawa atau batu roh murahan kalian," suara Lin Chen terdengar berat dan jelas, mengusir sedikit ketegangan di udara. "Aku sedang mencari Fraksi Pedang Darah. Apakah kalian melihat anggota mereka dengan lencana pita merah melintas di sekitar sini?"
Pemuda bercodet itu menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab. "M-mereka... kami melihat sekitar sepuluh orang dari mereka pagi tadi. Mereka bergerak menuju Lembah Seribu Gema di utara, berkumpul dengan kelompok lain. Kudengar mereka sedang menyergap kelompok elit dari Fraksi Bunga Teratai."
Lin Chen mengangguk pelan. "Lembah Seribu Gema. Terima kasih informasinya. Saran dariku, bersembunyilah di dalam gua dan jangan keluar sampai gerbang dimensi terbuka dua hari lagi. Hutan ini akan segera dipenuhi oleh lautan mayat."
Tanpa menunggu balasan, Lin Chen memutar tubuhnya. Kakinya yang masih memakai Baja Hitam Rawa memberikan sedikit hentakan ke tanah.
*Wusss!*
Lumpur di tepian sungai sedikit meletup. Tubuh Lin Chen menghilang dalam sekejap mata, hanya meninggalkan embusan angin tajam yang menggetarkan dedaunan pohon kristal. Kecepatannya jauh melampaui kemampuan mata ketiga murid tingkat empat itu untuk mengikuti.
Gadis kurus itu jatuh terduduk, kakinya kehilangan tenaga. "D-dia berada di tingkat berapa sekarang? Auranya tadi... terasa lebih mengerikan daripada Tetua Penegak Hukum."
Kedua temannya tidak menjawab. Mereka segera membereskan sisa barang mereka dan melarikan diri mencari tempat bersembunyi teraman yang bisa mereka temukan, mengikuti saran sang Iblis.
Sementara itu, di Lembah Seribu Gema, kondisi benar-benar sesuai dengan nama tempat tersebut. Lembah ini dikelilingi oleh tebing batu kapur yang memiliki struktur akustik unik. Suara sekecil apa pun akan memantul berkali-kali, menciptakan gema yang membingungkan pendengaran.
Di dasar lembah, pertarungan tidak seimbang sedang berlangsung.
Delapan orang siswi berjubah putih bersih dengan sulaman bunga teratai di dada sedang bertarung mempertahankan hidup mereka. Mereka adalah anggota elit Fraksi Bunga Teratai, kelompok murid perempuan terkuat di pelataran luar. Pemimpin mereka, seorang gadis cantik bernama Li Xue, mengayunkan pedang panjangnya yang memancarkan aura es tingkat lima puncak, mencoba menahan serangan bertubi-tubi dari musuh.
Musuh mereka adalah dua puluh anggota elit Fraksi Pedang Darah. Semuanya memakai lencana pita merah di lengan. Kelompok ini dipimpin oleh dua algojo tingkat enam: saudara kembar bernama Ma Lei dan Ma Feng. Mereka sengaja mengurung kelompok Li Xue di lembah ini bukan sekadar untuk merampas batu roh, melainkan berniat menculik para gadis tersebut sebagai 'hadiah' tambahan bagi Zhao Tian.
"Menyerahlah, Kakak Li Xue!" tawa Ma Lei menggema menjijikkan memantul dari dinding tebing. "Pertahanan esmu tidak akan bertahan setengah jam lagi. Menyerahlah sekarang, serahkan semua batu urat roh kalian, dan kami mungkin akan bersikap lembut saat menyiksa kalian nanti malam!"
"Bermimpilah, Anjing!" balas Li Xue dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang cantik telah dipenuhi debu dan keringat. Tiga dari delapan adik seperguruannya sudah terluka parah dan terbaring di tanah. "Fraksi Bunga Teratai lebih memilih mati bunuh diri daripada tunduk pada sampah seperti kalian!"
Ma Feng, kembaran yang memegang tombak berduri, menyeringai dingin. "Keras kepala. Patahkan kaki gadis-gadis itu! Sisakan Li Xue untukku!"
