Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.
Tanpa di ketahui oleh Vania, di dalam lift Natalie nampak menggerutu tak jelas akibat kebodohannya. Bagaimana Natalie tidak merasa dirinya bodoh, hendak menemui Sandi tapi tidak tahu di lantai berapa ruangan pria itu berada.
"Baiklah, untuk hari ini kamu selamat, Vania. Tetapi, besok-besok aku pasti akan kembali lagi ke hotel ini. Hari ini aku akan membiarkanmu bernapas lega saudari tiri ku sayang, tapi tidak untuk hari-hari berikutnya." Natalie menyungging senyum licik di sudut bibirnya.
Napas Vania nampak terengah-engah, setelah berjuang menapaki satu persatu anak tangga hingga ia berhasil tiba di lantai enam. Tanpa membuang waktu, Vania melanjutkan langkah melintasi koridor lantai enam hendak menuju ruangan pimpinan. Untuk pertama kalinya Vania memasuki ruangan pimpinan dengan cara kurang sopan, tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
Saat membuka pintu Vania mendapati ruangan tersebut kosong, tak berpenghuni.
"Tuan Sandi pergi sejak satu jam yang lalu, katanya ingin pergi ke sekolahan nona Sesil, nyonya." Kata asisten Tino yang tadinya hendak mengambil ponselnya yang ketinggalan di ruangan Sandi.
"Sejak satu jam lalu?." Cicit Vania dan asisten Tino mengangguk membenarkan.
"Benar, nyonya."
"Apa mungkin Nathalie sudah pergi karena tidak menemukan keberadaan mas Sandi di ruangannya?." Tebak Vania dalam hati.
"Ada apa, Nyonya? Apa ada yang bisa saya bantu?." Tanya asisten Tino ketika melihat Vania terdiam, seperti sedang melamun.
Vania spontan menggelengkan kepala.
"Tidak ada, terima kasih. Kalau begitu saya kembali ke ruang kerja saya dulu pak Tino." Pamit Vania dengan perasaan lega. Lega karena Nathalie tak berhasil menemui Sandi.
*
"Dari mana saja kamu? Bisa-bisanya kamu keluyuran nggak jelas di saat kondisi perusahaan lagi genting begini." Baru saja tiba di rumah, Natalie sudah disambut oleh omelan ayahnya yang kini sedang pusing memikirkan kondisi keuangan perusahaannya yang berada di ambang kebangkrutan.
"Terus papah maunya Natalie ngapain? Minta uang lagi sama kak Izam biar bisa bantu perusahaan papah, begitu?." Kesal Nathalie.
"Lagian Natalie heran sama papah, kenapa nggak nyuruh mamah buat minta uang sama Vania. Sekarang itu Vania sudah menikah dengan pria kaya raya, masa' nggak bisa menolong mamah kandungnya sendiri. Lagian uang nggak sebanding dengan jasa mamah yang telah berkorban nyawa buat ngelahirin dia." Kata Natalie sebelum berlalu begitu saja menuju kamarnya.
Sepeninggal putrinya, Ayahnya Nathalie lantas menghubungi sang istri yang tengah sibuk melakukan perawatan di salon. Pria itu meminta istrinya untuk segera pulang dengan alasan ada urusan penting yang harus dibahas.
Kurang dari setengah jam, sang istri tiba di rumah.
"Memangnya urusan penting apa yang ingin papah bicarakan dengan mamah, sampai-sampai meminta mamah untuk segera pulang?." Bagaimana tidak kesal, belum selesai sesi perawatannya di salon malah di minta buru-buru pulang.
"Mamah kan tahu, saat ini perusahaan papah sedang mengalami masalah keuangan."
"Lantas, apa yang harus mamah lakukan?." Wanita itu sudah bisa menebak jika suaminya tersebut menginginkan sesuatu darinya.
"Papah mau mamah minta uang pada Vania! Lagian, anak itu sudah menikah dengan pria kaya raya sekarang, masa' nggak bisa membantu keluarganya yang sedang kesusahan." Benar kata orang, di saat hidup sedang sulit bahkan keluarga pun enggan menoleh, tetapi di saat berjaya jangankan keluarga, hantu pun akan mengakui kita sebagai keluarganya.
"Baiklah, mamah akan menemui anak itu." Ibu, ayah serta anak, semuanya sama. Sama-sama tidak tahu malu.
*
Sore harinya, Vania nampak keluar dari gedung hotel Admodjo Group. Ia memesan taksi online melalui aplikasi di ponselnya. Ya, setelah kepergiannya siang tadi, Sandi tak kembali lagi ke hotel karena setelah dari sekolah Sesil, pria itu langsung lanjut menuju perusahaan. Ada sedikit urusan di sana.
