Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 KEBAHAGIAAN
Bulan-bulan penuh kerja keras akhirnya membuahkan hasil yang sangat manis. Hari yang dinanti-nanti itu pun tiba.
Pembangunan di atas lahan seluas 600 meter persegi di pinggir jalan utama Gang Seng telah rampung seratus persen. Dua bangunan yang berdiri terpisah namun bersebelahan itu tampak begitu megah dan mencolok, kontras dengan deretan rumah petak di dalam gang.
Di sisi kiri, berdiri sebuah rumah tinggal pribadi berdesain minimalis modern dua lantai yang sangat asri. Rumah itu sengaja dirancang tanpa banyak anak tangga di lantai dasar, lengkap dengan jalur landai khusus kursi roda.
Semua itu Abdul persiapkan dengan matang demi kenyamanan sang bapak yang sudah lama menderita sakit stroke. Sementara di sisi kanan, berdiri kokoh sebuah gedung workshop satu lantai yang luas dengan papan nama kayu berukir rapi di bagian atasnya: Konveksi Berkah Gang Seng.
Pagi itu, sebuah mobil ambulans sewaan terparkir rapi di halaman rumah baru. Abdul bersama Rian membantu petugas medis mendorong kursi roda Bapak Abdul memasuki pintu utama yang lebar.
Di belakang mereka, Ibu Abdul berjalan perlahan sambil menyeka air mata haru yang terus mengalir di pipinya. Wanita paruh baya itu masih seolah tidak percaya melihat kemewahan rumah baru milik mereka.
Begitu sampai di dalam ruang keluarga yang luas dan sejuk karena embusan pendingin ruangan, Abdul membantu memosisikan kursi roda bapaknya menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan halaman berumput hijau.
Bapak Abdul, meskipun bicaranya masih terbata-bata dan tubuh bagian kanannya sulit digerakkan, menatap sekeliling ruangan dengan mata yang berkaca-kaca. Tangan kirinya yang masih berfungsi tampak bergetar hebat saat mencoba meraih lengan Abdul.
"D-dul... r-rumah... s-siapa?" bisik sang bapak dengan suara parau yang tersendat.
Abdul segera berlutut di samping kursi roda bapaknya, menggenggam erat tangan kiri yang keriput itu dengan kedua tangannya. Ia tersenyum sangat tulus.
"Ini rumah baru kita, Pak. Rumah baru buat Bapak sama Ibu. Sekarang Bapak gak perlu pusing lagi mikirin suara bising mesin jahit di teras rumah lama. Di sini tempatnya tenang, udaranya segar, dan Bapak bisa istirahat dengan nyaman sampai sembuh," ucap Abdul dengan nada suara yang bergetar menahan buncahan emosi di dadanya.
Bapak Abdul tidak bisa bersuara lagi, namun air mata kebahagiaan perlahan menetes melewati pipinya yang cekung. Ia mengangguk pelan berkali-kali, meremas pelan tangan anak laki-lakinya sebagai ungkapan rasa bangga yang tak terhingga.
Ibu Abdul melangkah mendekat, mengusap pundak suaminya dengan penuh kasih sayang. "Iya, Pak. Anak kita, Abdul, sekarang sudah sukses. Ini semua berkat doa Bapak sama Ibu yang dikabulkan sama Gusti Allah." Ibu Abdul kemudian menoleh ke arah Abdul dengan tatapan penuh rasa terima kasih.
"Dul... Ibu bener-bener gak tahu harus ngomong apa lagi. Rumah ini terlalu bagus buat orang tua kayak kami."
"Ibu jangan ngomong begitu," sahut Abdul sambil berdiri dan merangkul pundak ibunya.
"Semua yang Abdul lakuin ini emang udah jadi kewajiban Abdul buat ngebahagiain orang tua. Sekarang, tugas Ibu cuma fokus ngerawat Bapak di sini ya."
Setelah memastikan kedua orang tuanya nyaman di rumah baru, Abdul berjalan keluar menuju ke gedung sebelah kanan.
Di dalam workshop Konveksi Berkah Gang Seng, suasana sudah tampak sangat hidup. Berkat sisa dana miliaran dari mimpi lelang properti tempo hari, Abdul berhasil memborong belasan unit mesin jahit komputerisasi terbaru yang sangat canggih.
Jaka dan Rian tampak sibuk memandu sepuluh orang pemuda pengangguran asli Gang Seng yang kini resmi direkrut sebagai karyawan tetap konveksi Abdul.
Para pemuda yang dulunya hanya suka nongkrong di pos ronda itu sekarang terlihat rapi mengenakan seragam konveksi, wajah mereka memancarkan semangat baru karena mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang sangat layak di tengah sulitnya mencari lapangan kerja.
"Nah, dengerin ya semuanya! Mesin jahit baru ini udah pakai sistem otomatis, jadi jangan asal injak pedalnya. Harus fokus biar polanya rapi!" seru Jaka memberikan pengarahan di barisan depan dengan gaya layaknya seorang kepala montir profesional.
Abdul berjalan masuk sambil bertepuk tangan pelan, memicu perhatian seluruh orang di dalam ruangan. "Gimana, Jak, Rian? Semuanya udah siap buat mulai produksi perdana hari ini?"
Rian langsung berjalan mendekat sambil membawa lembaran berkas pesanan kerja. "Siap seratus persen, Dul! Bahan-bahan kain sudah lengkap. Hari ini anak-anak langsung kejar target jahit. Dengan mesin secanggih ini, tiga hari juga udah kelar semua pesanan."
