Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
"Ya ampun, betapa menyedihkan wajah cantikmu sekarang."
Ilyar hanya diam mendengar komentar Adrene pada luka memar agak bengkak menghias wajahnya. Insiden tadi terjadi pada pagi hari dan dia baru sadar setelah menjelang petang. Sangat menyedihkan memang berakhir demikian, tapi Ilyar bersyukur masih bisa melihat dunia.
Sekarang, dia sudah kembali ke ruang tahanan bersama Adrene dan Valeris, tapi Ilyar tidak menemukan Rubia. Padahal sebelum kesadarannya benar-benar direnggut, ia melihat bagaimana kerasnya Rubia menghadapi para perundung itu demi membelanya.
"Kak Rubia... " Ilyar berkata pelan.
Kerongkongannya terasa nyeri seperti luka pada sudut bibir sehingga berbicara terasa sulit.
"Ah, dia." Adrene mengusap tengkuk agak canggung.
"Mungkin berada di lantai tujuh. Menjalani masa hukuman selama dua atau tiga hari karena membuat sedikit masalah," jawab Valeris.
Ilyar menunduk seiring sepasang tangan bertaut gelisah. "Maaf."
Adrene mengembuskan napas. "Untuk apa minta maaf? Kamu malah membuatnya jadi sangat menyedihkan."
"Gara-gara aku kalian ...
Hah... Valeris mengembuskan napas.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Rubia membuat masalah. Justru saat menjadi tahanan baru, Adrene dan Rubia langsung terjerumus dalam masalah karena tahanan lama berusaha merundung sehingga terlibat perkelahian. Pada minggu pertama, dua orang itu langsung mengisi sel khusus di lantai tujuh untuk perenungan.
Seharusnya, tahanan tingkat menengah tahu hal itu. Atas dasar apa Efra berani mengambil resiko menganggu Ilyar yang merupakan teman sekamar mereka?
"Ini bukanlah istana di mana kamu bisa berkeliaran dengan kemewahan dan kepatuhan semua orang. Dakrossa adalah sarang makhluk buas karena yang lemah akan dimangsa atau diperdaya oleh yang kuat. Kali ini kamu selamat, tapi bagaimana ke depannya? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi."
Ilyar meremas sepasang tangan. "Aku tidak memiliki fisik kuat atau bakat bertarung. Aku hidup dengan tenang tanpa mengusik orang di balik setumpuk buku. Aku... selalu dimangsa."
"Kamu tahu tentang anak bunglon?"
"Anak bunglon?" Ilyar menggeleng pelan. Dia pernah melihat bunglon, tapi belum pernah mendapati versi bayinya.
Sebagai seorang Warden, Valeris cukup paham tentang zoologi, dia mempelajarinya lewat buku-buku atau mengamati secara langsung. Lantas dia menunjukkan ujung jari telunjuk untuk memberitahu ukuran bayi bunglon. "Ketika lahir, dia sangat kecil, bisa berbaring di ujung jariku. Tingkat kematian bayi bunglon sangat tinggi di alam liar karena dia begitu kecil dan tampak sangat rapuh."
Ilyar mendengar seksama dan Valeris mengulas senyum melihat betapa seriusnya gadis itu menyimak penjelasannya. Padahal hal semacam ini sungguh terdengar membosankan, itu terbukti dari Adrene yang mendengkus sambil merotasikan bola mata. Yah, sebelum masuk Dakrossa pun, orang-orang tidak terlalu tertarik dengan pembahasannya.
"Akan tetapi, setelah bertumbuh dewasa... dia akan belajar berburu serangga yang lebih besar dan karena sudah terbiasa menghadapi marabahaya demi bertahan hidup, dia menjadi predator kecil yang patut diwaspadai."
Sepasang mata Ilyar agak bergetar. Dia berhasil menangkap maksud dari pembahasan tersebut, namun binar di matanya perlahan meredup. Apa bisa dia yang terbiasa bersembunyi di balik ayahnya merangkak keluar untuk menghadapi semua marabahaya? Kalau bukan karena ketiga wanita itu, hari ini menjadi hari kematiannya.
"Dari mangsa menjadi pemangsa. Itu semua tergantung tekad dan usahamu," lanjut Valeris diakhiri senyum penuh makna.
"Tapi apa aku bisa?" gumam Ilyar.
Adrene dan Valeris mengembuskan napas. Bocah di hadapan mereka ini terlalu meremehkan diri sendiri dan tidak punya motivasi.
"Teruslah bersikap menyebalkan dan menyedihkan seperti sekarang sampai kamu mati dengan sia-sia di sini. Apa kamu tidak mau kembali dan melihat ayahmu? Kudengar dia belum sadar hingga sekarang."
Sepasang mata Ilyar melotot, dadanya berdenyut pedih sementara Adrene terus mengoceh dengan nada tidak bersahabat seiring raut wajah menjadi berang. "Kamu bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Bersembunyi tanpa mencoba apa pun. Jika terus begini, kamu benar-benar menjadi sangat tidak berguna bahkan untuk hidupmu sendiri!"
Ah ... Valeris menatap Adrene dengan bingung. Tidak pernah dia melihat wanita satu itu seemosi ini ditambah ketika melempar pandang ke Ilyar, gadis itu mulai bercucuran air mata.
"Aku juga tidak ingin seperti ini, tapi dari mana aku harus memulai? Aku tidak tahu."
Alih-alih marah akan perkataan menyakitkan Adrene, Ilyar malah menatap dua wanita itu dengan mata berkaca-kaca penuh harap. Bibirnya mengerut demi meredam suara tangis sementara pangkal hidungnya sudah sangat marah seiring lendir meleleh dari lubang hidung.
Hah... Valeris mengembuskan napas dan hendak berkata agar Ilyar beristirahat dulu, tapi Adrene menyela sembari menyeringai. "Kami akan membantumu."
"Membantuku?"
"H-hei, apa yang coba kamu lakukan?" Valeris meremas bahu kiri Adrene.
Adrene mendelik lebar pada Valeris bersama seringai lebar tercetak pada bibirnya. Dia merogoh saku celana dan mengeluarkan sesuatu dari balik saku. Sejumlah akupuntur.
"Anggap saja ini sebagai pengobatan ringan agar kamu cepat pulih, khekhekhe..." kata Adrene sampai membuat sekujur tubuh Ilyar meremang.
Sedangkan itu, di lantai empat, di mana tahanan kelas menengah berada. Efra meraung karena sekujur tubuh dan wajahnya terasa sakit akibat pukulan Rubia.
"Bocah itu! Aku harus membunuhnya!" Efra meraung sambil berbaring di ruangannya.
"Bukankah kita harus memulihkan diri dulu?"
Teman sekamar Efra yang ikut terlibat dalam perundungan menyahut. Mereka terbaring kaku oleh rasa sakit.
"Ya, kamu benar."
Efra mendesah kasar lalu mengingat kunjungan minggu lalu yang datang padanya. Seorang perwakilan datang dan menawarkan hadiah besar jika dia berhasil menyiksa Ilyar untuk waktu lama sampai gadis itu menyerah dan memilih mengakhiri hidup.
Bibir Efra bergetar riang setiap kali mengingat hadiah yang akan di dapatkan, yakni kebebasan. Setidaknya, dia harus berusaha membunuh Ilyar, tidak peduli jika setelahnya kembali babak belur karena pada akhirnya dia akan menghirup udara segar di luar Dakrossa.
***
Masa hukuman Rubia telah usai setelah tiga hari berlalu. Hari ini, dia kembali ke ruang tahanannya dan cukup terkejut mendapati Ilyar tidur tengkurap dengan wajah pucat pasi dan kantung mata cukup besar dihias lingkar hitam kentara. Nyawanya seolah sudah di ujung tanduk.
"Apa yang terjadi?" tanya Rubia.
Valeris yang tengah membaca buku mengembuskan napas sambil melirik Adrena yang tampak puas dengan sejumlah akupuntur tersebar di atas kain kecil. Entah sejak kapan Adrene punya benda-benda semacam itu, tapi yang jelas akupuntur bukan satu-satunya media ekspresimen yang dimiliki.
Dasar Alkemis gila! Batin Valeris.
"Anak ini benar-benar sesuatu, Rubia!" Adrene menghampiri Rubia, meremas bahu wanita penyihir itu sambil berkata amat pelan dan penuh penekanan.
"Apa maksudmu?" Rubia menelengkan kepala untuk melihat lebih jelas kondisi Ilyar yang tampak menyedihkan. Entah apa yang telah dilakukan Adrene.
"Kamu tahu tentang ener, kan?"
Ener adalah energi spiritual dalam tubuh makhluk hidup yang dapat diolah serta diubah menjadi sebuah kekuatan. Ener ini berada pada inti core spiritual yang tersembunyi dalam tubuh manusia, memungkinkan pemiliknya mampu menggunakan kekuatan supranatural, namun tidak semua orang memilikinya. Inti core dari ener dideskripsikan seperti sebuah kristal kecil bercahaya samar seukuran kelereng dan biasanya terletak di antara tiga bagian dalam tubuh manusia, yakni perut, dada, dan dahi. Hanya segelintir manusia yang memiliki ener karena biasanya berasal dari garis keturunan tertentu atau orang yang telah mengalami peristiwa besar semacam penyintas.
"Bocah ini memilikinya dan kurasa inti enernya sedikit berbeda!" Adrene tampak sangat bersemangat setelah memeriksa aliran energi pada tubuh Ilyar menggunakan akupuntur.
"Aku membuka beberapa aliran energi di tubuhnya untuk memperkuat sistem tubuh dan proses pemulihan yang cepat, tapi ternyata anak ini punya sesuatu yang mengerikan. Aku bisa merasakannya dari ujung jariku ketika menyentuh akupuntur. Jika kamu tidak percaya, lihatlah hasilnya. Dia sembuh lebih cepat dari perkiraanku."
Rubia merinding melihat betapa bergairahnya Adrene ketika memberitahu itu, tapi apa katanya? Sembuh lebih cepat? Dilihat dari sisi manapun, Ilyar tampak menderita. "Tapi dia terlihat masih menyedihkan," komentar Rubia.
"Ah, itu ... " Adrene mengusap tengkuk canggung kemudian mendekatkan bibir pada daun telinga Rubia seraya berbisik, "Sebenarnya aku terlalu bersemangat jadi setelah dia sembuh, aku mencoba membuatnya kebal terhadap racun dan sangat mengejutkan dia bertahan."
"Dasar Alkemis gila!" Rubia berseru sambil meninju lengan Adrene.
Sementara, Ilyar yang merasa kelopak mata semakin berat karena lelah kini tersenyum tipis.
"Syukurlah Kak Rubia sudah kembali."