SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. BANTUAN
Pintu ruang Ketua IT itu tertutup dengan bunyi klik yang terdengar jauh lebih keras dari pada seharusnya.
Begitu suara itu menggema, seolah dunia di luar; divisi IT yang tegang, staf-staf yang menahan napas, dan bisik-bisik yang menyebar ... langsung terputus.
Cedric berdiri memunggungi Celina selama beberapa detik.
Bahu pria itu naik turun, napasnya berat, seperti seseorang yang baru saja menahan amarah terlalu lama.
Lalu, sesuatu berubah.
Cedric berbalik.
Nada tajam yang tadi ia gunakan di depan Fredy, nada kasar yang membuat satu divisi terdiam, bahkan nada tinggi ketika menunjuk Celina untuk ikut ke ruangan Cedric, kini lenyap seketika. Yang tersisa hanyalah kelelahan, frustrasi yang dipendam, dan kegelisahan seorang pria yang tahu ia sedang berdiri di ambang kehancuran proyek terbesarnya.
"Maaf," ucap Cedric akhirnya.
Satu kata itu keluar pelan, hampir tidak terdengar.
Celina sedikit terkejut.
"Tadi ... aku tidak bermaksud bicara dengan nada seperti itu," lanjut Cedric. "Aku tidak bisa terlihat ... terlalu dekat denganmu. Tidak di depan mereka."
Celina mengangguk pelan.
"Aku paham," kata Celina jujur. "Di kantor ini, hubungan apa pun bisa jadi bahan spekulasi. Terutama office girl sepertiku."
Cedric menghela napas, lalu berjalan ke meja kerjanya dan menjatuhkan diri ke kursi. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, rambut gondrongnya sedikit berantakan, pemandangan yang jarang terlihat dari seorang Ketua IT Morelli Corporation yang biasanya rapi dan dingin.
Celina berdiri beberapa langkah di depannya.
"Rina bilang kau memanggilku," kata Celina lembut, membuka pembicaraan. "Dan katanya sejak pagi kau marah-marah. Ada apa, Cedric?"
Cedric mengangkat kepalanya.
Tatapan mereka bertemu.
Dan di momen itu, Cedric tidak lagi melihat Celina Dawson, office girl pendiam dengan seragam abu-abu. Yang berdiri di hadapannya adalah Celina Lorenzo, gadis yang identitas aslinya sudah ia ketahui sejak beberapa waktu lalu.
Cedric ingat malam ketika rasa curiganya mendorongnya membuka semua lapisan data tentang Celina. Ingat bagaimana satu demi satu firewall runtuh di hadapan keahliannya sendiri, hanya untuk memperlihatkan kenyataan yang jauh lebih besar daripada yang ia duga.
Nama keluarga itu.
Lorenzo.
Keluarga yang selalu berada di lingkaran terdalam Morelli.
Cedric tersenyum miring, lelah.
"Kau tahu," kata Cedric akhirnya, "kalau bukan karena aku tahu siapa dirimu sebenarnya, aku mungkin sudah berpikir ini semua kebetulan."
Celina tidak terkejut. Tidak menyangkal. Ia hanya memiringkan kepala sedikit. "Kau orang pertama yang tahu tentangku."
Cedric terkekeh singkat. "Sulit untuk tidak mencari tahu, kalau seseorang dengan photographic memory bekerja sebagai office girl dan selalu berada di tempat yang salah pada waktu yang tepat."
Cedric berdiri, berjalan ke layar besar di dinding, lalu menyalakannya. Deretan kode memenuhi layar, baris demi baris simbol, angka, dan struktur kompleks yang saling terkait.
"Terjadi sesuatu," ujar Cedric serius. "Dengan Neural Mapping AI yang sedang Morelli dan timku kembangkan."
Nada suara Cedric berubah.
Bukan lagi nada atasan yang marah, melainkan nada seorang ilmuwan yang ketakutan melihat karyanya dirusak.
"Seseorang menyusup masuk ke sistem," lanjutnya. "Bukan sekadar melihat. Mereka mengutak-atik core code."
Celina mendekat beberapa langkah, matanya menajam menatap layar.
"Apa dampaknya?" tanya Celina.
Cedric menarik napas. "Tidak langsung terlihat. Itu yang membuatnya berbahaya."
Cedric lalu menunjuk beberapa bagian kode. "Struktur neural ini dirancang untuk belajar secara adaptif. Kalau satu titik saja diubah dalam satu mapping node, AI tidak akan langsung error. Ia akan ... menyimpang bahkan dampak lainnya yang tidak diinginkan."
"Kekacauan pelan-pelan," ujar Celina.
Cedric mengangguk. "Dan saat itu terjadi, kita tidak akan tahu apakah kesalahannya berasal dari data, lingkungan, atau ... sabotase."
Celina menoleh padanya. "Kau menyadarinya karena ada sesuatu yang tidak klik?"
"Ya," jawab Cedric cepat. "Respon AI sedikit berbeda. Sangat halus. Hampir tidak terasa. Tapi bagiku ... itu seperti nada fals di simfoni."
Celina terdiam sejenak, mencerna.
"Jadi, kau menemukan siapa yang masuk ke sistem?" tanya Celina.
Cedric menggeleng.
"Ada history login," ujarnya sambil menampilkan log di layar lain. "Nama-nama internal. Fredy. Susan. Kevin."
Celina mengerutkan kening. "Mereka tersangka?" tanyanya pelan.
"Mereka bersumpah," lanjut Cedric, "hari ini tidak login ke jaringan utama. Fredy sibuk dengan debugging server lama. Susan ada rapat sepanjang pagi. Kevin di ruang arsip IT."
"Dan kau percaya mereka?" tanya Celina.
Cedric terdiam beberapa detik. "Aku ... tidak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya setelah kejadian beberapa waktu ini."
Sunyi menyelimuti ruangan.
Celina menatap kembali layar penuh kode, lalu memejamkan mata sejenak, seperti seseorang yang sedang menyusun kepingan puzzle di dalam kepalanya.
"Lalu," kata Celina akhirnya, "kenapa kau memanggilku ke sini?"
Cedric menoleh cepat. Tatapannya tajam, ragu, lalu perlahan ... melembut.
"Aku butuh bantuanmu," ujar Cedric.
Kalimat itu keluar dengan berat.
Celina mengangkat alis. "Bantuan apa?"
Cedric berjalan kembali ke mejanya, mengambil sebuah tablet, lalu menggesernya ke arah Celina. Di layar itu, tampak dua jendela kode berdampingan.
"Ini code sebelum disusupi. Dan ini setelahnya," beritahu Cedric.
Celina menatap layar.
Bahkan bagi orang awam, terlihat betapa panjang dan rumitnya struktur itu.
"Aku sudah menyalin semuanya," lanjut Cedric. "Setiap perubahan. Tapi jumlahnya ... terlalu banyak. Dan yang disusupi anomali sudah mendapatkan pembaharuan jadi aku tidak bisa memakai Code yang pertama ini."
"Cukup banyak, ya," gumam Celina.
Cedric mengepalkan tangannya. "Satu baris saja, bahkan satu titik saja bisa mempengaruhi keseluruhan AI dan kelangsungan projek ini," katanya.
Celina menoleh pada pria itu
Cedric menatap balik, tatapan seorang pria yang sedang kehabisan opsi.
"Kumohon," kata Cedric akhirnya, suaranya nyaris merendah. "Aku tahu ini tidak pantas. Ini seperti mengeksploitasi kemampuanmu. Tapi ... aku butuh photographic memory-mu untuk menemukan anomali-anomali itu."
Celina terdiam.
Cedric tertawa kecil tanpa humor."Kalau aku mencarinya satu per satu, bisa makan waktu berbulan-bulan."
Celina menatap pria itu lama.
Melihat Cedric, seseorang yang biasanya penuh kontrol kini tampak putus asa, membuat sang gadis terdiam.
Lalu bibir Celina melengkung dan berkata dengan ringan, "Bayarannya, belikan aku makanan. Terutama dessert."
Cedric tertegun.
Lalu tertawa.
Tawa yang tulus, lega, hampir seperti seseorang yang baru saja diselamatkan dari tenggelam.
"Deal," kata Cedric cepat. "Satu toko pun tidak masalah."
Celina tersenyum. "Bagus."
Celina langsung menarik kursi dan duduk di depan layar.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Celina.
Cedric mendekat dengan semangat yang kembali menyala. Ia menjelaskan struktur dasar, menunjukkan titik-titik kritis, dan memerbesar bagian kode tertentu.
Celina menatap.
Tidak mencatat.
Tidak memotret.
Hanya melihat.
Matanya bergerak cepat, menyerap setiap simbol, setiap angka, setiap pola, setiap perbedaan halus yang bahkan tidak disadari Cedric sebelumnya.
Waktu berjalan.
Menit berubah menjadi jam.
Di luar, divisi IT masih tegang, tak tahu bahwa di dalam ruangan Ketua mereka, dua orang sedang membedah jantung Morelli Corporation.
Dan di balik baris-baris kode itu, tersembunyi tangan tak terlihat yang menunggu untuk terungkap.
Celina menghela napas pelan.
"Cedric," kata Celina tiba-tiba.
"Ya?"
"Aku menemukan satu," beritahu Celina.
Cedric membeku.
"Di sini," lanjut Celina, menunjuk satu baris kecil, nyaris tak berarti di antara ribuan baris lain. "Ini bukan kesalahan. Ini ... niat. Bukannya meremehkan kemampuanmu, tapi kau benar, ini akan sulit ditemukan jika kau mencari tanpa bisa mengingat semua simbol, angka, atau pola code semua ini."
Cedric menatap layar. "Kau benar. Aku sudah berkali-kali mencari juga di bagian ini tapi tidak menemukan kejanggalan. Ternyata siapa pun yang memasang anomali ini sepertinya jenius dalam bermain puzzle."
Cedric tersenyum karena Celina bisa menemukan anomali itu, tapi itu baru satu ... mereka harus kembali menemukan yang lain.
semoga gak terlambat menyelamatkan twins
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️