Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..
selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.
malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.
seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.
plak
plak
plak
"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.
pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.
Cring
Zzzzzrrkkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Selimut palsu
Ting tong... ting tong...
Suara bel pintu memecah keheningan rumah. Netha yang baru selesai menata hidangan makan malam di atas meja langsung buru-buru melepas celemeknya.
"Mama bukain pintu dulu ya, sayang. Pasti itu Papa kamu," ucap Netha pada putri semata wayangnya yang sudah duduk manis di kursi.
Queen mengangguk semangat. Dua pipi chubby-nya mengembang. "Oke, Ma. Buruan ya. Queen udah laper nih," celetuknya sambil memainkan puppy eyes yang bikin gemas.
Netha tersenyum manis sambil mencubit hidung mancung putrinya. "Iya, tunggu sebentar ya."
Ia berlari kecil ke ruang tamu. Malam ini ia sengaja pulang lebih awal dari jadwal syuting. Sejak kejadian ultimatum Keenan, ia memutuskan untuk memperbaiki rumah. Mulai hari ini ia akan masak sendiri sebelum berangkat kerja. Biar suami dan anaknya tidak bosan makan di luar.
Sebelum pulang, ia mampir ke supermarket. Kulkasnya sekarang penuh: sayur, daging, telur, buah. Stok sebulan. Ia ingin mengembalikan suasana rumah seperti dulu.
Ceklek.
Pintu terbuka. Senyum manis langsung terukir di bibir Netha. Lesung pipitnya muncul.
Tapi tangannya menggantung di udara. Tidak ada balasan.
Keenan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung nyelonong masuk, melewati Netha yang masih mematung di depan pintu.
Perlahan senyum Netha menyurut. Ia menurunkan tangannya. Hatinya mencelos. Sakit. Kecewa. Tapi ia cepat menepisnya. Mungkin Keenan capek. Mungkin butuh waktu sendiri.
Keenan sudah naik setengah anak tangga saat ekor matanya melihat Netha menyusul. Tapi ia tetap acuh. Masuk ke kamar tanpa menoleh.
"Aku sudah siapin air hangat buat kamu mandi, Mas," kata Netha pelan dari ambang pintu.
"Hemm," jawab Keenan. Dingin.
Netha inisiatif. Ia membantu membuka jaket Keenan. Jari-jarinya cekatan membuka kancing kemeja satu per satu.
Keenan mengerutkan dahi. "Sini biar aku bantu, Mas," ucap Netha sambil tersenyum manis. Ia jongkok untuk melepas sepatu Keenan.
Pria itu menatap heran. "Ada angin apa kamu bersikap manis seperti ini?"
Netha tetap tersenyum. "Masa nggak boleh melayani suami dengan baik?"
Keenan tersenyum kecut. "Bukannya nggak boleh. Cuma tumben saja. Biasanya mana pernah kamu begini."
"Memangnya selama ini sikapku kayak gimana, sih, Mas?" tanya Netha. Ia ingin memancing unek-unek. Siapa tahu ia juga salah sebagai istri dan ibu.
"Ckkk... masih tanya juga," gerutu Keenan sambil berdecak.
Cup.
Daging kenyal mendarat di bibir Keenan. Hanya dua detik. Tapi cukup membuat pria itu mematung.
"Ngomel lagi aku cium, nih," kata Netha sambil senyum termanisnya. "Buruan mandi. Kasihan Queen udah laper nungguin kamu di meja makan."
Keenan melongo.
"Dih, kok bengong," lanjut Netha. Ia mendorong pelan tubuh suaminya yang kaku. "Udah, sana mandi. Aku tunggu di meja makan. Mandinya jangan lama-lama ya, Mas."
Ia menghilang di balik pintu sebelum Keenan sempat menjawab.
Keenan berdiri diam beberapa detik. Lalu bibirnya tanpa sadar mengukir senyum. "Ada apa dengannya... kok berubah manis seperti dulu," gumamnya. Ia masuk kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, mereka duduk di meja makan. Queen di tengah, Netha di kiri, Keenan di kanan.
Mata Keenan tidak berkedip melihat Netha mengambilkan menu favoritnya: ayam goreng tepung, tumis kangkung, dan sambal terasi.
