NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan / Tamat
Popularitas:38.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Siang itu, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, namun suasana di depan studio pemotretan jauh lebih panas. Begitu mobil mewah Aurora berhenti, puluhan orang yang semula dikira fans biasa tiba-tiba merangsek maju.

Aurora turun dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, disusul Mayang yang membawa tas perlengkapan. Namun, sambutan hangat yang biasanya ia terima berubah menjadi hujan makian.

Plak! Crat!

Sebutir telur busuk mendarat tepat di bahu kanan Aurora, pecah dan mengotori blazer mahalnya. Cairan kuning kental itu merembes, mengeluarkan bau amis yang menyengat.

"Aurora! Kita udah denger ya! Lo nikah sama ajudan Papa lo yang sering banget nganter lo ke sini itu, kan?!" teriak seorang gadis dengan wajah penuh kebencian, memegang kotak telur di tangannya.

"Gue jadi nggak ngefans sama lo! Selera lo rendahan banget! Masa model internasional nikahnya sama penjaga pintu?" timpal yang lain sambil melempar kulit pisang.

Bintang, yang hari ini bertugas menggantikan Langit karena sang kepala ajudan sedang mengawal tamu negara, langsung bergerak cepat. Ia menghalangi tubuh Aurora dengan badannya yang tegap, tangannya terentang melindungi sang nyonya muda.

"Masuk sekarang, Non! Jangan diladeni, ini sudah tidak kondusif!" bisik Bintang tegas, matanya waspada menatap kerumunan yang mulai beringas.

Mayang pun panik, ia menarik lengan Aurora. "Ayo, Non! Kita masuk lewat pintu belakang saja, Kak Rio pasti sudah menunggu di dalam!"

Namun, Aurora mematung sejenak. Napasnya memburu. Ia tidak lari. Dengan gerakan perlahan, ia melepas kacamata hitamnya, menatap lurus ke arah kumpulan orang yang selama ini ia anggap sebagai pendukungnya. Ia menepis tangan Mayang dan melangkah maju, melewati perlindungan Bintang.

"Non, jangan!" cegah Bintang, namun Aurora sudah berdiri di depan mereka dengan tangan di pinggang, wajahnya mengeras.

"Ngomong apa tadi kalian? Ulangi!" suara Aurora lantang, bergetar karena amarah yang ditahan.

Para fans itu sempat terdiam melihat keberanian Aurora, namun si provokator kembali berteriak, "Kita bilang selera lo rendahan! Langit itu cuma bawahan Papa lo! Dia nggak pantas buat lo!"

Aurora maju selangkah lagi, matanya berkilat tajam. "Denger ya! Aku emang nikah sama Mas Langit. Tapi dia bukan rendah! Dia segalanya buat aku. Dia laki-laki yang tanggung jawab, yang jagain aku tanpa pernah minta imbalan apa pun bahkan sebelum kami nikah!"

Ia mengusap noda telur di bahunya dengan kasar, lalu menunjukkannya ke arah mereka. "Kalian bilang kalian ngefans sama aku? Fans itu mendukung kebahagiaan idolanya, bukan mengatur siapa yang boleh aku cintai! Mas Langit itu punya harga diri yang jauh lebih tinggi daripada kalian yang cuma bisa ngehina orang di pinggir jalan!"

"Tapi dia nggak punya apa-apa, Ra!"

"Dia punya aku! Dan dia punya kehormatannya!" potong Aurora pedas. "Pergi nggak kalian dari sini! Jangan pernah hina suami aku lagi. Kalau kalian nggak suka sama pilihan hidupku, silakan pergi. Aku nggak butuh fans yang nggak punya hati kayak kalian!"

Bintang segera memberi kode pada tim keamanan studio untuk membubarkan kerumunan. Dengan wajah merah padam, para pengacau itu akhirnya mundur saat polisi mulai mendekat.

Begitu sampai di dalam ruang ganti, pintu langsung dikunci rapat. Kak Rio sudah menunggu dengan wajah pucat. "Ya Tuhan, Aurora! Kamu nggak apa-apa? May, ambilkan air hangat! Cepat!"

Aurora duduk di kursi rias, tubuhnya mulai gemetar. Amarahnya tadi berubah menjadi syok. Bau telur itu memenuhi ruangan, membuat Mayang harus menutup hidungnya sambil menyiapkan handuk basah.

