Deskripsi
The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang dengan Kemenangan
Matahari mulai naik tinggi dan menembus celah-celah kabut, menyinari lembah yang baru saja menjadi tempat pertumpahan darah. Sinarnya yang terang dan hangat seolah berusaha membersihkan udara dari bau besi dan darah, serta membawa kembali suasana damai yang sempat terganggu. Tubuh-tubuh musuh yang gugur dikumpulkan dan dikuburkan dengan hormat, bukan karena mereka pantas mendapatkannya, tapi karena orang-orang di pegunungan memegang teguh keyakinan bahwa setiap nyawa, meski milik orang yang berbuat jahat, tetaplah sesuatu yang berharga di mata langit. Mereka tak ingin membiarkan tubuh-tubuh itu tergeletak di tanah untuk dimakan binatang buas atau dibiarkan membusuk, menjadi kenangan buruk yang terus melekat di tanah tempat mereka tinggal.
Tangan Kiri dan orang-orang yang menyerah diikat dengan kuat, dijaga ketat di sebuah bangunan batu yang kokoh, dan akan dibawa pulang bersama rombongan sebagai saksi dan bukti nyata dari rencana jahat para bangsawan di selatan. Mereka tak lagi terlihat gagah dan berani seperti saat datang dulu, kini mereka hanya terlihat seperti orang yang kehabisan tenaga dan harapan, menyadari bahwa perbuatan mereka akan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku.
“Kita tak boleh menghukum mereka di sini,” kata Taylor saat mereka duduk berkumpul untuk membahas langkah selanjutnya. “Mereka datang dari tempat lain, dan rencana mereka disusun di tempat yang jauh dari sini. Hukuman yang pantas mereka terima harus diberikan di hadapan Raja dan seluruh rakyat, agar semua orang tahu bahwa kejahatan takkan pernah menang, dan bahwa siapa pun yang berani mengancam kedamaian dan keselamatan negeri ini akan mendapat balasan yang setimpal. Mereka hanyalah alat dari orang lain yang lebih berkuasa, dan kita butuh mereka untuk membuka kedok dalang di balik semua rencana ini.”
Kepala Suku Arlan dan para tetua setuju dengan keputusan itu. Mereka tahu bahwa masalah ini tak hanya menyangkut tanah pegunungan semata, tapi menyangkut keselamatan seluruh kerajaan. “Kalian telah datang ke sini membawa cahaya kebenaran dan persahabatan,” kata Arlan dengan suara lembut namun tegas. “Kalian telah mengubah hati kami, dan kalian telah membuat kami merasa bahwa kami bukan lagi orang asing di negeri kami sendiri. Hari ini, kami juga telah berjuang berdampingan dengan kalian, dan darah yang tumpah hari ini adalah darah saudara kami bersama. Di masa depan, jika kalian membutuhkan kami lagi, kami akan datang dengan segenap kekuatan kami, karena kami tahu bahwa perjuangan kalian adalah perjuangan kami juga.”
Suasana di permukiman kini kembali cerah, meski ada kesedihan ringan di hati mereka yang kehilangan teman dan saudara dalam pertarungan. Namun kesedihan itu tercampur dengan rasa bangga dan syukur, karena mereka telah berjuang untuk sesuatu yang benar, dan mereka telah keluar sebagai pemenang dari pertarungan yang berat. Anak-anak dan wanita kembali keluar dari tempat persembunyian mereka, membawa makanan dan minuman untuk para pejuang, dan tawa serta nyanyian kembali terdengar, mengusir kesedihan dan ketakutan yang sempat ada.
Dua hari kemudian, saat semua urusan sudah beres dan keadaan sudah kembali aman, saatnya bagi rombongan Taylor dan Elizabeth untuk berpamitan dan kembali ke ibu kota. Waktu keberangkatan ditentukan pada pagi hari, saat langit masih bersih dan udara terasa segar, agar perjalanan mereka bisa dimulai dengan semangat yang tinggi dan hati yang ringan.
Saat matahari baru saja terbit dan menyentuh puncak-puncak gunung dengan cahayanya yang keemasan, seluruh penduduk permukiman berkumpul di pinggir jalan untuk melepas kepergian mereka. Wajah-wajah yang tadinya penuh kecurigaan dan jarak kini dipenuhi dengan air mata dan senyum, karena mereka tahu bahwa mereka sedang berpisah dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari hati mereka. Banyak dari mereka yang maju mendekat untuk memeluk tangan atau memeluk tubuh Taylor dan Elizabeth, memberikan hadiah-hadiah kecil buatan tangan mereka sendiri: kain tenunan yang indah, ukiran kayu yang halus, perhiasan dari batu dan logam, serta makanan kering dan buah-buahan untuk dibawa dalam perjalanan.
