Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 29
Dante terdiam. Kata-kata Alicia menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun di dermaga utara. Ia melihat istrinya wanita yang ia anggap "manja" itu ternyata rela menerjang risiko keamanan internasional hanya untuk melabrak wanita yang mencoba merusak rumah tangga mereka.
Dante melihat kereta bayi emas di belakang Alicia. Ia melihat Bambang yang berkeringat, dan ia melihat Leo yang mulai menggeliat bangun. Rasa bersalah yang hebat menyergapnya. Namun, di balik rasa bersalah itu, ada amarah yang mendidih tertuju pada wanita di sampingnya.
"Katerina," suara Dante kini kembali ke mode dinginnya yang asli. Tatapannya menajam, menatap Katerina dengan kebencian murni. "Kau pikir aku bodoh? Aku menghabiskan tiga hari tanpa tidur, mengurusi kontrak logistik sialan ini dan membersihkan kekacauan klan Volkov di Malta, hanya agar aku bisa pulang ke Amalfi dan memberikan seluruh waktuku untuk istri dan anakku tanpa gangguan pekerjaan lagi."
Katerina tersentak, langkahnya mundur setapak. "Dante, aku hanya ingin membantumu agar kau tidak terbebani oleh..."
"Membantuku?" Dante memotong dengan tawa sinis yang mengerikan. "Membantuku dengan mengirimkan foto-foto manipulasi murahan itu ke istriku? Kau menggunakan kelelahan fisikku sebagai celah untuk menyelinap masuk ke rumah tanggaku. Kau bukan prajurit, Katerina. Kau adalah parasit yang mencoba memakan integritas klan Vallo dari dalam."
"Pertemuan bisnis kita selesai. Dokumen pasokan senjata itu... aku batalkan. Klan Vallo tidak bekerja sama dengan orang yang menggunakan intrik murahan untuk merusak integritas pribadiku."
Wajah Katerina berubah pucat pasi. "Dante, kau tidak bisa melakukan itu secara sepihak! Ayahku tidak akan tinggal diam!"
"Aku bisa. Dan aku baru saja melakukannya," Dante melangkah melewati Katerina tanpa menoleh sedikit pun, seolah wanita itu hanyalah debu yang mengganggu pandangannya. Ia mendekati Alicia, menatap matanya dalam-dalam, mencari pengampunan di balik binar amarah dan luka istrinya. "Maafkan aku karena menghilang. Aku... aku hanya tidak tahu bagaimana cara bicara padamu tanpa harus menyakitimu. Aku memaksakan diri menyelesaikan semua urusan berdarah ini di Malta secepat mungkin, agar saat aku pulang nanti, tidak ada lagi senapan atau intelijen yang memisahkan kita."
"Tapi justru Kau menyakitiku dengan diammu, Dante, seharusnya kau jelaskan semuanya padaku," bisik Alicia, setetes air mata akhirnya jatuh. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Jika kau lelah, marahi aku. Jika kau benci permintaanku, katakan 'tidak'. Tapi jangan pernah biarkan wanita lain merasa dia punya hak atas perhatianmu."
Alicia membalikkan badannya, menoleh ke arah Bambang dengan dagu terangkat tinggi. "Bambang, seret wanita ini keluar dari bar ini. Pastikan dia tahu bahwa jika dia muncul lagi dalam radius seratus mil dari keluargaku, aku sendiri yang akan meretas akun bank ayahnya dan membuatnya miskin dalam satu jam."
"Dengan senang hati, Nyonya," sahut Bambang dengan seringai lebar, memberikan gestur 'silakan keluar' yang sangat menghina kepada Katerina.
Dante mengambil alih pegangan kereta bayi emas 24 karat itu. Ia mendorongnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya merangkul pinggang Alicia, menariknya merapat seolah tidak ingin ada satu inci pun jarak yang memisahkan mereka lagi.
"Dante..." gumam Alicia saat mereka berjalan menuju Jet pribadi.
"Ya, Sayang?"
"Emas kuning ini benar-benar buruk. Setelah sampai di rumah, kita harus mengecatnya menjadi rose gold."
Dante tertawa pelan, tawa pertamanya dalam seminggu ini. Suaranya terdengar begitu manis dan hangat, sangat kontras dengan nada mematikan yang ia gunakan pada Katerina tadi. "Apapun untukmu, Sayangku Apapun."