"Non... aduh, rambut Non bau telur sampai ke akar-akarnya," keluh Mayang sedih sambil mulai membersihkan helai rambut Aurora.

"Biarin, Kak May... yang penting mereka tahu mereka salah," gumam Aurora lemas.

Mayang menghela napas, ia mengambil ponselnya yang terus-menerus bergetar. "Non, ini gila. Video Non tadi pas ngelabrak mereka sudah viral di Twitter dan Instagram. Semua orang lagi bahas 'Suami Ajudan Aurora Widjaja'."

Aurora mendongak, menatap bayangannya di cermin. "Non, siapa yang nyebarin berita pernikahan Non sama Langit? Harusnya kan ini rahasia keluarga?" tanya Mayang dengan nada menyelidik.

"Aku nggak tahu, Kak. Aku juga kaget tadi. Semalam kami masih baik-baik saja di rumah. Papa juga nggak mungkin bocorin karena Papa paling anti urusan keluarga masuk berita," jawab Aurora bingung.

Tiba-tiba, pintu diketuk dengan keras. Bintang masuk dengan wajah serius. "Non, saya baru saja mendapat kabar. Kak Elang sudah melihat videonya. Beliau sangat marah dan sekarang sedang dalam perjalanan ke sini bersama tim pengacara."

Aurora memijat pelipisnya. "Mas Elang pasti bakal ngamuk. Tapi yang aku takutin bukan Mas Elang, Bintang..."

"Lalu siapa, Non?" tanya Bintang.

"Mas Langit," bisik Aurora lirih. "Dia paling nggak suka kalau aku kena masalah gara-gara dia. Dia bakal merasa bersalah banget kalau tahu aku dilempar telur karena statusnya dia sebagai ajudan."

Ponsel Aurora berbunyi. Nama 'Mas Langit' muncul di layar. Aurora menelan ludah, ia memberi isyarat agar semua orang diam.

"Halo, Mas..." suara Aurora dibuat seceria mungkin, meski ia sedang menahan tangis.

"Kamu di mana?" suara Langit di seberang sana terdengar sangat rendah, jenis suara yang keluar kalau dia sedang menahan amarah yang meledak.

"Di studio, Mas. Baru mau mulai foto—"

"Jangan bohong, Ra. Bintang sudah lapor semuanya ke aku. Aku minta maaf..." suara Langit mendadak melemah, ada nada luka di sana. "Aku yang salah. Harusnya aku sadar diri siapa aku sebelum bawa kamu ke posisi sulit seperti ini."

"Nggak, Mas! Kamu denger kan apa yang aku bilang di video itu? Aku nggak peduli! Mereka yang nggak tahu apa-apa!" seru Aurora, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang masih ada sisa noda telur.

"Pulang sekarang. Aku sudah minta izin Bapak. Aku akan jemput kamu sekarang juga. Jangan bicara sama media, jangan baca komentar. Tunggu aku, Sayang."

Klik. Telepon ditutup.

Aurora menunduk, membiarkan Mayang membersihkan sisa telur di blazernya. Di luar sana, dunia mungkin sedang menghakiminya karena mencintai seorang ajudan. Tapi di dalam hatinya, Aurora tahu, bau telur ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa bangganya memiliki Langit.

"Kak Rio, foto hari ini batalkan saja," ucap Aurora tegas. "Aku mau pulang. Suami aku mau jemput."

Rio hanya bisa mengangguk pasrah. Di hari itu, satu Indonesia tahu, bahwa seorang Aurora Widjaja bukan hanya seorang model, tapi seorang istri yang siap menjadi tameng bagi suaminya, meski harus bermandikan telur busuk sekalipun.

***

Mobil SUV hitam yang dikawal dua motor patroli berhenti tepat di depan lobi studio. Puluhan wartawan yang sudah siaga sejak video viral itu muncul, langsung merangsek maju. Kilatan lampu flash kamera menyambar-nyambar seperti badai petir di siang bolong.

Langit turun dari mobil. Wajahnya sedingin es, rahangnya mengeras, dan sorot matanya tajam menatap kerumunan di depannya. Ia tidak mengenakan seragam ajudan biasanya, melainkan kemeja hitam yang pas di tubuh tegapnya, memberikan kesan intimidasi yang nyata.

"Mas Langit! Benar Anda sudah menikah dengan Aurora?!"

