Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Keesokan paginya, matahari mulai memancarkan sinar hangatnya menembus tirai tipis kamar pengantin. Daniel, yang memiliki jadwal memimpin operasi jantung besar pada pukul delapan pagi, perlahan mulai terusik dari tidurnya. Ia merasakan sesuatu yang terasa sangat hangat dan berat menindih sebagian tubuhnya.
Perlahan, Daniel membuka kedua kelopak matanya yang masih sayup akibat sisa kantuknya. Begitu penglihatannya fokus dan terkumpul sempurna, jantung Dokter spesialis itu seketika berdegup maraton. Ia mendapati Shanum tidur dalam posisi meringkuk sembari memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Tidak sampai di situ, kaki kanan Shanum bahkan bertengger nyaman di atas pahanya, dan tanpa sengaja posisi itu menyentuh bagian sensitif Daniel yang secara alami telah menegang di pagi hari.
Glek!
Daniel menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Ia menggeser sedikit kepalanya ke samping, menatap wajah polos Shanum yang masih terpejam erat dengan deru napas berupa dengkuran halus yang terdengar begitu menggemaskan. Daniel mendadak dilanda rasa gugup yang luar biasa. Sebagai pria normal, ia harus sekuat tenaga melawan gejolak hasrat yang tiba-tiba saja sudah naik sampai ke ubun-ubun akibat sentuhan fisik yang teramat intim tersebut.
Sembari menahan napas, Daniel mencoba menggeser tubuh jangkungnya secara perlahan dan super hati-hati, berharap bisa meloloskan diri tanpa membuat Shanum terbangun. Namun, baru saja ia menggerakkan pinggulnya sedikit, Shanum mendadak melenguh pelan.
Kedua mata Shanum mengerjap, lalu terbuka secara perlahan. Butuh waktu beberapa detik bagi Shanum untuk mengumpulkan kesadarannya, hingga akhirnya matanya membelalak sempurna saat menyadari posisi ekstrem mereka. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja, tangan dan kakinya masih mengunci tubuh Daniel layaknya sebuah guling. Dan yang paling membuat pasokan oksigen di parunya seolah menghilang adalah... kakinya dengan jelas merasakan sesuatu yang keras dan menegang di balik piyama satin milik Daniel.
Wajah Daniel seketika memucat menahan gejolak, namun pandangan matanya terkunci, terfokus menatap lurus ke arah Shanum. Kedua mata mereka saling bertatapan dalam keheningan yang amat mencekam selama beberapa detik. Atmosfer kamar mendadak terasa begitu panas.
Sepersekian detik berikutnya, kesadaran Shanum pulih seratus persen.
"Aaaaa!"
Shanum berteriak kecil dengan nada panik yang luar biasa. Ia langsung melepaskan pelukannya, melompat mundur, dan beranjak dari atas tempat tidur secepat kilat. Tanpa membuang waktu lagi, dengan langkah seribu ia lari terbirit-birit menuju ke arah kamar mandi di dalam kamar tersebut.
Brak!
Ceklek!
Pintu kamar mandi ditutup dan dikunci dari dalam.
Melihat ekspresi wajah Shanum yang panik setengah mati hingga kabur seperti itu, ketegangan Daniel mendadak mengendur. Ia terduduk di atas ranjang tempat tidur lalu sempat tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Kau sudah seperti melihat hantu saja, Num," gumam Daniel pelan dengan sisa tawanya. Namun sesaat kemudian, ia menunduk melihat ke bawah selimutnya dan langsung meringis frustrasi. "Tapi... akh! Kenapa milikku sampai setegang ini? Tidak... ini benar-benar tidak boleh dibiarkan begitu saja!"
Sadar bahwa ia harus segera menetralkan hormon dan pikirannya sebelum berangkat ke rumah sakit, Daniel bergegas turun dari ranjang tempat tidur. Dengan langkah cepat, ia keluar dari kamar pengantin tersebut dan menuju ke kamar tidurnya sendiri yang terletak tidak jauh di ujung koridor. Begitu tiba di kamarnya, Daniel buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin demi menenangkan diri.