Para anggota Fraksi Pedang Darah bersorak buas. Mereka mulai mempersempit kepungan, melepaskan serangan Qi jarak jauh secara bersamaan untuk menghancurkan perisai es Li Xue.
Li Xue menggertakkan gigi, bersiap menggunakan teknik terlarang yang akan membakar esensi darahnya demi memberikan celah bagi adik-adiknya untuk kabur. Ia tahu itu adalah tindakan bunuh diri, tapi ia tidak memiliki pilihan lain.
Namun, sebelum Li Xue sempat memicu tekniknya, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.
Di tengah-tengah formasi belakang Fraksi Pedang Darah, udara tiba-tiba berdesir tajam. Sesosok bayangan manusia jatuh dari langit seolah diteleportasi, mendarat di atas batu cadas dengan suara hantaman berat yang membuat formasi musuh tersentak kaget.
Kedua puluh algojo Fraksi Pedang Darah serempak menoleh ke belakang.
Di atas batu tersebut, berjongkok seorang pemuda berjubah abu-abu robek. Tangannya bertumpu di atas tanah. Matanya menatap tajam bagai elang yang menemukan mangsanya.
Ma Lei memicingkan mata, mencoba mengenali sosok kotor tersebut. Sesaat kemudian, wajahnya berubah menjadi campuran antara keterkejutan dan kegembiraan buas.
"Lin Chen!" seru Ma Lei keras. "Kau belum mati? Kakak Mo Jue mencarimu ke Rawa Bisikan berhari-hari yang lalu! Rupanya kau melarikan diri seperti tikus pengecut hingga ke sini. Kerja bagus, teman-teman! Kepala pemuda ini bernilai ribuan poin jasa dari Tuan Muda Zhao!"
Mendengar nama Mo Jue disebut, bibir Lin Chen melengkung membentuk senyuman mengerikan. Ia perlahan berdiri tegak, merenggangkan persendian lehernya hingga berbunyi gemeretak renyah.
"Mo Jue tidak sedang mencariku," suara Lin Chen tenang, namun menggema di seluruh lembah berkat struktur akustiknya. "Mo Jue sedang membusuk di bawah lumpur Rawa Bisikan, bersama tiga puluh elit kalian lainnya."
Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong. Kedua puluh anggota Fraksi Pedang Darah membeku sejenak, saling memandang dengan tidak percaya. Mo Jue adalah praktisi tingkat enam puncak, sang tangan kanan mutlak. Berita kematiannya dari mulut Lin Chen terdengar seperti omong kosong belaka.
"Tutup mulutmu, Sampah pembual!" raung Ma Feng marah, mengangkat tombaknya. "Jangan dengarkan kebohongannya! Dia hanya berada di tingkat tiga! Serang dia bersama-sama! Cincang dia!"
Sepuluh dari dua puluh orang itu langsung memutar arah serangan mereka dari kelompok Li Xue menuju Lin Chen. Mereka melepaskan berbagai macam teknik senjata—pedang, golok, bilah angin, dan panah Qi—berhamburan mengincar posisi Lin Chen.
Li Xue yang kelelahan menahan napas. Ia berniat berteriak memperingatkan pemuda asing itu untuk menghindar. Namun, teriakan Li Xue tertahan di tenggorokan saat melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Lin Chen tidak menghindar.
Ia mengambil satu langkah berat ke depan. *Napas Karang Esensi* diaktifkan. Kulit perunggu keabu-abuannya ('Akar Tanah Besi') memancarkan kilau logam yang sangat pekat. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, membiarkan tubuh fisiknya menerima hujan serangan itu secara frontal.
*Trang! Clank! Boom!*
Suara benturan logam dan ledakan Qi meletup di sekujur tubuh Lin Chen. Asap dan debu menutupi pandangan semua orang.
"Hah! Bodoh!" tawa Ma Lei sinis. "Menahan serangan gabungan tingkat empat dan lima menggunakan tubuh telanjang? Dia pasti sudah berubah menjadi saringan daging."
Debu perlahan menipis. Tawa Ma Lei terputus seketika, berganti menjadi kengerian absolut.
