NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31.Korban siswi sekolah Salsa.

Suara sirine mobil polisi dan kendaraan forensik memecah keheningan pagi yang masih kelabu, berhenti tepat di halaman gedung apartemen yang kini sudah dikepung oleh garis polisi. Warga berkerumun di balik garis pembatas, berbisik-bisik dengan wajah pucat dan penuh ketakutan, membicarakan penemuan mengerikan di tandon air yang menjadi sumber kehidupan mereka sehari-hari. Dari dalam mobil berwarna hitam kelabu, Rian turun dengan wajah serius dan penuh kewaspadaan. Ia sudah berganti pakaian lengkap dengan seragam dinasnya, kemeja cokelatnya rapi, namun matanya menyiratkan kelelahan yang belum tuntas dari peristiwa pagi tadi di rumahnya. Segala rasa gugup dan suasana canggung akibat kejadian kemeja robek itu kini tersimpan rapi di sudut paling dalam ingatannya; saat ini, tugas dan kewajiban sebagai aparat penegak hukum adalah yang utama.

Rian berjalan tegap menuju atap gedung, diikuti oleh beberapa anggota timnya. Langkahnya mantap, namun pikirannya mulai berputar cepat menyusun potongan-potongan kasus yang kini kian rumit. Sesampainya di atap, suasana di sana sudah ramai oleh petugas yang sibuk bekerja. Di pinggiran tandon air yang kini terbuka penuh, terlihat sosok Bobby, rekannya yang terkenal cermat dan teliti dalam hal identifikasi serta pengumpulan data. Bobby sedang berdiri berdiskusi dengan tim forensik sambil memegang sebuah buku catatan kecil dan berkas-berkas yang sudah terisi data.

"Bagaimana keadaannya, Bob?" tanya Rian begitu sampai di dekatnya, suaranya rendah namun tegas. Ia melirik sekilas ke arah jenazah yang sudah dikeluarkan dari dalam tandon dan kini terbaring di atas kain putih, ditutupi sebagian oleh petugas medis.

Bobby menoleh, lalu mengangguk singkat sambil menutup buku catatannya sebentar. Wajah pemuda itu tampak serius dan sedikit muram. "Sudah ketemu identitasnya, Pak. Korban bernama Ria delia, usia 18 tahun. Berdasarkan data yang kami dapatkan, dia adalah siswi kelas dua belas di SMA Permata... sekolah yang sama persis dengan tempat Salsa bersekolah, dan tempat Rani adik Anda."

Rian mengernyitkan dahi mendengarnya. Ada rasa tidak nyaman yang menjalar di hatinya. Sekolah itu bukanlah sekolah yang jauh dari tempat tinggalnya, dan fakta bahwa korban masih berusia remaja yang sebentar lagi lulus membuat rasa tidak enak itu semakin menjadi-jadi.

"Dia dilaporkan hilang sejak dua hari yang lalu," lanjut Bobby, suaranya terdengar berat. "Keluarganya sempat melapor ke kantor polisi, tapi pencarian belum membuahkan hasil sampai pagi ini ada laporan dari pengawas apartemen. Berdasarkan seragam yang dikenakannya, benar-benar seragam sekolah lengkap, dia pulang dari perpustakaan sore itu dan tidak pernah sampai di rumah."

Rian mendengarkan dengan saksama sambil melangkah mendekati jenazah Ria yang kini sudah dibersihkan sebagian oleh tim medis forensik. Ia memberi isyarat agar penutup kain itu dibuka sebentar agar ia bisa melihat kondisi korban. Saat wajah dan tubuh gadis malang itu terekspos, Rian menatapnya lekat-lekat dengan mata yang terlatih menangkap detail sekecil apa pun. Tubuh Ria terlihat bersih, sangat bersih bahkan untuk seseorang yang menghabiskan waktu berhari-hari di dalam tandon air yang keruh dan penuh kotoran. Tidak ada luka gores, tidak ada memar yang mencolok, dan tidak ada jejak perkelahian atau perlawanan yang terlihat di kulitnya.

"Lihat ini, Bob," ucap Rian pelan sambil menunjuk ke bagian lengan dan bahu korban. "Tidak ada tanda perlawanan sama sekali. Biasanya korban yang diserang atau diculik akan berusaha melawan, meninggalkan bekas kuku yang patah, luka lecet, atau memar akibat dicengkeram. Tapi di sini... nihil. Mulutnya juga tidak ada bekas lakban atau kain yang mengikat. Seolah-olah dia pergi atau dibawa paksa tanpa sempat berbuat apa-apa."

Rian menghentikan ucapannya sejenak saat tim forensik memberikan laporan awal hasil pemeriksaan fisik.

"Korban mengalami tanda-tanda pelecehan seksual sebelum meninggal, Pak," ucap salah satu petugas forensik dengan nada datar namun menyedihkan. "Namun anehnya, tidak ada jejak biologis pelaku yang tertinggal di tubuh atau pakaian korban. Dan ada satu hal lagi yang janggal... celana dalam korban tidak kami temukan di tempat kejadian, maupun di dalam tandon. Pakaian luarnya lengkap, bersih, dan terpasang rapi, tapi bagian dalamnya hilang begitu saja."

Pernyataan itu membuat suasana di sana menjadi hening seketika. Semua anggota tim yang mendengarnya saling pandang dengan ekspresi takjub sekaligus ngeri. Fakta bahwa tubuh korban bersih dari jejak apa pun, lengkap dengan pakaian luar yang rapi namun kehilangan satu bagian pakaian dalam, serta tidak adanya bekas perlawanan, mengarah pada satu kesimpulan yang mengerikan.

"Ini bukan kerjaan orang sembarangan," gumam Bobby, menyadari hal yang sama. "Pelakunya tahu apa yang dia lakukan. Dia tahu cara menghilangkan jejak, tahu cara membersihkan tubuh korban agar tidak meninggalkan bukti apa pun, dan dia cukup terampil untuk melakukan semuanya tanpa membuat korban berontak. Ini ciri-ciri pelaku yang sudah berpengalaman, Pak. Seolah dia sudah melakukan ini berkali-kali dan tahu persis langkah apa yang harus diambil agar tidak tertangkap."

Rian mengangguk pelan, matanya masih terpaku pada wajah pucat Ria yang kini tertutup kembali.

"Kumpulkan semua data riwayat kasus hilang atau pembunuhan dengan pola yang sama dalam lima tahun terakhir," perintah Rian dengan tegas kepada Bobby dan anggota timnya. Suaranya berubah serius dan penuh otoritas. "Aku butuh laporan lengkap, tempat kejadian, waktu, karakteristik korban, dan barang-barang yang hilang atau tertinggal. Aku curiga pelaku ini bukan orang baru, dan dia tidak akan berhenti sampai di sini. Dia sangat berbahaya, dan dia tahu betul cara bermain dengan hukum."

"Siap, Pak. Segera kami kerjakan," jawab Bobby sigap, lalu segera bergegas turun untuk mengurus administrasi dan pengumpulan data yang diminta.

Rian berdiri diam sejenak di atap yang mulai ramai itu, menatap pemandangan kota yang mulai sibuk di bawah sana. Ada rasa berat di dadanya. Bahaya itu ternyata lebih dekat dari yang ia duga, bahkan sudah menyentuh lingkungan sekolah tempat Salsa berada. Pikiran tentang istrinya kembali melintas, membuatnya berjanji dalam hati untuk menjaga Salsa lebih ketat lagi, meski gadis itu terlihat polos dan biasa saja. Ia tidak boleh sampai membiarkan hal buruk apa pun menimpa Salsa.