"Ini, Mas. Dimakan," ucap Netha memecah keheningan. "Mulai hari ini aku akan selalu masak makanan spesial untuk kamu dan Queen."
"Setiap hari, Ma?" sahut Queen dengan mulut penuh.
Netha tersenyum. "Iya, sayang."
"Asyik, horeee... makasih, Ya Allah, udah kabulin doaku," seru Queen. Ia menepuk tangan kecilnya.
Netha dan Keenan saling pandang sekilas.
"Kalau boleh Mama tahu, doanya Queen apa, sayang?" tanya Netha lembut.
Queen mengunyah lalu menelan. "Queen minta sama Allah buat ngembaliin Mama kayak dulu lagi."
Jedar.
Mata Netha berkaca-kaca. Ia langsung menarik tubuh mungil itu ke pelukannya. "Maafin Mama, ya, sayang. Akhir-akhir ini Mama jarang perhatiin Queen. Mama janji mulai hari ini Mama akan jadi Mama yang dulu lagi. Oke?"
"Makasih, Ma," balas Queen sambil mengeratkan pelukannya. Netha membalas dengan kecupan di pucuk kepala putrinya.
Keenan membuang muka. Dadanya sesak. Pemandangan itu mengiris. Di satu sisi ia tidak tega menghancurkan kebahagiaan ini. Di sisi lain ia tidak bisa lari dari kenyataan: Clara hamil. Ia harus tanggung jawab.
"Mas..." panggil Netha heran. Keenan melamun.
"Mas Keenan..." panggil lagi. Tidak ada respon.
"Mas!"
"Eh, iya, kenapa?" Keenan tersentak dari lamunan.
"Kok dari tadi diam saja? Kamu nggak suka sama masakan aku?" tanya Netha sendu.
"Eh, nggak kok. Siapa bilang."
"Terus kenapa makanannya cuma diliatin?"
"Iya, iya, maaf. Ini aku makan," jawab Keenan. Ia menyuap nasi dan lauk ke mulutnya. Rasanya... sama seperti dulu. Candu.
"Gimana, Mas? Enak nggak?" tanya Netha cemas.
"Enak kok. Enak sekali malahan," jawab Keenan. Ia menghabiskan piringnya sampai bersih.
Netha tersenyum lega melihat suami dan anaknya lahap.
Cup.
Netha mematung. Keenan tiba-tiba mencium keningnya.
"Makasih, ya, sayang," ucap Keenan lembut.
"Eciyee... ciyee..." Queen melengking menggoda.
Keenan tertawa kecil. Ia menarik tubuh Queen ke pangkuannya, lalu merangkul Netha. Mereka bertiga berpelukan. Keluarga kecil yang terlihat bahagia.
'Maafkan Papa, Queen. Maafin aku juga, istriku,' batin Keenan. 'Maaf mungkin aku akan kembali membuat kalian kecewa. Maaf aku harus bohong. Tapi aku janji, jika tiba waktunya, aku akan jujur. Aku hanya menunggu waktu yang tepat supaya tidak ada yang terluka.'
Pagi harinya, matahari baru naik. Netha berdiri di depan cermin, memoleskan lipstik.
"Sayang..."
Netha kaget. Ia menoleh. Keenan memeluknya dari belakang.
"Kamu wangi banget, sih, sayang," bisik Keenan di telinganya.
"Eh, udah bangun, Mas? Padahal baru mau aku bangunin," ucap Netha sambil membalik badan. Mereka kini berhadapan.
"Kamu mau pergi?" tanya Keenan. Wajahnya mulai keruh melihat Netha rapi dengan blazer dan rok kerja.
Netha tersenyum hangat. Ia mencium pipi Keenan yang masih bantal. "Iya, suamiku sayang. Pagi ini aku ada jadwal syuting. Tapi kamu nggak usah khawatir. Aku udah masakin makanan buat kamu dan Queen. Plus bekal juga. Oh iya, mulai hari ini aku yang anterin Queen sekolah sebelum ke lokasi. Jadi kamu aman, sayang."
Ia yakin Keenan tidak akan protes lagi.
Tapi ekspresi Keenan datar. Senyum Netha menyurut.
"Mas...?" panggilnya hati-hati.
