"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Yggdrasil Ancient Weapon
Kemunculan sosok pendekar pedang elf yang melindungi Raja Eldrin membuat Edwin waspada.
"Fletcher, terimakasih telah menyelamatkaku. Aku tidak akan memanggil kalian jika bukan karena situasi ini." Raja Eldrin bersikap tenang dan kembali melepaskan mana dalam jumlah besar.
"Jadi siapa yang harus aku lawan, Yang Mulia?" ucap pendekar pedang elf bernama Fletcher Vredenburgh yang menatap Edwin dan Zagred bergantian.
"Zilda, Leafa, Eustass, keluarlah!" ucap Raja Eldrin saat lingkaran sihir dibawah tubuhnya semakin berwarna terang.
Tak lama lingkaran sihir itu berubah menjadi mana yang secara perlahan membentuk wujud tiga elf.
"Kami datang, Yang Mulia!" ucap mereka bertiga.
Melihat empat Nightmare Slyph telah berkumpul semuanya, Raja Eldrin pun memutuskan untuk memberikan tugas kepada mereka berempat.
"Eustass, Leafa. Kalian berdua pergilah ke alun-alun dan selamatkan penduduk pulau ini termasuk kedua anakku," ucap Raja Eldrin kepada pria yang memegang tombak dan wanita yang mengalirkan telapak tangannya ke udara.
"Baik, Yang Mulia! Aku akan akan melindungi semuanya walau harus mengorbankan nyawaku!" kata pria yang memegang tombak yang memiliki nama Eustass Knight.
"Eustass, cepatlah! Aku rasa situasi disana lebih kacau dibandingkan disini!" ujar wanita bernama Leafa Noldor yang menciptakan portal teleportasi.
"Nyawa Pangeran dan Tuan Putri dalam bahaya! Cepat sialan!" Leafa menarik tangan Eustass dan melemparnya kedalam portal teleportasi.
Kemudian Leafa menatap Fletcher dan Zilda yang bertugas melindungi Raja Eldrin.
"Pastikan kalian berdua melindungi Yang Mulia Raja! Aku akan mengurus masalah yang ada disana!" ucap Leafa sebelum masuk kedalam portal teleportasi.
Tentu saja Edwin tidak membiarkan hal tersebut. Dengan gerakan yang cepat, Edwin mengarahkan sihir kearah Leafa namun dihalau oleh tebasan pedang milik Fletcher.
"Lawanmu adalah kami, Yang Mulia... Tidak, sepertinya aku pantas menyebutmu pengkhianat!" ucap Fletcher dengan tatapan matanya yang dingin.
"Elf rendahan sepertimu, tidak berhak berbicara kepadaku!" Edwin terlihat geram dan mengeluarkan energi sihir dalam jumlah besar.
Ledakan mana yang pekat membentuk gelombang kejut diudara. Raja Eldrin memperhatikan sosok mantan raja elf yang kini telah berubah wujud menjadi Iblis. Tubuh Edwin memancarkan aura lima elemen yang berputar liar disekitar dirinya.
Kobaran api, pusaran angin, duri-duri es, lempengan tanah, dan kilatan petir yang menyambar-nyambar tanah, muncul saat dirinya berjalan kearah Raja Eldrin.
"Inilah yang kudapatkan dengan menjadi Iblis!" ucap Edwin sambil mengarahkan tangan kanannya keatas.
Tiga elemen menyatu seketika, tanah membentuk pilar raksasa, bilah angin yang mengeras beruba menjadi tombak tajam, dan api melilitnya menjadi proyektil mematikan membara siap melahap mangsanya. Serangan gabungan itu melesat cepat ke arah Raja Eldrin dengan kecepatan tinggi.
"Sudah kukatakan jika lawanmu adalah kami berdua!" Fletcher menatap serangan yang dilepaskan Edwin dan mulai memejamkan matanya.
Dalam hitungan detik tubuh Fletcher melesat tepat ke depan menyambut serangan Edwin. Dengan kecepatan luar biasa, ia melakukan tebasan beruntun yang presisi.
"Seorang Raja yang mengkhianati kepercayaan rakyatnya, tidak pantas disebut sebagai Raja!" ucap Fletcher. Serangannya begitu cepat dan dapat membantu Edwin dalam posisi terdesak.
"Pedang ini yang akan membunuhmu!" Fletcher melayangkan tebasan mematikan, namun tanah disekitarnya bergerak lalu membentuk tangan yang memegang badannya.
"Elf rendahan sepertimu beraninya menceramahi diriku!" raung Edwin. Suaranya dipenuhi amarah.
Edwin terlihat mengangkat tangannya keatas dan seketika guntur pun terdengar dilangit.
