NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pelatihan regu

Dua minggu telah berlalu sejak latihan survival di hutan. Tubuh para peserta mulai pulih, luka-luka kecil mengering, dan semangat kembali membara. Pagi itu, 12 Agustus 1963, lapangan utama kamp dipenuhi seratus anak dengan seragam hijau mereka. Udara pegunungan masih dingin, tapi matahari pagi sudah mulai hangat.

Komandan Lei berdiri di depan, di sampingnya sebuah papan besar dengan peta hutan. Wajahnya hari ini berbeda—ada kilatan antusias di mata tajamnya.

"Pagi ini," suaranya menggema, "kalian akan memulai latihan terbesar sebelum ujian akhir. Latihan tim."

Semua peserta diam, menunggu.

"Kalian akan dibagi menjadi sepuluh regu, masing-masing sepuluh orang. Setiap regu akan bertempur merebut bendera lawan di area hutan seluas lima kilometer. Boleh menggunakan strategi apa pun. Boleh menyergap, boleh menjebak, boleh berpura-pura. Yang penting: rebut bendera lawan, pertahankan bendera sendiri."

Xia Feng yang berdiri di barisan depan bersiul pelan. "Baru juga latihan tim, langsung perang."

Lin Yue di sampingnya berbisik, "Aku harap satu tim dengan Jinyu."

Komandan Lei melanjutkan, "Pembagian tim berdasarkan penilaian instruktur. Bukan pilihan kalian. Setiap tim akan memiliki anggota dengan kemampuan berbeda. Tujuan: belajar bekerja sama."

Ia mulai membaca daftar. Satu per satu nama disebut. Jinyu mendengar namanya dipanggil bersama Xia Feng, Lin Yue, dan tujuh anak lain—kebanyakan dari mereka adalah peserta yang kurang menonjol. Dua di antaranya bahkan terlihat cemas.

Yang menarik, di tim lawan yang akan mereka hadapi, ada nama Zhang Wei—remaja 16 tahun dari keluarga militer berpengaruh. Ia terkenal sombong dan kuat. Di timnya juga bergabung anak-anak pilihan, termasuk beberapa peserta terbaik.

Xia Feng mendengus. "Kita dapat tim lemah. Zhang Wei dapat tim kuat."

Lin Yue mencoba optimis. "Kita punya Jinyu."

Jinyu diam saja, mengamati anggota timnya. Ada yang terlalu kurus, ada yang terlalu gemuk, ada yang matanya sayu seperti kurang tidur. Dalam hati ia menghela napas.

["Tim lo pada lembek semua,"] sistem berkomentar. ["Ini kayak dikasih bonus susah."]

Diam. Kan bisa nanti ajak mereka kerja sama.

Shshsss~ "Jinyu, kau bisa. Aku bantu dari atas pohon."

Dua hari pertama diisi latihan tim. Jinyu mencoba menyusun strategi sederhana, tapi anggota timnya sulit diatur. Yang paling bermasalah adalah dua anak sebut saja A dan B yang selalu bertengkar soal siapa yang paling hebat.

Hari ketiga, saat latihan simulasi di hutan, tim mereka disergap tim Zhang Wei. Xia Feng dan Lin Yue berusaha melawan, tapi kalah jumlah. Jinyu yang sedang memantau dari kejauhan terpaksa turun tangan, tapi saat itu Zhang Wei sudah mengepung mereka.

"Wah, wah, wah," Zhang Wei tersenyum sinis. "Tim buangan. Pantas saja lemah. Si jenius kecil pun tidak bisa menyelamatkan kalian."

Xia Feng marah. "KAU!"

Jinyu menahan tangannya. "Diam."

Zhang Wei tertawa. "Lihat, dia takut. Anak 4 tahun memang cuma bisa lari." Ia menatap Jinyu dengan ejekan. "Besok saat pertempuran bendera, aku akan hancurkan tim kalian. Dan kau, si jenius kecil, akan menangis seperti bayi."

Jinyu menatapnya datar. Tidak ada amarah di matanya. Hanya ketenangan yang aneh.

"Terserah Kakak Zhang Wei."

Sikap Jinyu itu justru membuat Zhang Wei kesal. Ia mendengus, lalu pergi bersama timnya.

Setelah mereka pergi, Lin Yue berkata, "Jinyu, dia meremehkan kita."

Jinyu mengangguk. "Iya."

"Kita harus balas!"

Jinyu menatapnya. "Kita balas dengan menang. Bukan dengan marah."

Xia Feng yang tadinya emosi, perlahan tenang. "Kau punya rencana?"

Jinyu tersenyum tipis. "Tentu."

Malam sebelum pertempuran, Jinyu mengumpulkan timnya di barak. Dengan peta sederhana yang ia gambar, ia menjelaskan strategi.

"Tim Zhang Wei akan menyerang dengan kekuatan penuh. Mereka sombong, jadi mereka akan meninggalkan markas setengah kosong. Kita manfaatkan itu."