"Terserah kamu," jawab Keenan datar. Ia berbalik masuk kamar mandi.
Langkahnya berhenti di depan pintu. Kepalanya menyembul. "Oh iya, boleh minta tolong sesuatu?"
Netha antusias. "Iya, apa itu, Mas?"
"Tolong siapin beberapa pakaian ke dalam koper, ya."
Netha mengernyit. "Lho, emangnya kamu mau ke mana, Mas?"
"Aku ada job di luar kota. Tiga hari ke depan."
"Job luar kota mana, Mas?" Netha mendesak.
"Surabaya."
"Kok mendadak gini, Mas?" Netha mulai kepo.
"Makanya ini aku kasih tahu sekarang," jawab Keenan. "Tolong siapin pakaianku sebelum kamu berangkat syuting. Sekarang aku mau mandi dulu."
Pintu kamar mandi tertutup.
"Tapi, Mas..." pekik Netha tertahan. Ia menghela napas panjang. Suaminya sudah lenyap.
Di lokasi syuting, suasana sama seperti kemarin. Panas. Bising. Dan Netha tidak fokus.
"Cut! Netha, tolong lebih masuk ke karakternya!" teriak sutradara untuk keempat kalinya.
Netha menunduk. "Maaf, Pak."
Inka mendekat saat istirahat. Ia menyodorkan air mineral. "Lo kenapa lagi, sih, Tha? Kok balik nggak fokus?"
Netha duduk di kursi lipat. "Entahlah, Ka. Akhir-akhir ini perasaanku nggak enak terus."
"Bukannya lo bilang hubungan lo sama laki lo udah membaik? Lo juga sekarang punya banyak waktu di rumah buat layanin suami dan anak, kan?" tanya Inka menyelidik.
"Bukan soal itu, Ka."
"Lah terus soal apa lagi? Yang dituntut suami lo kan supaya lo punya waktu di rumah, nggak terlalu diforsir kerja. Pak sutradara aja udah kasih kompensasi ke lo. Kurang apa lagi?" Inka sudah gemas.
Netha menggigit bibir. "Entahlah, Ka. Aku ngerasa ada yang ditutupin Keenan dari aku."
Inka mengernyit. "Hah? Maksudnya?"
Hening.
"Tha...?" Inka menunggu.
Netha mengangkat wajahnya. "Aku boleh nggak ambil cuti tiga hari ke depan?"
"Apa? Cuti?" pekik Inka. Matanya melot. "Lo gila, ya? Sekarang lagi masa krusial syuting, Tha!"
Netha malah membalas dengan senyum termanisnya sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Ka, please... cuma tiga hari," rengek Netha. "Aku cuma mau mastiin sesuatu."
"Mastiin apa? Mastiin suami lo selingkuh lagi?" Inka menurunkan suara.
Netha diam. Itu memang yang ada di kepalanya sejak semalam. Tatapan Keenan. Kebohongan kecilnya soal "job luar kota". Dan Clara yang tiba-tiba muncul lagi di hidupnya bulan lalu.
Inka menghela napas panjang. "Ya Allah, Tha. Lo ini... Oke. Tapi cuma tiga hari. Dan lo harus janji balik dengan kepala dingin. Deal?"
"Deal," jawab Netha cepat. Ia langsung memeluk Inka.
Malam itu, Netha pulang lebih cepat. Ia masuk ke kamar. Koper Keenan sudah ia siapkan. Rapih. Ada kemeja, celana, dalaman, dan perlengkapan mandi.
Keenan masuk dari kamar mandi dengan handuk di leher. "Udah disiapin?"
"Udah, Mas," jawab Netha. "Jam berapa berangkatnya?"
"Besok pagi. Jam 6," jawab Keenan singkat.
Netha mengangguk. "Hati-hati di jalan, ya, Mas. Jangan lupa kabarin aku."
Keenan menatapnya lama. "Kamu... kenapa jadi perhatian banget?"
Netha tersenyum. "Karena aku istri kamu, Mas. Dan aku nggak mau kehilangan kamu lagi."
Kalimat itu membuat Keenan terdiam. Ia mengalihkan pandangan. "Aku tidur dulu. Capek."
Ia merebahkan diri. Netha ikut berbaring di sebelahnya. Tapi malam itu, tidak ada yang benar-benar tidur.
Jam 2 pagi, Netha membuka mata. Keenan masih terjaga. Ia menatap langit-langit.
"Mas, belum tidur?" tanya Netha pelan.
Keenan tidak menjawab.
"Mas, kamu ada masalah, ya?" tanya Netha lagi.
Keenan menarik napas. "Nggak ada."
Bohong.
Netha tahu. Tapi ia memilih diam. Ia menggenggam tangan Keenan di bawah selimut.
Keenan memejamkan mata. Genggaman itu hangat. Terlalu hangat untuk dilepas. Tapi terlalu berat untuk dipertahankan.
Pagi buta, jam 5.30. Keenan sudah bangun. Ia menyeret kopernya pelan agar tidak berisik.
Netha pura-pura tidur. Matanya mengintip dari balik selimut. Ia melihat Keenan mengambil dompet, ponsel, lalu berjalan ke pintu.
Klik.
Pintu tertutup.
Netha langsung bangun. Ia ke kamar mandi, cuci muka, lalu keluar. Queen masih tidur.
Ia menatap jam. 6.00.
Ia mengambil tas kecil, ponsel, dan kunci motor. Ia tidak membangunkan Queen.
"Maafin Mama, ya, sayang," bisiknya sebelum keluar rumah.
Ia naik motor. Helm dipasang. Ia mengikuti jarak aman mobil Keenan dari rumah.
Mobil itu melaju ke arah bandara Seokarno-Hatta
Netha mengerutkan kening. "Bukankah Surabaya itu cuma 9 jam dari sini naik mobil? Kenapa ke bandara?"
Jantungnya berdegup. Firasaatnya benar. Ada yang ditutupin.
Di dalam mobil, Keenan menatap lurus ke depan. Ponselnya bergetar. Nama Clara muncul.
"Keen, kamu udah di jalan?" suara Clara di seberang terdengar manja.
"Udah," jawab Keenan pendek.
"Jangan lupa, ya. Kita ketemu di hotel. Aku udah booking kamar buat kita. Biar bisa istirahat sebelum periksa kandungan," kata Clara.
Keenan mengepal setir. "Oke."
Panggilan putus.
Netha yang membuntuti dari jauh tidak mendengar isi telepon itu. Tapi ia melihat mobil Keenan belok ke area parkir bandara.
Ia parkir motornya agak jauh. Ia turun. Memakai kacamata hitam dan masker. Ia mengikuti Keenan dari kejauhan.
Keenan masuk ke lobi. Menuju counter check-in.
Netha bersembunyi di balik tiang. Ia mengambil ponsel. Jemarinya gemetar saat membuka kamera.
Klik.
Foto Keenan dengan koper di tangan.
Klik lagi.
Foto Keenan menerima boarding pass.
Klik lagi.
Foto Keenan berjalan menuju gate keberangkatan.
Tiba-tiba, seseorang muncul di sisi Keenan. Wanita. Rambut sebahu. Bibir merah. Tubuh ramping.
Clara.
Clara merangkul lengan Keenan dengan manja. Keenan tidak menolak.
Jantung Netha berhenti berdetak selama satu detik. Dunianya runtuh lagi. Untuk kedua kalinya.
Tangan yang memegang ponsel itu bergetar hebat. Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia tidak berteriak. Ia tidak lari. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan air matanya jatuh, sementara orang yang ia cintai berjalan menjauh berselingkuhannya.
Klik terakhir.
Foto itu tersimpan di galeri Netha.
Dan di saat yang sama, ponselnya bergetar. Nama Arsen muncul di layar.
Netha mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Halo..."
"Tha, kamu di mana?" suara Arsen terdengar cemas.
Netha menelan ludah. "Di bandara."
"Kenapa?"
Netha tidak menjawab. Ia hanya memutus panggilan. Lalu ia menatap ke arah gate. Keenan dan Clara sudah hilang di balik pintu.
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Napasnya berat.
"Bisa... bisa aku bertahan," bisiknya pada diri sendiri. "Demi Queen."
Ia berbalik. Langkahnya goyah. Tapi ia tetap berjalan keluar dari bandara.
To be continued...