Fletcher yang melihat itu tidak berniat membiarkan Edwin celah untuk mengeluarkan sihirnya. Namun setiap dirinya bergerak mendekat ke Edwin, tanah disekitarnya bergerak dan menghalangi dirinya.
"Seranganmu itu sia-sia, bocah!" ujar Edwin yang mengendalikan tanah disekitarnya untuk menangkap kaki Fletcher.
"Aku akui kau merupakan penyihir berbakat karena pedang pusaka itu memilihmu, tetapi sangat disayangkan lawanmu adalah aku!" Edwin tersenyum menyeringai bersamaan dengan petir yang menyambar tubuhnya.
Melihat hal tersebut, Fletcher menarik napas panjang dan bergerak dengan kecepatan tinggi. Namun pergerakan Fletcher dapat dibaca oleh Edwin yang saat ini tubuhnya dapat bergerak secepat kilat.
"Aku menguasai lima elemen. Elemen petir salah satunya dan kah tidak akan bisa mengimbangi pergerakanku!" ujar Edwin saat menciptakan seribu jarum air yang memadat kearah Fletcher.
"Sial, aku terlalu meremehkannya!" Fletcher berdecak kesal saat tanah disekitarnya kembali bergerak.
Belum sempat merespon lebih jauh, tanah yang ia pijak berubah menjadi lumpur yang menghisap tubuhnya.
Situasi ini membuat Fletcher benar-benar terdesak dan tidak berkutik. Seribu jarum air itu mengenai tubuhnya secara telah dan membuat aliran mana dalam tubuhnya menjadi tersumbat.
"Sial!" Kembali Fletcher mengumpat kesal, saat menyadari dirinya tidak dapat mengalirkan mana.
"Sekarang matilah! Elf rendahan!" Tepat saat Edwin mengayunkan tangannya.
Tombak petir tercipta diudara dan menembus perut Fletcher. Untuk sesaat, Edwin tersenyum sumringah karena melihat Fletcher mati ditangannya, namun beberapa detik kemudian tubuh Fletcher menghilang ditelan cahaya.
"Kau terlalu ceroboh, Vredenburgh!" Elf cantik yang sejak tadi melihat Fletcher bertarung akhirnya bertindak.
Wanita elf bernama Zilda Grimoire itu memiliki kecepatan seperti cahaya. Kekuatannya ini sangat mematikan saat dikombinasikan dengan Senjata Yggradasil dalam bentuk busur tersebut.
"Zilda, kau menyelamatkanku..." Fletcher bernapas lega karena baru saja ia mengira dirinya akan mati.
"Aliran manamu itu lumpuh dan kau sekarang tidak lebih dari seorang beban!" Zilda mengingatkan dan menatap sinis Fletcher yang merasa bersalah.
"Bagaimana mungkin kau meremehkan lawanmu yang dulu pernah menjadi seorang Raja Elf! Dasar tidak berguna! Kau hanya menghambatku dan tidak bisa melindungi Yang Mulia Raja!"
Fletcher tidak membantah dan menyadari situasi ini membuat dirinya tidak berguna. Pada akhirnya ia harus menyerahkan semua ini kepada Zilda dan menunggu Leafa datang untuk menyembuhkan mana dalam tubuhnya yang lumpuh.
"Apa yang bisa dilakukan oleh busur itu? Kau sama saja tidak berarti dihadapanku!" Tanpa memberikan kesempatan, Edwin bergerak.
Zilda menghela napas dan mengaliri busurnya dengan mana, kemudian Zilda menggenggam erat busurnya lalu menancapkan bagian bawah busur itu langsung ke dadanya sendiri.
"Menyatulah denganku, Arcus!"
Bukannya menembus daging, Senjata Yggradasil yang memiliki sebutan Arcus itu meleleh menjadi cairan magis berwarna emas pekat yang meresap ke dalam pembuluh darah Zilda.
Zilda menjerit saat energi kuno menghantam tubuhnya. Pola-pola rune sihir menyala di sepanjang kulit lengannya, bersinar terang menembus pakaian.
Transformasi mengerikan namun indah pun terjadi. Tangan kiri Zilda diselimuti oleh kristal magis yang mengeras, membentuk struktur busur organik yang tumbuh langsung dari tulang lengan dan jemarinya. Tali busurnya terbentuk dari jalinan urat saraf sihir yang berpijar, bergetar mengikuti detak jantungnya.
Sepasang sayap cahaya berbentuk busur panah mencuat dari punggungnya, memancarkan tekanan mana yang begitu masif hingga meretakkan tanah di bawah pijakannya.
Zilda tidak lagi memegang senjata, dirinya adalah senjata itu sendiri.