harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25.Tamu tak undang?
Hazar terlihat kaku lantas menarik selimut yang menutupi bagian bawah Anggi,ia sama sekali tak mempedulikan wajah Anggi yang merah karena malu.
Wajah Hazard membeku, tak dapat bergerak tempat. "bayiku," batin Hazard.
"Tu–Tuan, selimutnya,"kata Anggi susah payah menelan ludahnya, karena ia begitu malu, miliknya di lihat oleh Hazard dalam keadaan berdarah.
Hazard diam saja terus memandangi milik Anggi, membuat Anggi menarik paksa selimut di tangan Tuan hazard.
"Maaf Tuan,aku malu kalau di lihat seperti itu," Anggi menunduk seraya memegang erat ujung selimut.
Air mata di pelupuk Hazard mulai mengenang sebelum Anggi melihatnya ia buru-buru berbalik.
"Saya, akan suruh Hana untuk membantu kamu."
Setelah mengatakan itu,Hazard langsung keluar. Anggi melihat punggung Hazard menjauh merasa bingung.
"Apa Tuan Hazard Tuan Hazard belum pernah melihat darah, sampai mematung seperti itu."gumam Anggi merasa sakit di perutnya.
Hana datang membawa obat, wajah khawatir Hana begitu kentara, langkah kakinya terdengar buru-buru.
"Nyonya, Nyonya tidak apa-apa!?"Hana akan menarik selimut Anggi, membuat Anggi melototkan mata dan menggenggamnya kuat-kuat.
"Nyonya, biar saya periksa," Hana kembali menarik selimut yang kemudian semakin di eratkan oleh Anggi.
"Hana, aku bisa sendiri."
"Nyonya, biar saya bantu, anda pasti tidak bisa jalan karena di berhubungan badan dengan Tuan Hazard."
Aksi saling tarik menarik pun di mulai, Anggi yang mendengarnya merasa malu, tapi mulutnya ini juga sangat sulit di kontrol.
"Hana,kamu tinggal bantu aku berjalan saja, sisanya aku bisa sendiri," tegas Anggi, menghentikan aksi saling menarik.
Hana menghela napas."Baiklah, kalau itu mau nyonya."
Anggi merapatkan bibir kala rasa sakit di perut dan bagian bawahnya terasa perih dan mengigit.
matanya juga beberapa kali memejam dengan tangan yang meremas erat selimut yang menutupi tubuhnya.
Hana benar-benar tak sanggup melihat Nyonya yang ia layani terlihat sangat kesakitan, apalagi keringat sebutir jagung di dahinya terlihat jatuh membasahi alisnya, dan wajahnya terlihat pucat.
"Nyonya, biar saya bantu, Nyonya cukup menerima layanan saya saja," bujuk Hana, suaranya terdengar begitu lembut, sangat lembut.
"Shhh, huh, ekheem,aku, baik-baik aja kok," Anggi mulai menginjakkan kaki di lantai, rasa perih langsung merogoti bagian terdalam itu, air mata mulai jatuh di pipinya mengalir ke dagu, air matanya menggantung di dagu sampai akhirnya terjatuh di atas paha.
Anggi berdiri, dan berjalan pelan kekamar mandi dengan selimut tebal, Anggi hampir sampai di pintu kamar mandi, pandangannya mulai kabur dan jadi dua,ia menggeleng pelan, rasa sakitnya jadi dobel, mulai dari kepala, perut, dan bagian dalam itu.
Anggi jatuh pingsan di lantai, menimbulkan suara yang menganggukkan, Hana yang di belakang bergegas mendekat.
"NYONYA!"
"TUAN! TUAN! TUAN!"Hana berlari, terus berlari mencari keberadaan Tuan Hazard.
Zuma yang melihat Hana lewat begitu saja, sepertinya pelayan Anggi itu tak melihatnya.
Zuma mengintip di pintu yang sedikit terbuka, lalu ia menggeleng pelan melihat Anggi yang tergeletak di tanah.
"ck, ck, ck, sampai pingsan gini, mana di tinggal lagi,sungguh menyedihkan jalan takdirmu,mungkin satu minggu lagi, kamu akan mati," setelah berkata demikian Zuma meninggalkan Anggi yang tergeletak di lantai.
Zuma malah sibuk ke ruangan kerja Hazard yang gelap, ia menyalakan lampu, ruangan kerja yang penuh dengan buku-buku sejarah yang tebal, filosofi, semua genre buku di bungkus disini, kecuali romansa, dan drama.
Zuma sebenarnya tak izinkan untuk masuk, tapi, ia bisa apa tanpa ilmu pengetahuan, dan ia sangat ingin menyaingi Hazard dalam ilmu pengetahuan, apa yang Hazard tahu, Zuma pun harus tahu.
Contohnya, Zuma tahu Hazard mafia yang di takuti di dunia gelap, dan itu membuat Zuma merasa iri, ia juga ingin seperti itu.
Di sisi lain Hana terus mencari Hazard, hingga Hazard terlihat merokok di belakang kastil.
"Tu–tuanh," panggil Hana yang ngos-ngosan menumpu tangan dengan lututnya.
"Ada apa?" Hazard langsung berbalik melihat Hana yang menelan ludah sambil mengelap keringat di dahinya dan leher.
"Tuan, Nyonya pingsan!"seru Hana menegakkan tubuhnya.
Hazard langsung berlari ke arah kamarnya melewati Hana yang hanya bisa menarik napas.
"Huh, siapa yang membuat kastil sebesar ini, sungguh merepotkan, lihat saja, kalau aku jadi Nyonya, akan gusur semuanya, dan membuat rumah biasa, jalan saja rasanya sudah tak sanggup," keluh Hana terus berjalan dengan cepat, sekalipun kakinya terasa copot.
Jaraknya sampai kamar Tuan Hazard sangat jauh, selama berjalan Hana tak henti-hentinya menangis."Kenapa jauh sekali, aku lelah, Nyonya, maaf, tapi kakiku sakit,"rengek Hana terus menangis sambil jalan.
Tanpa ia sadari, Zuma dari atas jendela melihat tingkahnya yang menggelitiki perut, Zuma terus tertawa, niat hati ingin membuat otaknya rileks sebelum menerima ilmu berat, ia malah semakin tak bisa fokus dan belum siap menerima ilmu berat ini.
"Dia memang suka membuatku tertawa, tapi sayangnya, dia hanya pelayan, tunggu, aku juga bukan siapa-siapa mereka, bukan anaknya pula, aku hanya di adopsi, jadi, tidak masalah bukan," gumam Zuma dan akhirnya terkekeh pelan.
Hazard masuk ke kamarnya, matanya melotot tajam melihat Anggi tidur dengan pakaian yang sudah rapi, seprei kasur dan selimut sudah di ganti.
Dada Hazard naik turun seiring napasnya yang berhembus pelan, urat-urat lehernya menonjol tajam.
tangannya terkepal erat."Siapa kamu! berani sekali menyentuh istri saya!"
Suara Hazard menggelar, mengundang banyak perhatian pelayan yang tak berani mendekat.
Pria itu semakin berani dengan mengelus pelan pipi Anggi.
Hazard mendekat dan menarik kerah baju pria itu."Kamu sepertinya pelayan baru disini!"
Pria itu menyeringai dan menaikkan satu alisnya."Saya bukan pelayan disini,"ucapnya pelan dan tenang.
"Lalu, kenapa kamu disini! dan kenapa kamu," Hazard mendekatkan mukanya yang merah padam."Berani sekali menyentuh istriku,"geram Hazard mencekik leher pria itu.
Pria itu bukannya memohon untuk di lepas, malah tersenyum. "Kamu, ternyata tak berubah," katanya pelan dengan suara yang hampir tak jelas.
Hazard memicingkan matanya, mencari tahu di otaknya apakah ia pernah bertemu dengan pria ini.
Detik berikutnya, matanya yang melotot mulai kembali seperti semula, tatapan datar nan dingin, tangannya yang mencekik erat mulai mengendur tanpa melepaskan.
Tawa pria itu terdengar renyah."Kamu ternyata masih sama, tak berubah, dan saya suka, tapi, kamu terlihat jauh lebih tua dari saya Hazard,"suara berat dan ngebas terdengar nyaring di ruangan ini.
"Kamu–"
Pria itu mengangkat tangannya."Tenang, saya tidak mengganti pakaiannya, dia memang sudah begini saat saya masuk, apa dia budak nafsumu?"
HELLO-HELLO! 😄
Boleh minta bintang sama mawarnya,dan jangan lupa likenya😉
Kasih kiss kalau kalian mau💋