NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI YANG BURUK

Jumat pagi dimulai seperti beberapa hari terakhir. Kirana turun ke ruang makan ketika aroma kopi hitam sudah memenuhi udara. Danendra duduk di kursinya yang biasa, sebuah tablet berada di samping cangkir porselennya.

"Pagi, Mas."

"Pagi," sahut Danendra singkat.

Kirana menarik kursi lalu duduk. Mbak Siti baru saja meletakkan sepiring roti panggang dan telur dadar di tengah meja.

"Jadwal hari ini padat?" tanya Danendra sambil melipat tabletnya.

Kirana mengangguk pelan, meraih pisau selai. "Ada rapat evaluasi program daerah."

"Yang proposalnya direvisi kemarin?"

Kirana sempat menghentikan gerakan tangannya, menoleh sekilas. Ia tidak menyangka suaminya masih saja mengingat detail kecil tersebut. "Iya, Mas. Yang itu."

Danendra hanya mengangguk sekali, lalu kembali fokus pada layar gawainya. Percakapan mereka berakhir sampai di sana. Namun, sejak beberapa hari terakhir, obrolan-obrolan pendek seperti itu tidak lagi menyisakan rasa kaku yang mengganggu.

Pukul sembilan pagi, ruang rapat yayasan sudah penuh. Kirana duduk di salah satu sisi meja oval bersama beberapa koordinator program. Di layar proyektor depan, laporan perkembangan kegiatan berjalan satu per satu.

Awalnya semua berlangsung biasa saja, sampai salah satu anggota dewan pembina membuka berkas yang sedang dibahas.

"Saya ingin menyoroti program pelatihan daerah ini," cetus pria paruh baya itu dengan nada datar namun menuntut.

Kirana langsung menegakkan punggungnya, jemarinya memilin ujung pulpen. Program itu berada di bawah tanggung jawab divisi yang ia pimpin.

"Saya melihat anggaran yang diajukan cukup besar," lanjut pria itu lagi.

"Karena jumlah peserta tahun ini meningkat, Pak," jelas Kirana, berusaha menjaga intonasi suaranya tetap tenang.

Pria itu mengiyakan dengan ketukan jemari di atas meja, namun ekspresinya tidak berubah. "Lalu kenapa hasil evaluasi wilayah pilot project justru tidak menunjukkan peningkatan signifikan?"

Ruangan mendadak hening. Kirana buru-buru membuka berkasnya untuk menunjukkan data penguat. Ia sudah mempelajari kendala lapangan tersebut sejak akhir pekan. Namun sebelum ia sempat bersuara untuk menjelaskan, seseorang lebih dulu menyela dari ujung meja.

"Bukankah divisi Ibu Kirana yang bertanggung jawab atas pengawasan lapangan?" tanya koordinator divisi lain dengan nada menyudutkan. "Kalau dari awal pengawasannya lebih ketat, mungkin hasilnya tidak akan seperti ini."

Kirana menoleh, menatap perempuan itu yang kini sedang menyunggingkan senyum tipis. Terlalu tipis, seolah sedang menyampaikan fakta objektif biasa. Padahal, Kirana tahu betul rekan kerjanya itu sedang melempar tanggung jawab untuk menyelamatkan divisinya sendiri.

Pembahasan yang seharusnya berlangsung singkat akhirnya melebar ke mana-mana. Beberapa kritik dari dewan pembina memang masuk akal, namun sebagian lainnya terasa seperti murni mencari kambing hitam atas keterlambatan laporan finansial. Selama hampir satu jam, Kirana dipaksa duduk mendengarkan berbagai komentar sepihak yang membuat kepalanya semakin berat.

Saat rapat akhirnya dibubarkan, Kirana tetap mempertahankan senyum profesionalnya di depan pintu. Ia menjawab pertanyaan rekan lain, mencatat masukan dengan rapi, dan mengucapkan terima kasih kepada semua orang seolah semuanya baik-baik saja. Padahal, ulu hatinya terasa sesak.

"Kak," panggil Rani, muncul dari balik koridor saat Kirana baru keluar dari ruang rapat. Wajah cerianya langsung berubah suram saat melihat cara berjalan Kirana. "Kak, kamu tidak apa-apa?"

Kirana mengembuskan napas panjang, bahunya merosot lelah. "Aku baik-baik saja."

"Bohong."

"Aku serius, Rani."

Rani menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap sahabatnya penuh selidik. "Kita sudah bekerja bersama bertahun-tahun, Kak. Aku tahu persis ekspresi wajahmu kalau sedang menahan kesal."

Kirana tertawa kecil, namun binar tawanya tidak sampai ke mata. "Aku cuma capek."

"Karena tuduhan di rapat tadi?"

"Hm."

Rani mendengus gusar, melangkah beriringan menuju ruang kerja. "Padahal sebagian besar kendala logistik itu bukan salah Kak Kirana. Divisi sebelah yang terlambat mengirimkan perangkat."

"Tidak semuanya salah mereka, Ran. Aku juga kurang ketat mengawasi," sahut Kirana pelan.