Di tempat lain, matahari pagi sudah bersinar terang, menyinari halaman luas SMA Permata. Suasana sekolah tampak seperti biasa, riuh rendah suara siswa yang berdatangan, tertawa, dan bercanda satu sama lain. Namun, bagi Salsa yang berjalan sendirian melewati gerbang sekolah saat itu, dunia terasa sedikit berbeda. Ia datang jauh lebih pagi dari biasanya, ingin menyelesaikan beberapa tugas di kelas sebelum jam pelajaran dimulai.

Langkah kaki Salsa melambat saat ia melewati bangunan perpustakaan sekolah yang letaknya agak terpisah dari gedung utama. Bangunan itu tampak sepi dan tertutup rapat, pintu serta jendelanya terkunci karena penjaga perpustakaan baru akan datang beberapa jam lagi. Namun, mata Salsa menangkap sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Di depan pintu besar perpustakaan itu, berdiri sosok seorang gadis muda yang mengenakan seragam sekolah putih abu-abu yang sama persis dengan yang dipakai Salsa. Gadis itu berdiri diam, membelakangi dinding bangunan, dengan rambut panjang terurai dan tubuh yang tampak agak tembus pandang, perlahan bergerak tertiup angin yang tidak ada. Wajahnya pucat, tatapannya kosong namun tajam, menatap lurus ke arah jalan setapak yang akan dilewati Salsa.

Jantung Salsa berdegup kencang sejenak, namun ia berusaha menenangkan dirinya. Sudah menjadi hal biasa baginya melihat penunggu-penunggu tempat atau arwah-arwah yang belum tenang di sekitar sekolah. Ia sudah terbiasa menutupi kemampuannya ini dari semua orang, termasuk Rian, karena ia tahu betul bagaimana pandangan orang terhadap hal mistis, apalagi suaminya yang seorang polisi sangat logis dan tidak suka hal-hal berbau supranatural.

Ah, pasti itu hanya penunggu lama di sini. Biasanya tidak mengganggu kok, batin Salsa mencoba meyakinkan diri sendiri. Ia menundukkan pandangannya, berusaha seolah-olah tidak melihat apa pun, tidak ada apa-apa di sana. Ia terus melangkah maju, melewati sosok gadis itu dengan napas yang ditahan sedikit.

Saat jarak mereka semakin dekat, Salsa bisa merasakan hawa dingin yang menusuk keluar dari sosok gadis itu. Meski ia berusaha tidak menatap, sudut matanya menangkap bahwa gadis itu tidak bergerak dari tempatnya, namun kepalanya perlahan berputar mengikuti pergerakan Salsa. Tatapan mata kosong itu terus menancap tajam ke punggung Salsa seolah ingin mengatakan sesuatu, memanggil, atau meminta pertolongan.

Namun Salsa tetap pada keputusannya. Ia memilih untuk mengabaikan. Ia menganggap itu hanya salah satu dari ribuan penampakan yang biasa ia lihat sehari-hari. Ia terus berjalan, mempercepat langkahnya sedikit menuju gedung utama dan masuk ke lorong kelas yang sudah mulai terisi siswa lain.

Di belakangnya, sosok gadis itu—yang tak lain adalah Ria—tetap berdiri diam di depan perpustakaan yang tertutup itu. Tubuhnya yang tak berdaya dan penuh ketakutan itu hanya bisa menatap kepergian Salsa. Ia ingin berteriak, ingin menceritakan apa yang menimpanya, siapa pelakunya, dan di mana keberadaan barang bukti itu. Namun, tak ada suara yang keluar dari mulutnya, dan satu-satunya orang yang bisa melihatnya justru memilih untuk berpaling dan menganggapnya hanya penunggu biasa.

Sosok itu perlahan memudar samar namun tetap ada, menunggu, seolah tahu bahwa nasibnya dan kejahatan yang menimpanya belum selesai di sana, dan bahwa Salsa adalah satu-satunya harapan yang belum tersentuh yang dimilikinya. Tanpa sadar, benang merah antara kehadiran Salsa, kasus yang ditangani Rian, dan kematian mengerikan Ria perlahan mulai terjalin erat, menunggu saat yang tepat untuk terungkap sepenuhnya.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!