Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi terpilih
Wajah Danish makin memerah tak karuan rasanya. Pemuda itu menundukkan pandangan, jari-jemarinya meremas ujung piyama-nya, tak mampu lagi menatap netra abangnya itu. Rasa malu bercampur gugup membuatnya salah tingkah.
"Siapa... siapa yang jatuh cinta diam-diam? Abang ini kalau ngomong suka ngaco, deh!"
Dia berusaha mengelak dan tak ingin terlalu mempelihatkan perasaannya. "Aku... aku cuma... kasihan sama dia, Bang. Aku hanya ingin melindunginya dari perlakuan buruk Nova dan istri tuanya itu yang berencana ingin menghancurkan Alma, itu saja."
Darrel tersenyum semakin geli melihat usaha adiknya menutupi perasaannya. Pria kharismatik itu menepuk pelan bahu adiknya.
"Kamu kira abang nggak paham apa, Nish? Pandangan matamu saat menatapnya, semangatmu yang berapi‑api jika berurusan dengannya, juga caramu memperlakukannya dan kecemasanmu padanya ketika dia dalam bahaya... itu bukan sekadar rasa kasihan atau rasa ingin melindungi biasa. Itu namanya cinta, Danish."
"Dan abang sudah lihat itu dari lama, jauh sebelum kamu sendiri menyadarinya," ucapnya lembut dengan nada serius.
Danish bungkam seribu bahasa. Tak ada lagi kata-kata yang bisa dia ucapkan untuk sekedar membela diri. Ucapan Darrel benar adanya, menembus tepat ke relung hatinya yang terdalam.
Dia lantas menumpukan kedua tangannya di atas pagar pembatas sedikit membungkuk. Netranya menatap jauh ke cakrawala yang malam itu penuh bintang berkelip indah.
Menghela napas panjang, lalu perlahan menoleh ke arah Darrel yang berdiri di sampingnya dengan posisi yang sama dengannya. Danish memandang wajah tenang abangnya dengan perasaan berkecamuk.
"Tapi... apa gunanya perasaan ini, Bang?" ucapnya pelan, terdengar pasrah dan sedih. "Dia masih istri orang, meski laki‑laki itu sudah sangat jahat dan nggak pantas untuknya. Tapi aku tahu batasanku. Aku nggak berani berharap lebih."
"Apa yang kamu lakukan saat ini sudah benar," sahut Darrel dengan rasa bangga.
"Aku ingin memastikan dia merasa aman serta hidup tenang. Dan selama aku bisa melihatnya tersenyum bahagia, maka itu sudah cukup bagiku," ucap Danish lirih.
"Abang mengerti perasaanmu, Nish. Teruslah lindungi dia, bantu untuk bangkit, dan pastikan dia mendapatkan haknya. Karena Alma itu wanita yang hebat, dia pantas mendapatkan kebahagiaan serta perlindungan dari orang yang benar‑benar tulus menyayanginya."
Darrel menatap adiknya itu dengan pandangan yang rumit. Dia sadar, Danish pernah terluka oleh masa lalu yang menyakitkan sama seperti dirinya. Tentu dia akan lebih berhati-hati untuk melabuhkan hatinya. Dan yang pasti, dia juga tidak akan merusak pagar ayu.
"Tapi kamu ingat satu hal, status itu bisa berubah kapan saja. Kalau Nova sudah menyia‑nyiakannya, menyakiti, apalagi sampai berbuat kejahatan yang sudah melampaui batas... maka dia sendiri yang sudah merusak ikatan itu," ucap Darrel sarat akan makna.
"Dan jika suatu hari nanti, keadilan itu tiba... bicaralah dengan jujur tentang perasaanmu padanya secara jantan," lanjutnya menambahkan.
Mata Danish berbinar kembali mendengar dukungan itu. Rasa ragu dan takut di hatinya perlahan menghilang terganti harapan baru. Pemuda itu mengangguk mantap.
"Makasih, sudah mengerti dan nggak menghakimi aku, Bang. Aku janji, akan tetap berdiri di belakangnya. Aku pastikan Nova dan wanita jahat itu nggak akan pernah bisa menyakiti Alma lagi, selama aku masih bernapas."
"Baguslah kalau begitu," sahut Darrel sambil tersenyum penuh arti.
"Ayo, masuk. Ini sudah malam, waktunya istirahat." Dia lantas merangkul leher adiknya mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Tapi, Bang... kapan hasil seleksi diumumkan?" tanyanya dengan cemas sembari berjalan. "Kalau bisa jangan lama-lama, ya. Aku ingin Alma segera duduk sebagai Direktur Operasional. Kalau posisinya sudah sah dan kuat, mereka nggak akan punya celah sedikitpun untuk masuk atau menggoyahkan posisi Alma. Aku nggak tenang kalau belum resmi begini."
