“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”
Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.
Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SDUA 21
“Ha ha ha!” tawa Alyra membahana di dalam kamar yang dindingnya telah didesain kedap suara. Dirinya duduk pada tepian ranjang.
Sementara sang suami hanya menatap tanpa ekspresi, duduk di balik meja persegi yang tak jauh dari ranjang, di depannya sebuah layar laptop menyala — menerpa wajah rupawannya.
“Kamu lihat tadi ekspresi Velisa dan Mama Zaskia? Mereka berdua pasti malu banget.” Ia bercerita penuh antusias, matanya berbinar puas setelah berhasil membalikkan keadaan — mempermalukan kakak ipar dan ibu mertuanya di depan banyak orang.
Erlan masih tak menanggapi, raut wajahnya seolah penuh akan sarat makna.
Erlan tak ikut tertawa, padahal tadi dirinya turut andil dalam sandiwara di ruang tamu, disaksikan oleh para ibu-ibu sosialita. Alyra yang menangkap gesture tak biasa itu seketika menghentikan tawa.
‘Ada ada dengannya? Dia tak suka karena aku sudah mempermalukan ibunya?’
“Sorry … apa aku berlebihan barusan?” Alyra mengangkat alis, menatap penuh tanya kepada sosok yang masih terdiam di depan laptopnya.
Erlan menarik napas panjang, kemudian menutup layar, mengatur posisi, kini dirinya menatap lekat sang istri.
“Kenapa Lo cuma diem aja saat mama nampar pipi Lo tadi?” Pertanyaan itu lebih terdengar seperti sebuah interogasi.
“Hah?” Alyra mengernyit.
“Kenapa Lo cuma diem aja saat mereka menyerang—” Erlan kembali menarik napas, giginya tampak bergemeretak pelan, berusaha mengontrol emosi di kepala. Kemudian melanjutkan dengan nada suara pelan. “Seharusnya Lo ngelawan, segera hubungi gue atau Andi.”
Alyra terdiam sesaat. Sementara Erlan terlihat sulit menyembunyikan rasa cemasnya. Kening pria itu berkerut tipis, rahangnya menegang. Bahkan tatapannya terus menyusuri wajah Alyra, memperhatikan setiap perubahan ekspresi sekecil apa pun.
“Aku … aku nggak diem aja, kok,” sahut Alyra, pancaran mata antusias tadi mulai memudar.
“Apa jadinya kalau gue nggak datang tepat waktu?” tanya Erlan, sorot matanya jelas penuh kekhawatiran. “Lo bakal berlutut di depan mereka? Hah? Memohon maaf atas kesalahan yang sama sekali nggak pernah Lo perbuat? Lo bakal ngebiarin wanita tua terus menampar—”
Rentetan tanya itu disertai dengan tatapan mata memerah, pupil mulai membesar dan napas tak teratur. Erlan tak menyelesaikan kalimatnya, tangannya mengepal di atas meja kala mendapati bekas memerah pada pipi kiri istrinya.
“Erlan ....” Alyra berkata lembut. Ia dapat melihat ada getar tak biasa dari sorot mata suaminya, juga suara yang terdengar seolah tertahan di ujung kerongkongan. “Aku nggak apa-apa. Aku bukan perempuan yang patuh, dan tentu saja aku nggak akan diam saat dipermalukan seperti tadi.”
“Mungkin kamu nggak lihat kejadiannya dari awal,” sambung Alyra. “Aku cukup tegas saat melawan mereka, itulah yang bikin mama Zaskia murka.”
Erlan menghembuskan napas berat. Menatap tak tenang ke arah langit-langit kamar, sorot matanya tampak berkaca-kaca.
“Kalau kejadian kayak ini keulang lagi … cepet hubungi gue atau Andi,” pintanya, lalu ia bangkit dari kursi, dan keluar dari kamar dengan langkah tergesa.
Alyra menatap bingung, mulutnya belum sempat menjawab, namun sang suami sudah menghilang di ujung pintu lalu tertutup.
“Kenapa dia? Kupikir dia marah karena aku bersikap berlebihan dan mempermalukan ibunya, tapi ….” Alyra kembali dibuat tak mengerti oleh sikap suaminya.
Matanya kemudian memicing. “Sikapnya seolah-olah lagi mencemaskan sesuatu. Apa … dia khawatir? Dia khawatirin aku?”
“Ah, nggak mungkin,” tukasnya kemudian, menyangkal dengan tegas.
Tak lama setelah Erlan keluar dari kamar, pintu itu diketuk seseorang.
Pelan. Tak seperti Velisa yang menggedor kasar sore tadi.
Alyra menoleh, tatapannya jatuh pada daun pintu dengan raut heran. Alisnya sedikit berkerut, seolah menebak-nebak siapa yang datang di jam segini.
Tok. Tok.
Ketukannya kembali terdengar, sabar dan hati-hati.
Alyra bangkit dari duduknya, langkah kakinya nyaris tak menimbulkan suara di lantai marmer. Jemarinya menyentuh gagang pintu, lalu membukanya sedikit.
“Nyonya muda .…” Suara lirih itu membuatnya terdiam sesaat.
Ternyata Mbok Tum yang berdiri di depan kamar sambil membawa nampan kecil berisi segelas susu hangat, obat luka dan sebuah mangkuk kompres dingin.
“Tuan muda Erlan yang menyuruh saya mengantarkannya,” ucap Mbok Tum dengan hati-hati.
Alyra berkedip pelan. “Erlan?” tanyanya memastikan, tatapan matanya seolah tak percaya. Dirinya lalu membuka lebar pintu, “Beneran Erlan yang nyuruh, Mbok?”
Mbok Tum tersenyum lembut, sorot mata keriput itu terlihat penuh kasih. “Betul, Nyonya muda.”
Alyra lalu meraih nampan itu perlahan. Pipinya mendadak bersemu samar, sementara ujung bibirnya berkedut pelan, seolah tak mampu menahan senyum yang hampir terbit begitu saja.
Ia segera menunduk, berusaha menyembunyikan ekspresi kecilnya. “Dasar Erlan …,” gumamnya pelan.
Mbok Tum tampak menelisik setiap sisi wajah nyonya muda. Sorot mata hangatnya berubah sendu, ia menghela napas pelan, sebelum akhirnya bersuara dengan penuh kehati-hatian.
“Nyonya muda … perlu Mbok bantu untuk mengompres pipinya?” tanyanya dengan lembut. “Pasti sakit sekali.” Terselip nada pilu pada suara seraknya.
Alyra kemudian mendongak, memperlihatkan ekspresi biasa. “Nggak apa-apa, Mbok. Mendingan Mbok istirahat aja, saya bisa mengompresnya sendiri,” sahutnya dengan senyum yang terlihat baik-baik saja. Padahal, rasa panas di pipinya masih begitu terasa.
“Baiklah kalau begitu.” Mbok Tum tak dapat berbuat apapun, tak memiliki hak untuk bicara lebih lanjut, sang nyonya muda sudah menolaknya dengan sangat baik. “Mbok pamit ke lantai bawah, ya.”
“Iya, Mbok. Makasih ya udah di anter ininya.” Alyra mengangkat nampan kecil yang tadi di bawa oleh sang pelayan.
“Sama-sama, Nyonya.” Mbok Tum akhirnya undur diri.
.
.
.
Saat tiba di lantai satu, baru memijak pada undakan tangga terakhir. Mbok Tum berpapasan dengan sang nyonya besar yang tampak menyimpan setumpuk dendam, terlihat jelas dari raut wajah dan kedua tangan saling mengepal.
Zaskia hendak naik ke lantai dua.
“Nyonya Muda sedang istirahat.” Mbok Tum dengan berani mencekal lengan Zaskia, menatap tanpa ragu iris pekat yang tampak terbakar api amarah.
“Bukan urusanmu, ya, Tua!” Zaskia mengibaskan kasar lengannya, sehingga wanita baya itu nyaris limbung ke lantai.
“Dengarkan selagi saya mengingatkan dengan baik-baik.” Mbok Tum tak mudah tumbang, tubuh ringkihnya berhasil menjaga keseimbangan. Ia kembali menatap berani sang majikan.
Suara serak Mbok Tum berhasil menghentikan langkah Zaskia, wanita berusia akhir empat puluhan itu menoleh dengan raut wajah jengah.
“Dasar si Tua Sialan!” dengusnya. “Sampai kapan mulut keriputmu itu selalu ikut campur dengan urusan keluargaku? Hah?!”
“Saya tak berniat ikut campur, Nyonya,” ujar Mbok Tum dengan tenang. “Saya hanya menyampaikan titah langsung dari Tuan Muda Erlan. Dimulai dari sekarang hingga esok pagi, siapapun dilarang menemui nyonya muda Alyra.”
Zaskia menyeringai sinis. “Anak ingusan itu berani memerintahku … dan sekarang dia berani melarangku untuk bertemu dengan menantuku sendiri?”
Mbok Tum tak menjawab, namun wajahnya sama sekali tak menunduk.
“Sialan!” Zaskia kembali mendengus. “Ada apa dengan wajah keriputmu itu? Selalu menatapku sengit seperti itu!”
Kini Zaskia melipat kedua tangan di depan dada, turun perlahan seraya menatap rendah sang pelayan. “Denger, ya, Mbok Tua. Kau itu cuma pelayan di sini, jangan berlagak sok menguasai. Mentang-mentang suamiku sering membela dan menghormati dirimu, bukan berarti … kau bisa seenaknya memperlakukan aku seperti barang pajangan yang tak ada artinya di rumah ini. Matamu itu sama sekali tak pernah menatapku dengan hormat!”
“Perbaiki sikapmu itu, aku bisa mengusirmu kapan saja dari rumah ini!” Ia menghentakan kaki, melengos, sikapnya sangatlah angkuh.
Mbok Tum melirik arah sang nyonya pergi, tak ada sedikitpun raut wajah gentar atas ancaman barusan. Ia pun berbalik, tatapannya berubah tajam.
“Kau takkan bisa mengusirku dari rumah ini. Sampai akhir hayat … aku akan tetap di sini, sampai Erlan bisa mendapatkan haknya kembali.”
*
*
Bersambung.