NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

“Yaudah sana masuk ke dalam rumah biar mama lu nggak cari lu.”

“Okay, lu juga pulangnya hati-hati ya.”

“Ya aman. Kan gua pakai motor, gua tahulah kalau harus hati-hati. Kalau nggak hati-hati, nanti gua sendiri yang susah.”

Alia hanya tersenyum kepada Tobi. Tak lama, Alia masuk ke dalam rumah. Mama Alia mendehem dan membuat Alia kaget saat melihat mamanya.

“Loh, mama belum tidur? Alia kira mama sudah tidur.”

“Belumlah, emang kata siapa mama sudah tidur?”

“Hmm... ada apa, Ma, kok mama nggak tidur?”

“Tungguin kamu, lah. Nanya lagi. Emang yang bikin mama nggak bisa tidur siapa kalau bukan kamu.”

Alia hanya cengegesan. Tak lama, ia menatap mamanya, lalu mamanya menyuruh dirinya untuk duduk bersamanya.

“Sayang.”

“Ya, Mama, kenapa?”

“Kamu semenjak sudah tidak sama Arnold, sekarang kesibukan kamu apa? Kalau mama terbangin kamu ke luar negeri bersama Arnold, bagaimana pendapat kamu?”

“Kenapa harus sama dia? Aku nggak mau sama dia. Aku punya jalan aku sendiri.”

Mama merasa bingung, ada apa dengan Alia. Tak lama, mamanya mencoba lebih dekat kepadanya sambil menatap mata putrinya.

“Al, kamu nggak boleh gitu. Dulu kan kamu suka banget sama Arnold. Kenapa semenjak ditolak Arnold kamu jadi berubah sama dia?”

“Setiap manusia bisa berubah kok, Ma. Kalau tidak berubah berarti orangnya nggak mau berkembang.”

“Jadi ceritanya kamu mau berubah dan berkembang gitu?”

“Ya, bisa dibilang begitu, Ma.”

Alia hanya diam saja, tidak bisa berkata apa-apa. Tak lama, ia juga merenungkan sifatnya yang mungkin berlebihan kepada Arnold.

“Maafin aku, Mah. Mungkin aku terlalu berlebihan soal Arnold. Tapi aku beneran nggak mau sama dia. Aku mau jauh aja dari dia.”

“Ya udah, nggak apa-apa. Kalau emang kamu mau jauh sama dia, Mama setuju kok. Apapun yang kamu mau, asalkan kamu bahagia, sayang.”

“Makasih ya, Mah. Kalau gitu aku ke kamar dulu. Malam, Mah.”

“Malam, sayang.”

Alia pergi ke kamarnya dan menghela napas. Entah kenapa dirinya merasa hari ini benar-benar berat dan capek banget sampai tidak bisa berkata apa-apa.

Alia merasa, apakah takdirnya memang hanya Arnold seorang dan tidak bisa berubah lagi? Karena dirinya merasa lelah dengan pria tersebut.

Alia ingin, bila dirinya bisa berubah haluan daripada Arnold. Apa mungkin hal itu akan terjadi? Ya, tapi nggak ada yang nggak mungkin sih.

Alia mencoba untuk tidur dan tidak memikirkan soal Arnold lagi. Rasanya badan terasa lelah ketika memikirkannya.

Alia berharap Arnold bisa terlepas dari otaknya agar tidak terlalu banyak mikir dan membuatnya lelah.

Terkadang, di salah satu sisi, Alia bisa bertahan karena ada Tobi di sisinya. Bila tidak ada Tobi, mungkin dirinya tidak akan bisa semangat seperti sekarang.

---

Keesokan paginya, di meja makan.

“Al.”

“Ya, Pa, ada apa?”

“Gimana studi kamu nanti? Kamu kan nggak jadi nikah sama Arnold. Lalu gimana ke depannya? Apa kamu masih mau ke luar negeri, atau kamu tetap mau di dalam negeri?”

“Aku mau ke luar negeri, tapi nggak bersama Arnold.”

Papanya bingung saat mendengar perkataan Alia. Ia ingin menanya lebih dalam, tapi sebaiknya nggak usah, karena itu mungkin akan menyinggung perasaan Alia.

“Iya, terserah kamu. Lagian kamu ngapain mesti bersama Arnold? Toh dia juga udah ninggalin kamu duluan. Buat apa kamu mikirin dia? Yang jelas masa depan kamu lebih penting, sayang, daripada dia.”

“Makasih ya, Pah, udah nyuport aku. Aku merasa senang banget papa ada di pihak aku dan bukan di pihak dia.”

“Walau bagaimanapun, kamu juga anak papa. Buat apa juga papa harus support dia. Lagian nggak ada gunanya juga untuk support dia.”

“Makasih, Pak. Support papa sangat penting buat aku, dan aku merasa lebih percaya diri ketika papa support aku.”

Papa Alia hanya tersenyum mendengar perkataan putrinya. Tapi mama tahu bahwa Alia bohong dan tidak benar dengan perkataan tersebut.

