Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibuku Menghilang
Bab 33 – Ibuku Menghilang
“Nona Mira menghilang dari kamarnya.”
Kalimat itu keluar dari mulut Riko, dan seketika seluruh tubuh Alya terasa membeku. Darah seakan berhenti mengalir di pembuluh darahnya.
“Apa yang kamu bilang?” suaranya bergetar pelan.
Riko menelan ludah, wajahnya pucat pasi.
“Penjaga yang berdiri di depan kamar ditemukan pingsan. Sistem kamera pengawas mati total selama tujuh menit. Saat nyala lagi… kamar Nona Mira sudah kosong melompong.”
Alya mundur satu langkah, kakinya terasa lemas sekali.
“Ibu… Ibuku diculik…”
Kael yang sedari tadi berdiri tenang, mendadak berubah total. Tatapannya berubah menjadi sedingin es, jauh lebih menakutkan daripada beberapa detik yang lalu.
“Lockdown seluruh mansion!” perintahnya tegas.
“Siap, Tuan!”
“Tutup semua gerbang! Tidak ada satu kendaraan pun yang boleh keluar dari halaman ini!”
“Siap, Tuan!”
“Periksa setiap sudut! Kamar, terowongan, atap, dapur, gudang, bahkan kandang anjing sekalipun! Cari sampai dapat!”
“Siap, segera kami laksanakan!”
Riko langsung berlari kencang membawa perintah itu.
Alya langsung bergerak ingin menyusul, tapi tangan kuat Kael dengan cepat menangkap lengannya.
“Lepas! Aku mau ikut cari!”
“Tidak.”
“Jangan mulai lagi ya Kael! Itu ibuku! Orang yang paling penting buatku!” seru Alya histeris.
“Dan kau sedang hamil.”
Alya terdiam sesaat. Kael memanfaatkan jeda itu untuk memegang kedua bahu gadis itu erat-erat, menatap lurus tepat ke manik matanya.
“Dengar aku baik-baik. Kau tidak boleh lari-lari seenaknya. Kau tidak boleh panik berlebihan. Dan ingat satu hal… kau tidak sendirian.”
“AKU TIDAK BISA CUMA DIAM DUDUK!”
“Bisa. Kau harus bisa.”
“KAEL—”
“ALYA.”
Nada suaranya sangat tenang, tapi penuh dengan otoritas yang tak bisa dibantah.
“Aku janji… aku akan bawa ibumu kembali hidup-hidup.”
Jantung Alya berdetak kacau. Ia benci kenyataan bahwa di saat seperti ini, ia sangat ingin mempercayai janji pria itu.
Lima menit kemudian, Alya terpaksa berada di ruang tamu sayap timur. Bukan karena ia mau, tapi karena Kael menaruh dua orang pengawal berbadan besar di depan pintu.
Dan yang lebih membuatnya kesal… Serena ada di dalam ruangan bersamanya.
Alya melotot kesal.
“Kamu jadi babysitter aku sekarang ya?”
Serena duduk santai di sofa sambil memakan stroberi segar.
“Aku lebih mahal dan eksklusif dari babysitter biasa, sayang.”
“Aku mau keluar!”
“Tidak boleh.”
“AKU BISA TERIAK KENCANG-KENCANG LHO!”
“Silakan saja. Nanti aku nilai nadanya bagus atau enggak.”
Alya mulai mondar-mandir gelisah, tangannya gemetar menahan cemas.
“Aku benci sekali sama keluarga aneh dan rumit ini!”
Serena mengangkat sebelah alisnya.
“Kau lupa ya? Sekarang kau juga bagian dari keluarga ini.”
“AKU MENOLAK!”
“Sudah terlambat. Kau sedang mengandung generasi berikutnya, ingat?”
Alya berhenti bergerak mendadak.
Masih terasa sangat aneh dan asing mendengar kata itu.
Hamil.
Secara refleks, tangannya turun dan menyentuh perutnya sendiri perlahan.
Serena memperhatikan gerakan kecil itu.
“Kau takut?”
Alya tertawa kecil dengan nada getir.
“Aku campur aduk rasanya. Takut, marah, bingung, lapar, dan pengen tampar muka Kael semuanya jadi satu.”
“Wajar kok, itu normal.”
“Kamu pernah ngerasain hamil gak?” tanya Alya iseng.
Serena hampir tersedak buah stroberinya.
“Jijik banget pertanyaannya! Aku cewek karier yang bebas!”
Alya akhirnya duduk lemas di sofa, kepalanya tertunduk dalam.
“Kalau ibuku kenapa-kenapa… aku gak tahu harus gimana lagi hidupnya.”
Mendengar itu, Serena kali ini tidak bercanda. Wajahnya berubah serius.
“Tenang saja. Kael lebih rela bakar mansion ini sampai rata dengan tanah daripada membiarkan satu rambut pun ibumu rontok.”
“Aku bingung… itu menenangkan atau justru makin mengkhawatirkan sih.”
“Keduanya.”
Sementara itu di Ruang Kontrol Keamanan.
Kael berdiri tegak di depan puluhan layar monitor CCTV, matanya tajam mengamati setiap detail. Riko berdiri di sampingnya sambil mengelap keringat dingin.
“Putar ulang rekaman tujuh menit sebelum kamera mati.”
Video diputar kembali.
Lorong kamar Nona Mira terlihat normal. Penjaga berdiri tegap di posnya.
Tiba-tiba layar berkedip-kedip.
Tepat sesaat sebelum layar gelap total, terlihat sosok seorang wanita berkerudung lewat sambil mendorong troli linen kotor.
Kael menyipitkan matanya.
“Perbesar gambar itu!”
Wajah wanita itu tidak terlihat jelas karena tertutup, namun…
Kilat cahaya memantul dari sebuah gelang emas yang melingkar di pergelangan tangannya.
Kael langsung mengenalinya.
“Serena.”
Riko membelalakkan mata kaget.
“Tapi Nona Serena kan ada di ruangan sama Nona Alya sekarang, Tuan…”
Kael menatap layar dengan tatapan dingin menusuk.
“Bukan Serena asli.”
Ia menunjuk sosok di layar.
“Itu orang yang sengaja berpakaian dan bergaya supaya mirip Serena. Dia mau kita bingung dan salah sangka.”
Riko menelan ludah dengan susah payah.
“Siapa yang berani menyamar begini di dalam rumah sendiri?”
Kael menjawab pelan namun penuh ancaman,
“Seseorang yang tahu seluk-beluk rumah ini dari dalam. Seseorang yang dulu pernah tinggal di sini dan tahu semua kelemahannya.”
Ia berbalik badan cepat.
“Panggilkan semua staf lama yang masih bekerja di sini sekarang!”
Kembali ke ruang tamu.
Alya sudah tidak tahan lagi menunggu dengan cemas. Ia berjalan mendobrak pintu.
Dua penjaga langsung menghalangi jalan dengan tangan disilang.
“Nona, mohon maaf. Mohon kembali ke dalam.”
“Aku cuma mau jalan-jalan dikit doang!”
“Itu perintah mutlak Tuan Kael, Nona.”
Alya mendecakkan lidah kesal.
“Pria itu punya hobi aneh suka mengurung orang seenaknya.”
Dari dalam, Serena bersandar di pintu sambil tersenyum mengejek.
“Itu namanya romantis versinya dia.”
“Kalau aku lempar vas bunga ini ke kepalanya, itu romantis juga gak menurutmu?”
“Sedikit sih.”
Tiba-tiba pintu utama ruangan itu didorong terbuka dengan keras.
Kael masuk dengan langkah cepat dan wajah yang lebih gelap dan serius dari biasanya.
Alya langsung berdiri tegak.
“Gimana?! Ibuku ketemu?!”
“Belum.”
“JANGAN JAWAB PAKE WAJAH DATAR GITU! AKU PANIK BANGET TAU!”
Kael berjalan mendekat hingga jarak mereka sangat dekat.
“Aku butuh kau jawab jujur satu pertanyaan sekarang.”
“Sekarang juga?!”
“Ya. Apa ibumu pernah menyebut nama… Elena?”
Alya mengernyitkan dahi. Nama itu terasa asing… tapi ada samar-samar yang familiar di ingatannya.
Ia berpikir keras mengingat-ingat.
“Elena… Ibu pernah ngomong ngelantur pas demam tinggi beberapa hari lalu… dia bilang… ‘Tante Elena… jangan percaya… dia berbahaya…’”
Kael menegang kaku mendengarnya.
Serena di belakang langsung berdiri tegak kaget.
“Tidak mungkin. Dia sudah hilang lima belas tahun kan?”
Alya menatap mereka bergantian dengan bingung.
“SIAPA SIH ELENA ITU SEBENARNYA?!”
Kael menjawab dengan nada datar,
“Adik tiri ibuku. Bibi tiriku.”
Serena menambahkan dengan wajah serius,
“Dan mantan tunangan ayahnya Kael.”
Alya berkedip-kedip tak percaya.
“GILA YA HIDUP KALIAN?! Kenapa ceritanya kayak sinetron campur film kriminal gini sih?!”
Tak ada yang tertawa. Suasana terlalu tegang.
Kael menatap lurus ke mata Alya.
“Elena menghilang lima belas tahun yang lalu tepat setelah dia tertangkap basah mau meracuni keluarga besar ini. Dia pembunuh dan pengkhianat.”
Alya menelan ludah dengan susah payah.
“…dan sekarang?”
Kael menatap pintu keluar dengan tatapan membunuh.
“Sekarang dia kembali. Dan dia yang bawa ibumu.”
Belum sempat Alya mencerna semua informasi itu, alarm bahaya kedua berbunyi lagi memecah keheningan.
Riko berlari masuk dengan napas tersengal-sengal.
“TUAN! Ada yang penting!”
“Apa lagi?!”
“Kami menemukan ini tertinggal di atas bantal kamar Nona Mira.”
Ia menyerahkan sebuah amplop putih tebal.
Kael menyambarnya dan membuka dengan kasar. Wajahnya mengeras melihat isinya.
“Apa itu?!” tanya Alya tidak sabar.
Kael menyerahkan kertas itu padanya.
Tulisan tangan elegan namun terasa dingin dan mengancam tertulis rapi di sana:
Kalau ingin ibumu hidup, datang sendiri ke Rumah Kaca lama sebelum tengah malam.
Bawa Alya.
Kalau berani bawa Kael… aku bunuh wanita tua itu duluan.
Di bagian bawah tertulis nama pengirimnya dengan jelas.
– Elena
Wajah Alya memucat pasi.
“Rumah Kaca? Itu tempat apa?”
Kael dengan kasar merobek surat itu menjadi dua bagian.
“TIDAK.”
“APA MAKSUDNYA TIDAK?!”
“Kau tidak ikut ke sana. Itu perintah.”
“ITU IBUKU YANG DICULIK!”
“Itu jelas-jelas jebakan maut!”
“AKU TAU ITU JEBAKAN!”
“BAGUS. BERARTI KITA SETUJU KAU DI SINI AJA.”
Alya maju selangkah menatap tajam tak kalah.
“KITA PERGI BERSAMA.”
“KAU TIDAK BOLEH.”
“KITA. PERGI.”
Kael mendekat hingga wajah mereka nyaris menempel.
“Jangan uji kesabaranku sekarang, Alya. Aku lagi tidak main-main.”
Alya tak mundur sedikit pun. Matanya berkaca-kaca tapi penuh tekad.
“Jangan pernah suruh aku diam dan pasrah saat nyawa ibuku yang jadi taruhannya.”
Ruangan hening total.
Serena dan Riko hanya memandang mereka seperti sedang menonton pertandingan final.
Kael menatap Alya lama sekali, seolah sedang menimbang segalanya. Akhirnya ia mengalah, tapi dengan syarat mutlak.
“Kalau kau nekat ikut…”
“Ya?!”
“Kau harus janji… menempel di sisiku setiap detik. Jangan sampai terpisah sedepa pun. Mengerti?”
Alya mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
“DEAL.”
Kael langsung menoleh ke Riko.
“Siapkan mobil. Kita berangkat sekarang.”
Riko tampak ragu dan takut.
“Tuan… itu sangat berbahaya. Itu wilayah musuh.”
Kael menjawab tanpa emosi, tatapannya tajam seperti elang.
“Aku tahu.”
Lalu ia menatap Alya sekilas, suaranya melembut sedikit.
“Makanya… aku yang akan ikut bersamanya.”