Vania langsung membuka pintu mobil yang berhenti di depan gedung hotel, ia berpikir mobil tersebut pasti taksi online pesanannya. Vania baru sadar jika mobil tersebut bukanlah taksi online pesanannya setelah menyaksikan wajah ibunya dari pantulan kaca.
"Mamah...."
"Kenapa, kamu tidak senang bertemu dengan mamah kamu sendiri?."
"Bukan begitu mah, Vania hanya sedikit terkejut saja, nggak nyangka bisa bertemu lagi dengan mamah." Sebesar apapun rasa kecewa dihati akibat dibuang oleh ibu kandung sendiri, tapi Vania tetaplah seorang anak yang begitu merindukan sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Kerinduan tersebut tercetak jelas di wajah Vania hingga tak sedikitpun terbesit dihatinya alasan mengapa sampai ibu kandungnya tersebut menemuinya, setelah mengusirnya dengan begitu kejam lima tahun lalu.
Vania mencondongkan tubuhnya ke depan hendak meraih tangan ibunya untuk digenggam sebagai pelepas rindu.
"Mamah butuh uang."
Deg.
Pergerakan tangan Vania terhenti begitu saja saat mendengar perkataan ibunya. Rupanya itu alasan ibu kandungnya tersebut hingga Sudi menemuinya, bukan karena merindukannya. Apa ini yang dinamakan luka tak berda-rah?
Vania berusaha tetap tegar walaupun dadanya terasa sesak.
"Memangnya mamah butuh uang berapa?."
"Lima ratus juta."
"Apa?." Saking kagetnya, Vania sampai terbelalak.
"Vania tidak punya uang sebanyak itu, mah. Lagian untuk apa uang sebanyak itu?."
"Mau mamah gunakan untuk apapun, itu bukan urusan kamu. Cukup berikan saja uang yang mamah minta, jangan pelit!." Ibu menepikan mobilnya di tepi jalanan yang tidak terlalu ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.
"Bukannya pelit, tapi Vania memang tidak punya uang sebanyak itu. Tabungan Vania untuk biaya sekolah Sesil pun tak sampai dua ratus juta, mah. Kalau memang mamah sangat membutuhkan uang itu, Vania akan mentransfer uang tabungan Vania ke rekening mamah."
"Kamu kan bisa minta pada suamimu. Lagipula uang segitu pasti nggak ada apa-apanya buat suami kamu." Dengan entengnya ibu mengatakan hal itu pada putrinya.
"Maaf mah, Vania nggak bisa." Dengan berat hati Vania berkata demikian karena faktanya pernikahannya dengan Sandi Admodjo tidak seindah yang dibayangkan oleh orang-orang sehingga ia tidak bisa dengan mudah meminta sesuatu pada pria itu, terlebih uang dengan nominal yang tidak sedikit.
"Apa kamu bilang, nggak bisa?." Nada ibu mulai naik beberapa oktaf, tak terima dengan jawaban Vania.
"Mah...."
"Baiklah, kalau kamu tidak bisa melakukannya biar mamah yang akan melakukannya sendiri, biar mamah yang meminta uang itu pada suami kamu. Anggap saja sebagai imbalan atas pengorbanan mamah melahirkan istrinya."
Deg.
"Kenapa mamah tega berkata seperti itu?." Hati Vania benar-benar hancur mendengar perkataan ibunya. Bisa-bisanya seorang ibu meminta imbalan atas pengorbanan nya melahirkan. Tadinya Vania sempat berpikir setelah pertemuan ini hubungannya dengan sang ibu akan membaik, tapi sepertinya semua itu hanyalah sebuah angan bagi Vania.
"Anak tak tahu diuntung sepertimu memang pantas diperlakukan dengan cara begini."
"Turun!." Ibu menyuruh Vania turun dari mobilnya.
Dengan perasaan hancur Vania turun dari mobil ibunya. Ia hanya bisa menatap mobil ibunya yang kini kembali melaju.
"Pah....Vania kangen sama papah." Air mata di pelupuk mata Vania sudah beranak sungai. Dengan sekali kedipan saja, bisa dipastikan jatuh membasahi pipi.
mungkin ini saat nya Sandi tau kalau Sisil anaknya...
ini juga saudari tiri gak punya malu sama otak yah kamu pikir sandi orang bodoh yang gak tahu masa lalu vania vak perlu kamu kasih tahu nathali sandi juga bisa cari tahu sendiri pa luyah😄😄
fi tunggu up nya lago thorrr😍😍
ada yaa ibu yg tega bgt gitu, walaupun vania bkin kesalahan tp ga hrsnya bersikap bgtu