Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: RAHASIA DI BALIK TOPPING TERAKHIR
Matahari baru saja naik di ufuk Jakarta, namun kesibukan di lantai bawah toko sudah seperti orkestra yang riuh.
Suara denting loyang dan aroma ragi yang tertidur semalam kini bangkit, memenuhi setiap sudut apartemen studio di lantai atas.
Laluna terbangun bukan karena alarm, melainkan karena bau gosong yang sangat samar namun tertangkap oleh indra penciumannya yang tajam.
Ia melompat dari tempat tidur, mengabaikan Reihan yang masih meringkuk di balik selimut dengan posisi memeluk bantal guling.
"Reihan! Ada yang terbakar!" seru Laluna sambil menyambar kardigan tipisnya.
Reihan tersentak duduk, rambutnya berdiri ke segala arah. "Apa? Malik datang lagi? Tentara bayaran?"
"Bukan! Bau oven!" Laluna berlari menuruni tangga spiral dengan kecepatan cahaya.
Sesampainya di dapur, ia menemukan Dimas berdiri di depan oven besar dengan wajah yang tetap sedatar permukaan meja marmer. Di tangannya ada sebuah nampan berisi donat yang bentuknya... tidak bisa didefinisikan. Sebagian besar berwarna hitam legam, dan sisanya tampak menciut seperti keripik.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Dimas tenang.
"Saya mencoba bereksperimen dengan suhu oven baru ini untuk membantu efisiensi waktu produksi. Sepertinya, perhitungan termodinamika saya sedikit meleset."
Laluna menatap donat-donat malang itu, lalu menatap Dimas.
"Dimas... kau mencoba memanggang donat dengan suhu 250°C?"
"Saya pikir jika suhunya dua kali lipat, waktunya akan berkurang setengahnya," jawab Dimas tanpa ekspresi.
Reihan muncul di tangga, masih mengenakan celana piyama satin dan kaos oblong, sambil mengucek mata. Ia melihat hasil karya Dimas dan langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Dimas, kau adalah asisten terbaik di kantor, tapi di dapur, kau adalah ancaman bagi kemanusiaan."
Setelah kekacauan kecil itu dibersihkan (dengan catatan Dimas dilarang menyentuh panel oven selamanya), mereka bertiga duduk di meja panjang dapur untuk sarapan.
Kali ini, donat lavender lemon yang sempurna hasil tangan Laluna menjadi menunya.
"Jadi," ucap Reihan sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Hari ini adalah pembukaan kembali secara resmi. Media akan datang, dan beberapa kolega bisnisku juga ingin melihat 'keajaiban' yang dilakukan istriku."
Laluna menghela napas. "Aku sebenarnya lebih suka jika kita buka diam-diam saja, Reihan. Aku tidak ingin 'Khay' terasa seperti ajang pamer Arta Wiguna."
"Ini bukan soal pamer, Luna," Reihan menggenggam tangan Laluna di bawah meja.
"Ini soal menunjukkan bahwa kita tidak bisa dihancurkan. Selain itu... ada satu tamu spesial yang ingin bertemu denganmu hari ini."
"Siapa? Bukan Adrian lagi, kan?"
"Bukan. Seseorang dari masa lalu ibumu."
Laluna tertegun. Masa lalu ibunya selalu menjadi bab yang tertutup rapat, bahkan di dalam dokumen Kakek Surya sekalipun.
Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, lonceng pintu depan berdenting.
Seorang wanita paruh baya dengan gaya yang sangat bersahaja masuk ke dalam ruko. Ia mengenakan kebaya encim modern dan membawa sebuah tas kecil berisi buku catatan usang. Saat matanya bertemu dengan mata Laluna, wanita itu tampak berkaca-kaca.
"Sari?" tanya wanita itu pelan.
"Saya Laluna, putri Ibu Sari," jawab Laluna lembut, mempersilakan wanita itu duduk.
Ternyata, wanita itu adalah sahabat lama ibunda Laluna yang dulu bekerja di toko roti kecil milik keluarga Wijaya sebelum tragedi itu terjadi.
Ia datang bukan untuk meminta saham atau uang, melainkan untuk menyerahkan sebuah buku catatan yang ia simpan selama dua puluh tahun.
"Ibumu tidak hanya membuat roti, Laluna," ucap wanita itu sambil membuka buku catatan tersebut. "Dia sedang mengembangkan resep 'Roti Perdamaian'. Dia selalu bilang, jika suatu saat keluarga Wijaya dan Arta berselisih, roti ini akan menjadi pengingat bahwa manisnya persahabatan lebih kuat daripada pahitnya pengkhianatan."
Laluna membuka halaman terakhir buku itu. Di sana, tertulis resep donat kentang dengan campuran rempah rahasia yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di pojok bawah halaman, ada tulisan tangan ibunya: "Untuk Laluna, agar kau selalu ingat cara memaafkan."
Laluna menoleh ke arah Reihan yang berdiri di belakangnya. Reihan membaca tulisan itu dan matanya melembut.
"Sepertinya menu utama untuk pembukaan hari ini sudah ditentukan," bisik Reihan.
Maka, hari itu "Khay Bakery" tidak dibuka dengan kemewahan atau pidato korporat yang kaku. Toko itu dibuka dengan aroma rempah hangat dari "Roti Perdamaian". Saat para tamu mencicipinya, suasana yang tadinya penuh dengan aura persaingan bisnis seketika mencair menjadi kehangatan yang jujur.
Di penghujung hari, saat toko sudah tutup dan hanya menyisakan cahaya lampu neon yang berpendar, Reihan dan Laluna berdiri di depan jendela kaca besar, menatap jalanan Jakarta yang mulai sepi.
"Kita melakukannya, Reihan," ucap Laluna, menyandarkan kepalanya di bahu Reihan.
"Bukan 'kita' melakukannya, Luna," koreksi Reihan sambil memeluknya dari belakang.
"Kita baru saja memulainya."
Tiba-tiba, Reihan berlutut di atas lantai dapur yang masih berbau tepung. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil, bukan berisi berlian besar seperti saat pertunangan kontrak mereka, melainkan sebuah cincin emas sederhana dengan ukiran kecil berbentuk gandum.
"Laluna Wijaya," ucap Reihan, suaranya bergetar karena emosi.
"Maukah kau menikah denganku lagi? Kali ini, tanpa kontrak, tanpa pengacara, dan tanpa syarat... kecuali kau harus membolehkanku mencuci piring setiap malam minggu."
Laluna tertawa di tengah tangis bahagianya. "Hanya setiap malam minggu?"
"Oke, oke. Setiap hari kalau kau yang memasak," tawar Reihan.
"Iya, Reihan. Aku mau."
Di bawah sinar rembulan yang menembus jendela ruko, mereka berdua berbagi ciuman yang paling jujur yang pernah ada. Di lantai bawah, Dimas yang sedang mengecek stok bahan di gudang hanya bisa menggelengkan kepala.
"Daftar tugas tambahan besok: mengurus surat nikah baru dan memesan lima puluh liter sabun cuci piring," gumam Dimas sambil tersenyum tipis untuk pertama kalinya.