NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Air Mata di Tengah Kegelapan

Bab 12 — Air Mata di Tengah Kegelapan

Hari-hari pertama Amelia Santoso di mansion keluarga Moretti terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung selesai.

Mansion itu terlalu besar, terlalu sunyi, dan terlalu dingin untuk disebut rumah. Semua orang berjalan dengan hati-hati. Para pelayan berbicara pelan. Bahkan suara langkah kaki pun terasa seperti sesuatu yang harus dijaga agar tidak mengganggu sang pemilik rumah.

Dan semua orang di tempat itu takut pada Lorenzo Moretti.

Amelia bisa merasakannya dengan jelas.

Saat pria itu lewat, para penjaga langsung menunduk. Para pelayan menahan napas. Tidak ada yang berani menatapnya terlalu lama.

Seolah Lorenzo bukan manusia biasa.

Melainkan monster yang mengenakan wajah tampan.

Pagi itu Amelia duduk di dekat jendela kamarnya sambil memandangi taman luas di belakang mansion. Langit Palermo terlihat cerah, namun perasaannya tetap berat.

Ia merindukan rumahnya.

Merindukan suara ayam pagi di desa.

Merindukan aroma kayu tua rumah kecilnya.

Dan yang paling ia rindukan…

Nenek Hana.

Tok tok.

Pintu kamar diketuk perlahan.

“Nona Amelia?” suara Clara terdengar dari luar.

“Masuk…”

Clara masuk sambil membawa nampan sarapan.

“Anda harus makan.”

Amelia tersenyum kecil meski terlihat lemah. “Aku tidak terlalu lapar.”

“Kalau terus seperti ini, Anda akan sakit.”

Clara meletakkan makanan di meja, lalu diam-diam memperhatikan wajah Amelia yang murung.

“Anda memikirkan rumah?”

Amelia langsung menunduk pelan.

“Aku ingin bertemu nenek…”

Suara gadis itu lirih.

Clara menghela napas kecil. “Tuan Lorenzo sudah mengirim orang untuk menjaga desa Anda.”

“Aku tahu…”

“Jadi untuk sekarang, nenek Anda aman.”

Amelia menggigit bibir pelan.

“Itu justru membuatku semakin bingung.”

“Maksud Anda?”

“Kenapa dia melakukan semua ini?”

Clara tidak langsung menjawab.

Karena sejujurnya…

ia sendiri tidak tahu.

Lorenzo Moretti bukan pria yang suka menolong orang lain. Selama bertahun-tahun, pria itu hidup dalam dunia gelap penuh darah dan pengkhianatan.

Tidak ada belas kasihan di sana.

Namun sejak Amelia datang…

sesuatu mulai berubah.

Meski kecil.

Meski samar.

Tetapi Clara bisa melihatnya.

“Tuan Lorenzo mungkin terlihat menyeramkan,” ucap Clara hati-hati, “tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.”

Amelia tersenyum pahit.

“Itu tidak membuatnya terlihat lebih baik setelah membunuh seseorang di depan mataku.”

Suasana mendadak hening.

Clara tidak bisa membantah itu.

Karena memang benar.

Siang harinya, Amelia akhirnya memberanikan diri keluar kamar untuk pertama kalinya sejak kemarin. Mansion itu sangat besar hingga ia hampir tersesat hanya dengan berjalan di koridor.

Beberapa pelayan langsung menunduk hormat saat melihatnya.

Hal itu membuat Amelia semakin tidak nyaman.

“Aku bukan nyonya rumah di sini…” gumamnya pelan.

Saat melewati ruang tengah mansion, langkahnya perlahan berhenti.

Dari arah ruangan kerja di ujung koridor, terdengar suara bentakan marah.

“Romano mulai menyerang wilayah pelabuhan lagi!”

Itu suara Marco De Luca.

Amelia refleks mendekat sedikit.

Pintu ruangan tidak tertutup sempurna.

Dan tanpa sadar…

ia melihat Lorenzo sedang duduk di balik meja besar sambil membaca beberapa dokumen.

Wajahnya dingin seperti biasa.

“Kita kehilangan tiga gudang dalam dua minggu,” lanjut Marco kesal. “Orang-orang mulai takut.”

Lorenzo tetap tenang.

“Biarkan mereka takut.”

Marco mengernyit. “Bos—”

“Rasa takut membuat mereka patuh.”

Nada suara Lorenzo sangat datar.

Namun justru terasa lebih menyeramkan.

Marco menghela napas frustrasi lalu duduk di kursi depan meja.

“Dan gadis itu?”

Tatapan Lorenzo sedikit berubah.

“Ada apa dengannya?”

“Dia ketakutan setiap melihatmu.”

Amelia langsung menegang di balik pintu.

Marco melanjutkan, “Kalau tujuanmu hanya melindunginya sementara, kenapa tidak kirim saja dia ke tempat aman lain?”

Sunyi beberapa detik memenuhi ruangan.

Lalu Lorenzo akhirnya menjawab pelan,

“Karena di dekatku, dia lebih aman.”

Marco terlihat ingin membantah, tetapi akhirnya diam.

Amelia membeku mendengar jawaban itu.

Jantungnya berdetak aneh.

Namun sebelum ia sempat pergi—

Brak!

Sebuah vas bunga kecil di dekatnya tidak sengaja tersenggol dan jatuh pecah.

Wajah Amelia langsung pucat.

Sial.

Pintu ruangan langsung terbuka.

Marco menatap Amelia dengan ekspresi pasrah.

Sementara Lorenzo hanya berdiri diam sambil memandangnya tajam.

“Aku… aku tidak sengaja…” ucap Amelia gugup.

Lorenzo berjalan mendekat perlahan.

Setiap langkah pria itu selalu membuat Amelia merasa tertekan.

“Kau menguping?”

“Aku hanya lewat…”

“Kau buruk dalam berbohong.”

Amelia langsung menunduk malu.

Marco menahan senyum kecil melihat reaksi gadis desa itu.

Biasanya tidak ada yang berani berdiri sedekat itu dengan Lorenzo tanpa gemetar ketakutan.

Namun Amelia berbeda.

Polos.

Jujur.

Dan terlalu lembut untuk dunia mereka.

“Maaf…” lirih Amelia lagi.

Lorenzo memperhatikan wajah gadis itu cukup lama.

Matanya sembab.

Dan wajahnya terlihat lebih pucat dibanding kemarin.

“Kau menangis?”

Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Amelia terdiam.

Ia tidak ingin terlihat lemah.

Namun saat memikirkan neneknya…

dadanya kembali terasa sesak.

“Aku hanya merindukan rumah…”

Suara Amelia mulai bergetar.

“Aku tidak suka berada di sini…”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Marco diam-diam melirik Lorenzo.

Ia tahu tidak ada orang yang pernah berani mengatakan langsung bahwa mereka tidak suka berada dekat Lorenzo Moretti.

Namun Amelia melakukannya tanpa sadar.

Dan anehnya…

Lorenzo tidak marah.

Tatapan pria itu justru berubah samar.

“Aku ingin bertemu nenek…” lanjut Amelia pelan. “Aku takut sesuatu terjadi padanya…”

Air mata perlahan jatuh di pipinya.

Amelia buru-buru menghapusnya karena malu menangis di depan mereka.

Namun Lorenzo tiba-tiba mengangkat tangannya.

Gerakan itu membuat Amelia refleks menegang.

Tetapi pria itu hanya menyentuh pelan air mata di wajahnya menggunakan ibu jarinya.

Sentuhan hangat itu membuat Amelia membeku.

Begitu juga Lorenzo.

Untuk beberapa detik…

tak satu pun dari mereka bergerak.

Marco langsung memalingkan wajah sambil berdeham kecil.

Karena suasana mendadak terasa aneh.

Lorenzo perlahan menarik tangannya kembali.

Tatapannya tetap dingin, tetapi suaranya sedikit lebih rendah saat berkata,

“Kalau kau ingin menemui nenekmu…”

Amelia langsung mengangkat kepala penuh harapan.

“…aku akan membawamu nanti.”

Mata Amelia langsung membesar kaget.

“Benarkah?”

Lorenzo mengangguk kecil.

Dan tanpa sadar…

untuk pertama kalinya sejak datang ke mansion itu, Amelia tersenyum kecil di depan Lorenzo Moretti.

Senyum sederhana.

Lembut.

Namun cukup membuat pria paling ditakuti di Palermo itu terdiam beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Setelah percakapan itu selesai, Amelia kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk.

Ia senang karena bisa bertemu neneknya nanti.

Namun di sisi lain…

ia mulai merasa aneh pada dirinya sendiri.

Karena semakin lama berada di mansion itu, rasa takutnya pada Lorenzo perlahan bercampur dengan rasa penasaran.

Pria itu dingin.

Berbahaya.

Bahkan kejam.

Namun terkadang…

ia juga menunjukkan sisi yang tidak Amelia mengerti.

Saat malam tiba, Amelia berdiri di balkon kamarnya sambil memandangi langit Palermo yang dipenuhi cahaya kota.

Angin malam bertiup pelan menerbangkan rambut panjangnya.

Pikirannya kembali mengingat sentuhan Lorenzo tadi.

Hangat.

Lembut.

Sangat berbeda dari bayangan monster yang selama ini ia lihat.

“Aku mulai aneh…” gumamnya pelan pada diri sendiri.

Sementara itu, di ruang kerja mansion…

Marco berdiri sambil menyilangkan tangan di depan meja Lorenzo.

“Aku belum pernah melihatmu menyentuh wanita sepelan itu.”

Tatapan Lorenzo langsung dingin.

“Tutup mulutmu.”

Marco justru tertawa kecil.

“Jadi sekarang Bos besar Moretti mulai peduli pada gadis desa?”

Lorenzo menutup dokumen di tangannya pelan.

“Aku hanya tidak suka melihat orang menangis.”

Marco hampir tersedak mendengar itu.

Karena kalimat tersebut terdengar sangat mustahil keluar dari mulut Lorenzo Moretti.

“Kalau anak buah lain mendengar ucapanmu barusan, mereka pasti mengira kau kerasukan.”

Lorenzo melempar pena ke arah Marco.

Marco tertawa sambil menghindar.

Namun setelah itu, suasana ruangan kembali sunyi.

Tatapan Lorenzo perlahan mengarah ke jendela besar di samping ruangannya.

Dan tanpa sadar…

bayangan Amelia kembali muncul di pikirannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!