Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Menemani Ke Dokter
Agam berdiri di dekat coffee maker yang menyatu rapi dengan kabinet dapur.
Satu cangkir porselen putih diambilnya dari rak. Diletakkan tepat di bawah mulut mesin.
Posisinya disesuaikan sedikit.
Tombol di panel hitam mengilap itu ditekan. Gelas pun terisi kopi.
Agam membawa gelas kopi hangat itu melintasi koridor yang menuju ke ruang tengah.
Terdengar langkah kaki mendekat disusul sapaan
"Selamat pagi, Pak Agam." Winda sejenak berdiri dengan sopan.
Agam mengangkat pandangannya. "Pagi. Bagaimana kondisi nona Shafiya?"
Ia bertanya langsung.
"Masih sering pusing. Nanti jam 9 mau ke AMC untuk periksa."
"Kenapa tidak minta dokternya saja yang datang kesini?"
Menurut Agam itu lebih efektif dengan kondisi Shafiya saat ini. Dan lagi menghadirkan salah satu dokter spesialis di Adinata Medical Center ke rumah ini bukan perkara susah.
"Nona tidak mau, Pak,"kata Winda cepat. Ia kemudian menoleh kanan kiri, sekedar mengamati situasi sebelum melanjutkan ucapan.
"Katanya biar sekalian bisa keluar."
Agam mengangguk. Ia bisa langsung paham dengan keputusan itu.
Agam meneruskan langkah ke ruang kerja Sagara. Urusan pekerjaan telah menunggu mereka di sana.
Hari ini mereka briefeng lebih awal karena nyonya Anjani meminta Sagara datang ke mansion Adinata untuk sarapan bersama.
Pastinya itu bukan hanya agenda sarapan biasa. Ada hal yang lebih penting dari sekedar duduk dan makan bersama di satu meja.
Setengah jam kemudian, usai menata agenda kerja hari itu, Sagara bangkit bersiap hendak ke mansion.
"Berapa lama di sana?" tanya Agam santai. Gelas kopi itu ia angkat dan menyesapnya pelan.
"Biasanya tak kurang dari satu jam."
Menjawab tanpa menoleh. Itu jadi salah satu kebiasaan Sagara.
"Dari sana aku langsung ke Adinata Holding," katanya lagi.
Agam diam sejenak, lalu menyusul berdiri.
"Sebaiknya jangan."
Sagara mengangkat pandangan ke Agam. Isyarat tanya tanpa kata.
"Jadwalmu di Adinata mulai berjalan dari jam 10 pagi ini."
"Lalu?"
"Ada waktu satu jam." Agam mendekat ke Sagara. "Untuk temani nona Shafiya ke dokter."
"Jadwal periksa sudah lewat. Kemarin," sahut Sagara. Ia mengingat jadwal itu, meski mungkin tak pernah menanyakan.
Agam tersenyum. "Justru itu, ada sedikit hal yang membuatnya harus periksa lagi hari ini. Jam 9."
Sagara tak langsung menjawab. Tangannya menyentuh panel di ujung meja. Tak lama pintu dibuka dari luar. Asistennya masuk dan berdiri di sisi ruangan.
Ia lalu menatap Agam.
"Untuk itu sudah ada yang bertugas," katanya. Lalu berjalan ke pintu. Asisten mengikuti dan pintu itu menutup.
Dan Agam masih bertahan dalam ruangan. Masih ada beberapa pekerjaan tersisa yang harus ia selesaikan.
...
...
Menjelang jam 9.
Mobil yang akan mengantar Safiya sudah siap. Gadis itu berjalan melintasi teras bersama Winda. Langkahnya pelan, dan cukup hati-hati.
"Sudah mau berangkat?" Agam berdiri di ujung teras itu. Memperhatikan setiap gerak Shafiya. Dan ia paham, perempuan itu memang sedang tidak baik-baik saja.
"Iya, Mas Agam."
"Saya antarkan." Agam maju.
"Tidak mengganggu?"
Agam menggeleng. "Memang sedang tidak ada jadwal." Ia lalu memberi isyarat pada supir untuk membuka pintu depan.
Shafiya sudah masuk ke mobil. Duduk di kursi penumpang bersama Winda.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke Adinata Medical Center.
Jam sembilan lewat sekian, mereka tiba di ruang praktek dokter Zulaika. Dan seperti biasa ruangan itu sudah disiapkan dari beberapa saat sebelumnya setiap kali jadwal pemeriksaan Shafiya.
"Ning Shafiya." Dokter Zulaika menyambut Shafiya hangat. Nadanya akrab. Seperti bukan antara dokter dan pasiennya. Namun demikian kesan profesional masih tertangkap.
"Gimana hari ini, masih pusing?"
"Sejak semalam, Dok."
Zulaika menggenggam kedua tangan Shafiya. Menatap dalam kedua matanya.
"Mari kita bicara bukan sebagai dokter dan pasien." Ia diam sejenak, tersenyum.
"Tapi pembicaraan antara Zulaika dan Shafiya. Nasab kita masih nyambung di buyut yang sama kan?"
Shafiya mengangguk antusias. Ajakan itu sepertinya sangat ia suka.
Agam yang berdiri di luar pintu menangkap semua itu. Alisnya sedikit mengernyit. Namun demikian ia tidak menyela. Dan tetap berada di tempatnya.