Sementara itu, kondisi di dalam kamar mandi kamar pengantin tidak kalah heboh. Shanum berdiri dengan menyandarkan punggungnya erat-erat di balik pintu kayu yang tertutup. Kedua telapak tangannya reflex menyentuh bagian dadanya yang terus saja berdebar dengan sangat kencang, seolah-olah jantungnya ingin melompat keluar saat itu juga. Rona merah pekat menjalar di kedua belah pipinya dan belum hilang sama sekali.
"Kenapa bisa begini? Kenapa tadi aku tidur sampai bisa-bisanya memeluk Pak Dokter erat begitu? Aaarrkkkhhh... sungguh memalukan! Mau ditaruh di mana mukaku setelah ini!" ucap Shanum frustrasi setengah berbisik, sembari menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya, merutuki hilangnya guling pembatas yang sukses membuat paginya menjadi penuh dengan kepanikan.
*
*
Setelah selesai mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang segar, Shanum buru-buru berpakaian rapi dan mengenakan jilbabnya. Berbekal rasa malu yang masih tersisa, ia segera menyelinap keluar kamar pengantin dan mengambil langkah seribu menuju kamar Baby Ziva. Fokus utamanya pagi ini adalah menjauh sejauh mungkin dari jangkauan Dokter Daniel.
Begitu pintu kamar bayi dibuka, Shanum langsung mendapati putri kecilnya itu sudah terbangun. Dari atas gendongan Bik Sumi, sepasang mata bulat Ziva langsung berbinar dan menoleh ke arah pintu. Dengan perasaan gemas yang membuncah, Shanum segera mengambil alih bayi mungil itu ke dalam dekapannya.
"Cup, cup, anak pintar... Selamat pagi, Sayang," bisik Shanum sembari menghujani kedua pipi gembil Ziva dengan ciuman bertubi-tubi. Baby Ziva langsung melenguh dan tersenyum geli, tampak sangat menikmati bagaimana ibu susu sekaligus ibu sambungnya itu memanjakannya pagi ini.
"Ziva sudah lapar belum, hmm?" tanya Shanum lembut.
Ziva malah tertawa kegirangan sembari menepuk-nepuk kan tangan mungilnya, tanda bahwa ia memang sudah sangat menginginkan ASI dari sumbernya. Shanum tersenyum lega. Di dalam lubuk hatinya, ia sengaja ingin mengulur waktu dan berlama-lama di dalam kamar Ziva demi menghindari kecanggungan mati kutu jika harus berhadapan dengan Daniel di meja makan.
Sementara itu di lantai dasar, Daniel sudah duduk rapi di kursi meja makan bersama Tuan Lee dan Nyonya Tania. Pandangan mata Daniel sesekali melirik ke arah tangga, merasa ada yang aneh dengan sikap Shanum pagi ini. Biasanya, wanita itu sudah duduk manis di sampingnya sambil menimang Ziva sebelum jam sarapan dimulai.
Ketidakhadiran Shanum rupanya memicu kejelian Nyonya Tania. Wanita paruh baya itu langsung menoleh ke arah salah satu ART yang melintas. "Ningsih, tolong kamu pergi ke atas. Panggil Shanum untuk segera turun dan ikut sarapan pagi bersama kita."
"Baik, Nyonya," patuh Ningsih yang langsung bergegas naik ke lantai dua.
Di kamar bayi, Shanum yang baru saja selesai menyusui Ziva cukup terkejut saat pintu kamarnya diketuk dari luar. "Non Shanum, dipanggil Nyonya Tania ke bawah untuk sarapan bersama," suara Ningsih terdengar dari balik pintu.
Shanum menghela napas pasrah. Ingin rasanya ia menolak dengan alasan kenyang, namun ia tahu hal itu tidak sopan. Usahanya untuk bersembunyi pun berakhir sia-sia. Dengan berat hati, ia melangkah turun ke lantai dasar sembari menggendong Ziva yang sudah kenyang dan tenang.
