Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian di Balik Tirai Ibu Suri
Kedamaian yang baru saja ditemukan Li Hua di gang sempit itu tidak bertahan lama. Saat mereka baru saja menginjakkan kaki kembali di gerbang istana, puluhan pengawal berbaju besi hitam telah berbaris menanti. Di tengah mereka, berdiri Kasim Agung, tangan kanan Ibu Suri.
"Yang Mulia Kaisar," ucap Kasim itu dengan suara melengking yang dingin. "Ibu Suri meminta kehadiran yang mulia di Istana Kedamaian Abadi segera. Beliau juga memerintahkan agar 'wanita' di samping Anda dibawa untuk dimurnikan."
kaisar menatap tajam ke arah Kasim tersebut. "Dimurnikan? Apa maksudmu?"
"Kabar telah sampai ke telinga Ibu Suri bahwa Permaisuri Xuan telah mati dan raga yang permaisuri bawa adalah iblis yang menyamar. Ibu Suri telah memanggil para Pendeta Tertinggi untuk melakukan ritual pengusiran roh," jawab Kasim itu tanpa rasa takut.
Li Hua merasakan jemari kaisar mengeras di genggamannya. Ia tahu ini adalah serangan politik terbesar. Ibu Suri tidak peduli apakah Li Hua dirasuki atau tidak; beliau hanya ingin menyingkirkan Li Hua karena pengaruhnya yang mulai mengalahkan otoritas sang Ibu Suri.
Istana Kedamaian Abadi: Aroma Kemenyan yang Mematikan
Aula Ibu Suri dipenuhi oleh asap kemenyan yang menyesakkan dada. Di tengah ruangan, sebuah lingkaran garam dan simbol-simbol kuno telah disiapkan. Ibu Suri duduk di atas singgasananya, dikelilingi oleh para menteri tua yang setia kepadanya.
"Anakku," suara Ibu Suri bergetar penuh kemarahan saat Tian Long dan Li Hua masuk. "Kau telah disihir! Lihatlah wanita itu! Xuan yang asli tidak pernah memiliki sorot mata seperti itu. Dia adalah rubah yang mencuri wajah istrimu!"
"Ibu Suri," Tian Long melangkah maju, memosisikan dirinya di depan Li Hua. "Permaisuri baru saja menyelamatkan rakyat dari wabah. Jika dia iblis, maka dia adalah iblis yang lebih suci daripada manusia-manusia di ruangan ini."
"Lancang!" Ibu Suri menggebrak meja. "Pendeta, lakukan tugasmu!"
Seorang pendeta dengan topeng perak maju dan melemparkan bubuk ke arah Li Hua. Bubuk itu bereaksi dengan asap kemenyan, menciptakan cahaya merah yang menyakitkan mata. Li Hua merasa pusing, namun ia tidak berteriak. Ia menatap Ibu Suri dengan tenang.
"Anda ingin bukti bahwa saya adalah Permaisuri Xuan?" suara Li Hua terdengar tenang di tengah kekacauan itu. "Atau Anda hanya takut karena saya mulai membuka peti rahasia tentang bagaimana klan Anda memperkaya diri dari dana bencana sepuluh tahun lalu?"
Aula itu mendadak senyap. Para menteri saling pandang dengan wajah pucat.
"Apa yang kau bicarakan, roh jahat?!" teriak Ibu Suri, suaranya sedikit gemetar.
Li Hua melangkah keluar dari belakang punggung kaisar Tian Long. Ia mengeluarkan sebuah gulungan kecil yang ia ambil dari saku gaunnya—gulungan yang diberikan oleh Si Buta He sebelum ia menghilang.
"Di dalam gulungan ini, terdapat catatan pengiriman emas dari kas kerajaan yang seharusnya dikirim ke daerah bencana, namun berakhir di gudang pribadi klan Ibu Suri," ucap Li Hua. "Catatan ini ditandatangani oleh Permaisuri Xuan yang asli, yang bertindak sebagai perantara. Jika ibu suri ingin memurnikan saya, maka ibu suri juga harus memurnikan sejarah kotor klan"
Ibu Suri terbelalak. Ia tidak menyangka "Xuan" yang baru ini memiliki kartu as yang begitu mematikan. Li Hua menggunakan ingatan masa lalu Xuan yang ia dapatkan saat ia berdamai dengan jiwanya.
"Tian Long," Li Hua menoleh ke arah Kaisar. "Ibu Suri menuduhku roh jahat karena hanya roh jahat yang berani mengungkap kebenaran di istana yang penuh kebohongan ini."
Titik Balik
Tian Long mengambil gulungan itu dan membacanya. Matanya berkilat dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sangat asing.
"Ibu," ucap Tian Long pelan namun mematikan. "Aku selalu menghormatimu sebagai ibu, tapi aku tidak bisa membiarkan pengkhianatan terhadap negara. Permaisuriku benar. Jika dia adalah iblis karena mengungkap kebenaran, maka aku akan menjadi Kaisar Iblis bersamanya."
Tian Long berbalik ke arah para pendeta. "Hentikan ritual omong kosong ini! Atau kepala kalian yang akan dimurnikan dari tubuh kalian!"
Ibu Suri terduduk lemas. Ia tahu ia telah kalah dalam langkah catur ini. Li Hua tidak hanya memiliki kecantikan, tapi kini ia memiliki "pedang" hukum dan perlindungan penuh dari Kaisar.
Namun, di tengah kemenangannya, Li Hua melihat Selir Yue berdiri di sudut gelap aula, tersenyum licik. Selir Yue tidak dibuang ke Paviliun Dingin sendirian; ia tampaknya telah menjalin kesepakatan rahasia dengan pihak asing yang jauh lebih berbahaya.
Selir Yue berbisik tanpa suara ke arah Li Hua, yang terbaca sebagai: "Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."