Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Arka melangkah masuk ke kamar mereka dan menaruh tas jinjing yang ia bawa di atas sofa kecil di sudut ruangan. Setelah meletakkan barang-barang, ia segera keluar dan berjalan menuju kamar orang tuanya dengan langkah yang lebih cepat, didorong oleh rasa khawatir yang sejak tadi menghimpit dadanya.
Sesampainya di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat itu, Arka mengetuk pelan beberapa kali agar tidak mengejutkan orang yang ada di dalam.
"Assalamualaikum, Bu." ucap Arka dengan suara lembut.
"Siapa?" tanya Kirana dari dalam dengan suara yang terdengar sedikit parau dan lemah.
"Arka, Bu," jawabnya singkat.
Mendengar suara putra sulungnya, nada bicara Kirana terdengar sedikit lebih bersemangat meskipun masih sayu. "Masuk saja, Bang," titahnya.
Arka perlahan memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Aroma minyak kayu putih langsung menyambut indra penciumannya. Ia melihat ibunya sedang bersandar di tumpukan bantal dengan wajah yang tampak pucat, sebuah pemandangan yang membuat hati Arka sebagai seorang anak sekaligus dokter merasa tersentuh.
Arka melangkah mendekat ke ranjang, lalu duduk di tepi kasur. Ia segera menempelkan punggung tangannya ke dahi Kirana, mengecek suhu tubuh ibunya dengan naluri seorang dokter yang tak bisa hilang.
"Badan Ibu masih hangat. Sudah minum obat?" tanya Arka lembut sambil membenarkan letak selimut ibunya.
Kirana tersenyum tipis, matanya menatap Arka dengan sayu. "Sudah tadi, dibantu Tiara. Ibu cuma kangen saja, Bang. Makanya kepikiran sampai meriang begini."
Arka menghela napas, ia menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin. "Arka sama Lilis sudah di sini sekarang. Ibu jangan banyak pikiran dulu, fokus istirahat biar cepat sehat. Lilis lagi di dapur bantu Tiara masak buat makan malam."
"Lilis ikut juga? Syukurlah kalau dia mau datang," sahut Kirana, ada binar lega di matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Iya, Bu. Tadi pas diajak, dia langsung semangat mau jenguk Ibu,"
Sementara itu di dapur, suasana tampak cukup sibuk. Lilis yang sudah mengenakan celemek cadangan milik Tiara mulai membantu memotong sayuran.
"Lilis, maaf ya jadi ngerepotin. Padahal baru sampai," ucap Tiara merasa tidak enak hati melihat kakak iparnya langsung bekerja.
Lilis tersenyum tulus sambil tangannya lincah mengiris wortel. "Nggak apa-apa, Tiara. aku malah senang bisa bantu. Ibu biasanya paling suka makan apa kalau lagi nggak enak badan begini? Biar aku yang masakin spesial buat Ibu."
"Ibu lagi pengen sup ayam bening. Katanya tenggorokannya sakit kalau makan yang berminyak," jawab Tiara.
Lilis mengangguk paham. Di sela-sela kegiatannya, sesekali ia melirik ke arah ruang tengah, memastikan Zayn dan Aira tidak berbuat gaduh yang bisa mengganggu istirahat ibu mertuanya.
Arka masih duduk di sisi ranjang, genggamannya pada tangan ibunya terasa begitu hangat namun juga penuh rasa ingin tahu. Sebagai seorang dokter, ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar demam biasa pada kondisi Kirana.
"Ibu kenapa bisa sampai sakit begini? Nggak mungkin nggak ada apa-apa, kan? Masalah apa yang lagi Ibu pikirkan?" tanya Arka.
Kirana tersenyum lemah melihat putra sulungnya itu. Ia selalu merasa bahwa di antara anak-anaknya, Arka adalah yang paling tahu segalanya dan yang paling sulit untuk dibohongi jika menyangkut perasaan.
"Ibu cuma merasa lelah saja, Bang," jawab Kirana pelan.
"Jangan bohong sama Arka, Bu. Ayah bilang Ibu kepikiran sesuatu," desak Arka lagi.
Kirana menghela napas panjang, matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Bang... Ibu ini sudah tua. Fisik Ibu nggak sekuat dulu lagi. Mungkin sudah saatnya juga Ibu mulai melepaskan banyak hal dan beristirahat."
Mendengar kalimat itu, Arka merasa dadanya sesak. "Jangan bicara seperti itu, Bu. Ibu masih sehat, masih kuat. Arka bakal pastikan Ibu sembuh. Apa karena Zayn atau Aira yang nakal? Atau ada masalah lain?"
Kirana menggeleng perlahan. "Bukan mereka. Mereka itu hiburan buat Ibu. Hanya saja, belakangan ini Ibu sering merasa kalau waktu berjalan begitu cepat, dan Ibu takut belum memberikan yang terbaik buat kalian semua."
Arka terdiam sejenak, merasakan tangan ibunya yang sedikit gemetar dalam genggamannya. Tatapan Kirana tampak menerawang, seolah sedang melihat sesuatu yang jauh melampaui dinding kamar itu.
"Bang... semalam Ibu bermimpi," ucap Kirana lirih. "Ibu bertemu dengan Ayahmu."
Gerakan tangan Arka yang sedang mengusap punggung tangan ibunya terhenti seketika. Nama mendiang Arya, ayah kandung Arka dan Tiara, selalu menjadi topik yang sensitif di rumah ini.
"Ayahmu datang, Bang. Dia berdiri di sana, di dekat pintu itu. Wajahnya tenang sekali, dia cuma tersenyum dan melambai ke arah Ibu," lanjut Kirana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kirana menggeleng pelan, setetes air mata jatuh di pipinya yang pucat. "Tapi rasanya nyata sekali, Arka. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Ibu merasa... seolah-olah dia sudah menunggu Ibu di sana."
"Ibu, dengar Arka," potong Arka dengan nada yang sedikit lebih tegas namun tetap penuh kasih. "Ibu masih punya ayah Yuda, Arka, Tiara, Zayn, dan Aira di sini. Kami semua masih butuh Ibu. Jangan bicara soal pergi dulu. Sekarang fokus saja untuk sembuh."
Tepat saat suasana semakin emosional, terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah, diikuti suara pintu mobil yang tertutup dengan keras. Itu adalah pertanda Yuda dan Kenan sudah pulang dari pabrik.
Arka mengusap lembut tangan ibunya, mencoba mengalirkan ketenangan agar Kirana tidak terus terbebani oleh mimpi tersebut.
"Jangan dipikirkan ya, Bu," ucap Arka dengan nada yang menyejukkan. "Ibu istirahat dulu biar aku ambilkan makanan Ibu kalau sudah masak."
Kirana hanya mengangguk lemah, namun sorot matanya tampak sedikit lebih lega mendengar perhatian putra sulungnya.
"Tiara sama istri aku loh, Bu, yang masak di bawah," lanjut Arka sambil tersenyum tipis.
Kirana tersenyum tipis mendengarnya. "Iya, Bang. Sampaikan terima kasih sama Lilis, ya. Ibu jadi nggak enak sudah merepotkan kalian semua."
"Nggak ada yang merasa direpotkan, Bu. Kita semua cuma mau Ibu cepat sembuh," sahut Arka sebelum bangkit dari sisi ranjang untuk mengecek keadaan di dapur.
suka aja sama ceritanya.