Agam paham, jika seorang profesional dokter berkata demikian, itu tidak luput dari bagian pemeriksaan. Hanya caranya saja yang tidak biasa.
"Apa kabar pesantren? Dengar-dengar beberapa hari lalu kamu ke sana." Zulaika membimbing Shafiya duduk. Dan pembicaraan awal tak lagi tentang diagnosa medis. Kesehatan. Kehamilan.
Dan ternyata topik pertama yang dipilih dokter Zulaika itu menjadi pemicu Shafiya menanggapi dengan semangat.
Hampir tiga puluh menit obrolan mereka mengalir. Dimulai dari topik yang ringan, hingga perlahan naik, dan mulai menyentuh ranah sensitif.
Terakhir, baru dilakukan pemeriksaan medis seperti biasa.
"Ning Shafiya." Zulaika menatap wajah cantik yang sedikit pucat itu, lembut.
"Boleh saya bicara sebentar dengan pak Agam?"
"Tentu." Shafiya mengangguk.
"Saya keluar dulu, Dokter Zul."
Beberapa saat kemudian, Agam sudah duduk tepat di depan dokter Zulaika. Dipisahkan meja kayu licin yang terdapat beberapa berkas di atasnya.
"Sebenarnya saya berharap, pak Sagara yang mengantar." Dokter Zulaika membuka pembicaraan.
"Jadwalnya padat. Belum bisa digeser."
Jawaban yang tidak sepenuhnya jujur. Juga tidak seutuhnya bohong.
"Saya paham." Dokter Zulaika mengangguk. Kursi CEO Adinata Holding, memang bukan kursi goyang tempat untuk duduk santai.
"Ada hal tentang nona Shafiya?" Agam langsung menangkap arahnya.
"Iya. Sedikit hal. Yang keluarganya perlu tahu."
"Beritahukan saja," kata Agam mantap.
"Saya pastikan sampai dengan utuh ke pak Sagara."
Dokter Zulaika mengangguk. "karena itu, saya ingin bicara dengan Pak Agam."
"silakan Dokter."
“Secara fisik… kondisi kehamilan ning Shafiya masih baik,” ucap Dokter Zulaika dengan nada tenang.
“Tidak ada tanda yang mengarah ke sesuatu yang membahayakan saat ini.”
Ia lalu mengangkat pandangan. Menatap Agam.
“Tapi yang saya lihat bukan hanya dari hasil pemeriksaan.”
"Lalu?"
“Keluhan yang muncul, seperti pusing, hampir pingsan, mual yang berulang, itu bisa saja dianggap reaksi biasa dalam kehamilan. Tapi pada kasus ning Shafiya… tidak sesederhana itu.”
Agam menatap lebih fokus.
Tangannya menyatu di atas meja.
“Tubuh itu merespon apa yang terjadi di dalam pikiran. Dan pada beliau… responnya cukup kuat.”
Dokter Zulaika melanjutkan, masih dengan nada yang sama.
“Ning Shafiya tidak makan dengan teratur. Istirahatnya kurang. Dan dari cara beliau menjawab beberapa pertanyaan tadi… terlihat jelas ada beban yang ditahan. Tidak diungkapkan. Tidak dibagi.”
Zulaikan berhenti sejenak. Memastikan kalimat berikutnya sampai dengan tepat.
“Kehamilan itu bukan hanya kondisi fisik, Pak Agam. Juga sangat dipengaruhi oleh kondisi psikis. Kalau pikirannya tenang, tubuh biasanya akan mengikuti. Tapi kalau yang terjadi sebaliknya… tubuh yang akan lebih dulu ‘berbicara’.”
Agam mengangguk pelan. Pikirannya terus menyimak, sekaligus juga berjalan.
“Beberapa waktu lalu, mungkin sempat membaik,” lanjut dokter Zulaika lebih halus. “Ada rasa aman. Ada rasa dilindungi. Itu cukup membantu menstabilkan kondisinya.”
Ia tidak menyebut nama. Tapi maksudnya jelas. Dan Agam juga menangkap arah pembicaraan itu dengan cepat.
“Namun saat itu hilang… atau berkurang… beban yang sebenarnya belum selesai itu akan kembali. Bahkan bisa terasa lebih berat.”
“Dan hal seperti ini bukan kondisi yang bisa diselesaikan dengan obat saja.”
Zulaika menatap Agam lebih serius.
“Yang dibutuhkan bukan hanya kontrol rutin. Tapi juga… kestabilan emosi. Rasa aman. Lingkungan yang membuat beliau tidak merasa sendiri menghadapi semuanya.”
“Dan kalau hal ini tidak ditangani… keluhan fisiknya bisa terus berulang. Dan itu akan melelahkan. Untuk ning Shafiya… dan untuk kehamilannya.”
Ruangan itu menjadi hening beberapa detik.
"Baik. Saya paham." Agam diam sejenak. "Saya catat, dan saya sampaikan."
Dokter Zulaika mengangguk.
"Dan apa saran dokter terkait ini semua?"
tanya Agam kemudian.
“Pesan sederhana saja, Pak. Pastikan ning Shafiya tidak sendiri. Bukan hanya secara fisik. Tapi juga secara… perasaan.”
Tatapannya sedikit melembut.
“Karena yang sedang beliau hadapi… bukan hanya kehamilan.”