"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Malam di Mansion Valerio seharusnya menjadi puncak dari segala kemenangan. Setelah pesta pernikahan yang menghebohkan seluruh negeri, suasana di dalam kamar pengantin utama yang luas dan mewah itu justru terasa mencekam.
Aroma mawar putih yang memenuhi ruangan seakan kalah oleh ketegangan yang merayap di antara dua manusia yang baru saja mengikat janji suci.
Azeant Apolo-Valerio berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman, masih mengenakan kemeja putihnya yang setengah terbuka. Ia menuangkan whiskey ke dalam gelas kristal, sementara Veronica duduk di tepi ranjang besar berselimut sutra, masih dengan riasan yang belum sepenuhnya dihapus.
"Seandainya kau tidak seegois itu, Veronica," suara Azeant memecah keheningan, dingin dan tajam. "Seandainya kau tidak memilih untuk menjadi martir yang bodoh, Matthew tidak akan pernah merasakan dinginnya rumah Garfield."
Veronica mendongak, matanya yang lelah menatap punggung kokoh suaminya. "Aku sudah mengatakannya berulang kali, Azeant. Maafkan aku. Aku melakukan itu karena aku takut."
"Maaf?" Azeant berbalik, menatapnya dengan tatapan yang menyayat. "Apa maafmu bisa mengembalikan waktu tiga tahun yang hilang? Apa maafmu bisa mengembalikan momen saat putraku pertama kali merangkak? Atau saat dia memanggil nama yang bukan namaku? Tidak, Veronica! Kau merampas hakku sebagai ayah hanya karena ketakutanmu yang tidak berdasar!"
Hati Veronica terasa seperti diiris. Rasa bersalah itu memang ada, namun ia tidak bisa terus-menerus menjadi samsak tinju emosi Azeant.
"Lalu kenapa kau selalu menyalahkan aku sepenuhnya?" suara Veronica mulai meninggi, bergetar karena emosi. "Kau juga bersalah, Azeant! Kau pergi! Kau meninggalkan aku tepat di saat aku paling membutuhkanmu!"
Azeant meletakkan gelasnya dengan dentuman keras di atas meja. Ia melangkah mendekat, auranya begitu mengintimidasi hingga Veronica tanpa sadar mundur sedikit.
"Kau tahu alasan kenapa aku pergi, Vea! Kenapa seakan kau menjadi amnesia mendadak begitu?" Azeant membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Veronica. "Kau menolak aku. Kau mengatakan akan menikah dengan orang lain saat kita baru saja selesai bercinta. Bercinta, Veronica! Bukan di meja makan, bukan di ruang tamu, tapi di atas ranjang kita, setelah tubuh kita menyatu! Dan sekarang dengan mudahnya kau menyalahkan kepergianku?"
Veronica terengah, air mata mulai menggenang. "Aku melakukannya untuk melindungimu dari keluargamu! Aku tidak ingin kau hancur karena aku!"
"Dan lihat hasilnya!" bentak Azeant. "Kita hancur dengan cara yang lebih menyedihkan!"
Mereka saling menatap dalam keheningan yang menyesakkan. Nafas mereka beradu, penuh dengan kemarahan, kebencian, namun juga kerinduan yang sangat dalam yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan ego.
Tiba-tiba, kemarahan di mata Azeant meredup, berganti dengan tatapan yang begitu gelap dan lapar. Ia mencengkeram rahang Veronica dengan lembut namun posesif.
"Lalu apa maumu, hah? Kau menikah denganku hanya untuk memarahiku seperti ini?" tantang Veronica dengan suara parau.
Azeant tidak menjawab dengan kata-kata kasar lagi. Suaranya berubah menjadi bariton yang dalam dan penuh tuntutan. "Lahirkan lagi anak perempuan untukku, Veronica. Kumohon... Berikan aku sesuatu yang tidak bisa kau rampas lagi."
Sebelum Veronica sempat memprotes atau mencerna permintaan itu, Azeant sudah membungkam bibirnya. Ciuman itu meledak—panas, liar, dan sarat akan emosi yang selama ini tertahan. Ini bukan sekadar ciuman pernikahan; ini adalah penyatuan kembali dua jiwa yang sudah lama hancur.
Veronica kehilangan kemampuan untuk berpikir. Ia merasakan tangan Azeant yang kasar namun terampil mulai menanggalkan gaun pengantinnya. Semua deru napas dan kata-kata yang dulu sering Azeant bisikkan di apartemen Tribeca kembali keluar, merusak pertahanannya.
"Aku benar-benar merindukan keindahan ini, Vea..." bisik Azeant di ceruk lehernya, mencium setiap inci kulit yang kini kembali menjadi miliknya secara sah.
Azeant menelusuri lekuk tubuh Veronica dengan pemujaan yang hampir gila. Ia mencium bahunya, dadanya, hingga gerakannya terhenti tepat di perut bawah Veronica. Di sana, di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, terdapat garis putih tipis yang memudar—bekas luka operasi sesar saat Matthew lahir ke dunia.
Azeant terpaku. Ia menyentuh bekas luka itu dengan ujung jarinya, sangat pelan, seolah takut akan menyakiti Veronica kembali.
"Kau melahirkan putraku sendirian dengan luka ini..." gumam Azeant, suaranya pecah. Ia mengecup bekas luka itu dengan penuh cinta. "Mau menato bagian ini agar tertutup?" tanya Azeant pada Veronica yang sedang berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya di tengah badai gairah.
Veronica menggeleng lemah, jemarinya mengusap rambut Azeant. "Tidak, Azeant. Sayang kalau keindahannya harus ditutup dengan tinta. Itu adalah tanda bahwa Matthew pernah ada di sana."
Azeant mendongak, matanya berkaca-kaca menatap istrinya. "Terima kasih, Sayang... Terima kasih sudah menjaganya untukku."
Ketegangan dan pertengkaran tadi seolah menguap, digantikan oleh hasrat yang membara. Malam pertama di Mansion Valerio itu menjadi malam yang meresahkan; penuh dengan suara desahan yang memanggil nama masing-masing, janji-janji yang dibisikkan di antara peluh, dan penyatuan yang begitu intens seolah mereka sedang mencoba menghapus waktu tiga tahun yang hilang dalam satu malam.
Azeant tidak lagi menjadi pria yang dingin; ia adalah pria yang haus akan kehadiran Veronica. Ia tidak memberikan ruang bagi Veronica untuk berpaling.
Di atas ranjang, mereka tidak lagi bicara soal masa lalu. Mereka hanya bicara soal rasa, tentang bagaimana tubuh mereka masih saling mengenali dengan sempurna, dan tentang janji untuk tidak pernah lagi membiarkan satu sama lain pergi.
Malam itu, di bawah kemewahan yang tak terbatas, Azeant Apolo-Valerio akhirnya benar-benar pulang.
Bukan ke New York, bukan ke mansionnya, tapi ke dalam dekapan wanita yang selama ini menjadi pemilik tunggal jiwanya.
Dan di sela-sela pergulatan mereka, Azeant terus membisikkan satu hal: "Jangan pernah tinggalkan aku lagi, atau aku benar-benar akan Hancur."
jd teh celup ka dia disana.... 😂