Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Tanda kemerahan
Setelah pulang kerja Bella langsung di tarik paksa kedua temannya menuju mall, karena sisil ingin membelikan sesuatu itu ibunya.
"Yang kiri atau kanan?" Tanya Sisil meminta pendapat kepada kedua sahabatnya itu.
Bella dan Dian terdiam sebentar, mereka berdua sedang membandingkan kedua kalung yang kini sedang di pegang Sisil.
"Yang kanan." jawab mereka kompak.
"Ok, mbak saya ambil yang ini saja. tolong langsung di bungkus" pinta Sisil kepada pegawai toko.
"Baik, tunggu sebentar."
Sambil menunggu pesanan Sisil di bungkus, Bella terlihat sudah sangat ingin sekali duduk saat ini. karena bagian bawahnya masih terasa perih dan ngilu jika berdiri terlalu lama.
"Guys kita duduk di situ yuk?" Ajak Bella menunjuk ke arah kursi tunggu di dalam toko perhiasan tersebut.
"Iya sudah ayo."
Bella berjalan terlebih dahulu di depan dengan langkah pelan, sampai Sisil dan Dian menatap aneh ke cara jalan sahabatnya itu karena masih sama seperti saat di kantor. mereka berdua pun sampai lupa belum sempat menanyakan tentang kenapa cara jalan Bella agak aneh hari ini, karena mereka terlalu asyik bergosip tentang pak Bisma selaku manager promosi baru di kantor mereka.
"Ahhhhh...." Bella mendesah pelan setelah pantatnya duduk di kursi yang cukup empuk. sedari tadi ia terus menahan rasa sakit di bagian bawahnya selama berjalan mengelilingi mall.
"Kamu kenapa jalannya aneh gitu?" Tanya Dian tiba-tiba setelah duduk di samping Bella.
"Ah... Masa sih?, perasaan biasa saja deh." Elak Bella gugup.
"Kamu jatuh dari kamar mandi ya?, soalnya aneh banget cara jalan mu." Tanya Sisil.
"Tuh denger, Sisil saja sampai bilang cara jalan mu aneh." timpal Dian dengan tatapan penuh selidik.
"Waduh gimana nih?, gak mungkin ngomong sejujurnya sama mereka berdua kalo semalam aku habis di garap sama paman ku sendiri." Batin Bella bingung.
"Hehehe.... iya waktu pagi gak sengaja kepeleset di kamar mandi karena masih mengantuk." cerita Bella berbohong.
"Ya ampun, mangkanya hati-hati Bell." Ucap Dian khawatir.
"Untung aja kamu cuma kepeleset saja kalo sampai kebentur bahaya banget itu." Timpal Sisil sama khawatirnya.
"Aku gak apa-apa kok guys, kalian tenang saja." Jawab Bella sembari tersenyum ke arah kedua sahabatnya itu dengan perasaan agak bersalah.
********
Bella baru saja sampai di mansion, dengan langkah lelah ia langsung berjalan ke arah kamarnya. namun baru juga tangan nya menyentuh knop pintu tiba-tiba terdengar suara berat mendekat.
"Ada yang ingin paman bicarakan, segera datang ke ruang kerja paman sekarang juga!"
Mendengar suara bass Andrew, tubuh gadis itu seketika menegang sempurna karena seharian ini ia sudah susah payah menghindari pria tersebut selama di kantor. namun pada akhirnya mereka berdua akan tetap saling bertemu di Mansion. kini Andrew terlihat mengerutkan keningnya heran karena tidak ada jawaban dari Bella sama sekali.
"Kenapa diam?, kamu tidak mendengar perintah paman!" tegur Andrew sedikit menaikan nada suaranya.
"Bella dengar kok paman, belum tuli!" Jawab Bella tanpa menatap wajah Andrew.
"Kalo begitu paman tunggu di ruang kerja sekarang juga, ada hal yang harus kita bicarakan." Ucap Andrew, lalu pria itu pergi terlebih dahulu melewati tubuh Bella.
DEG!
DAG! DIG! DUG!
jantung Bella tiba-tiba berdetak kencang setelah mendengar ucapan sang paman, kini pikiran wanita itu begitu cemas dan kacau. Ia takut sekali paman nya itu akan membahas tentang kejadian semalam, ia sungguh belum siap mengaku karena sangking malunya dan takut di cap sebagai wanita murahan oleh pamannya sendiri.
"Ya tuhan....gimana nih?, aku harus jawab apa di depan paman nantinya?!" Batin Bella begitu takut.
Sesuai perintah Andrew, saat ini Bella sudah berdiri tepat di depan ruang kerja sang paman. wanita itu terus menatap ke arah pintu dengan kedua tangan saling meremas karena merasa cemas dan takut.
"Ayolah Bella jangan takut, kamu harus jujur saja tentang kejadian semalam. karena percuma saja berbohong sama paman Andrew pasti bakalan ketahuan juga." Batin Bella.
Wanita itu mulai menghela nafasnya pelan sebelum membuka pintu ruangan kerja sang paman.
Klek!
Pintu ruangan tersebut telah di buka oleh Bella. dengan langkah pelan wanita itu masuk dan langsung berjalan ke arah sofa. Di sana sudah ada sang paman yang sedang membaca buku dengan santai. gadis itu tidak langsung duduk di sofa melainkan ia terus berdiri sembari menatap cemas dan takut ke arah sang paman saat ini.
"Kenapa malah berdiri terus di situ?, biasanya juga langsung duduk tanpa di suruh!." heran Andrew melirik sekilas ke arah Bella.
"Hehehe..... ini mau duduk kok paman." Jawab Bella canggung sambil terkekeh kecil, lalu duduk di samping sang paman.
Melihat Bella sudah duduk di sampingnya, pria langsung menutup buku yang sedang ia baca dan ia simpan di atas meja. kini tatapan mata pria itu terlihat menatap tajam ke arah Bella. seketika Andrew langsung bisa merasakan gelagat aneh dari wanita yang ada di hadapan nya itu.
"Apa jangan-jangan ia sudah tahu jika aku akan mengintograsinya karena kejadian di kantor?" Batin Andrew.
Bella terus meremas kedua tangannya sendiri, perasaannya begitu tidak karuan. apalagi sedari tadi sang paman terus menatap tajam ke arahnya. hal itu membuat nyali Bella semakin ciut untuk mengatakan hal sejujurnya kepada sang paman.
"Bella, ada hal yang ingin paman tanyakan kepada mu. tolong kamu jawab dengan jujur."
DEG!
perasaan Bella semakin tidak karuan saat ini, ia semakin meremas kedua tangannya dan menundukan kepalanya takut tidak berani menatap wajah pria yang ada di hadapanya saat ini.
"Ya tuhan, semoga saja paman Andrew tidak terlalu murka dan marah-marah kepada ku." Batin Bella mulai berdoa.
"Kamu mengenal pak Bisma sebelumnya?" Tanya Andrew dengan nada suara agak melembut.
Deg!
Bella yang tengah menunduk seketika langsung terteguh setelah mendengar pertanyaan sang paman yang ternyata jauh sekali dari prediksi otaknya. dengan cepat ia langsung mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah sang paman.
"Paman menyuruh ku ke sini hanya untuk menanyakan hal itu saja, tidak ada yang lain?" Tanya Bella ingin memperjelas dengan tatapan heran.
"Iya hanya itu, memang kamu mengharapkan paman menanyakan apa lagi kepada mu?" Jawab Andrew sambil menatap heran ke arah Bella.
"Sepertinya paman gak inget deh kejadian semalam antara kami berdua." batin Bella agak melamun.
"Hei kenapa melamun?!" tegur Andrew mengibaskan tangan nya di depan wajah Bella, sontak saja wanita itu langsung tersadar.
"Ehh.....gak kok paman, Bella pikir ada hal penting apa sampai paman ingin bicara dengan wajah serius seperti itu. apa ada hal lain yang ingin paman tanyakan juga?"
"Tidak, hanya itu saja yang ingin paman tanyakan kepada mu. jadi cepat di jawab!" Ucap Andrew terlihat tidak sabar.
Awalnya Bella sudah sangat siap sekali untuk menjawab pertanyaan paman nya itu, namun dia langsung terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. apalagi jika itu menyangkut tentang Bisma.
"Gimana ini?, aku jujur atau gak ya tentang Bisma adalah sahabat kecil ku dulu ke paman. kalo aku jujur nanti bisa-bisa Bisma di mutasi lagi ke Surabaya, artinya aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan Bisma." Batin Bella bimbang, karena sikap protektif sang paman selama ini.
"Bella kenapa kamu malah melamun lagi?!" Sentak Andrew terlihat kesal karena Bella tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Ehh....maaf paman, sejujurnya Bella gak kenal sama pak Bisma kok. kita baru berkenalan saat di kantor." Bohong Bella.
"Iya sudah kamu bisa segera keluar dari sini." Ucap Andrew dingin, tidak ingin bertanya apapun lagi.
"Iya paman kalo gitu Bella keluar dulu." Pamit Bella.
Kini Bella mulai berdiri dari posisi duduknya, namun Andrew tidak sengaja melihat kerah kemeja yang di pakai Bella terbuka agak besar. kini Andrew terlihat memicingkan kedua matanya karena telah melihat bercak kemerahan di leher keponakannya itu.
Usia Andrew sudah sangat dewasa dan matang, hanya dengan sekali lihat saja ia sudah tahu jika di leher keponakannya itu bukan lah tanda bercak kemerahan biasa melainkan kiss mask.
"Sudah pintar berbohong tenyata!" Batin Andrew sambil terus menatap kepergian Bella dari ruangan tersebut.
*****