Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Nayra Menepati Janjinya
Ardana tertegun, ia belum sadar bahwa apa yang Nayra katakan barusan adalah sebuah kesungguhan.
"Apa maksudnya itu air mata yang terakhir? Senyuman atau sapaan yang terakhir? Memangnya dia kuat tidak menyapaku? Semua perlu interaksi, dan dia pasti tidak akan bisa menepati janjinya itu. Nayra, Nayra, aku tahu kamu mencintai aku, jadi tidak mungkin kamu lakukan itu kepadaku." Alih-alih bingung, Ardana justru meyakini kalau apa yang dikatakan Nayra adalah isapan jempol semata.
***
Tidak ada lagi kata atau kalimat satupun dari Nayra sejak saat itu terhadap Ardana. Nayra berjanji mengunci mulutnya. Apapun yang Ardana lakukan, Nayra sudah tidak peduli.
Nayra hanya melakukan tugasnya dengan baik seperti biasa, tapi tidak pernah lagi bicara apapun terhadap Ardana.
Sehari dua hari, Ardana biasa saja. Dia masih bisa memakai seragam dinasnya dengan rapi, tanpa harus mendengar terlebih dahulu suara Nayra.
"Mas ini baju PDL nya, sepatunya sudah Nay semir, sudah cukup mengkilat atau belum, Mas sarapannya, Mas kopi hitamnya, hati-hati, ya Mas."
Kini, sudah dua hari tidak ada lagi suara-suara yang dianggap bawel oleh Ardana itu. Ardana masih santai dan tidak merasa hal itu masalah.
Setiap pagi, setiap Ardana akan pergi, sarapan sudah siap di meja makan tanpa ada basa-basi. Nayra juga tidak pernah lagi menemani Ardana di meja makan, meskipun kehadiran Nayra tidak pernah dianggap. Sekarang Nayra benar-benar menghindar.
Seminggu berlalu, Ardana mulai merasa ada yang hilang. Kebetulan hari ini bertepatan dengan hari Jumat, tidak biasanya ia pulang lebih awal. Ardana tidak ada tugas jaga malam lagi, sebab Tiana sudah kembali ke rumah.
Ardana langsung menuju kamar. Di dalam kamar tidak ia dapati istrinya. Namun, Ardana masih bisa melakukan aktifitasnya karena semua sudah disiapkan, ia hanya tinggal ambil dan pakai saja.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Ardana mencium bau harum makanan dari dapur. Tentu saja itu Nayra yang masak. Dia segera keluar, hari ini ia ingin bicara dengan Nayra. Sebab lama kelamaan ia jengah dengan situasi seperti ini.
Namun, saat tiba di meja makan, Nayra tidak ada di sana. Hanya hidangan makan sore yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Kemana si Nayra. Dia benar-benar mendiamkan aku. Harusnya kalau memang benar ingin dicintai, tidak mendiamkan seperti ini. Dia memang belum paham dengan kondisiku."
Ardana telah menyelesaikan makan sorenya. Ia bergegas mencari Nayra di Sanggar Mini miliknya. Namun, Nayra tidak ada di ruangan itu. Ardana lantas kembali menuruni tangga menuju lantai bawah lalu ke taman belakang.
Dugaannya kali ini benar, Nayra sedang berada di sana. Berdiri dan bersandar di pagar pembatas kolam ikan. Tangannya sesekali melemparkan pakan ikan, lalu menatap ikan-ikan yang berkerumun menangkap makanannya.
"Nayra, mau sampai kapan kamu diamkan aku? Kenapa kamu jadi dingin begini? Kalau memang kamu ingin dicintai aku, tidak begini sikap kamu. Harusnya kamu tetap berusaha, bukan diam begini."
Nayra tidak menjawab, dia justru muak mendengar Ardana bicara. Tanpa menoleh ataupun berkata, Nayra berbalik, menaruh pakan ikan di atas paku, lalu masuk ke rumah tanpa basa-basi.
"Nayra...keterlaluan dia," kesalnya merasa diabaikan, lalu berbalik mengikuti Nayra masuk.
"Aku tahu, dia bersikap seperti itu tidak akan lama. Paling hanya seminggu saja," gumamnya.
Ardana tidak sadar bahwa diamnya Nayra bukanlah main-main. Melainkan hatinya memang sudah mulai mengikis puing-puing cinta yang tadinya masih ada.
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...