NovelToon NovelToon
Sultan Berjiwa Jawara

Sultan Berjiwa Jawara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PERMAINAN YANG TIDAK ADIL**

**

Malam itu juga, setelah pulang dari rumah sakit memastikan kondisi Baron dan Eman stabil, Anto langsung membuka laptopnya lagi, kali ini dengan strategi berbeda dari percobaan sebelumnya yang membuatnya terlempar paksa dari sistem.

"Kalau lewat jalur utama gak bisa, gue coba jalur belakang," gumamnya, jari-jarinya bergerak lebih hati-hati, mengendap-endap lewat server cadangan yang biasanya dipakai untuk backup data, jalur yang sering diabaikan karena dianggap tidak penting.

Setelah hampir tiga jam mencoba berbagai pintu masuk, akhirnya dia menemukan sesuatu yang membuat matanya melebar.

"Ketemu," dia berbisik pada dirinya sendiri, jantungnya berdebar cepat, "anjir, ini, ini rekening atas nama David, tapi yang buka rekeningnya, yang otorisasi semua transaksi sejak awal, IP-nya nunjuk ke laptop pribadi Reza."

Dia menyusuri lebih jauh, menemukan jejak digital yang lebih lengkap, kapan rekening itu dibuka, kapan dokumen pertama dipalsukan, bahkan menemukan percakapan singkat antara Reza dan Pak Hartono yang sempat tidak terhapus sempurna dari log sistem.

"Ini cukup," Anto menyimpan semua bukti itu ke dalam flashdisk terpisah, tangannya gemetar antara lega dan marah, "ini bukti yang cukup buat buka mata Papa lo, Vid."

***

Pagi berikutnya, David dan Anto datang ke kantor lebih awal dari biasanya, membawa laptop berisi semua bukti yang sudah disusun rapi, langsung menuju ruang kerja Junaedi tanpa menunggu jadwal pertemuan resmi.

"Pa, saya punya bukti baru," David membuka, suaranya tegas, "tentang siapa yang sebenarnya bikin rekening fiktif itu."

Junaedi mengangkat alis, awalnya skeptis, tapi begitu Anto mulai menampilkan satu per satu bukti di layar, jejak IP, log percakapan, riwayat pembuatan rekening, wajahnya perlahan berubah, dari curiga jadi terkejut, dari terkejut jadi marah.

"Ini... ini bener dari laptop Reza?"

"Iya, Pa. Semua jejaknya nunjuk ke sana. David gak pernah buka rekening itu, gak pernah otorisasi transaksi apa pun. Ini semua dibuat sama Reza, lewat Pak Hartono yang dibayar buat masukin data palsu."

Junaedi terdiam lama, menatap layar itu berkali-kali, dan akhirnya menghela napas berat, seperti orang yang baru sadar telah dibohongi oleh anak yang selama ini dia percaya penuh.

Reza dipanggil ke ruangan yang sama, dan begitu menyaksikan bukti yang terpampang jelas di layar, wajahnya pucat seketika, tidak bisa lagi berkilah seperti biasanya.

Junaedi berdiri, suaranya berat menahan amarah, "Reza. Ini bener perbuatan kamu?"

Reza terdiam beberapa detik, mencoba mencari alasan, tapi akhirnya hanya bisa menunduk, tidak menjawab, yang sudah cukup menjadi pengakuan tanpa kata.

David menunggu, dadanya berdebar penuh harap, berharap kali ini keadilan akan benar-benar ditegakkan, berharap Junaedi akan mengambil tindakan tegas yang sepadan dengan pengkhianatan yang baru saja terbukti.

Tapi yang keluar dari mulut Junaedi justru membuat David melongo, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Reza," Junaedi berkata, suaranya jauh lebih lunak dari yang seharusnya, "jangan sekali-kali lagi ya. Ini terakhir."

Itu saja.

Tidak ada pemecatan. Tidak ada pelaporan polisi. Tidak ada konsekuensi nyata yang sepadan dengan pemalsuan dokumen senilai satu miliar rupiah dan upaya menghancurkan reputasi adiknya sendiri.

David berdiri mematung, matanya berpindah dari Junaedi ke Reza, lalu kembali ke Junaedi, mencoba mencari penjelasan logis dari keputusan yang terasa begitu timpang ini.

"Pa," David akhirnya bersuara, suaranya bergetar menahan kekecewaan yang sudah menumpuk sejak lama, "ini gak adil. Reza udah jelas-jelas mencoba ngehancurin saya, dan Papa cuma kasih peringatan?"

Junaedi tidak menjawab, hanya menatap David sebentar dengan ekspresi yang sulit diartikan, lalu berbalik, berjalan keluar ruangan tanpa kata lain, meninggalkan suasana yang masih tegang di belakangnya.

David menatap kepergian itu dengan dada yang terasa penuh sesak, kekecewaan yang sudah berkali-kali dia rasakan sejak pertama kali sadar di tubuh ini, sekarang kembali terulang dengan rasa pahit yang sama.

Begitu Junaedi benar-benar menghilang di balik pintu, Reza, yang sebelumnya menunduk diam, mengangkat kepalanya, menatap David dengan mata yang dipenuhi dendam yang tidak pernah benar-benar padam.

