Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Tuan!"
Riko yang mendapatkan kiriman video dari bawahannya segera memberikan ponselnya kepada Hadrian. Ia sendiri tidak percaya bahwa wanita gagah perkasa di dalam video itu adalah nyonya bosnya.
Hadrian meraih ponsel tak sabar, melihat video berdurasi lima belas menit itu dengan perasaan tak tentu. Matanya melebar, menyipit kembali, begitu selama menonton di setiap adegan yang dimainkan Rania, sampai wanita itu pergi membawa seorang anak kecil yang wajahnya tidak jelas.
Apakah benar dia Rania? Sejak kapan dia begitu hebat dalam seni bela diri? Bahkan, mampu mengalahkan enam pria dewasa sekaligus sendirian dalam waktu lima belas menit. Benarkah dia masih istriku?
Hati Hadrian bergumam, antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya dalam video. Wajah itu memang istrinya, tapi dilihat dari usia sungguh tidak seperti Rania.
"Cepat, datangi lokasi restoran ini!" katanya tanpa mengalihkan pandangan dari video yang sedang dilihatnya.
Ia menjeda video, menarik gambar mendekat. Wajah Rania sangat jelas. Cantik, manis, tapi tatapan matanya dingin. Juga, dia terlihat seperti saat Rania muda dulu. Saat ia menyatakan cinta kepadanya.
Wajah Hadrian sendu, ibu jarinya mengusap wajah itu penuh kerinduan. Namun, dering ponsel seketika menghilangkan semua perasaannya. Ia melempar ponsel tersebut ke depan, ke tempat Riko mengemudi.
Sebuah panggilan dari orang-orang yang dia sebar untuk mencari keberadaan Rania dan dokter Pri. Riko menerima panggilan, mendengarkan laporan bawahannya.
"Baik, aku mengerti," katanya seraya menutup sambungan telpon dan menyimpan benda itu di sakunya.
Ia melirik Hadrian yang tampak kesal, rahangnya mengeras, matanya berkilat penuh amarah juga ada kerinduan membuncah di sana. Riko meringis ragu untuk melaporkan temuan bawahannya. Ia menarik napas panjang, mencoba menepis keinginannya.
"Katakan, ada apa?"
Suara Hadrian membuatnya sedikit lega.
"Tuan, mereka mengatakan telah menemukan laki-laki yang bersama nyonya, dan sekarang ada di rumah singgah tepi danau. Apakah kita harus ke sana atau ke restoran itu terlebih dahulu," ucap Riko meski masih sedikit ragu karena melihat wajah sang atasan dingin.
Hadrian melirik, Riko yang sedang mengawasi perubahan wajahnya melalui kaca spion tengah, berpaling dengan cepat agar tidak memperburuk suasana hati Hadrian.
"Menurutmu laki-laki itu lebih penting dari istriku?" sengit Hadrian membuat Riko berkeringat dingin karena tatapan matanya begitu ingin membunuh.
"Tidak, Tuan," katanya seraya menambah kecepatan menuju restoran yang memperlihatkan keberadaan istrinya.
Ban berdecit nyaring saat rem diinjak, menciptakan percikan api saat roda mobil bersentuhan dengan aspal jalanan. Hadrian membuka pintu dengan cepat, gegas memasuki restoran dengan langkah yang lebar.
Di depan restoran, terparkir mobil polisi membuat hati Hadrian berdenyut. Langkahnya melambat di saat beberapa orang polisi membawa para preman keluar dalam keadaan terborgol. Hadrian gegas berlari memasuki restoran, memeriksa setiap kepala di dalam sana. Tak ada dia di antara mereka semua.
"Tuan!" Riko datang menghampiri sang tuan yang berdiri di ambang pintu.
Kedatangannya ke restoran itu membuat heboh semua orang-orang di dalam sana. Mereka menduga karena keberadaan gadis yang mirip dengan mendiang istrinya. Manager restoran menghampiri, dengan segan bertanya maksud kedatangannya.
"Tuan, ada yang bisa kami bantu?" tanyanya tersenyum malu karena kondisi resto yang berantakan.
"Di mana wanita yang berselisih dengan para preman itu?" tanya Riko mewakili Hadrian.
"I-itu, dia langsung pergi begitu saja setelah memintaku untuk melapor kepada polisi. Saya tidak tahu ke mana dia pergi, Tuan. Meskipun wajahnya mirip nyonya, tapi usianya sangat muda. Dia mengatakan usianya baru sembilan belas tahun," ucap manager restoran membuat Hadrian melirik kepadanya.
"Kau yakin dia mengatakan itu?" Riko kembali bertanya.
"Yakin, Tuan. Semua orang di sini juga mendengarnya," katanya lagi sembari menunjuk semua orang dan mereka mengangguk kompak.
"Tuan, ini ...." Riko menatap ragu kepada atasannya.
"Temui laki-laki itu!" Hadrian berbalik pergi, kembali ke dalam mobil diikuti Riko yang mengejar di belakang.
Mereka akan pergi ke rumah singgah di tepi danau untuk menemui laki-laki yang ditemukan orang-orang Riko.
Rania, kau atau bukan, aku akan tahu saat kita bertemu nanti.
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