NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Keesokan harinya, si kembar pulang lebih awal dari sekolah. Sepanjang perjalanan, langkah mereka terasa ringan, dipenuhi rasa tak sabar. Ada satu tujuan yang membuat hati kecil mereka berdebar kembali ke kedai kakao, bertemu dengan sosok yang telah mencuri perhatian dan kasih sayang mereka. 

          “Pak, nanti kita mampir ke kedai kakao, ya? Selina pengen beli cokelat.” kata Selina dengan mata berbinar, suaranya penuh semangat.

          “Maaf sekali, Non. Bapak nggak diizinkan lagi mengantar Non ke sana. Itu perintah langsung dari Papah.” ujar Pak Bima, sopir pribadi si kembar, dengan nada serba salah.

          “Kenapa begitu, Pak?” sahut Serena dengan dahi berkerut.

          “Papa tahu kalau kita sering ke kedai kakao?Dari mana Papa bisa tahu? Jangan-jangan Bapak yang bilang, ya?” Selina menatap Pak Bima dengan suara bergetar. 

          “Maafkan Bapak, Selina. Tadi malam Papah memaksa bertanya soal cokelat-cokelat itu dari mana. Bapak nggak bisa mengelak, akhirnya Bapak jujur sama beliau.” ucap Pak Bima dengan wajah penuh penyesalan. 

          Bagaimanapun juga, Bima tulus menyayangi kedua putri majikannya. Selama ini ia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri, karena ia paham betul betapa tuan besarnya terlampau sibuk dan nyaris tak memiliki waktu untuk anak-anaknya. Itulah sebabnya Bima membiarkan si kembar kerap berkunjung ke kedai kakao sebuah pelarian kecil agar rasa sepi yang menggerogoti hati mereka bisa sedikit terobati.

          “Berarti papa yang mengambil cokelat di kamar kita, ya, Pak?” tanya Serena. 

          “Kalau soal itu, Bapak benar-benar nggak tahu, Non,bapak cuma dipanggil tadi malam dan ditanya soal coklat itu beli dimana. " jawab Bima pelan. 

          “Sekarang kita langsung pulang saja, Non, atau kalian ingin mampir ke tempat lain asal bukan kedai kakao?” tanya Bima kembali, suaranya terdengar hati-hati.

          “Pulang saja, Pak. Kami mau langsung istirahat di rumah.” seru Serena, nadanya terdengar lesu. 

          Sementara itu, Selina terus terisak dalam diam, air matanya mengalir tanpa satu pun suara keluar dari bibirnya.

          “Papa jahat.” gumamnya lirih, namun tetap tertangkap oleh telinga Selina dan Pak Bima.

          “Udah, jangan nangis lagi. Nanti mata kamu jadi gatal.” bujuk Serena lembut, berusaha menenangkan.

          Selina hanya terdiam, tak membalas sepatah kata pun ucapan kakaknya. Dalam keheningan yang berat, keduanya akhirnya kembali ke rumah, membawa pulang perasaan muram yang menggantung di hati masing-masing.

          Begitu tiba di rumah, keduanya mendapati papa mereka sudah ada di sana, bersama perempuan yang kini menjadi kekasihnya. Rasa kesal dan amarah yang masih mengendap membuat si kembar memilih berlalu begitu saja menoleh pun enggan, apalagi menyapa Romeo dengan sepatah kata.

          “Hei, sayang kenapa mata kalian merah? Kalian habis menangis?” tanya Romeo heran saat melihat kedua putrinya berlalu tanpa menoleh, sisa air mata masih jelas di wajah mereka.

          Keduanya memilih tetap bungkam, sama sekali tak menggubris panggilan papah mereka terlebih karena kehadiran perempuan itu di sana. Tania, sosok yang sejak awal begitu mereka benci, berdiri di sisi Romeo, membuat langkah si kembar semakin menjauh tanpa menoleh.

          Melihat sikap si kembar, Tania hanya memutar bola matanya dengan malas. Ia tak berniat melewatkan momen itu begitu saja. Dengan senyum tipis, perempuan itu pun mulai menyulut emosi Romeo, yang masih berdiri terpaku menatap punggung kedua putrinya dengan pandangan kosong.

          “Anak-anakmu kenapa sih? Sikap mereka ke kamu nggak sopan sama sekali,mereka perlu dididik lebih tegas, sayang. Kalau dibiarkan seperti ini, nanti mereka bisa makin berani dan kurang ajar sama kamu.” ujar Tania dengan nada menyudutkan.

          “Mereka kesal karena aku melarang ke kedai kakao,aku juga sempat mengambil sebagian cokelat mereka. Jadi wajar kalau mereka marah.” jelas Romeo lirih. 

          “Coba kamu cari tahu dulu, kenapa anak-anakmu sampai segitunya sama kedai kakao itu,siapa tahu tempat itu memberi pengaruh yang nggak baik buat mereka. Bagaimanapun juga, nantinya mereka akan jadi anak-anakku juga. Aku nggak mau mereka tumbuh dengan arah yang salah.” ujar Tania lagi, suaranya terdengar penuh penekanan.

         Sebenarnya, sejak awal Tania diam-diam sudah menyelidiki alasan si kembar begitu sering mendatangi kedai kakao. Dari sanalah ia tahu, Alya lah pusat perhatian mereka. Menyadari betapa anak-anak itu tak pernah benar-benar menyukainya, Tania pun mulai waspada ia tak ingin lengah dan kehilangan posisi. 

          “Nanti aku cari tahu lebih jauh,untuk sekarang, biar aku yang urus dulu. Terima kasih ya, sayang, kamu sudah peduli sama anak-anak." Romeo lalu meraih Tania, mencuri kecupan singkat di bibir merah perempuan itu.

          “Aku sudah memesan tas dari Tokyo. Boleh, kan?” ujar Tania sambil merayu, menatap Romeo dengan senyum manis. 

          Selain terpikat oleh ketampanan Romeo, Tania tentu saja mengincar kekayaan pria itu harta dan kemewahan yang menyertainya menjadi daya tarik lain yang tak kalah besar di matanya.

          “Kirim saja tagihannya ke kantor. Nanti aku yang urus pembayarannya.” ujar Romeo santai.

          Keduanya sama sekali tak menyadari bahwa si kembar melihat dan mendengar semua yang terjadi di bawah sana, menyimpan setiap adegan itu dalam diam.

          “Papa sudah nggak sayang sama kita lagi, Kak.” ucap Selina lirih, suaranya gemetar menahan tangis.

          “Bukan Papa nggak sayang,dia cuma lagi kena sihir nenek lampir.” jawab Serena datar.

         Keduanya pun segera masuk ke kamar mereka. Selina dan Serena dikenal sebagai anak-anak yang cerdas. Meski masih duduk di taman kanak-kanak, keduanya sudah mengikuti les bahasa dan matematika. Tak heran jika sebenarnya mereka sudah layak menapaki bangku sekolah dasar. Namun, mereka memilih tetap di usia bermain menikmati kebebasan dan keceriaan masa kecil di sekolah.

          “Besok aku nggak mau ikut les bahasa Inggris,r,asanya pengin tiduran saja di kamar, lagi malas.” ujar Selina pelan sambil menatap kakaknya yang berbaring di ranjang seberang.

          “Ya sudah, nggak usah,besok aku mau berenang saja. Siapa tahu nanti kalau sudah besar bisa jadi atlet renang.” sahut Serena santai. 

          “Eh, jangan gitu, Kak. Gimana kalau kita pura-pura sakit saja, terus pura-pura nggak mau makan?nanti Papa pasti khawatir dan bujuk kita. Terus kita bilang syaratnya mau makan cuma satu harus ke kedai kakao. Gimana?” bisik Selina serius. 

          “Rencananya bagus, tapi masalahnya badan kita nggak demam sama sekali.”

          “Strateginya simpel. Tanpa pendingin, tutup kepala sampai pagi. Bangun-bangun badan hangat dan merah. Papah pasti mengira kita sakit.” Selina terkekeh kecil.

          “Kamu dapat ide itu dari mana?” Serena menatapnya curiga.

          “Aku lihat di kartun.” katanya polos seolah itu hal paling masuk akal.

          “Kamu yakin cara itu beneran berhasil?” Serena bertanya dengan nada ragu.

          “Di acara itu berhasil,soal kita? Ya dicoba dulu.” Selina tertawa kecil.

          " Kalau sukses, satu mainan kesukaanmu jadi milikmu.” Serena menatapnya serius.

          “Serius?” Selina nyaris tak percaya. . 

          “Aku serius,asal rencananya berhasil, kita benar-benar kelihatan demam dan akhirnya dibawa ke kedai kakao.” Serena mengangguk. 

          “Hmm… ya sudahlah,nggak masalah.Selina yakin bakal berhasil.” ucapnya akhirnya dengan senyum penuh keyakinan.

          Tanpa banyak ragu, mereka mulai melaksanakan aksi nekat tersebut. Pendingin kamar dimatikan, lampu diredupkan, dan mereka tidur dengan kepala tertutup sampai esok hari.

          Pagi hari nya ketika pengasuh membangunkan mereka sekitar jam lima, ekspresinya seketika berubah. Ia berteriak pelan karena mendapati tubuh si kembar terasa hangat di luar kebiasaan. 

          Hana tak membuang waktu. Ia cepat-cepat membangunkan Romeo, tuan rumah itu. Syukurlah pria itu sudah bangun, kalau tidak suasana bisa berubah tegang.

       “Ada apa, kelihatannya ada hal penting?” tanyanya dingin.

       "Non kembar badannya hangat, tuan saya khawatir.” Hana menjawab dengan suara bergetar. 

          Dengan raut tak percaya, Romeo memikirkan kondisi putri-putrinya. Ia yakin perawatan mereka selama ini sudah maksimal, namun demam itu tetap datang secara mendadak.

          “Berapa suhu tubuh mereka?” tanyanya cepat, kali ini terdengar lebih serius.

          “Suhunya tiga puluh sembilan,” ujar Hana pelan, jelas gugup.

          Romeo bergegas menemui kedua putrinya. Namun baru saja memasuki kamar, hatinya terasa terusik oleh sesuatu yang asing, seolah ada yang tak beres.

          Dengan hati-hati, Romeo mengecek Selina lebih dulu. Suhu tubuhnya meningkat. Ketika Serena pun menunjukkan kondisi yang sama, alis Romeo berkerut curiga.

          “Lihat itu, bajunya basah semua. Kenapa kamu biarkan?” Romeo menatap Hana dingin.

          “Maafkan saya, tuan. Tadi saya terlalu cemas, tuan. Jadi saya belum sempat mengganti bajunya.” ujar Hana dengan suara bergetar.

          “Kenapa kamar ini panas sekali?Apa pendinginnya bermasalah?” gumam Romeo.

          Baru sekarang Hana menyadari suhu kamar yang tidak wajar. Udara panas membuatnya berkeringat, dan Romeo pun merasakan hal yang sama.

          "Pendingin nya mati, tuan. Padahal kemarin normal. Sepertinya ada yang mematikannya.” ujar Hana hati-hati.

          “Jadi maksudmu, anak-anakku yang melakukannya?” sengak Romeo tajam.

          “B-bukan begitu, tuan,saya hanya berpikir non kembar merasa kedinginan, jadi pendingin nya dimatikan.” ujarnya gugup.

          “Segera hubungi Dokter Arjuna. Suruh dia datang sekarang.” titah Romeo dingin.

          Selain Satria, Arjuna adalah sahabat lama Romeo. Kini ia bertugas sebagai dokter pribadi keluarga Andreas, meneruskan peran ayahnya yang sudah pensiun.

          “Papa ingin kalian sehat lagi, supaya kita bisa pergi bersama.” Romeo membelai rambut mereka pelan.

          Beberapa saat kemudian, Arjuna datang tergesa dengan wajah tegang. Kedekatannya dengan si kembar membuat kepanikannya tak bisa disembunyikan.

          "Gimana ceritanya ponakan gue bisa demam?Jangan bilang ini ulah lo sama si nenek sihir itu lagi.” oceh Arjuna tajam.

          “Periksa anak gue dulu,baru setelah itu lo boleh ngoceh. Dan ingat, yang lo sebut nenek sihir itu pacar gue. Namanya Tania.” balas Romeo dingin.

          “Nama boleh Tania,tapi auranya? Nenek sihir sejati.” kata Arjuna nyolot.

          Tanpa membalas sepatah kata pun, Romeo membiarkan Arjuna berbicara sendiri. Dokter itu segera beralih memeriksa si kembar, dibantu Hana yang ia minta untuk membangunkan mereka.

          “Anak gue lagi sakit. Jangan dibangunin sembarangan.” Romeo ketus.

          “Lo mau ngatur kerjaan gue?” kata Arjuna sinis.

          “Dokter abal-abal lo,” balas Romeo dingin.

          “Gue cuma mau suruh mereka minum air putih sama sarapan biar ada tenaga. Mereka dehidrasi. Dan sumpah, kasihan banget si kembar punya bapak keras kepala kayak lo.” sembur Arjuna.

          “Jaga mereka. Gue keluar bentar sama Tania.” Romeo melirik singkat.

          “Prioritas lo kebalik,anak lo butuh lo, bukan pacar lo.” Arjuna mendecak kesal.

          Sejak dulu, Satria, Arjuna, dan Edgar para sahabat Romeo tak pernah menyukai Tania. Bagi mereka, wanita itu terlalu manja, egois, arogan, dan minim sopan santun. Namun Romeo, sahabat bodoh mereka, terlanjur jatuh cinta hanya karena Tania pernah menjadi brand ambassador produk perusahaannya.

          "Gue nggak butuh nasihat lo.Jaga anak-anak gue,gue cepat balik.” Romeo menghela napas kasar.

          “Lakukan sesuka lo. Anak-anak tetap aman sama gue.” jawab Arjuna datar.

          Di waktu yang sama, si kembar perlahan bangun. Pukul delapan pagi, wajah mereka terlihat pucat tak wajar. Apa yang mereka rencanakan memang berjalan sesuai keinginan, namun keselamatan diri mereka justru terancam.

         “Hai, cantik,bagian mana yang nggak enak?” tanya Arjuna pelan.

          “Om Arjuna!” seru keduanya bersamaan. 

          Arjuna langsung memeluk mereka satu per satu. Kasih sayangnya pada si kembar sudah melampaui sekadar status keponakan ada alasan khusus yang membuatnya menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.

         “Om, Papa ke mana?” tanya Selina bersemangat meski suaranya masih lemah.

         “Papa kalian lagi keluar sebentar,” kata Arjuna sambil tersenyum tipis.

         “Bohong, kan?Pasti ketemu nenek sihir itu.” kata Serena menatap Arjuna tajam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!