"Tunggu pembalasan gue, David," Reza berkata pelan, suaranya dingin, penuh ancaman yang tidak dia sembunyikan lagi.

David menatap balik, tidak ada rasa takut sedikit pun di matanya, hanya ketegasan yang sudah terbentuk dari berbagai pengalaman pahit selama beberapa bulan terakhir.

"Gue tunggu permainan lo," David menjawab tenang, "tapi jangan anggap gue bodoh. Gue sekarang bisa aja hancurin lo kapan pun gue mau. Gue cuma belum mau aja."

Reza menggertakkan gigi, wajahnya memerah menahan amarah yang tidak bisa lagi dia lampiaskan secara langsung, lalu berbalik, melangkah cepat keluar ruangan, membanting pintu dengan keras hingga suaranya menggelegar di seluruh koridor lantai eksekutif.

David berdiri sendirian di ruangan itu bersama Anto, menatap pintu yang masih bergetar pelan akibat bantingan keras tadi, dadanya masih dipenuhi kekecewaan yang sulit dijelaskan.

"Keadilan di rumah ini emang aneh banget, Tot," David bergumam pelan, "yang salah dibiarin, yang bener malah harus berjuang sendirian buat buktiin diri."

Anto menepuk pundak sahabatnya, mencoba memberi sedikit penguatan, "Tenang, Vid. Kebenaran emang kadang gak langsung menang di hari yang sama. Tapi selama bukti masih ada di tangan kita, permainan ini belum selesai."

David mengangguk pelan, menatap layar laptop yang masih menampilkan bukti-bukti yang baru saja terungkap, menyimpan semuanya baik-baik, menyadari bahwa perang yang dia hadapi di rumah ini masih jauh dari selesai, dan kali ini, dia harus belajar lebih sabar, lebih cerdik, menghadapi musuh yang ternyata tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi juga kelicikan yang dilindungi oleh kasih sayang yang timpang dari ayah mereka sendiri.

*(bersambung)*

1
Vie
😭😭😭😭
Vie
aaaahhhh tidak rambooooo 😱😱😱😱
Vie
apapun di dunia ini tidak ada yang instan... apapun itu perlu perjuangan dan pengorbanan.. apalagi yang baru memulai sesuatu hal yang baru baginya... semua butuh proses... dan sambil proses itu berjalan, disana akan ada pengalaman2 baru yang bisa dijadikan contoh atau pembelajaran dari sebuah kejadian... jangan menyerah apapun yang terjadi, karena dengan menyerah maka orang2 yang membenci mu akan puas menertawakan kegagalanmu. tapi kalau kamu maju dan berhasil, maka mereka akan malu pada apa yang telah mereka lakukan... 😇😇😇
Vie
karena dia sibuk ngumpetin sendal2 nya si upin ipin. 😂😂😂😂
aa ge _ Andri Author Geje: aku eshan si anak koruptor🤣🤣
total 3 replies
Vie
😂😂😂😂😂
Was pray
semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin bertiup, semakin jauh kapal berlayar ke samudra semakin besar ombak dan badai menghadang, kalau terlena dengan keberhasilan yg diraih Maka hilang waspada. dalam bisnis tidak ada kawan sejati yg ada kawan bila mendatangkan laba tinggi
aa ge _ Andri Author Geje
😁😁😁😁😁😁😁
Vie
kamu uang nyari penyakit sendiri dengan melakukan poligami... dan dengan melakukan hal2 itu, kamu sudah membangun karakter2 jahat pada jiwa ke3 anak2 mu sendiri.. ketakutan mu akn menghancurkan dirimu dan membawakan mu pada penyesalan seumur hidupmu....
Vie
David:😲😲😲😲
Vie: 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
total 2 replies
Vie
loh... kalau seperti itu kenapa si juned juga malah seperti membiarkan Reza bertindak salah sama David. sampai udah melakukan hal yang keterlaluan juga dia cuman negur basa basi doang...
Vie: oh berarti David anak perunggu nya kali ya... 🤭🤭🤭
total 2 replies
Vie
ya salah lo sendiri juga yang terlalu lembek sama anak2 lo itu, kecuali David tentu aja. dan lo sekarang masih belum juga tegas sama mereka....
Vie
kamu kalau lagi mabuk kok mendadak pinter sih... 😂😂😂
Vie: 😂😂😂😂😂😂😂
total 2 replies
Vie
iiihhhh ya ampun..... dikira ada yang ngomong, pas dibuka bab baru. 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
tambahan disini juga sama... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
kamu jawab aja "saha si ente teh.. urang mana, awewe atawa lalaki" 😂😂😂
Vie
harusnya kamu juga jawab bahasa Sunda aja sekalian pasti nyambung, kan sama2 dari Jawa 😂😂😂😂
Vie
nah kan... makanya kamu jangan merasa sendiri didunia ini....masih banyak orang baik disekeliling mu walau kamu baru bertemu belum lama.....😇😇😇😇
Vie
bayangin aja sendiri 🤭🤭🤭🤭
Was pray
mau sampai kapan keadilan ada buat David ldaruvkeluarganya? di bab terakhir kah? mendung melepaskan diri dari keluarga Junaedi dan merintis usaha sendiri bersama Anto dan Camelia, buat apa harta banyak tapi menukarkan harga diri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!