NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Lagi

Beberapa hari kemudian, waktu berjalan seolah tanpa suara, tetapi sesuatu perlahan bergerak menuju pertemuan yang tak terduga.

Pagi itu kota bergerak cepat, tapi kepala Arman terasa lambat.

Mobil melaju menyusuri deretan gedung kaca. Sopir berbicara tentang kemacetan dan rute alternatif, namun Arman hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengar.

Ia duduk bersandar, dasi sudah terikat sempurna, jas tanpa lipatan — semua tampak siap.

Kecuali pikirannya.

Bayangan di gala malam itu masih menyusup lagi tanpa izin.

Tatapan itu.

Nama itu.

Dara Valencia.

Ia mengembuskan napas berat, menoleh ke jendela. Pantulan dirinya terlihat samar di kaca mobil — pria yang seharusnya fokus pada rapat penting dengan perusahaan asing yang terkenal keras dalam negosiasi.

Namun hatinya justru terasa seperti sedang menuju pengadilan tak terlihat.

Teleponnya bergetar.

Pesan singkat dari sekretaris:

“Meeting dengan tim asing dimajukan 20 menit. Mereka sudah menunggu di lantai 18.”

Arman mengetik balasan singkat: “On the way.”

Jarinya berhenti sesaat sebelum mengirim. Ada jeda ragu yang tidak biasa. Lalu ia tekan tombol kirim, seolah memaksa dirinya kembali ke perannya.

Mobil berhenti di depan lobby gedung tinggi. Resepsionis membungkuk sopan, pintu kaca terbuka otomatis.

Arman melangkah. Langkahnya mantap. Tapi kepalanya tidak.

Pintu lift terbuka setelah ia menekan tombol 18.

Arman melangkah tanpa benar-benar melihat ke depan dan langkahnya langsung terhenti.

Dara ada di sana.

Berdiri tenang, satu tangan memegang ponsel, satu lagi menyelip di saku jas.

Rambutnya rapi, ekspresinya datar, seperti seseorang yang terbiasa menunggu dunia menyusul ritmenya.

Jantung Arman memukul rusuknya.

Sekejap, dunia seperti menyempit menjadi ruang logam empat persegi itu.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada kejutan di mata Dara.

Tidak ada gemetar.

Tidak ada gugup.

Hanya tatapan dingin yang mengenali lalu memilih untuk tidak peduli.

Dara berdiri di dalamnya.

Arman ikut memasuki lift, lalu tersenyum tipis. “CEO Dara,” ucapnya pelan, berusaha terdengar santai. “Kita bertemu lagi rupanya.”

Pintu lift tertutup. Ruangan tiba-tiba terasa terlalu sempit.

Dara menoleh sepersekian detik. Dara sudah menduga Arman akan hadir.

Nama perusahaan itu tertera jelas dalam daftar peserta rapat yang dikirim semalam. Begitu melihatnya, hanya alisnya yang tergerak sedikit. Tidak ada kaget, tidak ada degup yang perlu disembunyikan. Hanya kepastian kecil: cepat atau lambat, laki-laki itu akan sampai juga di hadapannya.

Dan pagi ini, dugaan itu menjadi nyata.

“Selamat pagi,” jawabnya singkat. Suaranya datar, profesional, tanpa nada pribadi.

“Sepertinya kita memang sering dipertemukan takdir akhir-akhir ini,” Arman mencoba bercanda ringan.

Dara tidak tersenyum.

“Bukan takdir,” ujarnya tenang. “Hanya kebetulan lokasi rapat.”

Arman terdiam.

Lift naik, angka lantai berubah satu per satu.

Ia melirik perempuan di sampingnya—dingin, rapi, tidak menyisakan celah untuk didekati.

“Aku melihat berita tentangmu pagi ini,” katanya akhirnya. “Kau… mengesankan.”

Dara tetap menatap ke depan. “Terima kasih.”

Hanya itu.

Tanpa balasan basa-basi.

Tanpa pertanyaan balik.

Tanpa usaha menyambung percakapan.

Arman menghela napas tipis, lalu memberanikan diri, “Entah kenapa, setiap kali melihatmu, aku merasa seperti pernah...”

Dara menoleh, kali ini tatapannya tajam dan tenang.

“Pak Arman,” potongnya lembut, tapi tegas. “Saya tidak menengok ke masa lalu. Itu bukan wilayah kerja saya.”

Arman terdiam.

Lift berbunyi.

Ting.

Pintu terbuka.

Dara melangkah keluar lebih dulu.