Anggota tim bingung. "Maksudmu?"

Jinyu menunjuk titik di peta. "Kita bagi dua tim. Tim penyerang dan tim bertahan. Tim bertahan akan terus bergerak, tidak diam di satu tempat. Buat mereka kejar-kejaran. Sementara itu, tim penyerang akan menyusup ke markas mereka dan ambil bendera."

Xia Feng mengangkat tangan. "Aku ikut tim penyerang?"

"Tidak." Jinyu menunjuk dirinya. "Aku sendiri. Kalian semua tim bertahan."

"Apa?!" seru yang lain. "Kamu sendiri?"

Jinyu mengangguk. "Aku kecil, cepat, dan bisa bersembunyi. Kalian lebih baik bergerak bersama, jaga diri, dan buat mereka sibuk."

Lin Yue cemas. "Tapi kalau kau ketangkap?"

"Tidak akan."

Keputusan itu terdengar gila. Tapi setelah melihat ketenangan Jinyu, mereka akhirnya setuju.

Pertempuran dimulai pukul 8 pagi. Hutan dibagi dua zona, bendera masing-masing tim ditempatkan di markas. Aturan: tidak boleh melukai serius, tidak boleh menggunakan senjata tajam. Sisanya, bebas.

Begitu dimulai, tim Zhang Wei langsung menyerang dengan agresif. Mereka menerobos hutan, dipimpin Zhang Wei yang penuh percaya diri. Tim Jinyu yang disebut Tim Elang bergerak sesuai rencana. Mereka tidak diam, terus berpindah tempat, membuat jejak palsu, dan memancing musuh masuk ke area rawan.

Zhang Wei kesal. "Kejar mereka! Jangan biarkan lolos!"

Dua jam pertama, kejar-kejaran berlangsung sengit. Xia Feng hampir tertangkap dua kali, Lin Yue jatuh ke sungai kecil, tapi mereka terus bergerak. Sementara itu, Jinyu diam-diam menyusup ke area musuh.

Ia bergerak cepat dari pohon ke pohon, memanfaatkan tubuh kecilnya. Yoyo melingkar di pergelangan, memberi info dari atas.

Shshsss~ "Jinyu, markas mereka dijaga tiga orang. Dua di depan, satu di belakang."

Bagus. Rute terbaik?

Shshsss~ "Dari timur. Ada semak tinggi."

Jinyu berputar, mengambil rute semak. Ia merayap seperti ular, tanpa suara. Saat penjaga belakang lengah sedang menguping radio, Jinyu melesat masuk ke tenda markas.

Bendera tim Zhang Wei tergantung di tiang tengah. Merah, dengan simbol naga.

Jinyu meraihnya. Tapi baru saja menyentuh, alarm berbunyi. Ternyata ada kawat tersembunyi.

"Sial!"

Penjaga berteriak, "PENYUSUP!"

Jinyu tidak panik. Ia menyambar bendera, lalu berlari keluar. Tiga penjaga mengejar. Tapi Jinyu terlalu cepat, terlalu lincah. Ia melompat ke pohon, berpindah cabang, menghilang di antara dedaunan.

Di markas tim Elang, Xia Feng menerima sinyal Jinyu berhasil. Ia berteriak, "MUNDUR! KUMPUL DI TITIK AMAN!"

Tim Elang mulai mundur, masih dikejar Zhang Wei. Tapi saat Zhang Wei sampai di markasnya, ia melihat tiang bendera kosong. Wajahnya merah padam.

"MANA BENDERAKU?!"

Penjaga tertunduk. "Diambil, Zhang Wei. Anak kecil itu..."

Zhang Wei mengamuk. "KEJAR! JANGAN LEPASKAN!"

Tapi pengejaran tidak mudah. Jinyu terus bergerak, berpindah arah, membuat mereka bingung. Di tengah hutan, ia bertemu Xia Feng dan Lin Yue.

"Jinyu! Kau berhasil!" Lin Yue berjingkrak.

Jinyu menyerahkan bendera. "Ini. Bawa ke garis finis. Aku akan tahan mereka."

Xia Feng mengernyit. "Kau sendiri? Mereka banyak!"

"Aku tidak sendiri." Jinyu menunjuk ke atas. Di cabang pohon, Yoyo melambai-lambai dengan ekornya. Xia Feng tidak melihatnya, tapi ia percaya pada Jinyu.

"Baik. Tapi hati-hati."

Mereka berlari. Jinyu berbalik, menghadap ke arah datangnya musuh.

Tim Zhang Wei muncul, dipimpin langsung oleh Zhang Wei yang marah besar.

"Su Jinyu! Kembalikan bendera!"

Jinyu tersenyum tipis. "Sudah dibawa pergi."

Zhang Wei memekik. "TANGKAP DIA!"

Empat anak terbesar maju. Jinyu mundur selangkah. Lalu—

Ia bergerak.

Bukan menghindar, tapi menyerang. Tubuh kecilnya melesat ke tengah mereka. Pukulan cepat ke ulu hati yang pertama, tendangan rendah ke lutut yang kedua, sikut ke dagu yang ketiga. Dalam hitungan detik, tiga anak tergeletak. Yang keempat mundur ketakutan.

Zhang Wei terbelalak. "KAU—!"

Ia sendiri maju. Tinjunya meluncur cepat. Jinyu menangkis, tapi kekuatan Zhang Wei lebih besar. Jinyu terhuyung. Zhang Wei tersenyum.

"Heh, tidak sehebat itu rupanya."

Tapi Jinyu tidak menyerah. Ia bangkit, mengatur napas. Kali ini ia tidak pakai kekuatan penuh hanya teknik. Tubuhnya berputar, menghindari serangan, lalu masuk ke dalam jarak dekat. Sikutnya menghantam rusuk Zhang Wei. Tendangan rendah menyapu kakinya.

Zhang Wei hampir jatuh, tapi bertahan. Ia marah, menyerang lebih keras. Jinyu mulai kelelahan tubuh kecil ini belum sepenuhnya kuat. Tapi ia tidak mau kalah.

Di saat kritis, Yoyo turun tangan. Ular perak itu melesat dari pohon, menggigit betis Zhang Wei. Bisa Yoyo tidak mematikan, tapi cukup membuat Zhang Wei kesakitan dan kaku.

"AARRGH!" Zhang Wei jatuh, kakinya kejang.

Jinyu menatapnya, lalu menatap Yoyo. Terima kasih.

Shshsss~ "Sama-sama. Cepat pergi."

Jinyu berlari meninggalkan mereka. Zhang Wei hanya bisa meringis di tanah.

Di garis finis, Xia Feng dan Lin Yue tiba lebih dulu. Bendera merah dengan simbol naga diserahkan pada Komandan Lei.

"Tim Elang menang," suara Komandan Lei menggema.

Semua bersorak. Xia Feng dan Lin Yue berpelukan. Anggota tim lain menangis haru. Mereka tidak percaya bisa menang.

Beberapa menit kemudian, Jinyu muncul dari hutan. Bajunya kusut, ada goresan kecil di pipi, tapi ia berjalan tegap. Xia Feng langsung memeluknya.

"JINYU! KAU HEBAT!"

Lin Yue ikut memeluk. "Kau benar-benar gila! Sendirian lawan mereka!"

Jinyu tersenyum kecil—sangat kecil. "Kalian juga hebat. Berhasil mengalihkan perhatian."

Zhang Wei akhirnya datang tertatih, dibantu teman-temannya. Ia menatap Jinyu dengan tatapan rumit antara marah, malu, tapi juga ada rasa hormat.

"Kau... kau curang," gerutunya.

Jinyu menatap datar. "Tidak. Aku hanya memanfaatkan kelemahanmu."

"Apa?"

"Kau terlalu percaya diri, sampai lupa jaga markas."

Zhang Wei terdiam. Tidak bisa membantah.

Komandan Lei mendekat. "Zhang Wei, kau kalah. Bukan karena mereka curang, tapi karena mereka lebih cerdas. Ingat itu."

Zhang Wei menunduk. Lalu, pelan, ia berkata, "Jinyu... kau hebat. Aku... minta maaf."

Jinyu mengangguk. "Sama-sama, Kakak Zhang Wei."

Malam harinya, di kantin, semua peserta makan malam bersama. Suasana hangat, berbeda dari biasanya. Xia Feng dan Lin Yue duduk di samping Jinyu, bercerita tentang pengalaman mereka.

Tiba-tiba Zhang Wei datang, membawa nampan. Ia duduk di seberang Jinyu.

"Boleh?"

Jinyu mengangguk.

Zhang Wei diam sebentar. Lalu berkata, "Besok, kalau ada latihan tim lagi, aku ingin satu tim denganmu."

Jinyu mengerjapkan mata. "Serius?"

"Serius. Aku ingin belajar darimu." Zhang Wei tersenyum getir. "Kau lebih hebat dari yang kukira."

Xia Feng berseru, "Wah, Zhang Wei ngaku kalah! Ini hari bersejarah!"

Semua tertawa. Zhang Wei cemberut, tapi ikut tersenyum.

Di dalam hati Jinyu, Yoyo berkomentar.

Shshsss~ "Nah, mulai punya pengikut lagi."

Bukan pengikut. Tapi Teman.

["Hmm, mengharukan,"] sistem menimpali. ["Tapi besok harus ambil herbal. kau sudah berjanji."]

Diam kau.

Jinyu tersenyum kecil. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar menjadi bagian dari kelompok ini. Bukan karena kekuatannya, tapi karena ia diterima.

Dan itu terasa... hangat.

1
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!