Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24# Harapan Karin pada Aiden
“Martabaknya di simpan dulu, ya! Vian dengar tadi apa papa bilang?” Karin duduk di samping putranya yang sedang mengunyah batagor.
Alvian menelan batagornya, bocah itu kemudian minum air putih dari botol minum miliknya. “Makan naci dulu balu boleh makan maltabak,”
“Martabaknya mama simpan dulu, oke!” Karin mengambil martabak yang ada di meja depan Alvian duduk. “Mama gendong!” Alvian langsung merentangkan kedua tangannya pada Karin setelah menghabiskan batagor.
Karin tersenyum, dia meraih putranya ke dalam gendongan. “Perutnya ini isinya apa saja coba,” Karin menunjuk-nunjuk perut Alvian.
“Icina batagol dan lemak, nanti Pian macih mau ici lagi. Macih banyak luang yang belum diici,”
Karin menggendong Alvian menuju meja makan, di sana sudah ada Ayu yang sudah siap untuk menikmati makan malam.
“Mau duduk dekat kulci papa!” pinta Alvian saat mamanya hendak menurunkannya, Karin mengangguk. Dia mendudukkan Alvian di samping kursi makan Aiden, sedangkan papanya tersebut masih membersihkan diri.
“Anak kecil harusnya duduk di sana! Bukan di situ,” gerutu Ayu.
“Cuka-cuka Pianlah mau duduk di mana. Celain donatul ndak boleh ngatul,” sahutnya tak mau kalah jika harus berhadapan dengan sang nenek.
Karin mengusap lembut kepala putranya. “Adek tidak boleh bicara seperti itu pada nenek, itu namanya tidak sopan. Bicaranya harus baik dan lembut kalau sama orang tua,” Karin memberitahu putranya dengan lembut. “Vian mengerti?”
“Iya mama,” Alvian lantas mendongak, dia menoleh menatap Ayu yang duduk berhadapan dengan dirinya. “Pian minta maap cama nenek lombeng, eh! Nenek makcudnya,”
“Begini kalau dia kamu yang didik. Berani dan bersikap tidak sopan pada orang tua, harusnya memang Aiden itu dengan Nala. Dia lebih pantas menjadi istri Aiden dan ibunya Alvian,” ucapan Ayu membuat dada Karin bergemuruh, namun dia masih berusaha menahan amarahnya.
“Istriku hanya Karin dan sampai kapanpun tetap Karin. Satu-satunya yang pantas menjadi mama Alvian adalah Karin.” Sahut Aiden, dia menuruni tangga. Wajahnya sudah lebih fresh sehabis mandi, dia juga sudah berganti baju yang lebih casual.
Ayu langsung diam begitu Aiden ada di sana.
Aiden menghampiri Karin, dia meng3cup puncak kepala sang istri. Aiden menuju kursinya, dia melewati putranya sebelum duduk. Tidak lupa Aiden mengusak rambut Alvian, bocah itu terlihat senang saat papanya melakukan hal tersebut.
“Papa lama, pelut pian cudah lapal cekali ini. Dali tadi nenek juga cudah cepelti…” Alvian diam, dia melirik neneknya. Lalu menyentuh lengan sang papa, Aiden mengerut dan mendekatkan telinganya pada sang putra. “Nenek malah-malahin mama teluc dali tadi,” bisiknya pada sang papa.
Aiden terkekeh, dia meng3cup puncak kepala sang putra.
“Silahkan, ma!” Karin mempersilahkan mertuanya untuk mengambil makan malam lebih dulu, baru setelah itu dia mengambilkan suami dan putranya makan malam.
***
Selesai makan malam, Aiden menyempatkan diri bermain dengan Alvian sebelum putranya itu tidur. Dia merakit mainan bersama Alvian di ruang keluarga, Karin datang dari arah dapur membawa camilan dan juga minum untuk dua kesayangannya tersebut.
“Siapa yang mau cheese cake?" Karin mengangkat nampan yang dia bawa.
Alvian dan Aiden menoleh, Alvian langsung berdiri. “Pian…Pian mau cake nya mama,” bocah tiga tahun itu mengangkat tangannya.
“Papa juga mau,” Aiden ikut menyahut.
Karin ikut duduk di karpet yang ada di lantai, dia ikut menemani putranya bermain bersama dengan sang suami.
“Mama cuapi adek!” pinta Alvian pada Karin.