"Bagus," ucap Abdul puas. "Ingat ya semuanya, utamakan kualitas dan kenyamanan kerja kalian. Di sini kita kerja sebagai keluarga, jadi kalau ada kendala apa pun langsung omongin ke Jaka atau Rian."
"Siap, Bos Abdul!" sahut para pekerja serempak dengan senyum sumringah.
Di saat operasional konveksinya resmi berjalan lancar, Abdul melihat jam tangan dan segera melangkah keluar menuju ke area parkir samping. Di sana, Mandor Cak Imron sudah menunggu di dalam mobil bak terbuka miliknya dengan sebuah map besar berbahan kulit yang dipegangnya dengan erat.
"Semua berkas sama cetak birunya udah siap, Cak?" tanya Abdul sambil bersandar di pintu mobil.
"Udah rapi semua di dalam map ini, Dul. Hasil gambar arsitek kemarin bener-bener gila. Lahan kosong yang kamu beli kemarin bikin desain pantinya jadi luas banget," jawab Cak Imron sambil menepuk map tersebut dengan penuh semangat. "Sekarang, aku tinggal jalan ke panti buat nemuin Bu Aminah."
"Oke, Cak. Ingat pesan aku, serahin map itu ke Bu Aminah sebagai amanah langsung dari si 'Hamba Allah'. Bilang ke beliau kalau seluruh perizinan, biaya perluasan lahan, sampai anggaran material pembangunan fisik pantinya sudah lunas dibayar penuh. Jangan sampai nama aku disebut sedikit pun," pesan Abdul sekali lagi dengan raut wajah yang sangat serius.
"Kamu tenang aja, Dul. Mulutku ini udah dikunci rapat-rapat demi kebaikan anak-anak panti. Ya sudah, aku berangkat sekarang ya!" pamit Cak Imron, lalu menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan melaju meninggalkan area konveksi menuju ke Panti Asuhan Harapan Bunda.
Beberapa menit kemudian, mobil Cak Imron sampai di depan pagar panti asuhan yang tampak masih sepi. Ibu Aminah sedang duduk di teras sambil merajut baju hangat tua ketika langkah kaki Cak Imron yang mantap terdengar memasuki halaman.
"Selamat sore, Ibu Aminah," sapa Cak Imron dengan senyuman ramah.
Ibu Aminah mendongak, lalu segera berdiri dengan sisa-sisa rasa sungkan. "Eh, sore, Cak Imron. Ada apa ya, Cak? Apa ada bantuan sembako lagi dari donatur misterius itu?"
Cak Imron menggelengkan kepalanya, lalu dengan kedua tangannya ia menyerahkan map kulit besar yang dibawanya tadi kepada Ibu Aminah. "Bukan sembako, Bu. Saya ke sini diutus lagi oleh beliau untuk menyerahkan ini kepada Ibu."
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena penasaran, Ibu Aminah membuka ikatan map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas berukuran besar.
Begitu lembaran pertama terbuka, mata wanita paruh baya itu membelalak lebar. Itu adalah cetak biru gambar arsitektur sebuah kompleks panti asuhan dua lantai yang sangat megah, lengkap dengan taman bermain anak, aula belajar, dan mushola indah di bagian sudutnya.
Di lembaran berikutnya, terlampir surat perjanjian jual beli tanah dan sertifikat resmi atas lahan kosong tepat di sebelah panti asuhan yang kini sudah dibalik nama atas nama yayasan panti.
"C-Cak Imron... ini... ini maksudnya apa ya?" tanya Ibu Aminah dengan suara yang mendadak tercekat di tenggorokan, air matanya mulai menggenang di sudut mata.
"Ibu Aminah," ucap Cak Imron dengan nada suara yang dalam dan tulus. "Si Hamba Allah itu berpesan kalau beliau tidak ingin melihat anak-anak yatim di sini ketakutan lagi saat hujan badai datang karena atap yang bocor. Lahan kosong di sebelah panti sudah beliau beli tunai untuk perluasan, dan seluruh biaya untuk merenovasi total panti asuhan ini menjadi istana baru yang megah bagi anak-anak sudah diselesaikan penuh oleh beliau. Pembangunan fisik akan resmi kami mulai minggu depan."
Mendengar penjelasan tersebut, lutut Ibu Aminah seketika terasa lemas. Wanita paruh baya itu langsung jatuh berlutut di atas lantai teras, mendekap cetak biru bangunan tersebut di dadanya sambil menangis tersedu-sedu dalam sujud syukurnya kepada Sang Pencipta.
"Ya Allah... Ya Rahman... hamba bersujud syukur kepada-Mu... Tolong sampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada malaikat tak bersayap itu, Cak... Semoga Gusti Allah membalas segala kebaikannya dengan surga..." tangis Ibu Aminah pecah memecah keheningan sore, sebuah doa tulus yang melesat langsung ke langit.
Dari kejauhan, di balik kaca mobil jip hitam yang terparkir di seberang jalan, Abdul menyaksikan pemandangan haru itu dengan senyuman yang sangat damai menghiasi wajahnya. Beban besar di pundaknya seolah terangkat satu per satu.
Awal baru untuk kehidupan orang tuanya sudah berdiri kokoh, bisnis konveksinya kini resmi berjalan, dan impian untuk memberikan tempat bernaung yang layak bagi anak-anak yatim panti asuhan akan segera menjadi kenyataan dalam waktu dekat. Semua itu berawal dari keajaiban misterius yang ia jemput setiap subuh.