NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:862
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: AMARAH SAMUDERA DAN SIKLUS KETIGA

Udara di Selat Malaka yang biasanya lembap mendadak membeku. KRETEK... KRETEK...  Kristal-kristal es mulai merambat di permukaan dek baja kapal kargo Star of Panama.

Di depan Arka, sosok The Liquidator berdiri tegak. Tubuhnya tidak padat, air raksa hitam menyusun anatominya, terus bergejolak seperti merkuri yang mendidih dalam kedinginan. SREEEET... SREEEET...

"Kau hanyalah barang antik yang menolak untuk mati, Satria Erlangga," suara makhluk itu bergema, getarannya membuat kaca-kaca jendela di anjungan kapal pecah berkeping-keping. PRAAANGGG!!!

"Pihak The Sovereign telah menghitung probabilitas kemenanganmu. Di atas air, efisiensi Segel Bumi-mu turun hingga empat puluh persen. Kau tidak punya pijakan."

CRAAH.

Arka meludah ke samping, darah segar masih ikut keluar. Ia menggenggam erat Keris Kyai Sangga Buwana.

"Kalian para teknokrat terlalu banyak menghitung angka, sampai lupa kalau alam tidak bisa dijinakkan dengan algoritma."

WUSH!

The Liquidator melesat. SLUUP.  Ia tidak berlari, tapi mencair ke dalam lantai dek dan muncul tepat di bawah kaki Arka. Sebuah cambuk air raksa yang tajam seperti silet melesat mengincar leher Arka. WHIP! WHIP!

Arka melompat mundur, memutar kerisnya di udara. WUT-WUT-WUT!

“Pusaran Angin: Tolak!” WUUUUUSSSHHH!

Hembusan angin kencang keluar dari bilah keris, mencoba mementalkan cambuk cair tersebut. Namun, Liquidator bukan lawan biasa.

Cairan hitam itu membelah diri, melewati aliran angin Arka, dan kembali menyatu membentuk tinju raksasa yang menghantam dada Arka.

DUAK!

Arka terlempar menabrak kontainer kargo berwarna biru. BRAKKK!  Besi kontainer itu penyok sedalam sepuluh sentimeter. HOK... HOEK!  Arka terbatuk hebat, dadanya terasa seperti dihantam palu godam.

"Arka!" Siska menjerit dari balik sekoci. Ia hendak berlari keluar, namun Arka mengangkat tangannya, memberi isyarat agar dia tetap di sana.

"Jangan... mendekat," bisik Arka.

DUM. DUM. DUM.

Liquidator berjalan perlahan, setiap langkahnya meninggalkan jejak korosi di lantai baja.

"Menyerahlah. Berikan keris itu, dan mungkin kami akan membiarkan anakmu di Batu tetap hidup sebagai subjek eksperimen yang berharga."

ZING!

Mendengar kata "anakmu", mata Arka yang tadinya meredup mendadak menyala keemasan. Pendar itu bukan lagi cokelat bumi, tapi mulai bercampur dengan kilatan biru laut yang gelap.

Aura di sekitarnya bergetar hebat. DRRRRRRR...

“Kau menyentuh batas kesabaranku,” suara Arka berubah. Rendah, berat, dan bergetar seirama dengan mesin kapal.

Arka berdiri tegak. DUM!  Arka menghantamkan tangan kiri ke atas permukaan air laut yang mulai masuk ke dek karena lambung kapal yang bocor. Ia memejamkan mata.

“Segel Bumi... Segel Udara... Aku memanggil pondasi ketiga.”

Di punggung Arka, tujuh rantai hitam itu bergetar hebat. Rantai ketiga, yang melingkar di sekitar pinggang dan tulang rusuknya mulai memanas. SREEE... (Suara kain terbakar dan kulit yang memanas).

Arka tidak peduli pada peringatan sistem internal jiwanya. Ia menarik energi dingin dari samudera di bawah kapal.