Di tengah kepulan asap, Lin Chen berdiri kokoh tanpa bergeser satu inci pun. Jubah abunya hancur sepenuhnya dari pinggang ke atas, mengekspos otot-ototnya yang terbentuk bagai pahatan baja kuno. Kulit logamnya hanya memiliki sedikit goresan dangkal. Tidak ada darah. Tidak ada luka fatal. Pertahanan fisiknya, yang didukung oleh Qi tingkat empat puncak, benar-benar kebal terhadap serangan kroco tingkat menengah.
"Serangan kalian sangat lemah, aku hampir tertidur mendengarnya," ucap Lin Chen datar.
Sebelum para algojo itu sempat merespons, layar biru transparan berkedip di depan mata Lin Chen.
**[Medan Pertempuran Area Terdeteksi: Lembah Seribu Gema.]**
**[Musuh: 20 Praktisi Fraksi Pedang Darah. Target Sekunder: Penyelamatan Fraksi Bunga Teratai.]**
**[Silakan tentukan metode eksekusi:]**
**[Pilihan 1: Berteriak menyuruh Fraksi Bunga Teratai membantu Anda. Serang secara terkoordinasi.
Hadiah: Kemenangan lambat. Beberapa gadis teratai akan tewas dalam baku hantam. Anda kehilangan reputasi intimidasi independen.]**
**[Pilihan 2: Gunakan pedang panjang rampasan. Keluarkan energi Qi membentuk serangan area besar.
Hadiah: Sapuan bersih. Cadangan Qi Anda terkuras 60%. Menyisakan kelelahan untuk pertarungan berikutnya.]**
**[Pilihan 3: Manfaatkan akustik lembah. Gunakan teknik 'Batu Tumbuk' pada pilar tebing utama di sebelah kiri formasi musuh. Ciptakan hujan batu raksasa sambil bermanuver jarak dekat menggunakan kelajuan murni.
Hadiah: Efisiensi membunuh 100%. Hemat energi. Peningkatan kendali presisi kecepatan tinggi.]**
Sistem kembali memberikan peta kehancuran yang sempurna. Pilihan ketiga meminimalkan penggunaan Qi Dantian dan lebih mengandalkan energi kinetik dari lingkungan serta kekuatan fisiknya. Membunuh menggunakan batu alam jauh lebih hemat daripada membakar energi spiritual di setiap tebasan.
"Pilihan ketiga," batin Lin Chen tajam. Ia mengunci pandangannya pada sebuah pilar tebing kapur raksasa yang retak, terletak tepat di atas formasi kelompok Fraksi Pedang Darah.
Layar menghilang. Waktu kembali berjalan normal.
Tanpa memberikan kesempatan bagi musuh untuk melancarkan serangan gelombang kedua, Lin Chen memutar Qi di telapak kakinya yang masih memakai Baja Hitam. Beban seratus kilogram itu menekan tanah, lalu meledakkan gaya tolak.
*BUM!*
Batu cadas tempatnya berpijak hancur berantakan. Lin Chen melesat melintasi medan pertempuran. Kecepatannya jauh lebih mengerikan dibandingkan saat di arena; kekuatan fisik tingkat empat puncaknya menanggung beban baja dengan jauh lebih efisien. Ia hanya meninggalkan kilatan abu-abu di mata musuhnya.
"Kemana dia?!" teriak Ma Feng panik, memutar tombaknya ke segala arah.
Lin Chen tidak mengincar manusia. Ia mendarat tepat di dinding tebing sebelah kiri. Dengan postur menyamping, ia menyalurkan seluruh kekuatan fisiknya ke kepalan tangan kanan. *Tinju Pemecah Batu* diaktifkan, memancarkan warna merah menyala yang luar biasa terang.
Ia menghantamkan tinjunya bukan ke musuh, melainkan ke titik retakan utama pilar tebing kapur tersebut.
*KRAAAKKK!!!*
Suara retakan batu raksasa itu diperkuat ratusan kali lipat oleh gema lembah, memekakkan telinga siapa pun yang berada di dekatnya. Pukulan *Batu Tumbuk* yang dipusatkan menghancurkan fondasi tebing selebar lima meter.
