NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Undangan Kematian

Suara ombak masih terdengar keras di sekitar pelabuhan tua ketika semua orang menatap foto yang ada di layar ponsel Viktor, wajah Raka tampak penuh luka dan kedua tangannya terikat di belakang kursi. Di belakangnya berdiri pria misterius yang tadi menghadang Bintang, sementara pesan singkat di bawah foto itu membuat suasana semakin mencekam.

Kalau ingin melihatnya hidup, datang sendirian, Bintang.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

"Aku akan datang." Bintang memecah keheningan sambil mengembalikan ponsel itu kepada Viktor.

"Tidak." Viktor langsung menggeleng. "Itu jebakan."

"Tentu saja itu jebakan." Bintang menatapnya datar. "Mereka memang ingin menjebakku."

"Kalau kau tahu, kenapa masih mau datang?" tanya Rania sambil mengernyit.

"Karena Raka ada di sana."

Rania terdiam. Ia ingin membantah, tetapi tidak bisa. Bagaimanapun juga, Raka adalah saudara yang baru saja ia temukan dan kini kembali menghilang.

"Kita cari cara lain." Viktor menyilangkan tangan di dada. "Aku masih punya orang yang bisa melacak lokasi foto itu."

"Dan berapa lama?" tanya Bintang.

Viktor tidak langsung menjawab.

"Beberapa jam. Kalau mereka membunuhnya dalam satu jam?" lanjut Bintang.

Kalimat itu membuat Viktor terdiam.

Mereka akhirnya meninggalkan pelabuhan tua dan menuju salah satu rumah persembunyian milik Viktor yang berada di pinggiran kota. Rumah dua lantai itu tampak biasa dari luar, tetapi dijaga ketat oleh anak buah bersenjata. Hujan masih turun ketika mereka memasuki ruang tamu yang luas.

Rania duduk di sofa sambil memandangi ponselnya, sejak tadi ia terus membuka foto Raka yang dikirimkan oleh penculik. Semakin lama ia melihatnya, semakin besar rasa bersalah yang muncul.

"Ini bukan salahmu." Bintang duduk di kursi seberangnya.

"Aku bahkan baru mengenalnya." Rania menunduk pelan. "Tapi rasanya seperti kehilangan keluarga lagi."

Bintang tidak langsung menjawab, ia memahami perasaan itu lebih baik daripada siapa pun.

"Kita akan membawanya pulang." Bintang menatapnya lurus.

"Kau yakin?" tanya Rania.

"Tidak." Bintang menggeleng.

Rania mengangkat kepala.

"Aku tidak yakin apa pun malam ini." Bintang mengembuskan napas panjang. "Tapi aku akan tetap mencobanya."

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, Rania tersenyum tipis.

Di ruangan lain, Viktor, Damar, Leonard, dan Septian sedang memperhatikan layar laptop yang menampilkan peta kota. Beberapa titik merah berkedip di berbagai lokasi.

"Ada hasil?" tanya Leonard sambil berdiri di dekat jendela.

"Satu." Viktor mengetik sesuatu di laptopnya. "Foto itu dikirim dari kawasan industri tua di utara kota."

"Itu wilayah kosong." Damar mengernyit. "Ada puluhan gudang di sana."

"Justru itu masalahnya." Viktor menatapnya sebentar.

"Aku tidak suka ini." Septian mengusap dagunya pelan. Tatapannya terus tertuju pada peta.

"Aku juga." Leonard mengangguk.

"Tidak." Septian menggeleng pelan. "Aku benar-benar tidak suka ini."

Kalimat itu membuat semua orang menoleh.

"Apa maksudmu?" tanya Viktor.

"Di sini." Septian menatap layar beberapa saat sebelum menunjuk satu titik di sudut kawasan industri.

Viktor memperbesar gambar, jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

"Itu tidak mungkin."

"Kenapa?" tanya Damar.

"Itu gudang milik Ezra." Raut wajah Viktor langsung berubah.

Ruangan langsung hening.

Pintu ruang tamu tiba-tiba terbuka, Bintang dan Rania masuk bersamaan setelah mendengar percakapan terakhir.

"Kalau kalian sudah menemukan lokasinya, kita berangkat sekarang." Bintang menatap Viktor.

"Tunggu dulu." Viktor mengangkat tangan. "Kita belum tahu apakah Raka benar-benar ada di sana."

"Dan kita tidak punya waktu untuk memastikan."

"Aku setuju." Leonard mengangguk pelan.

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

"Aku mulai khawatir kalau dunia benar-benar akan kiamat." Damar tertawa hambar. "Untuk kedua kalinya malam ini, aku setuju dengan Leonard."

"Aku juga tidak menyukai diriku sendiri saat ini." Leonard mendengus pelan.

Suasana sempat mencair sesaat, namun hanya sesaat karena salah satu anak buah Viktor tiba-tiba berlari masuk dengan wajah pucat.

"Tuan!" serunya sambil terengah-engah.

"Ada apa?" tanya Viktor cepat.

"Kamera depan menangkap seseorang." Pria itu menyerahkan sebuah tablet.

Viktor langsung mengambilnya. Dan wajahnya berubah dalam hitungan detik.

"Apa lagi sekarang?" tanya Leonard.

Viktor memutar layar itu ke arah mereka, rekaman kamera memperlihatkan seorang pria berdiri tepat di depan gerbang rumah persembunyian. Ia mengenakan mantel hitam panjang dan memegang payung, pria itu tidak bergerak, tidak berbicara hanya berdiri di sana.

"Siapa dia?" tanya Rania.

Septian menyipitkan mata, sedangkan Leonard terlihat kehilangan senyumnya.

"Itu dia."

"Siapa?" tanya Bintang.

"Orang yang ada di belakang Raka saat foto itu diambil." jawab Septian pelan.

Jantung semua orang langsung berdegup lebih cepat karena itu berarti... musuh mereka sudah menemukan tempat persembunyian ini.

"Tidak mungkin." Viktor mengepalkan tangannya. "Tidak ada yang tahu lokasi rumah ini."

"Kalau itu benar, lalu siapa yang membocorkannya?" tanya Bintang sambil menatap seluruh ruangan.

Tidak ada yang menjawab karena untuk pertama kalinya malam itu... semua orang mulai curiga satu sama lain dan di luar sana, pria bermantel hitam itu perlahan mengangkat wajahnya ke arah kamera lalu tersenyum.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!