"Kau bilang aku tidak punya pijakan?" Arka menatap Liquidator. "Seluruh samudera ini adalah pijakanku."

Arka menghantamkan telapak tangannya ke air yang menggenangi dek.

“Siklus Ketiga: Penjara Beku!”

BOOOOOMMMM!

Seketika, air laut di sekitar kapal meledak ke atas, membentuk pilar-pilar raksasa yang langsung membeku menjadi es hitam. KRAAAKKK!

Tangan-tangan es raksasa milik Liquidator yang tadi mencengkeram kapal, kini justru berbalik arah, menyerang penciptanya sendiri. GRRRRRRR!

Liquidator tampak terkejut. Tubuh cairnya mencoba meresap ke dalam baja, namun Arka menggunakan 20% Segel Bumi-nya untuk memadatkan molekul baja tersebut hingga tak ada celah mikroskopis pun bagi cairan raksa untuk masuk.

"Apa?! Kau memaksa elemen air menyatu dengan struktur bumi?!" Liquidator berteriak parau.

"Itu namanya kohesi, bodoh," Arka melesat maju. ZLAP!  Kecepatannya kini tidak masuk akal.

Dengan 15% Elemen Udara sebagai pendorong dan Elemen Air sebagai pelicin, Arka bergerak seperti peluru yang meluncur di atas es.

WUTSH!  Arka menusukkan Keris Kyai Sangga Buwana tepat ke arah jantung mekanik yang berada di tengah dada Liquidator.

CRAAAKKK!

Bilah keris yang dilapisi energi angin tajam menembus lapisan air raksa hitam. Terjadi reaksi kimia dan mistis yang hebat.

DZZZT! BZAAAT!  Uap putih membumbung tinggi saat energi suci keris Nusantara beradu dengan teknologi hitam The Sovereign. SHHHHHHH...

"Kau... kau tidak akan menang..." Liquidator mulai terurai. Cairan raksanya menetes ke dek, kehilangan bentuk manusianya. "Tuan Aksara... sudah mengirimkan koordinatmu... ke armada utama..."

BLAARRR!  Makhluk itu akhirnya meledak, menjadi genangan cairan hitam yang tak lagi bernyawa.

Arka jatuh berlutut. BUG!  Ia memegang dadanya yang terasa seperti terbakar. Napasnya pendek-pendek. Membuka Segel Air secara paksa saat tubuhnya masih terluka adalah tindakan gila.

TES... TES... Darah merembes dari hidung dan matanya.

"Arka! Kau berdarah!" Siska berlari mendekat, merangkul pundak Arka.

"Kita... harus segera... ke Batam," ucap Arka lirih. "Kapal ini... akan tenggelam dalam sepuluh menit."

Di kejauhan, di atas sebuah kapal selam siluman yang mengapung di kedalaman Selat Malaka, Tuan Aksara berdiri di depan layar monitor raksasa. Ia menyaksikan rekaman hancurnya The Liquidator melalui satelit.

"Luar biasa," gumam Aksara sambil menyesap tehnya. "Dia benar-benar membuka Segel Air dalam kondisi terdesak. Data ini sangat berharga untuk tahap final Proyek Poros."

Seorang wanita dengan pakaian militer ketat masuk ke ruangan. "Tuan, armada Singapura menuntut penjelasan atas hancurnya kapal kargo itu."

"Dan agen kita di Batam melaporkan bahwa ksatria bayangan Wironegoro sudah menutup seluruh akses pelabuhan tikus."

"Biarkan saja," Aksara tersenyum licik. "Tujuan kita bukan menangkap Arka sekarang. Kita hanya butuh dia membersihkan 'sampah-sampah' di titik meridian lainnya."

"Kirimkan pesan pada Rendra Adiningrat. Katakan padanya, jika dia ingin Siska kembali, dia harus menunggu di Candi Muaro Jambi."

"Kenapa di sana, Tuan?"

"Karena di sana tersimpan kepingan ketiga, Prasasti Air Abadi. Dan Arka pasti akan ke sana untuk menyembuhkan luka organ dalamnya yang hancur."

***

Sementara itu, Arka dan Siska berhasil melompat ke sebuah sekoci bermesin saat kapal kargo Star of Panama mulai tenggelam ke dasar laut.

BYUR... BYUR...  Di tengah kegelapan malam dan ombak yang mulai meninggi, mereka terombang-ambing.

Arka terbaring di dasar sekoci, kepalanya di pangkuan Siska. Siska mencoba menekan luka di dada Arka dengan kain bajunya yang robek.

"Jangan mati, Arka... kumohon," bisik Siska, air matanya jatuh mengenai pipi Arka. "Dafa menunggumu. Dan aku... aku belum sempat minta maaf atas semua yang terjadi."

Arka membuka matanya sedikit. Ia menatap bintang-bintang di langit yang mulai tertutup awan mendung. Di tangannya, Keris Kyai Sangga Buwana masih berdenyut, seolah-olah sedang menghisap racun dari dalam tubuh Arka.

"Siska... di dalam sakuku... ada sebuah ponsel kecil," Arka bicara dengan susah payah.

Siska merogoh saku Arka dan menemukan ponsel satelit kuno.

"Hubungi... nomor tunggal di sana. Katakan pada Eyang Jugo... burung gagak sudah jatuh di perairan utara. Kita butuh... penjemputan 'hitam'."

Siska segera menekan tombol panggil. TUT.  Namun, sebelum sambungan terhubung, sebuah lampu sorot raksasa mendadak menyambar sekoci mereka dari arah depan. WUUUT!

Sebuah kapal patroli cepat tanpa tanda pengenal mendekat. Di atas dek kapal itu, berdiri puluhan pria berpakaian serba hitam dengan senjata lengkap.

Namun yang paling mencolok adalah bendera yang berkibar di sana. Bukan bendera Singapura. Bukan bendera Indonesia. Itu adalah bendera dengan lambang Burung Garuda yang Terbelenggu Rantai.

"Pasukan Khusus Wironegoro?" Siska berbisik penuh harap.

Namun, harapan itu pupus saat seorang pria turun dari tangga kapal patroli. Pria itu bukan Wironegoro. Pria itu mengenakan topeng perak yang sama dengan si Kurator di Monas, namun kali ini topengnya berbentuk Wajah Naga.

"Satria Erlangga, atau haruskah kupanggil Arka Nirwana?" pria bertopeng naga itu bicara melalui pengeras suara.

"Aku adalah The Grand Inquisitor dari Black Order. Tuan Rendra mengirimkan salam hangat. Dan dia memintaku untuk membawa Siska pulang... serta mengambil keris itu dari tanganmu yang sudah mati."

Puluhan laras senapan kini tertuju tepat ke arah sekoci mereka. KLAK-KLIK!

Arka mencoba berdiri, namun tubuhnya menolak. Ia hanya bisa menggertakkan gigi, merasakan energinya benar-benar habis.

"Arka, apa yang harus kita lakukan?" Siska ketakutan, ia memeluk Arka erat, mencoba melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

Arka menatap keris di tangannya. Bilah keris itu mendadak menjadi sangat panas. Suara Eyang Jugo kembali bergema di kepalanya.

“Arka... jika bumi tak lagi menopang, dan air mulai menenggelamkan... mintalah perlindungan pada ruang di antara keduanya.”

Arka memejamkan mata. Ia menggenggam tangan Siska. "Pegang tanganku, Siska. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan."

"Apa yang mau kau lakukan, Arka?!"

Arka tidak menjawab. Ia menusukkan keris itu ke dasar kayu sekoci mereka. JLEB!  Cahaya hijau dan cokelat meledak menyatu. WUUUUUNGGGGG!

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!