Darrel tertawa kecil melihat kekhawatiran adiknya yang berlebihan itu. Dia menepuk dada Danish pelan.
"Kamu tenang aja, besok pun kalau dia sudah siap, bisa langsung masuk kerja...!"
"Yang benar, Bang...!" sambar Danish cepat, netranya membelalak seakan tak percaya. "Wah, makasih banyak, Bang! Dia pasti sangat bahagia mendengar kabar ini!"
Tanpa sadar Danish langsung melompat naik ke punggung abangnya dan memeluknya dengan erat meluapkan kegembiraannya, membuat Darrel tersentak kaget.
Pria itu terkekeh pelan dan berusaha melepaskan tubuh Danish di punggungnya. "Iya, seneng sih, seneng. Tapi cepat turun, dong. Emang nggak berat apa, gendong tubuhmu yang gembul itu!"
Danish langsung turun dengan wajah cemberut, tetapi dia tetap merasa senang.
"Semuanya sudah abang atur sama Papi. Besok pagi bawa dia langsung ke ruanganku, kita urus penempatan dan penyerahan tugasnya sekalian," ujar Darrel serius.
"Sekarang kamu tidurlah, jangan sampai besok telat atau malah kelewatan bangun karena terlalu senang," perintahnya pada sang adik.
"Siap, Kapten!" Danish menghormat ala militer, lalu mengangguk penuh semangat sambil senyum lebar. Membuat Darrel hanya bisa tersenyum dan menggeleng pelan.
Danish bergegas masuk ke dalam kamar, membaringkan tubuhnya di kasur empuk lalu memejamkan mata. Beban berat di pikirannya seakan terangkat seketika dan tak sabar rasanya menunggu matahari terbit esok hari.
...
Sementara itu, dalam kamarnya tampak Alma tengah tertidur lelap di atas kasurnya yang empuk, dengan hati yang tenang dan damai. Ia sama sekali tak menyadari, bahwa di balik keberhasilannya hari ini, dua orang yang paling ia kenal dan percayai di masa lalu, sedang merancang jebakan baru yang lebih kejam dan berbahaya.
Hingga keesokan harinya, kala fajar menyingsing di ufuk timur, wanita itu terbangun dengan raga yang segar bugar. Ia merentangkan tangan sejenak guna meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian setelah selesai dengan kewajibannya di pagi hari, Alma segera keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi, Rin," sapanya hangat, saat mendapati Nirina tengah berada di dapur.
"Selamat pagi juga, Bu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kenapa panggil Danish - Mas, sedangkan aku, kamu panggil - bu? Memangnya aku setua itu? Usiaku malah di bawahnya Danish setahun, loh," protesnya sembari mengerucutkan bibirnya, tak suka.
Nirina mengusap tengkuknya yang berbalut hijab instan. "Maaf, saya belum terbiasa. Lagipula Mas Danish nggak mau dipanggil, Pak," jawabnya beralasan.
"Nah, mulai sekarang kalau di rumah panggil mbak, aja. Biar lebih akrab. Nggak ada protes!" titah Alma tegas.
Baru saja Alma selesai bicara, terdengar ponselnya berdering. Ia segera melihatnya dan ada nama Danish di layar. Sambil mengerutkan keningnya, wanita itu lantas mengangkat sambungan telepon tersebut.
"Halo... Assalamualaikum, Nish?" sapa Alma pelan, terdengar sopan dan lembut.
Di seberang, wajah Danish seketika berubah cerah, senyum lebar langsung menghiasi wajah tampannya.
"Waalaikumsalam, Al!" jawabnya bersemangat, tak bisa menutupi kegembiraannya. "Kamu masih tidur, ya? Maaf banget, ya, aku telepon pagi‑pagi begini. Tapi, aku punya kabar yang sangat penting buat kamu!"
"Benarkah? Kabar apa, itu?" tanya Alma antusias.
Danish menarik napas dalam‑dalam lalu berkata dengan lantang, "Dengar baik‑baik ya, Al. Papi dan Bang Rel sudah sepakat bahwa kamu terpilih secara resmi sebagai Direktor Operasional di Al Gha Corp. Dan, kamu diminta untuk datang ke kantor pagi ini juga untuk serah terima jabatan!"
Hening... Alma terdiam dengan tatapan kosong berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya.