Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?
Malam itu, hujan turun perlahan membasahi lampu-lampu kota. Laura berdiri di depan jendela apartemennya, memandangi jalanan yang ramai dengan tatapan kosong. Di tangannya, sebuah cincin pernikahan berkilau samar terkena cahaya lampu.
“Jadi… kamu benar-benar akan ikut aku pindah ke desa?” suara Arka terdengar dari belakang.
Laura menoleh. Pria itu berdiri sambil tersenyum lembut, membawa dua cangkir teh hangat. Wajahnya selalu berhasil membuat hati Laura tenang.
Laura tersenyum kecil.
“Kalau itu berarti kita bisa memulai hidup baru bersama, kenapa tidak?”
Arka meletakkan cangkir di meja, lalu menggenggam tangan Laura.
“Aku tahu ini tidak mudah buat kamu. Kamu harus meninggalkan pekerjaan, apartemen ini, dan semua kehidupanmu di kota.”
Laura menatap mata Arka dalam.
“Aku menikah sama kamu, Ka. Bukan sama kota ini.”
Kalimat itu membuat Arka tersenyum haru. Ia memeluk Laura erat.
Namun, di tempat lain…
Seorang wanita paruh baya duduk di ruang tamu rumah sederhana di desa. Tatapannya dingin menatap foto Arka yang baru saja dikirim lewat ponselnya—foto Arka bersama Laura saat acara lamaran.
Wanita itu adalah Rohaya.
Wajahnya menegang saat melihat Laura.
“Perempuan kota lagi…” gumamnya pelan.
Tangannya mengepal erat.
Bayangan masa lalu kembali menyerangnya.
Suaminya, Arman, tertawa bersama seorang wanita cantik berpakaian mewah—wanita kota bernama Sinta. Pengkhianatan itu masih terasa seperti luka yang belum pernah sembuh.
Air mata Rohaya jatuh, tapi sorot matanya penuh kebencian.
“Aku tidak akan membiarkan anakku hancur karena perempuan kota… tidak akan pernah.”
Beberapa minggu kemudian.
Hari pertama Laura menginjakkan kaki di rumah mertuanya.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman rumah besar bergaya lama. Udara desa terasa sangat berbeda dari kota—lebih sunyi, lebih asing.
Laura menarik napas panjang.
“Deg-degan?” tanya Arka sambil tersenyum.
Laura mengangguk pelan.
“Sedikit.”
Arka menggenggam tangannya.
“Tenang. Aku ada di sini.”
Mereka turun dari mobil.
Di depan pintu rumah, Rohaya sudah berdiri menunggu. Wajahnya datar, tanpa senyum sedikit pun.
Laura segera menunduk sopan.
“Assalamualaikum, Bu…”
Rohaya hanya menatapnya dari atas sampai bawah.
“Jadi ini perempuan yang kamu bela mati-matian itu?”
Suasana langsung menjadi dingin.
Arka mencoba mencairkan keadaan.
“Ibu, ini Laura. Istriku.”
Rohaya mendengus kecil.
“Saya tahu. Saya masih bisa melihat.”
Laura mencoba tersenyum meski hatinya mulai tidak nyaman.
“Saya harap Laura bisa belajar banyak dari Ibu.”
Rohaya menatap tajam.
“Belajar? Tentu. Perempuan kota biasanya memang tidak tahu apa-apa soal mengurus rumah.”
Ucapan itu menusuk langsung.
Laura terdiam.
Arka langsung bicara tegas.
“Ibu, Laura sudah berusaha sopan.”
Rohaya menoleh tajam pada Arka.
“Kamu baru datang sudah berani membela istri di depan ibumu?”
Laura buru-buru menahan Arka.
“Sudah, Ka… tidak apa-apa.”
Namun dalam hati, Laura mulai merasa…
kehidupan barunya tidak akan semudah yang ia bayangkan.
Dan itu baru hari pertama.
Saat malam tiba, Laura duduk sendirian di kamar. Matanya berkaca-kaca.
Arka masuk membawa segelas air.
“Kamu nangis?”
Laura cepat menghapus air matanya.
“Enggak…”
Arka duduk di sampingnya.
“Aku minta maaf soal Ibu.”
Laura menunduk.
“Aku cuma ingin diterima, Ka. Aku benar-benar ingin jadi menantu yang baik.”
Arka memegang wajah Laura lembut.
“Kamu tidak perlu berubah jadi orang lain untuk itu. Aku menikahi kamu karena kamu adalah Laura.”
Air mata Laura akhirnya jatuh.
Ia memeluk Arka erat.
Namun di balik pintu kamar…
Rohaya berdiri diam, mendengar semuanya.
Tatapannya tajam.
Dan kebenciannya justru semakin besar.
“Perempuan itu…
akan kubuat pergi dari rumah ini.”
(Bersambung Episode 2)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments