Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan kontrol
Pak Doni bekerja dengan Rafandra delapan tahun. Delapan tahun menemani meeting yang paling alot, perjalanan bisnis yang paling melelahkan, hari-hari ketika Wibowo Group hampir goyah dan Rafandra yang menahannya sendirian tanpa memperlihatkan satu retakan pun ke siapapun.
Delapan tahun dan Pak Doni tak pernah sekalipun melihat bosnya melewatkan slide di tengah presentasi.
Sampai hari ini.
.
.
.
Rafandra bangun jam lima seperti biasa. Tapi tak langsung bergerak. Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya putih bersih, tak ada yang menarik, tapi matanya di sana juga karena tak tahu harus ke mana lagi. Dari balik dinding, rumah ini sunyi berbeda dari sunyi yang biasa.
Sunyi yang terasa seperti ada yang kurang.
Rafandra menarik napas. Bangkit. Ke kamar mandi. Berpakaian. Semua dengan urutan yang sama seperti setiap pagi karena rutinitas adalah satu hal yang masih bisa dia kendalikan sekarang.
"Dua hari lagi, Om. Gue janji." Pesan Zahra semalam.
Rafandra menatap HPnya di meja rias. Tak mengambilnya. Turun ke bawah. Dapur sepi, meja makan sunyi, kursi yang biasanya ada Zahra dengan jurnalnya dan kopi yang selalu lebih banyak susunya dari kopinya kosong.
Mbak Reni menyiapkan sarapan seperti biasa dan diam, seperti yang ia lakukan setiap pagi. Tapi pagi ini ia meletakkan satu piring saja di meja dan entah kenapa itu terasa lebih mencolok dari yang seharusnya.
Rafandra makan sendirian. Cepat. Tidak menikmati. Berangkat jam enam.
.
.
.
Meeting pertama jam tujuh. Enam orang. Presentasi divisi ekspansi, slide yang sudah Rafandra baca semalam dan hafal poin-poinnya.
Tapi di menit ketiga belas, Pak Doni berkata:
"Mas Rafandra?"
Rafandra menengok. Semua orang di meja menatapnya dengan ekspresi yang sangat hati-hati, jenis ekspresi orang-orang yang tak terbiasa melihat bosnya tidak responsif.
"Slide berikutnya, Mas?"
Rafandra menatap layar. Dua slide terakhir sudah lewat tanpa dia sadari.
"Lanjut," katanya. Satu kata. Terkontrol.
Tapi Pak Doni melihat sesuatu yang tak biasa dan ia tak berkata apa-apa.
.
.
.
Makan siang Rafandra tolak tiga undangan. ia makan sendirian di ruangannya dengan nasi kotak dari kantin, menatap Jakarta yang bergerak jauh di bawah jendela lantai tiga puluh delapan.
HPnya ada di meja.
Tiga kali jarinya menyentuh layar tiga kali dia letakkan kembali.
Zahra minta ruang dan Rafandra yang terbiasa mengontrol segalanya harus belajar bahwa ada hal-hal yang tidak seharusnya dia kontrol.
Tapi tiga kali itu nyata dan Rafandra tak suka hal-hal yang tak bisa dia kendalikan terutama dirinya sendiri.
Jam dua siang Pak Doni masuk dengan map tipis.bJadwal besok. Rafandra memindai, menandai beberapa item, sampai matanya berhenti di satu slot.
Jumat siang. Kosong.
'Zahra pulang besok.'
"Jumat siang kosongkan," kata Rafandra.
Pak Doni mencatat tanpa bertanya.bBerjalan ke pintu. Berhenti.
"Mas Rafandra."
Rafandra mendongak.
"Delapan tahun saya kerja sama Mas." Pak Doni memilih kata-katanya dengan hati-hati jenis kehati-hatian orang yang jarang bicara tapi waktu bicara selalu berarti sesuatu. "Hari ini pertama kalinya Mas melewatkan dua slide di tengah meeting."
Rafandra menatapnya.
Pak Doni memberikan anggukan kecil tanpa judgment, tanpa pertanyaan dan keluar.
Pintu tertutup.bRafandra menatap pintu itu lama. "Hari ini pertama kalinya."
.
.
.
Jam empat sore, telepon dari Pak Hendra.
"Rafa. Kamu bersama Zahra?"
"Tidak. Zahra di tempat temannya."
"Kamu?" Satu kata. Tapi Pak Hendra yang dua puluh tahun mengenalnya tahu cara memasukkan pertanyaan yang lebih besar ke dalam satu kata.
Rafandra menatap jendela. "Baik-baik saja."
"Rafa."
"Hendra."
"Aku mengenalmu dua puluh tahun. Kamu tidak perlu bilang baik-baik saja kalau tidak."
Hening sebentar.
"Dia melihat dokumen itu," kata Rafandra.
"Aku tahu." Pak Hendra menghela napas. "Dan Irwan meneleponnya."
"Aku tahu itu juga."
"Yang lebih penting sekarang bukan Irwan." Suara Pak Hendra turun bukan nada rekan bisnis, tapi sahabat lama. "Rafa. Anakku itu keras kepala tapi tidak pernah setengah-setengah dalam apapun yang dia rasa. Kalau dia mulai percaya kamu jangan sia-siakan itu."
Rafandra menutup matanya sebentar. "Aku tidak berniat menyia-nyiakannya."
"Aku tahu." Pak Hendra seperti tersenyum di seberang sana. "Hanya soal kamu yang terlalu lama diam."
Sambungan terputus.!Rafandra meletakkan HPnya.
"Terlalu lama diam."
Kehati-hatian yang selama ini dia sebut kebijaksanaan mulai terasa. Seperti ketakutan yang berpakaian rapi.
.
.
.
Jam enam dia pulang lebih awal. Bukan karena tidak ada pekerjaan selalu ada. Tapi ada sesuatu yang lebih penting yang menunggu di rumah yang terlalu sunyi itu. Bukan Zahra. Tapi persiapan.
Hanya memutuskan apa yang akan ia katakan besok. Bukan karena waktunya sempurna atau kondisinya tepat. Tapi karena sudah terlalu lama menunggu keduanya.
Di mobil, macet, HPnya bergetar.
Zahra.
Bukan pesan, foto. Selfie sama Sinta di depan kost, dua-duanya pakai jaket, rambut Zahra berkilau sedikit di bawah lampu teras.
Tidak ada caption.
Rafandra menatap foto itu lebih lama dari yang dia rencanakan.
Lalu mengetik:
Rafa: Rambut baru?
Zahra: Creambath. Beda tipis tapi Sinta bilang kelihatan beda.
Rafa: Iya, kelihatan ada beda.
Zahra: Om bisa lihat dari foto doang?
Rafa: Tidak. Tapi aku percaya Sinta.
Tiga titik muncul cukup lama.
Zahra: Gue pulang besok pagi ya, Om. Sesuai janji.
Rafandra mengetik balik lebih cepat dari biasanya:
Rafa: Aku akan ada di rumah.
Ia menatap pesan yang sudah terkirim itu.
Bukan "baik" atau "oke." Tapi empat kata yang artinya lebih dari informasi keberadaan.
Artinya: aku menunggu.
Tiga menit kemudian:
Zahra: Aku tahu, Om.
Rafandra meletakkan HPnya.
Menatap Jakarta sore yang mulai berubah warna di luar jendela mobil oranye di pinggir langit, gedung-gedung yang menyalakan lampunya satu per satu.
Sudut bibirnya bergerak. Kecil. Cepat.
Tapi nyata dan supirnya yang delapan tahun juga sudah hafal setiap pergeseran kecil di wajah bosnya, melihat dari kaca spion dan memilih untuk tetap menatap jalanan.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