"Apa benar Anda hanya memanfaatkan posisi sebagai ajudan untuk mendekati putri Bapak Anggara?!"

"Bagaimana tanggapan Anda soal Aurora yang dilempar telur oleh fans?!"

Langit tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia membelah kerumunan wartawan dengan bahunya, langkahnya mantap dan tak terhentikan. Bintang dan beberapa petugas keamanan studio segera membentuk barikade, menahan desakan pemburu berita yang haus akan klarifikasi.

Begitu pintu kaca studio tertutup dan terkunci, suasana mendadak sunyi. Langit berjalan menyusuri koridor dengan langkah lebar, menuju ruang ganti nomor satu.

Brak!

Pintu ruang ganti terbuka. Semua orang di dalam—Kak Rio, Mayang, dan beberapa staf—tersentak.

"Mas..." lirih Aurora. Ia masih duduk di depan cermin, rambutnya masih basah setelah dibersihkan oleh Mayang, dan ia mengenakan kaos kebesaran milik Bintang karena blazernya sudah hancur.

Langit terpaku di ambang pintu. Matanya tertuju pada bahu Aurora yang memerah karena gesekan handuk, dan aroma amis telur yang masih samar-samar tercium di ruangan itu. Hati Langit mencelos. Pria yang biasanya tahan banting menghadapi peluru ini merasa hancur melihat istrinya dalam kondisi seperti ini.

"Keluar," ucap Langit rendah namun penuh penekanan.

"Tapi, Langit—" Kak Rio mencoba bicara.

"Saya bilang keluar. Semuanya," potong Langit, matanya menatap Rio dengan tajam.

Tanpa banyak bicara, Rio dan Mayang segera keluar, meninggalkan pasangan itu berdua saja. Begitu pintu tertutup, Langit langsung berlutut di depan kursi Aurora. Ia menggenggam kedua tangan Aurora yang terasa dingin dan gemetar.

"Maaf... maafkan aku, Ra," bisik Langit, suaranya serak karena menahan emosi. Ia menundukkan kepala, menyandarkannya di pangkuan Aurora. "Harusnya aku yang ada di sana. Harusnya aku yang kena telur itu, bukan kamu."

Aurora mengusap rambut Langit yang rapi, air matanya jatuh lagi. "Bukan salah kamu, Mas. Jangan minta maaf. Aku nggak apa-apa, beneran."

"Nggak apa-apa gimana?" Langit mendongak, matanya merah. "Kamu dipermalukan di depan umum karena aku. Mereka bilang aku rendah, mereka bilang kamu nggak pantas sama aku. Aku nggak masalah mereka hina aku, Ra. Aku sudah biasa. Tapi kalau mereka menyentuh kamu... aku nggak bisa diam saja."

Aurora menangkup wajah Langit dengan kedua tangannya. "Dengerin aku, Mas. Aku nggak peduli apa kata mereka. Kamu lihat kan di video itu? Aku bangga punya kamu. Aku nggak malu jadi istri kamu. Yang rendah itu mereka, bukan kita."

Langit berdiri, lalu menarik Aurora ke dalam pelukannya. Ia mendekap istrinya begitu erat, seolah ingin menyembunyikan Aurora dari kekejaman dunia luar. "Aku sudah bicara sama Bapak. Aku akan urus ini. Siapa pun yang membocorkan foto pernikahan kita, dan siapa pun yang menyentuh kamu hari ini... mereka akan tahu konsekuensinya."

Sepuluh menit kemudian, Langit dan Aurora sudah bersiap untuk keluar. Aurora kini mengenakan jaket hoodie milik Langit yang besar, menutupi kepala dan wajahnya agar tidak terlalu terekspos.

"Mas, wartawannya banyak banget di depan," bisik Aurora cemas.

"Jangan takut. Pegang tangan aku yang kencang. Jangan lepas," instruksi Langit.

Begitu pintu keluar terbuka, kebisingan kembali meledak. Wartawan berteriak sahut-menyahut. Langit merangkul pundak Aurora, melindungi istrinya sepenuhnya di bawah ketiaknya, sementara tangan satunya membelah jalan.

"Mas Langit! Berikan satu pernyataan!"

Langit berhenti mendadak tepat di depan pintu mobil. Ia menoleh ke arah kamera-kamera yang menyorotnya. Keheningan tercipta sesaat karena aura kepemimpinan Langit yang begitu kuat.

"Satu hal yang perlu kalian tahu," suara Langit terdengar berat dan masuk ke semua mikrofon wartawan. "Saya memang seorang ajudan. Tapi bagi Aurora, saya adalah suaminya. Jika kalian merasa selera istri saya rendah karena memilih saya, maka itu urusan kalian. Tapi jika ada satu orang lagi yang berani menyentuh atau menghina istri saya seperti tadi... kalian tidak akan berurusan dengan seorang ajudan, tapi dengan saya secara pribadi."

Langit tidak menunggu balasan. Ia membukakan pintu mobil untuk Aurora, memastikan istrinya masuk dengan aman, lalu ia menyusul masuk. Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan para wartawan yang terpaku setelah mendengar gertakan dari pria kaku tersebut.

Di dalam mobil, Aurora menyandarkan kepalanya di bahu Langit. Ia merasa sangat aman. Kehadiran Langit seolah menjadi benteng yang tidak bisa ditembus oleh kebencian mana pun.

"Mas... makasih ya," bisik Aurora pelan.

Langit mencium dahi Aurora. "Kita akan pindah ke apartemen secepatnya, Ra. Di mansion sudah tidak aman lagi buat kamu, wartawan pasti akan menunggu di sana."

"Mas sudah bilang Papa?"

"Bapak sudah setuju. Beliau juga marah besar. Bapak sudah perintahkan tim hukum untuk melacak pelakunya," jawab Langit. Ia menggenggam tangan Aurora erat. "Aku akan jagain kamu lebih ketat lagi, Ra. Nggak akan ada satu butir telur pun yang bakal kena kamu lagi. Aku janji."

Aurora tersenyum di balik kesedihannya. Ia tahu, meskipun suaminya adalah seorang ajudan yang sering diremehkan, bagi Aurora, Langit adalah pahlawan yang paling nyata. Pernikahan mereka mungkin sedang diuji oleh badai, tapi justru di tengah badai itulah, Aurora tahu bahwa pilihannya pada Mas Ajudan yang kaku ini adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

***

😭😭😭

1
apiii
gasabar buat nunggu eps selanjutnya🤭
apiii
ditunggu ya thor🤭
apiii
bau" mau end🥲 jangan dikasih end dulu thor mau liat mas langit punya mantu🤭
Penulis GenZ: buru-buru banget kak🤣
total 1 replies
Rita Rita
cieee,,, mas mas Langit,dari kaku jadi kemayu 🤭🤣🤣 cinta merubah posisi 🤣❤️❤️❤️
apiii
gamau end thor udh secinta itu sama si cegil🥲
Penulis GenZ: nanti cegil ada kok diceritanya haura🤣 🤭
total 1 replies
apiii
ciee cegil🤣
Pa Muhsid
sebentar lagi kondangan yee prasmanan nya pasti beda sama dikampung 🤭🤭🤭
English Lesson
Kak, Baddie in love dihapus ya? padahal ceritanya bagus 😔, ganti judul saja Kak
Penulis GenZ: sepi pembaca kak jadi aku hapus😄. yang komen pun nggak ada.
total 1 replies
vivian
wah cegil ,drpd dijodohin sma Syahroni🔥🔥
vivian
benar2 cegiill🔥
apiii
puas banget tapi jangan end ya thor
Penulis GenZ: tenang masih lama hehe. selagi banyak yang komen+like aku lamain🌚
total 1 replies
Rita Rita
kalo AQ mah suka banget Thor yg bab panjang begini 🤣🤣 puas bacanya ga ngebosenin,, kasian sama author nya aja. tapi love sekebon pak Bambang lah Thor 🤭🤣😍😍😍❤️
Visencia Alingga
❤❤❤❤❤
apiii
suka bngt sama pasangan ini❤️
Yosi Indah
cepetan beli rumah sendiri Mas Langit, ikut mertua mah riweuh 🤣🤣🤣
apiii
yg sekarang udh dpt restu makin lengket aja🤭
Pa Muhsid
ajudan pink
Penulis GenZ: heh no no ya
total 1 replies
Yayu Rulia
hahaaha..warna pink nggk tuh..
Rita Rita
siap Thor,,, lagian novel mu sangat berbobot dan sangat hidup narasi nya jelas enak dibaca typo nya apek,,
Yuliana Pesik
ayoooo lanjutkan sampe dapet 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!