Setibanya di ruang makan, atmosfer mendadak terasa kaku. Daniel yang menyadari kehadiran Shanum bahkan tidak berani menoleh sedikit pun. Ia mendadak mendongak dan berpura-pura sangat fokus dengan sepiring nasi goreng di hadapannya.
Nyonya Tania langsung menyambut menantunya dengan senyuman lebar.
"Num, ayo cepat duduk, sarapan dulu. Ziva nya kamu berikan dulu sama Bik Sumi."
"B... baik, Mah," jawab Shanum terbata-bata.
Setelah menyerahkan Ziva ke tangan Bik Sumi, Shanum perlahan mendudukkan dirinya di kursi kosong tepat di samping Daniel. Keduanya duduk dalam posisi tegak dan kaku, memancarkan aura canggung yang luar biasa kuat. Sikap tidak biasa ini tentu saja membuat Nyonya Tania dan Tuan Lee saling melempar pandangan penuh selidik.
'Ada apa dengan Shanum dan Daniel? Kenapa pagi ini mereka berdua terlihat sangat aneh dan kaku? Mencurigakan sekali,' ucap Nyonya Tania dalam hati dengan kening berkerut.
Menyadari situasi yang bisa memicu kecurigaan, Shanum buru-buru menyendokan nasi gorengnya dengan cepat. Ia berniat melahap makanannya secepat mungkin agar bisa segera kabur dari meja makan. Namun, tepat di saat Shanum sedang mengunyah suapan terakhirnya, Daniel tiba-tiba menoleh ke arahnya.
"Shanum... kalau hari ini tubuhmu terasa lelah dan capek, nanti biar aku hubungi tukang pijat langganan Mamah agar datang ke rumah, supaya tubuhmu bisa lebih relaks," ucap Daniel tiba-tiba, suaranya terdengar berat namun penuh perhatian.
Daniel sengaja membuka suara karena ia tahu kedua orang tuanya mulai mengendus gelagat aneh mereka. Selain itu, sebagai seorang dokter dan suami meski hanya di atas kertas, Daniel juga tulus mengkhawatirkan kondisi fisik Shanum yang terlihat kelelahan setelah sibuk memasak kemarin ditambah mengasuh Ziva.
Shanum yang terkejut langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"T... tidak usah, Mas. Aku baik-baik saja, kok," tolak Shanum secara halus karena merasa tidak enak.
Belum sempat Daniel membalas, Nyonya Tania langsung menyahut dengan senyum jahil yang mengembang lebar di wajahnya. "Eh, benar apa yang dikatakan Daniel, Num! Kamu itu harus dipijat agar otot-otot di tubuhmu lebih relaks. Apalagi kalian kan pengantin baru, pasti sangat melelahkan karena setiap malam harus 'kerja ekstra', kan?" goda Nyonya Tania sambil mengedipkan sebelah matanya.
Glek!
Mendengar godaan telak bin vulgar dari Nyonya Tania, baik Daniel maupun Shanum seketika membeku dan langsung menelan ludah mereka secara bersamaan. Mereka tahu persis ke mana arah pembicaraan nakal sang ibu mertua. Wajah Shanum kini sudah berubah sewarna kepiting rebus.
Daniel berdehem pelan, memberi kode mata tersembunyi kepada Shanum agar mereka tetap mempertahankan sandiwara ini demi menjaga ketenangan rumah tangga kontrak mereka. Tak ingin mengecewakan suami serta ibu mertuanya, Shanum akhirnya menundukkan kepala dan mengangguk patuh.
"Iya, Mah. Terima kasih," cicit Shanum pelan, pasrah menerima takdir bahwa mulai hari ini, kehidupan pernikahan kontraknya akan selalu dipenuhi oleh kejutan-kejutan tidak terduga dari keluarga Lee.
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali