NovelToon NovelToon
"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

Status: tamat
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.

​Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.

penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Suara sirine peringatan meraung di seluruh penjuru mansion Knight, membelah keheningan malam Zurich yang biasanya tenang. Di layar monitor ruang komando, terlihat sebuah truk tangki raksasa dengan logo tengkorak menyala menerjang gerbang luar yang berlapis baja. Truk itu tidak meledak, melainkan menyemprotkan cairan kental berwarna hijau lumut yang mengeluarkan uap pekat ke seluruh halaman yang baru saja dipel Kenan tadi sore.

"Itu bukan sekadar limbah kimia," bisik Evelyn, matanya memindai spektrum warna uap di layar. "Itu Sulfur-X. Cairan korosif yang bisa merusak filter udara HEPA dan meninggalkan bau busuk yang tidak akan hilang selama satu dekade."

Wajah Arkan mengeras. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Baginya, ini bukan sekadar serangan mafia; ini adalah penistaan terhadap kuil kesterilannya. "Bau yang tidak hilang... selama satu dekade?"

Arkan mengambil masker oksigen futuristik yang terintegrasi dengan kacamata inframerah. "Kenan! Aktifkan protokol 'White Out'. Tutup semua ventilasi internal. Evelyn, jika kau ingin menari, lakukan sekarang. Tapi pakailah ini."

Arkan melemparkan sebuah jaket tactical berbahan polimer khusus yang licin dan kedap cairan. Evelyn menangkapnya dengan satu tangan, menyeringai tipis, lalu dengan cepat mengenakannya di atas baju pelayannya yang sobek. Ia menarik belati perak "Eve" dari balik pinggangnya.

"Jangan sampai terkena noda di wajahmu, Arkan. Aku tidak mau mencium bau sulfur saat kita melanjutkan interogasi nanti," goda Evelyn sebelum ia melompat keluar melalui jendela balkon lantai dua.

Hujan mulai turun, bercampur dengan uap kimia hijau di halaman. Evelyn mendarat dengan lentur di atas kap mobil patroli yang terparkir. Di depannya, dua puluh pria bertopeng dengan pakaian hazmat keluar dari balik truk tangki, memegang senapan serbu.

"Serang!" teriak komandan mereka.

Evelyn bergerak bukan seperti manusia, melainkan seperti bayangan yang menyelinap di antara tetesan hujan. Belati peraknya berputar di jemarinya, menciptakan garis cahaya di tengah kegelapan. Sret! Sret! Dua pria jatuh seketika dengan urat nadi di pergelangan tangan terputus—lumpuh, namun tidak mati, sesuai "permintaan kebersihan" Arkan yang tidak suka mayat bergelimpangan di rumahnya.

Di lantai atas, Arkan memantau melalui *drone* sterilisasi. Ia menekan tombol di panel kendali, dan tiga buah *drone* berbentuk cakram meluncur keluar. Bukannya menembakkan peluru, *drone* itu menyemprotkan cairan penetral ungu yang langsung menggumpalkan limbah hijau di tanah menjadi kristal padat yang mudah dibersihkan.

"Evelyn, arah jam dua! Ada sniper di atas truk!" suara Arkan menggema di earpiece Evelyn.

Evelyn melakukan salto ke belakang tepat saat sebutir peluru menghantam tanah tempat ia berdiri tadi. Tanpa menoleh, ia melempar belati kecil lainnya dari saku jaketnya. Belati itu melesat lurus, menancap tepat di bahu sang sniper hingga ia jatuh terjerembab ke tumpukan kristal ungu.

Tiba-tiba, pengeras suara di truk tangki itu menyala. Suara Sebastian Black terdengar kasar dan penuh kemenangan.

"Arkan! Kau suka parfum baruku? Ini adalah bau dari masa lalumu. Bau dari laboratorium tempat ibumu mengembuskan napas terakhir di tengah limbah ilegal! Apa kau masih merasa steril sekarang, Pangeran?"

Arkan membeku di ruang kendali. Napasnya mendadak sesak. Bayangan masa kecil—asap hijau, bau daging terbakar yang bercampur kimia, dan tangan ibunya yang pucat—menyerang pikirannya. Masker oksigennya terasa seperti mencekik. Ia mulai gemetar, tangannya melepaskan kendali drone.

"Arkan! Jangan dengarkan dia!" teriak Evelyn lewat radio. Ia melihat Arkan di jendela balkon lantai atas tampak goyah.

Evelyn tahu ini adalah serangan psikologis. Sebastian menggunakan trauma terbesar Arkan untuk melumpuhkannya. Evelyn tidak punya waktu lagi. Ia berlari menerjang sisa sepuluh penjaga, menggunakan teknik hand-to-hand combat yang brutal. Ia mematahkan lengan, menendang lutut, dan membanting kepala musuh ke beton tanpa ampun.

Begitu musuh terakhir tumbang, Evelyn memanjat pipa air dengan kecepatan luar biasa dan melompat kembali ke balkon tempat Arkan berdiri.

Ia menemukan Arkan terduduk di lantai, maskernya sudah dilepas, dan ia sedang berjuang menghirup udara sambil mencengkeram dadanya. Matanya kosong, dipenuhi ketakutan yang murni.

"Bau itu... Evelyn... semuanya kotor... aku kotor..." gumam Arkan, suaranya pecah.

Evelyn berlutut di depan Arkan. Ia tidak peduli bahwa jaketnya basah oleh hujan dan mungkin ada sisa kimia di tangannya. Ia melepas sarung tangan taktisnya, memastikan tangannya bersih dari darah, lalu ia merangkup wajah Arkan dengan kedua tangannya.

"Lihat aku, Arkan Alesandro Knight! Lihat aku!" Evelyn membentak pelan namun tegas.

Arkan perlahan memfokuskan matanya pada mata jernih Evelyn.

"Cium aromaku," perintah Evelyn. Ia menarik kepala Arkan ke ceruk lehernya. "Hanya ada sabun bayi dan aku di sini. Tidak ada limbah, tidak ada masa lalu, tidak ada kuman. Kau aman."

Arkan membenamkan wajahnya di leher Evelyn, menghirup aroma yang menjadi candunya beberapa minggu terakhir ini. Perlahan, detak jantungnya yang liar mulai melambat. Gemetar di tangannya mereda. Dunia yang tadinya tampak hijau membusuk kembali menjadi jernih karena kehadiran wanita ini.

Arkan menarik napas panjang, lalu perlahan melepaskan pelukan Evelyn. Matanya kini kembali tajam, namun ada kilatan gelap yang baru. Kemarahan yang dingin.

"Dia... dia berani menggunakan ibuku untuk mengotori rumahku," ucap Arkan, suaranya setajam belati Evelyn.

Arkan berdiri, mengulurkan tangan untuk membantu Evelyn berdiri. Ia mengambil botol semprotan disinfektan perak yang selalu ada di sakunya, namun bukannya menyemprot udara, ia menyemprot jaket Evelyn yang terkena noda.

"Evelyn," panggil Arkan.

"Ya, Tuan?"

"Ambil senjata paling mematikan yang kau punya. Kenan baru saja melacak koordinat Sebastian. Dia sedang berada di kapal pesiarnya di Danau Zurich, sekitar tiga kilometer dari sini."

Arkan mengambil sebuah koper hitam dari bawah meja kendali. Isinya adalah senapan mesin ringan berlapis krom yang mengkilap. "Kita akan melakukan 'pembersihan besar-besaran' malam ini. Dan kali ini, aku tidak akan menggunakan cairan penetral. Aku akan menggunakan api."

Evelyn tersenyum lebar, memperlihatkan sisi gelap Queen EVG yang selama ini ia tekan. "Aku suka rencana pembersihanmu, Tuan Higienis."

"Kenan!" Arkan berteriak ke interkom. "Siapkan helikopter. Dan pastikan kursinya sudah dilapisi plastik sekali pakai. Kita punya sampah yang harus dibakar."

Malam itu, hujan di Zurich tidak lagi terasa menyedihkan. Hujan itu menjadi saksi lahirnya aliansi paling mengerikan: Seorang pria yang akan membakar dunia agar tetap bersih, dan seorang wanita yang akan menjadi api di tangan pria itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!