Karin menyuapi putranya cheese cake, dia juga memberikan botol susu pada Alvian. Aiden gemas bukan main melihat ekspresi putranya, dia mencubit pipi putranya. “Anak siapa sih ini, hmm? Manja sekali,”
“Anaknya papa Aiden cama mama Kalin,”
Aiden dan Karin tertawa mendengar ucapan Alvian, Aiden merangkul pundak sang istri. “Terimakasih sudah memberiku Alvian,” bisiknya pada sang istri.
“Sama-sama, mas.”
Mereka berdua menemani Alvian bermain sampai putra mereka merasa lelah dan siap tidur, malam itu Alvian tidur dengan lelap setelah puas bermain dengan papa dan mamanya.
“Ekheheh,”
Aiden sampai terkejut saat melihat putranya tidur sambil tertawa, Karin menertawakan suaminya tersebut. “Vian sedang menyimpan memori bahagianya setelah puas bermain bersamamu, mas. Hal yang menurut kita sederhana, tapi tidak untuk Vian. Momen itu akan dia ingat sebagai momen berharga yang akan dia bawa sepanjang hidupnya,”
Aiden menghela napas, tidak dia pungkiri kalau kesibukannya mengurus Setyadarma dan Aikav membuatnya sering pulang malam. Ada masa Aiden merasa bersalah pada anak dan istrinya, hari libur yang seharusnya dia habiskan bersama Karin dan Alvian kadang harus di relakan untuk pertemuan bisnis.
“Maaf,” ucapnya pada Karin yang memastikan suhu kamar Alvian sudah nyaman untuk putranya, dia juga memeriksa CCTV kamar Alvian dari ponselnya karena Alvian memang sudah tidur di kamarnya sendiri.
“Tidak apa-apa, mas. Tapi jangan sering-sering pulang malam, aku dan Vian butuh kamu. Bukan hanya perusahaan dan karyawanmu yang membutuhkanmu,” jawab Karin.
Setelah memastikan Alvian sudah terlelap, mereka mengganti lampu kamar menjadi lebih redup. Karin dan Aiden keluar dari sana dan masuk ke kamar mereka melalui pintu yang menghubungkan kamar utama yang mereka tempati dengan kamar sang putra.
***
Aiden naik ke tempat tidur bergabung dengan Karin, dia merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Karin merubah posisi tidurnya menghadap suaminya, dia masuk ke dalam pelukan Aiden.
“Mama Ayu sepertinya tetap kekeh soal Nala yang harus tinggal di sini, sayang. Kamu bagaimana?” Aiden memberi tahu Karin soal mamanya yang ingin Nala tetap tinggal di sana.
Tadi saat Aiden dan Karin hendak membawa Alvian ke kamar, mama Ayu sempat menahan Aiden untuk bicara. Karin memilih untuk tidak ikut dalam obrolan tersebut, dia menemani putranya tidur.
Ternyata sempat terjadi perdebatan antara mama Ayu dan Aiden soal mamanya tersebut yang ingin Nala tinggal di sana. Aiden tentu menolak, Nala tidak ada hubungan dengan dirinya. Aiden sudah punya anak dan istri, rasanya tidak pantas seorang perempuan tinggal satu atap dengan pria yang bukan keluarga ataupun mahramnya.
“Mas bertengkar sama mama?” tanya Karin diangguki Aiden.
Karin menghela napas. “Mama sepertinya tidak butuh ijin kamu, mas. Besok atau lusa pasti mama sudah membawa Nala masuk ke rumah ini,”
Aiden mendekap Karin. “Maaf karena aku masih saja membuatmu harus mengalah pada mama,”
“Aku hanya butuh kamu percaya padaku dan kamu bisa menjaga kepercayaanku, mas. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu menghancurkan rumah milik Vian,” Karin tidak akan membiarkan rumah putranya di hancurkan, dia tahu benar seperti apa orang-orang seperti Ayu dan Nala. Mereka berdua mengingatkan dirinya tentang kejadian yang pernah Karin dan mama Nirma lakukan pada kakak mereka Rhea.
“Aku akan menjaga semua kepercayaan yang kamu berikan,”
Karin tersenyum. Semoga kamu menepatinya, mas. Karena aku bisa pastikan kamu tidak akan bertemu denganku dan Alvian jika kamu masih ada rasa pada Nala atau mengkhianatiku.