Seluruh pilar batu raksasa seberat ratusan ton itu patah, lalu runtuh dengan suara gemuruh mengerikan, jatuh tepat di atas formasi rapat anggota Fraksi Pedang Darah.
"Menghindar! Lari!" jerit Ma Lei histeris, melompat mundur sejauh mungkin.
Hujan bongkahan batu kapur raksasa menimpa para algojo malang tersebut. Teriakan kesakitan, suara tulang patah, dan tubuh yang tergencet membanjiri lembah. Dalam hitungan detik, delapan anggota Fraksi Pedang Darah tewas seketika, terkubur di bawah reruntuhan batu.
Kepulan debu putih tebal menutupi seluruh area.
Bagi praktisi lain, debu ini membutakan pandangan. Bagi Lin Chen, debu ini adalah tirai panggung perburuannya. Mengandalkan pendengaran dan persepsi ruang yang tajam, ia kembali memicu *Langkah Bayangan Berat*.
*Srak!*
Lin Chen melesat menembus kepulan debu. Ia muncul tepat di belakang seorang anggota Fraksi Pedang Darah yang sedang terbatuk-batuk mencari udara bersih. Tanpa ampun, kedua tangan Lin Chen bergerak mengunci leher pemuda itu. Satu putaran kasar ke kanan, dan suara patahan tulang *KRAK* terdengar. Mayat itu dijatuhkan.
Ia bergerak lagi. Bayangan abu-abu menyusup ke tengah kepanikan. Setiap kali ia berhenti, sebuah nyawa melayang. Ada yang dadanya jebol oleh pukulan, ada yang tenggorokannya robek oleh tebasan tangannya yang sekeras besi, ada yang kepalanya dibenturkan ke batu sisa reruntuhan.
Jeritan kematian bergema susul-menyusul, menciptakan simfoni horor di dalam lembah. Ma Lei dan Ma Feng, kedua komandan tingkat enam itu, hanya bisa mengayunkan senjata mereka membabi buta ke arah udara kosong, tak mampu melacak pergerakan hantu mematikan di tengah debu.
Li Xue dan anggota Fraksi Bunga Teratai yang bersembunyi di sudut aman menyaksikan pembantaian sepihak itu dengan tubuh gemetar. Pemuda berjubah compang-camping itu benar-benar menjelma menjadi dewa kematian.
Kurang dari tiga menit kemudian, debu putih perlahan mulai menipis ditiup angin lembah.
Pemandangan di dasar lembah telah berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Delapan belas mayat anggota Fraksi Pedang Darah tergeletak berserakan, separuh terkubur batu, separuh lagi dengan kondisi tubuh hancur akibat pertarungan jarak dekat.
Hanya tersisa Ma Lei dan Ma Feng yang berdiri dengan punggung saling menempel, napas mereka terengah-engah, mata mereka dipenuhi teror murni. Senjata mereka bergetar hebat.
Lin Chen berdiri berjarak lima meter di depan si kembar. Tidak ada darah di tubuhnya yang mengkilap, ia bergerak terlalu cepat untuk terciprat. Napasnya masih teratur dan konstan. Dantiannya baru terkuras dua puluh persen. Pilihan strategi Sistem benar-benar brilian.
"Kau... Iblis!" rintih Ma Feng, keberaniannya telah hancur total. "Tuan Muda Zhao tidak akan pernah melepaskanmu! Fraksi Pedang Darah akan memburu seluruh keluargamu!"
Lin Chen melangkah perlahan mendekat. Mata hitamnya memancarkan kedinginan tanpa dasar.
"Keluargaku?" Lin Chen mengulang pelan, nada suaranya berubah menjadi lebih rendah dan mematikan. "Aku tidak memiliki keluarga. Aku lahir dari rasa sakit, dan sekte ini yang membesarkan amarahku. Zhao Tian? Jangan khawatir. Aku akan mengantarkan kepala kalian berdua sebagai peringatan pembuka sebelum aku mengambil nyawanya sendiri."
"Mati bersama, Saudaraku!" raung Ma Lei, putus asa. Ia membakar esensi darahnya, memicu ledakan Qi tingkat enam puncak hingga batas kehancuran. Bersama Ma Feng, si kembar menerjang maju melepaskan serangan pamungkas mereka secara bersamaan. Tombak es dan pedang api bersilangan mengincar dada Lin Chen.
Lin Chen tidak lagi bermain trik atau menggunakan batu. Ia menyongsong serangan bunuh diri tersebut dengan kekuatan absolut.
Ia memutar *Langkah Bayangan Berat* dan *Batu Tumbuk* secara bersamaan pada batas maksimal. Kedua lengan perunggunya dilapisi cahaya merah pijar. Lin Chen menembus ruang, membiarkan tombak dan pedang lawan itu menggores sisi lengannya, sambil terus melaju ke zona dalam pertahanan lawan.
Tangan kiri Lin Chen mencengkeram tenggorokan Ma Feng. Tangan kanannya mencengkeram tenggorokan Ma Lei.
Momentum serangannya begitu kuat hingga ia mengangkat tubuh kedua algojo itu dari atas tanah hanya menggunakan genggaman satu tangan pada masing-masing leher.
"Uhk—!" Si kembar meronta histeris, menendang-nendangkan kaki mereka ke udara, senjata mereka terlepas dari tangan.
Lin Chen menatap wajah mereka yang memerah kehabisan napas tanpa setitik pun belas kasihan. Ia perlahan mengencangkan cengkeramannya, mematahkan tulang leher mereka selapis demi selapis, menikmati sensasi menghancurkan rantai komando Fraksi Pedang Darah.
*KRAK! KRAK!*
Dua suara patahan tulang serempak menggema pelan. Tubuh Ma Lei dan Ma Feng lemas tak bernyawa seketika.
Lin Chen melemparkan kedua mayat komandan itu ke tumpukan batu di depannya layaknya membuang karung sampah. Fraksi Pedang Darah baru saja kehilangan lima puluh algojo elitnya dalam kurun waktu lima hari di dalam Hutan Ilusi. Struktur faksi terbesar di pelataran luar itu telah dilumpuhkan total oleh satu orang.
Pemuda itu membersihkan debu dari tangannya. Ia tidak membuang waktu mengambil kantong penyimpanan mayat kroco, hanya mengambil milik Ma bersaudara yang kemungkinan berisi artefak berharga.
Setelah selesai, ia menoleh ke arah sudut lembah, tempat kelompok Fraksi Bunga Teratai sedang berdiri menatapnya dengan rasa segan dan takjub.
Li Xue memberanikan diri melangkah maju. Ia membungkuk hormat dalam-dalam, sebuah gestur terima kasih yang tulus. "Penyelamat... Terima kasih atas bantuan Kakak Lin Chen. Fraksi Bunga Teratai akan selalu mengingat hutang nyawa hari ini. Jika ada yang bisa kami lakukan..."
Lin Chen memotong kalimat gadis itu dengan isyarat tangan. Ia tidak mencari rasa terima kasih atau aliansi. Tujuannya sangat praktis.
"Ambil sisa batu urat roh dari mayat-mayat itu. Aku hanya mengambil kantong komandan mereka," ucap Lin Chen datar. Ia kemudian berjalan menjauh, memunggungi gadis-gadis yang masih tak percaya dengan kebaikannya.
Sebelum menghilang di balik tikungan lembah, Lin Chen menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit ke arah Li Xue.
"Sebarkan berita ini jika kalian berhasil keluar hidup-hidup dua hari lagi," suara Lin Chen bergema dingin, memastikan setiap kata tercetak di ingatan mereka. "Sampaikan pada seluruh penjuru sekte luar: Fraksi Pedang Darah telah menemui akhir mereka. Tuan Muda Zhao mereka, adalah targetku selanjutnya."
Lin Chen melompat ringan, tubuhnya berkelebat menaiki dinding tebing dan menghilang di antara rimbunnya pepohonan Hutan Ilusi. Sang Iblis telah selesai bermain-main di belakang layar. Tantangan terbuka menuju hierarki tertinggi pelataran luar telah diumumkan, dan tidak ada satu tetua pun yang mampu menghentikan badai yang akan ia bawa sekembalinya dari dimensi ini.