Sebelum hilang di koridor, ia menambahkan pelan tanpa menoleh: “Kita bertemu lagi bukan berarti kita saling perlu.”

Arman tetap berdiri di dalam lift.

Jantungnya berdetak keras.

Bukan karena kata-katanya pedih.

Melainkan karena untuk pertama kalinya…ia sadar perempuan itu benar-benar berbeda dari siapa pun yang pernah ia kenal.

.

Koridor perusahaan asing itu terasa dingin dan terlalu sunyi, dengan dinding putih dan aroma kopi mahal. Dari balik kaca meeting room, ia bisa melihat beberapa eksekutif asing sudah duduk rapi, laptop terbuka, dokumen siap dibahas.

Arman memperbaiki jasnya.

Ekspresi dingin kembali dipakainya seperti topeng lama.

Tidak ada yang akan tahu bahwa sepanjang perjalanan tadi, ia tidak hanya menuju ruang rapat, melainkan menuju sesuatu yang perlahan-lahan menyeret masa lalunya keluar ke permukaan.

Ruang rapat lantai atas dipenuhi bahasa yang bukan bahasa ibu siapa pun di sana.

Aksen Inggris Eropa, istilah finansial cepat, grafik bergerak di layar. Beberapa eksekutif asing duduk santai, tetapi tatapan mereka tajam, menilai.

Arman duduk dua kursi dari ujung meja.

Di ujung itu — Dara.

Tenang.

Tidak ada kertas di depannya selain tablet tipis. Ia tidak tampak tegang sedikit pun, seolah rapat ini hanya percakapan ringan.

Pemilik perusahaan asing itu tersenyum, menatap Dara.

“So, Miss Valencia, how do you project our joint venture in the next two years?”

Tanpa jeda sedikit pun, Dara menjawab.

Lancar.

Tidak terbata.

Tidak mencari kata.

Bahasanya bersih, struktur kalimatnya rapi, dan yang paling membuat Arman terdiam, intonasinya penuh kendali.

Ia bukan sekadar bisa.

Ia menguasai.

Dara menjelaskan proyeksi, risiko, jalur legal, opsi ekspansi regional. Sesekali ia menyelipkan istilah teknis dalam bahasa lain, Prancis dan Jepang, membuat beberapa orang yang mendengarkan mengangguk kagum.

Ia tidak perlu meninggikan suara.

Wibawanya sudah bicara lebih dulu.

Arman memutar pena di jarinya, nyaris lupa bernapas. Pandangannya tidak lepas dari Dara bahkan ketika layar presentasi berganti.

Itu bukan Zizi yang ia kenal.

Bukan perempuan yang menunduk ketika berbicara pada tamu.

Bukan yang gelagapan setiap kali bicara di hadapan banyak orang.

Yang ini…berdiri sejajar dengan para pemilik modal dunia.

Yang ini…memberi instruksi, bukan menerima.

Rapat berlanjut hampir dua jam. Keputusan dicapai. Tangan dijabat. Senyum profesional dipertukarkan.

Arman masih diam.

Bukan karena tidak mengerti materi rapat.

Melainkan karena pikirannya sedang sibuk mengatur ulang apa yang selama ini ia yakini.

Saat semua orang mulai berdiri, pemilik perusahaan asing itu menepuk bahu Dara sambil tertawa kecil.

“You’re impressive. Very rare to see someone this young lead that confidently.”

Dara hanya membungkuk sedikit, sopan. “We just do what must be done.”

Tidak merendah.

Tidak meninggi.

Pas.

Arman menatapnya sekali lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak di gala, pikirannya mengambil keputusan sendiri:

Bukan.

Ini bukan Zizi.

Zizi tidak seperti itu. Tidak mungkin berubah sejauh ini. Tidak mungkin sedingin itu. Tidak mungkin setegas itu.

Ia mengembuskan napas lega tanpa sadar.

Wajahnya mengendur.

“Bukan dia…” gumamnya dalam hati. “Tidak mungkin.”

Namun, tepat sebelum Dara keluar ruangan, ia berhenti sebentar untuk menandatangani dokumen.

Caranya menggenggam pena.

Gerak kecil menahan napas sebelum menulis.

Gerak yang sangat ia kenal.

Sesaat, seluruh keyakinannya kembali retak.

Arman memalingkan wajah.

Ia memilih memegang penyangkalan itu erat-erat, seolah kalau ia melepaskannya, seluruh hidupnya akan runtuh.

CEO itu, Dara Valencia, baginya kini hanya satu hal, yakni bukti bahwa seseorang bisa menjadi orang lain sepenuhnya.

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!