NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:675
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Harga Sebuah Kekuatan

Lantai lima puluh empat, The Floating Fortress, adalah sebuah antitesis dari labirin sebelumnya. Jika lantai lima puluh tiga adalah tentang cermin dan diri sendiri, lantai ini adalah tentang kehampaan.

Gravitasi di sini tidak stabil, membuat setiap langkah kaki terasa ringan namun berisiko melayang ke jurang yang tak berdasar.

Kami terduduk di antara reruntuhan beton yang melayang. Napas kami memburu, menjadi satu-satunya suara di tengah keheningan yang mencekam.

[POV: Yudha]

Aku berdiri di pinggir pulau melayang, mengamati sisa-sisa bayangan yang telah menjadi debu. Aku mengaktifkan Gluttony Sight. Mata ini tidak pernah berbohong; ia melihat dunia sebagai komoditas.

Cahaya kehitaman keluar dari telapak tanganku, merambat ke tanah dan menyerap esensi yang tertinggal dari tubuh-tubuh mati itu.

Sensasi hangat menjalar di nadiku. Kekuatan yang mereka miliki kini menjadi milikku, ditelan tanpa sisa. Aku tidak membuang nutrisi.

Aku mendekat ke arah Lyra dan Carmelia, lalu melemparkan dua botol mana potion dengan kualitas tertinggi. Botol itu mendarat tepat di pangkuan mereka dengan bunyi denting yang tajam.

"Minum," kataku datar.

Lyra menatap botol itu dengan mata sayu. Tangannya gemetar hebat saat meraihnya, sisa-sisa withdrawal dari sistem mana-nya yang ia matikan paksa masih merongrong sarafnya.

"Kekuatan kalian memang luar biasa," suaraku memecah keheningan, dingin dan tanpa ampun. "Tapi kalian hanyalah gelas retak. Kapasitas mana kalian terlalu kecil untuk menampung Sonata of Chaos. Jika kalian terus memaksakan diri tanpa memperluas kapasitas dasar, kalian akan hancur dari dalam sebelum musuh sempat menyentuh kalian."

Aku memberi jeda, menatap mereka tajam. "Mulai sekarang, ada aturan baru. Potion ini hanya boleh disentuh saat kalian benar-benar dalam fase withdrawal akut. Jika aku melihat kalian menggunakannya untuk hal sepele, aku sendiri yang akan membuang kalian ke lantai dasar. Jangan manjakan kelemahan kalian."

[POV: Yudha - Kilas Balik]

Perkataanku barusan memicu memori yang lama terkubur. Memori tentang sebuah kantor sesak dengan lampu neon yang berkedip menyakitkan mata.

Dulu, aku adalah budak sistem. Aku bekerja dua kali lipat lebih keras hanya untuk menambal lubang yang ditinggalkan para senior yang malas. Mereka selalu mempermainkanku, menyuruhku menyelesaikan laporan yang menjadi tanggung jawab mereka, lalu mencuri nama di atas kertas saat bos datang. Mereka parasit yang memakan usaha orang lain agar mereka tetap terlihat kompeten.

Aku ingat hari itu. PHK massal. Aku yang paling kompeten, namun aku yang pertama kali menerima surat pemecatan karena para senior itu memanipulasi data kinerjaku. Aku masih bisa mengingat wajah mereka—senyum puas yang disembunyikan di balik topeng profesionalisme saat melihatku mengemasi barang-barangku ke dalam kardus murahan.

Mereka pikir mereka menang karena mereka memiliki "posisi". Mereka pikir mereka kuat karena mereka adalah bagian dari sistem.

Saat itu aku sadar; di dunia ini, kompetensi saja tidak cukup. Jika kau tidak memiliki esensi—jika kau tidak memiliki kekuatan untuk melahap—kau akan selalu menjadi santapan bagi mereka yang berada di atasmu.

Sekarang, di sini, aku tidak lagi berada di ruang kantor itu. Aku adalah pemangsa, dan labirin ini adalah kantor baruku. Bedanya, di sini tidak ada senior yang bisa bersembunyi. Siapa yang memiliki esensi lebih besar, dialah yang memangsa. Sama seperti Gluttony Sight-ku sekarang.

Di sana mereka melahap karierku, di sini aku melahap segalanya.

[POV: Lyra]

Aku menenggak mana potion itu. Cairan dingin mengalir di tenggorokanku, membangunkan kembali sistem mana-ku yang mati suri. Aku bisa merasakan tatapan Yudha padaku—bukan tatapan seorang rekan, melainkan tatapan seorang predator yang sedang menilai ternaknya.

"Kau melihat kami sebagai apa, Yudha?" tanyaku pelan, suaraku masih serak.

Yudha tidak menoleh. Dia masih menatap jurang di lantai 54, tangannya masih sisa berpendar hitam setelah menyerap esensi tadi.

"V Kalian adalah investasi yang mulai memberikan dividen," jawabnya tanpa emosi. "Tapi ingat ini: di dunia yang pernah kujejaki, hanya ada dua jenis orang. Mereka yang melahap, atau mereka yang dimangsa. Senior-seniorku di masa lalu adalah parasit. Kalian... aku sedang memutuskan apakah kalian layak menjadi predator, atau hanya akan berakhir sebagai santapan bagiku suatu hari nanti."

Carmelia terdiam, ia menyarungkan belatinya dengan kasar. Dia mengerti. Aturan mainnya bukan lagi tentang bertahan hidup, tapi tentang menjadi yang terkuat di puncak rantai makanan.

"Istirahatlah," perintah Yudha. "Setelah mana kalian pulih, kita tidak akan berhenti sampai lantai ini menjadi debu."

Aku menatap botol kosong di tanganku. Sinergi kami memang mematikan, tapi setelah melihat kilatan kebencian di mata Yudha, aku sadar satu hal: kekuatan ini bukan untuk melindungiku. Kekuatan ini adalah satu-satunya benteng agar aku tidak dimangsa oleh pria yang kini berdiri di depan kami.

Kami bukan lagi sekadar tim. Kami adalah instrumen yang sedang ditala oleh seorang pria yang membenci kelemahan lebih dari apa pun di dunia ini. Dan di lantai lima puluh empat ini, tarian kami baru saja dimulai.

Kami harus menjadi predator, atau kami akan mati tertelan oleh masa lalu Yudha yang kelam.

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!