Entah kenapa, perasaan bohong itu nyata sekali. Tetapi mama Alia tidak mau memperdalam masalah itu karena menurutnya tidak penting juga, sebab bisa menyakiti perasaan anaknya.

Setelah selesai sarapan, akhirnya Alia pergi ke sekolah bersama papanya. Sesampainya di sekolah, papanya berpesan kepada Alia.

“Al, sekolah yang bener ya. Jangan selalu badung jadi anak. Dan kamu itu harus belajar sungguh-sungguh agar masa depan kamu lebih cerah. Mengerti kamu?”

“Tenang aja, Pak, aku ngerti kok. Kalau begitu aku masuk duluan ya ke kelas. Nanti aku telat. Bye, Pak, hati-hati di jalan.”

“Ya, sayang. Kamu juga ya, belajar yang bener dan memberikan prestasi terbaik di sekolah. Oke.”

Alia hanya tersenyum mendengar perkataan papanya. Tak lama, Tobi menghampirinya.

“Hai, Al, pagi.”

“Pagi, Tobi. Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa kok. Cuma pengen aja bareng. Ayo ke kelas bersama. Tapi sebelumnya gue mau ke kantin dulu, boleh nggak? Beli makan, laper nih, belum sarapan.”

“Kok lu sarapannya mepet banget sih? Nggak takut telat apa ke kelas?”

Tobi hanya tersenyum mendengar perkataan Alia. Entah kenapa, Tobi merasa senang bila dimarahi oleh Alia.

---

Sampai di kantin.

Tobi memperhatikan makanan apa yang bisa dimakan dan bikin kenyang sampai siang hari. Tetapi kayaknya nggak ada makanan yang bisa benar-benar mengenyangkannya.

Tobi merasa semua makanan tidak bisa membuatnya kenyang. Entah kenapa, melihat makanan membuat Tobi ingin makan terus-terusan.

“Al, gua mau nanya, tapi lu jawab jujur ya.”

“Tumben lu topiknya serius hari ini. Ada apa?”

“Gue emang gendut ya, Al?”

“Enggak kok, lu gemoy. Emang kenapa?”

Tobi terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Mungkin maksud Alia baik berbicara demikian, tetapi entah kenapa membuat Tobi merasa sedih.

“Loh, kok lu sedih sih, Tobi? Kan gue cuma jujur doang. Lu beneran gemoy kok dan nggak gendut.”

“Soalnya sebelah rumah gue bilang kalau gue gendut dan gue harus menjaga pola makan biar nggak gendut. Makanya gue nanya lu, sebagai sahabat dekat gue, apa gue gendut ya?”

“Kalau gue boleh jujur, lu gendut sih. Tapi lucu, kayak panda gitu, dan gue suka ngelihatnya. Tapi menurut gue nggak apa-apa kok selama lu sehat. Emangnya kenapa?”

“Mana ada orang gendut itu sehat? Orang gendut itu bisa menimbun penyakit, tahu. Tapi gue juga bingung sih. Bagaimana ya cara mengurusinnya? Gua bingung langkah awalnya gimana.”

Alia hanya tersenyum sambil menepuk kedua pundak Tobi. Lalu Tobi melihat ke arah Alia.

“Tobi, dengerin gua ya. Lagian lu ngapain sih kurus karena orang lain? Lagian kalau mau kurus itu ya kemauan lu sendiri, bukan karena mulut orang lain. Orang lain itu nggak pernah tahu gimana kehidupan lu. Lagian mereka juga nggak berhak ngomongin lu. Toh mereka emang pengen nyinyir aja sama hidup lu, pengen nyari-nyari topik aja gitu.”

Tobi yang mendengar perkataan Alia merasa senang dan tidak bisa berkata apa-apa. Walau bagaimana pun, pasti maksudnya baik, meskipun terdengar jelas kalau memang Tobi itu gendut.

“Jadi menurut lu sekarang gua harus gimana?”

“Nggak usah dengerin kata orang, Tobi. Kan gua udah bilang, kalau mau kurus ya kurus karena diri lu sendiri, bukan karena orang lain. Kalau lu dengerin kata orang lain, nggak bakal ada habisnya. Pasti, ketika lu kurus, mereka juga akan ngomongin lu, selalu ada aja. Makanya cuekin aja lah, buat apaan sih.”

“Tapi, Al, gua malu sama badan gue. Dan gue juga merasa kasihan sama lu. Setiap lu pergi sama gue, pasti orang bilangnya lu pergi sama beruang. Emang lu nggak malu dibilang kalau gua beruang?”

Alia hanya tertawa mendengar perkataan Tobi. Tetapi Tobi lagi serius, malah Alia ketawa mendengarnya, seolah-olah Alia sedang menghina Tobi secara tidak langsung.

“Tobi, dengerin gua ya. Nggak ada yang boleh menghina lu, siapapun itu. Karena itu diri lu sendiri, bukan orang lain. Jadi mereka nggak berhak untuk menghina lu. Paham?”

“Iya, tapi tetep aja mereka pasti bakal menganggap gue tuh beruang. Emang lu mau jalan sama beruang? Lagian lu nggak pernah malu gitu jalan sama beruang kayak gua?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!