Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Yang Aneh
Kinan yakin, ini semua berasal darinya. Permasalahan hari ini terjadi karena dirinya, dan Kinan yakin itu.
Melihat Rafli dan Rifki yang hendak kembali masuk ke ruangan Baskara membuat Kinan memberanikan diri untuk menggantikan mereka.
"Biar aku aja, kak." cegah Kinan saat mereka berdua hendak ke ruangan Bos.
Keduanya termangu menatap Kinan. Apa katanya? Dia yang ingin menggantikan mereka? Yang benar saja.
"Gak, deh. Kamu gak ada sangkut pautnya sama masalah berkas ini, Kinan. Jadi biar kita aja." kata Rifki berpikir bijaksana.
Dia tidak ingin menyeret orang lain dalam permasalahan mereka
"Gak apa-apa kak. Aku mau belajar ngadepi amarah, Bos. Lagian kita ini tim kan? Nama group kita kaya bersama kan?" Tiara mengangguk.
Benar yang Kinan katakan. Lagi pula akhir-akhir ini mereka merasa jika Baskara jauh lebih lunak saat bersama Kinan bukan?
"Udah, biarin aja. Biarin Kinan ke ruangan bos. Kali aja bos bisa lunak." ujarnya pada mereka semua.
"Bandeng presto kali ah, lunak." sahut Kinan tertawa membuat mereka semua bersemangat.
Kinan sudah memutuskan bahwa di akan masuk ke ruangan bos yang kata mereka titisan Gunung Krakatau itu.
Mendengar pintu ruangan kerjanya di ketuk dari luar membuat Baskara langsung menutup laptopnya saat melihat siapa yang datang.
"Ada apa?" tanya Baskara mencoba biasa saja.
Dia masih menampilkan raut wajah dinginnya di hadapan Kinan. Tapi tidak semenyeramkan ketika dia berhadapan dengan duo R tadi.
Di luar ruangannya, ada 3 orang yang sedang berdoa dengan kepercayaan mereka masing-masing untuk keselamatan Kinan.
"Apa mereka menumbalkan mu untuk datang ke ruangan saya?" tanya Baskara menelisik.
Jantung Kinan berdebar kencang saat melihat tatapan Baskara padanya. Apakah kali ini dia tidak selamat?
"Kenapa anda bisa berpikir jika mereka menumbalkan saya?" tanya Kinan balik.
Di siap menyerang jika sampai Baskara mengajaknya berdebat.
"Lalu apa yang harus saya pikirkan tentang kamu?" terjadi percakapan yang membuat Kinan semakin yakin untuk melawan laki-laki otoriter ini.
"Saya tidak pernah meminta siapapun untuk memikirkan tentang saya." jawab Kinan lagi.
"Lalu kenapa kemarin kamu meminta saya untuk mengerti perasaan kamu? memangnya siapa kamu hingga saya harus memikirkan perasaan kamu, dan apa keuntungannya bagi saya jika saya memikirkan kamu?" Kinan terdiam.
Dia teringat sesuatu. Jika dirinya memang mengatakan hal seperti itu padanya bos gilanya ini kemarin.
"Baik jika begitu, saya akan menarik kata-kata saya kemarin dan saya-"
"Kamu pikir bisa dengan mudah menang dari saya, Kinan?" terlihat seperti ada percikan api di antara tatapan keduanya.
Benar-benar memancarkan permusuhan yang sangat kuat di antara mereka.
"Baiklah jika begitu. Kamu boleh keluar dan masak makan malam untuk saya." ucap Baskara memerintah.
Sedangkan Kinan, dia langsung pergi meninggalkan Baskara begitu saja tanpa ingin menjawabnya.
Melihat Kinan yang kesal membuat Baskara tersenyum. Dia tersenyum? Sadar akan apa yang dia lakukan membuatnya langsung kembali ke setelan awal.
"Eghem..." berdehem untuk menormalisasi keadaannya sekarang.
Melihat Kinan yang selamat membuat ketiga temannya berseru heboh menghampiri. "Dek, gimana-gimana? Bos gimana? Kamu gak kenapa-kenapa kan?" tanya Tiara khawatir.
Dia memeriksa setiap detail tubuh Kinan. Seolah-olah ada yang kurang disana.
"Hehehe, aku baik-baik aja kak. Udah biasa sama ngedepi mulut bos yang kayak seblak level 10 itu. Sesekali pengen aku cubit tuh pipinya, biar tau rasa!" gerutu Kinan.
Sementara ketiganya sudah diam. Mereka tidak berani mengatakan apa-apa lagi saat melihat siapa yang ada di belakang Kinan saat ini.
"Dek-"
"Kakak tau gak, sangking sebelnya aku liat muka bos yang asem kayak cucian gak kering itu, pengen aku setrika tau gak. Kasih parfume biar wangi. Sekalian deh, habis itu di lipet." cerocos Kinan tidak berhenti.
Dia tidak tau siapa yang ada di belakangnya saat ini. Baskara, laki-laki itu sudah menatap tajam ke arahnya.
"Kinan, aku duluan ya. Mau fotocopy dulu." pamit Rafli menyelamatkan diri dari letusan gunung Krakatau yang siap meledak.
"Eh, aku mau ke toilet bentar." lanjut Rifki.
"Aku-eh kayaknya bos Juno manggil deh." Tiara mencari alasan membuat Kinan semakin bingung.
Kenapa mereka semua pergi? ada apa sebenernya. Sampai saat dia berbalik, Kinan terkejut saat melihat tatapan Baskara ke arahnya.
"Bagus kamu ya. Berani sekali kamu mengatakan wajah saya seperti cucian tidak kering." ujarnya dengan tatapan membunuhnya.
"Maaf, Bos. Saya mau-" blush...
Kinan kabur begitu saja membuat Baskara hanya bisa menghela nafasnya lelah. Dasar gadis ini, pikirnya.
***