Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang mediasi.
Jadwal sidang mediasi akhirnya keluar juga. Raya datang lima belas menit lebih awal. Blazer navy. Map coklat di tangan. Kali ini Raya berdandan sedikit lebih. Untuk apa? Dia pun tidak tahu.
Disebelahnya ada Raka, Abang kandungnya sekaligus pengacara Raya. Tenang. Tapi mata elang.
" Tumben kamu dandan, dek?" Goda Raka untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang.
" Biasa saja mas." Raya sedikit malu dengan pertanyaan Raka.
" Ingat ya dek." Bisik Raka. " Kita tidak mencari menang kalah hari ini. kita cari jalan tengah.Tapi kalau Bagas tidak mau. Kita sikat." Lanjut Raka.
Raya mengangguk." Saya cuman mau anak anak aman, mas."
Pintu terbuka. Bagas masuk. Bersama pengacaranya.Pak Arman. Kemeja rapi. Tapi kantong matanya dalam. Dibelakang mediator. Hakim sudah duduk dengan map tebal didepannya.
" Silahkan duduk." Kata Hakim. " Kita mulai mediasi pertama. perkara hak asuh anak dan harta gono gini antara Saudara Bagas dan Saudari Raya."
Bagas tidak berani menatap Raya. Matanya ke meja. ke jam dinding. kemana saja. Asal jangan ke Raya yang sekarang duduk tegak didepannya.
" Pak Bagas." Hakim buka suara. " Sebagai penggugat, apa yang bapak inginkan dalam mediasi ini?"
Bagas dehem. Suaranya serak. " Saya..Saya mau rujuk, Saya akui saya khilaf dan membuat luka dihati istri saya. Tapi saya sudah sadar dan ingin memperbaiki semuanya dari awal. Saya ingin kumpul lagi dengan anak anak. Galang dan Gilang butuh orang tua yang lengkap."
Pak Arman menambahkan. " Klien saya siap berubah. Dia juga keberatan anak anak diasuh oleh bu Raya full. Tanpa dia bisa tahu perkembangan anak anaknya bagaimana. Ibu Raya baru bekerja. Anak anak dijaga orang lain yang merupakan ibu kandung sendiri. Alias neneknya anak anak. Tapi klien saya selama ini sudah menafkahi full mereka selama sepuluh tahun berumah tangga."
Raya tertawa kecil. Ntah apa lagi ini pikirnya. Raka yang tahu adiknya sedang dipojokkan." Tahan dek." Raka memegang tangan Raya.
"Giliran bu Raya." Kata Hakim.
Raya napas dulu. Terus bicara pelan. Tapi jelas. " Yang mulia, saya menolak rujuk. Memang sepuluh tahun Dia menafkahi saya dan anak anak full. Tapi bukankah itu kewajiban seorang suami? Saya juga bekerja, Mengurus rumah, Mengurus anak anak. Tapi apa saya dianggap tidak ada harganya karena tidak menghasilkan uang?"
" Saya juga jenuh dengan rutinitas saya sehari hari yang monoton, Tapi sedikitpun tidak terbesar dibenak saya untuk mencari tempat aman. Tempat pelarian, ke pelukkan yang lain, Seperti yang mantan suami saya lakukan." Lanjut Raya. Raya menatap Bagas tajam.
Bagas angkat muka." Raya, Aku akui khilaf. Hanya itu satu satunya kesalahan yang aku buat. Tapi kenapa kamu seolah olah menganggap aku paling jahat. Aku juga manusia biasa, Raya." dadanya naik .
" Siapa bilang kamu malaikat, Bagas? Siapa yang bilang?" Raya ikut emosi .
" Aku sama Andini sudah putus. Sumpah. " Bagas membela diri.
" Bagus." potong Raya. " Berarti sama aku juga sudah putus. Jangan bawa bawa anak untuk alasan."
Hakim mengetuk meja." Tenang. Kita sekarang sedang mediasi. Bukan adu mulut. "
Raka menyodorkon kertas." Ini adalah bukti chat Selingkuhan Bagas. Yang dikirimkannya kepada Raya. klien saya."
" Disana juga ada foto ciuman mereka. Yang sengaja dikirimkan ke saudara Raya." Lanjut Raka.