Di belakang mereka, Marcello membisikkan sesuatu pada Bambang sambil merapikan botol susu di saku jasnya. "Kurasa Bos baru saja menyadari bahwa menghadapi musuh di medan perang jauh lebih mudah daripada menghadapi Alicia yang sedang cemburu."
"Setuju," jawab Bambang, melirik Katerina yang masih terpaku lemas di sudut bar. "Tapi setidaknya, sekarang kita punya alasan untuk meminta bonus 'biaya risiko emosional'."
Jet pribadi klan Vallo lepas landas, membelah langit Malta yang mulai senja. Mereka meninggalkan Katerina yang mematung, sementara klan Vallo terbang kembali menuju Amalfi lebih kuat, lebih berisik, dan tentu saja, jauh lebih mewah dari sebelumnya.
Kepulangan dari Malta tidak berarti badai telah benar-benar berlalu. Di dalam jet pribadi, suasana masih terasa seperti es yang baru saja retak. Dante duduk di hadapan Alicia, mencoba memulai percakapan, namun Alicia lebih memilih sibuk memeriksa tekstur kain jok kereta bayi emas yang menurutnya "terlalu kasar bagi kulit Leo".
Dante berdehem. "Alicia, soal Katerina..."
"Siapa? Aku tidak kenal wanita bernama Katerina. Aku hanya ingat ada sebongkah es Rusia yang mencoba mencair di depanku tadi," potong Alicia tanpa menoleh. Ia kemudian beralih ke Bambang. "Bambang, begitu kita mendarat, panggil ahli pelapisan logam terbaik di Italia. Jika warna kereta ini tidak berubah menjadi rose gold dalam dua belas jam, aku akan menyuruhmu mendorong kereta ini keliling Roma sampai kakimu lecet."
Bambang, yang sedang duduk di kursi pengawal, hanya bisa menghela napas pasrah. "Siap, Nyonya. Saya sudah menghubungi tim spesialis dari Milan. Mereka akan stand-by di helipad."
Setibanya di vila, Alicia langsung masuk ke kamar utama bersama Leo, mengunci pintu dan meninggalkan Dante di koridor dengan wajah kaku. Dante tahu, jika ia tidak menyelesaikan ini sekarang, hidupnya akan menjadi neraka logistik selama berbulan-bulan.
Dante mengetuk pintu pelan. "Alicia, buka pintunya. Kita perlu bicara sebagai orang dewasa, bukan sebagai komandan dan tawanan."
Pintu terbuka sedikit. Alicia berdiri di sana dengan daster sutra hitam, matanya masih menunjukkan sisa-sisa amarah. "Bicara apa? Tentang betapa 'mengertinya' dia terhadap bebanmu? Tentang betapa 'manjanya' aku?"
Dante menghela napas, ia melangkah masuk dan menutup pintu. Ia melepaskan jasnya, memperlihatkan perban di bahunya yang mulai sedikit merembes darah karena aktivitas di Malta tadi. Alicia melihat itu, dan meskipun hatinya sedang membatu, insting protektifnya bergejolak.
"Duduk," perintah Alicia ketus.
Dante duduk di tepi ranjang. Alicia mengambil kotak P3K dari laci meja riasnya. Dengan gerakan kasar namun tetap hati-hati, ia membuka perban lama Dante.
"Kau bodoh," bisik Alicia sambil membersihkan luka suaminya dengan antiseptik. "Kau pikir dengan menghilang kau bisa menyelesaikan masalah? Kau justru memberi celah pada ular itu untuk masuk."
"Aku tidak bermaksud memberinya celah," jawab Dante pelan, menahan perih. "Aku hanya... aku merasa gagal melindungimu dari dunia luar jika di dalam rumah pun aku tidak bisa membuatmu tenang. Aku merasa terjepit di antara hulu ledak dan suhu susu bayi."
Alicia terhenti sejenak. Ia menatap luka jahitan di bahu Dante yang tampak mengerikan. "Dante, aku memang manja. Aku memang merepotkan. Tapi itu karena aku tahu hanya padamu aku bisa menjadi diriku yang paling menyebalkan tanpa takut kau tinggalkan."
Alicia menekan kapas sedikit keras, membuat Dante meringis. "Jika kau lelah, bilang padaku. Jangan bilang pada wanita Rusia yang bahkan tidak tahu merek popok anakmu!"
ayooo dante kasih alicia pelajaran biar jangan banyak mau nya mulu😔
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