Kirana menepuk bahu sahabatnya perlahan. "Sudahlah."

"Tidak bisa disudahlah begitu saja, Kak. Itu tidak adil."

"Rani," potong Kirana lembut namun tegas, memberikan tanda agar pembicaraan itu dihentikan di area koridor kantor.

Rani akhirnya menyerah dan menutup mulutnya, meski dari garis wajahnya terlihat jelas ia masih tidak terima.

Hari itu berjalan lambat. Sangat lambat. Beberapa kali Kirana mencoba fokus memeriksa arsip kuno di mejanya, tetapi pikirannya terus kembali pada atmosfer ruang rapat pagi tadi. Kalimat demi kalimat interogasi, kritik sepihak, hingga tatapan meremehkan dari beberapa orang di ruangan terus berputar di kepalanya.

Menjelang sore, ia bahkan terpaksa menyeduh kopi hitam kedua karena konsentrasinya mulai berantakan akibat pening.

Pukul enam lewat, kantor yayasan mulai sepi. Namun, Kirana masih duduk bersandar di depan laptopnya yang menyala. Ia sedang memperbaiki draf laporan evaluasi yang sebenarnya belum harus dikumpulkan hari itu. Hanya saja, ia tidak ingin pulang ke rumah dengan membawa perasaan gagal. Setidaknya tidak sebelum ia melakukan sesuatu untuk memperbaiki data tersebut.

Saat akhirnya ia melangkah keluar dari gedung kantor, langit Jakarta sudah berubah gelap sepenuhnya. Mobil Kirana memasuki halaman rumah mereka hampir pukul delapan malam. Biasanya, ia akan merasa lega begitu melihat gerbang rumahnya terbuka. Namun malam ini, tubuhnya terasa terlalu lelah bahkan untuk sekadar merasakan kenyamanan domestik.

Begitu melangkah masuk ke ruang keluarga, Kirana mendapati Danendra sedang duduk di sofa dengan beberapa dokumen terbuka di pangkuannya. Pria itu langsung mengangkat kepala saat mendengar suara kunci pintu berputar.

Kirana menghentikan langkahnya sejenak, memeluk tas jinjingnya kaku. "Mas."

"Kamu baru pulang," ucap Danendra, suaranya tenang.

"Iya."

"Sudah makan?" tanya Danendra.

Sebenarnya belum, tetapi Kirana murni tidak memiliki selera makan sama sekali. Lidahnya terasa hambar. "Belum lapar, Mas."

Danendra sempat memperhatikannya beberapa detik sebelum mengangguk pelan.

"Hm."

Danendra tidak bertanya lagi. Pria itu tidak menanyakan apa yang terjadi di kantor yayasan, tidak menanyakan kenapa ia bisa pulang terlambat, tidak juga mendesak alasan di balik wajah lelahnya. Kirana justru bersyukur dalam hati atas ketidaktahuan suaminya. Malam ini ia benar-benar tidak memiliki sisa energi untuk menjelaskan masalah rumit kepada siapa pun.

"Aku ke ruang kerja atas dulu, Mas," pamit Kirana pelan.

"Silakan."

Kirana mengangguk, lalu melangkah menaiki undakan tangga dengan bahu lemas.

Lampu kamar kerja lantai atas menyala terang. Laptop kembali dibuka di atas meja kayu, dan beberapa lembar dokumen penting memenuhi layar monitor. Namun selama hampir lima belas menit duduk di sana, tidak ada satu pun baris kalimat yang benar-benar selesai ia ketik.

Kirana hanya menatap layar dengan pandangan kosong. Pikirannya buntu. Ia merasa lelah, bukan murni lelah fisik akibat durasi kerja, melainkan jenis lelah mental yang membuat seseorang mulai mempertanyakan kapabilitas dirinya sendiri.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu yang teratur membuatnya tersentak kecil dari lamunan. "Masuk."

Pintu kayu didorong terbuka sedikit, menampilkan Mbak Siti yang muncul dari balik celah sembari membawa sebuah nampan kayu. "Kok masih kerja jam segini, Nduk?"

Kirana memaksakan senyum tipisnya yang hambar. "Masih ada sedikit data yang harus diselesaikan, Mbak."

Mbak Siti melangkah mendekat, meletakkan nampan tersebut tepat di samping laptop Kirana. Aroma gurih makanan hangat langsung memenuhi ruangan, memancing indra penciuman Kirana secara instan. Mata Kirana membesar sedikit saat melihat isi piring di atas nampan.

"Nasi goreng seafood?" gumam Kirana pelan.

"Iya, Nduk."

"Itu kan..." Kirana menjeda kalimatnya, menatap piring tersebut dengan dahi berkerut halus. Itu adalah menu makanan favoritnya yang biasa ia pesan jika suasana hatinya sedang buruk.

Mbak Siti tersenyum ramah, merapikan letak sendok. "Dimakan dulu sebelum nasinya jadi dingin."