Wajah Bagas pucat. Karena dia juga sudah melihat foto yang dikirim Andini ke Raya.
" Itu hanya kesalahpahaman yang mulia. Klien kami sama sekali tidak tahu kalau foto itu diambil dan sengaja dikirimkan ke Bu Raya. " Bela pak Arman.
Raya buang muka. Kesalahpahaman tapi Bagas menikmatinya.
Hakim membaca semuanya dan disana terlihat jelas kesalahan Bagas. yang mana sudah selingkuh dari istrinya dan dengan sengaja mengirim foto mesra mereka ke Raya yang masih sah sebagai istri sahnya.
" Setelah membaca semuanya. Disini saya memutuskan hak asuh anak jatuh ketangan Bu Raya. ditambah anak anak masih dibawah umur. Saya lihat ibunya lebih siap secara mental." Ucap Hakim.
Ruangan hening. Hakim menulis sesuatu. kembali Hakim bicara.
" Saya tetapkan hak asuh jatuh ketangan Bu Raya sebagai ibu kandung dan pak Bagas dapat hak kunjungan setiap sabtu dan minggu diantar jemput tidak boleh menginap. Keberatan bisa ajukan di sidang pokok perkara minggu depan. Mediasi selesai. "
Raya tersenyum bahagia, anak anaknya tetap tinggal bersama dengannya. Raya kemudian berdiri bersalaman dengan hakim. " Terimakasih yang mulia."
Diikuti dengan Raka yang juga berdiri. Bagas masih duduk.
Pas Raya lewat. Bagas berisik pelan.Cuman Raya yang bisa dengar." Ray..Apa aku seburuk itu menjadi papa Galang dan Gilang?"
Raya berhenti. Tidak nengok." Kamu bukan papa yang buruk untuk anak anak, Gas. Kamu cuman suami yang buruk dan anak anak kita terbawa untuk merasakan sakit hati mamanya."
Raya jalan keluar, meninggalkan Bagas dengan pengacaranya.
Bagas hanya bisa menatap punggung Raya. Rasanya dia ingin berlari dan memeluk tubuh Raya. Tapi apalah daya sekarang semua hanya sebatas angan angan.
" Kita akan Lanjut lagi minggu depan,pak Bagas. " Pak Arman merapikan map map yang ada diatas meja.
Bagas hanya menutup mukanya dengan kedua tangan.
Bagas pulang kerumah. Kembali dia masuk kerumah besar yang sunyi. Hampa. Itulah yang dirasakan Bagas.
Meskipun Bagas cukup sering bertemu dengan Raya sekarang karena mereka satu proyek. Tapi rasanya sama saja. Hampa.
Bagas merindukan anak anaknya. Sudah lama sekali Bagas tidak bertemu dengan anak anaknya .
Malam ini Bagas memutuskan untuk datang kerumah Bu Sri. Meskipun dia tahu Raya akan marah. Tapi dia tetap papa Galang dan Gilang.
Bagas juga punya hak atas mereka. Meskipun di mediasi tadi Bagas kalah. Tapi untuk sekedar bertemu dengan mereka apa salahnya. Dia merindukan pelukkan dan senyuman Galang , Gilang.
Bagas melanjukan mobil kerumah Bu Sri. Tapi sebelumnya Bagas singgah ke toko mainan. Bagas ingin membeli bola baru untuk Galang dan Mainan dinosaurus untuk Gilang. Bagas masih hapal mainan mainan kesukaan anak anaknya.
Bagas sudah berada di depan rumah bu Sri. Bagas ragu untuk turun. Takut Raya akan mengusirnya. Lama dia diam didalam mobil. Sampai pintu dibuka dan Nisa keluar untuk buang sampah..
Nisa melihat Bagas yang masih berada didalam mobil. Bagas pelan pelan keluar. " Ada apa Bagas?" Sapa Nisa yang sudah membuang sampah ke tong sampah yang ada di dekat pagar.
Bagas bingung. Jujur dia takut sekarang untuk bertemu dengan Raya. Setelah tadi siang mereka mediasi dan sepertinya Raya masih marah padanya.
" Bude..besok bikinkan Gilang kue ini ya.." Gilang keluar dari rumah sambil membawa HP Nisa.
Gilang terdiam sesaat saat tahu papanya datang ..
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