Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Bersama
Pagi hari Radit sudah berada di rumah Maura. Bahkan sarapan pagi bersama Maura dan Maulida. Karena Maura tau pasti Radit belum sarapan. Radit pun menanyakan keberadaan Pak Budi dan Bu Tias pada Maura dan ternyata mereka belum sampai dari pasar. Hal baru Radit ketahui jika Pak Budi dan Bu Tias berbelanja sendiri ke pasar.
Saat mereka akan pergi bekerja Pak Budi dan Bu Tias tiba di rumah. Mereka pun berpamitan. Maulida pergi lebih dulu karena dirinya menggunakan motor sedang Maura dan Radit di belakangnya. Radit pun mengendarai mobilnya sendiri tanpa supir. Dirinya rela bermacet-macetan demi bisa bersama Maura.
"Nanti saya turun di depan mini market dekat kantor aja Mas." Maura.
"Kenapa?" Radit.
"Saya ngga enak Mas." Rengek Maura.
"Ngga ada. Kamu turun sama saya di kantor. Jangan fikirkan orang lain ya." Ucap Radit mengusap pipi kiri Maura.
Deg...
"Astaga! Pak Radit tangannya... Duuuh.... Kedengeran ngga ya jantung gw.." Batin Maura menunduk.
Pada akhirnya Maura pasrah turun bersama Radit di basement. Mereka berjalan bersama menuju lobi. Radit tak membiarkan maura berjalan di belakangnya. Radit meminta Maura berjalan di sampingnya. Keduanya menampilkan wajah datar walau tak bisa di pungkiri perasaan tak menentu di rasakan Maura.
Banyak pasang mata menatap Maura heran karena Maura datang bersama bos mereka. Saat wajah ramah menyapa Radit berbeda ekspresi di tampilkan pada Maura. Namun, Maura berusaha bersikap biasa saja dengan menampilkan wajah datar nya. Maura dan Radit memasuki lift yang sama. Saat pintu lift akan tertutup terlihat seseorang menahan pintu agar tidak tertutup dan ternyata itu Tasya.
"Astaga! Hampir saja."
"Eh, selamat pagi Pak. Maaf saya menyela." Tasya.
"Hm..." Jawab Radit singkat.
Maura memberi kode untuk diam pada Tasya sampai mereka sampai di lantai mereka.
"Kami duluan Pak mari..." Pamit Tasya.
"Aku kerja dulu Mas." Bisik Maura.
"Selamat bekerja.." Jawab Radit dengan senyuman di wajahnya.
"Eh, apa tadi kata pak Bos?" Tanya Tasya merasa bos nya bicara.
"Mana gw tau. Emang bos ngomong?" Tanya balik Maura berpura-pura.
"Dih,, dasar lu. Padahal lu yang di belakang tadi." Tasya.
"Ya mana gw tau dia cuma hm doang tadi perasaan." Maura.
Tak ingin memperpanjang Maura pun mengalihkan atensi Tasya pada pekerjaan agar tak membahas tentang Radit lagi. Tasya memang jabatannya lebih tinggi dari Maura tapi mereka berdua tetap santai sebagai sahabat. Jabatan tak membuat keduanya terpisahkan. Saat promosi jabatan keduanya memang sama-sama di ajukan hanya Maura mengundurkan diri karena merasa tak cukup pantas sehingga Tasya lah yang maju. Sempat ada protes dari Tasya namun akhirnya pasrah juga.
"Eh, istirahat makan di kafe ujung jalan sana yuk." Ajak Tasya.
"Boleh aja. Lu yang traktir kan?" Canda Maura.
"Dih,, baru gajian. Malu kali sama gaji minta di traktir." Tasya.
"Elah.. Mulai perhitungan nih aspri.." Maura.
"Mana kalkulator nya biar gw itung bener-bener kali lu salah itung." Tasya.
"Kam pret Lu." Maura.
Melihat perdebatan Maura dan Tasya yang lain hanya menggelengkan kepalanya saja. Tak bisa di pungkiri keduanya memang memiliki otak luar biasa. Kemampuan keduanya tak bisa di bandingkan. Walau Maura terlihat ceplas ceplos pada Tasya namun dirinya selalu menghormati Tasya dan tau tempat. Profesional dalam bekerja tak pernah mencampur adukan antara pekerjaan dan masalah pribadi.
Lanjut bentar ya...