Kirana memandangi nampan itu dengan saksama. Selain sepiring nasi goreng hangat, ada secangkir teh melati dan potongan buah segar yang ditata dengan sangat rapi. "Mbak Siti sengaja membuat ini untukku?"

"Saya cuma memasaknya saja di dapur, Nduk," jawab Mbak Siti santai.

Kirana memberikan anggukan pelan, namun kalimat pembantu rumah tangganya itu mendadak memicu tanda tanya baru di kepalanya. Cuma memasak? Lalu siapa orang yang berinisiatif meminta menu khusus ini disiapkan? Sebelum Kirana sempat mengajukan pertanyaan lebih jauh, Mbak Siti sudah lebih dulu berbalik dan melangkah keluar dari kamar kerja.

Sepuluh menit kemudian, isi piring tersebut sudah hampir habis tanpa sisa. Dan tanpa Kirana sadari sendiri, suasana hatinya perlahan mulai membaik. Tidak drastis, namun cukup untuk membuat beban di kepalanya tidak lagi terasa seberat sore tadi. Hangatnya teh melati berhasil meredakan pening di pelipisnya.

Ia baru saja meletakkan sendoknya di atas piring ketika ponsel di samping laptop bergetar pelan. Ada pesan masuk dari Danendra. Kirana berkedip sekali karena merasa heran; mereka berada di dalam satu rumah yang sama, kenapa suaminya harus mengirim pesan teks?

Danendra: Sudah makan?

Kirana menatap layar ponselnya beberapa detik. Entah kenapa, pesan singkat itu membuatnya tersenyum tipis. Ia melonggarkan pegangannya pada pulpen lalu mengetik balasan singkat.

Kirana: Sudah, Mas.

Tidak sampai satu menit berlalu, sebuah balasan kembali masuk di layar digitalnya.

Danendra: Bagus.

Kirana terdiam menatap kata bagus tersebut. Sangat kaku, singkat, dan tidak memiliki tambahan kalimat manis apa pun. Sangat mencerminkan seorang Danendra. Namun, Kirana mendapati dirinya kembali tersenyum kecil di depan meja kerjanya.

Sementara itu, di lantai bawah, Danendra masih duduk bersandar di sofa ruang keluarga. Dokumen perusahaan yang sejak pukul delapan malam tadi ia pegang masih terbuka lebar di atas pangkuannya. Namun sejak beberapa puluh menit lalu, tidak ada satu halaman pun yang berpindah. Fokus matanya murni melayang ke arah lain.

Mbak Siti melangkah keluar dari area dapur membawa nampan kosong, berjalan menuju arah belakang tangga.

"Nasinya dimakan sama Mbak Kirana, Pak," lapor Mbak Siti pelan saat melewati sofa.

Danendra mengalihkan pandangannya dari dokumen, mengangguk pendek. "Habis kah?"

"Hampir habis tanpa sisa, Pak. Tehnya juga diminum," jawab Mbak Siti sembari tersenyum samar. Mbak Siti menjeda langkahnya sebentar. "Bapak... sebenarnya dari tadi sedang merasa khawatir ya dengan kondisi Mbak Kirana?"

Danendra membetulkan posisi duduknya, wajah tegasnya kembali kaku dan datar sempurna. "Saya hanya tidak ingin ada anggota rumah ini yang melewatkan makan malam karena urusan kantor."

"Tentu saja, Pak. Saya mengerti," sahut Mbak Siti dengan nada suara yang membuat Danendra tahu perempuan itu tidak benar-benar mempercayai pembelaan logisnya. Danendra memilih tidak menanggapi lebih lanjut dan membiarkan Mbak Siti kembali ke dapur.

Malam semakin larut hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul sebelah lewat. Suasana rumah besar itu sudah sepenuhnya sepi. Danendra baru selesai merapikan beberapa berkas kerjanya ketika ia mulai melangkah menaiki tangga menuju kamar tidur mereka.

Saat melintasi lorong lantai atas yang temaram, langkah kakinya perlahan melambat tepat di depan kamar kerja Kirana. Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter yang memancarkan pendar cahaya lampu.

Dari celah kecil itu, Danendra bisa melihat Kirana masih duduk menunduk di depan laptopnya, mengetik sesuatu dengan ritme yang lebih tenang dari sore tadi. Cangkir teh di atas meja kerja itu sudah berkurang setengah, dan piring makan malamnya sudah bersih.

Danendra berdiri diam di posisinya selama beberapa detik, memastikan kondisi istrinya dari jarak aman, sebelum akhirnya kembali melangkah pelan menuju kamar mereka.

Mungkin masalah pekerjaan yang dihadapi Kirana hari itu belum sepenuhnya selesai, dan mungkin besok pagi harinya masih akan terasa berat untuk dilalui perempuan itu. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Danendra merasakan bahunya rileks setelah memastikan satu hal sederhana telah beres.

Dan entah sejak kapan, urusan sederhana seperti memastikan Kirana sudah makan mulai mengambil tempat dalam rutinitas hidupnya.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!