“Jangan lupakan kami,” kata seorang wanita tua dengan mata yang berkaca-kaca, sambil meletakkan seikat bunga kering di tangan Elizabeth. “Ingatlah bahwa di antara puncak gunung dan lembah yang dalam ini, ada hati-hati yang selalu berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan kalian.”
Elizabeth memegang tangan wanita itu erat-erat, dan air mata menetes di pipinya saat dia menjawab, “Kami takkan pernah melupakan kalian, dan kami takkan pernah melupakan tanah tempat kami menemukan kembali makna persahabatan dan kepercayaan. Jarak mungkin memisahkan tubuh kami, tapi hati kami akan selalu tinggal di sini, di antara kalian dan gunung-gunung ini.”
Kael dan para pengawal hutan akan ikut bersama mereka sampai ke batas wilayah pegunungan, untuk memastikan perjalanan mereka aman sampai keluar dari daerah yang sulit dan terpencil itu. Kepala Suku Arlan berjalan di samping mereka sampai ke ujung permukiman, dan di sana dia berhenti dan berdiri tegak, memandang mereka dengan pandangan yang penuh hormat dan kasih sayang.
“Jalan kalian ke depan masih panjang dan penuh rintangan,” kata orang tua itu, suaranya terdengar jelas dan penuh wibawa. “Musuh kalian masih kuat dan bersembunyi di tempat yang jauh, dan mereka takkan tinggal diam begitu saja. Tapi ingatlah satu hal: kalian tak berjalan sendirian. Di setiap langkah yang kalian ambil, ada doa dan dukungan dari rakyat yang telah kalian selamatkan dan kalian persatukan. Kalian berjalan dengan membawa kebenaran di tangan dan kasih sayang di hati, dan tak ada kekuatan di dunia ini yang bisa mengalahkan kalian. Semoga angin selalu berhembus di punggung kalian, semoga matahari selalu bersinar di wajah kalian, dan semoga jalan kalian selalu terang sampai kalian kembali ke rumah dengan selamat.”
Taylor menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda terima kasih dan hormat. “Kata-kata kalian akan menjadi pedoman dan kekuatan bagi kami, seperti cahaya yang menerangi jalan di tengah malam gelap. Terima kasih telah menerima kami, terima kasih telah mempercayai kami, dan terima kasih telah berjuang berdampingan dengan kami. Sampai kita bertemu lagi, saudaraku.”
Akhirnya rombongan itu bergerak maju, meninggalkan permukiman dan mulai menuruni lereng gunung kembali ke arah lembah dan hutan. Mereka berjalan dengan langkah yang ringan dan hati yang penuh kemenangan, membawa serta kenangan yang indah dan ikatan persaudaraan yang kuat. Di belakang mereka, penduduk permukiman berdiri dan melambaikan tangan sampai sosok mereka menghilang di balik belokan jalan, dan sampai suara langkah kaki dan derap kuda tak lagi terdengar.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan dibandingkan saat mereka datang dulu. Kali ini mereka tak lagi berjalan dengan perasaan cemas dan penuh tanya, tak lagi berjalan di tengah kabut kecurigaan dan ketidakpastian. Mereka berjalan dengan kepala tegak dan senyum di wajah, karena mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan benar, dan mereka tahu bahwa mereka telah berhasil melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Setiap tempat yang mereka lewati terasa lebih indah, setiap hembusan angin terasa lebih lembut, dan setiap sinar matahari terasa lebih hangat, seolah alam pun ikut bersukacita atas kemenangan yang telah mereka raih.
Selama perjalanan, mereka sering duduk bersama di waktu istirahat untuk membahas apa yang telah terjadi dan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Mereka membahas pengakuan Tangan Kiri, mereka membahas rencana jahat para bangsawan di selatan, dan mereka membahas cara untuk mengungkap kejahatan mereka dan membawa mereka ke hadapan hukum.
“Lord Marcus dan yang lainnya adalah orang yang berkuasa dan berpengaruh,” kata David saat mereka duduk di pinggir sungai untuk beristirahat. “Mereka memiliki banyak pengikut dan banyak harta, dan mereka telah mengatur segala sesuatunya dengan cermat selama bertahun-tahun. Jika kita datang dengan tuduhan saja tanpa bukti yang kuat, mereka akan menyangkal semuanya dan menyebut kita pembohong. Mereka akan berusaha memutarbalikkan fakta, dan mereka akan berusaha membuat rakyat berpikir bahwa kita adalah orang yang berniat memecah belah dan mengambil kekuasaan dengan cara yang salah.”
“Kau benar,” jawab Taylor dengan wajah yang serius. “Kita tak bisa bertindak tergesa-gesa. Kita memiliki Tangan Kiri dan orang-orangnya sebagai saksi, tapi kita butuh bukti lain yang lebih nyata, surat-surat, perjanjian, atau pengakuan dari orang lain yang terlibat. Kita harus bergerak dengan hati-hati, agar kita bisa menangkap mereka dalam keadaan yang tak bisa mereka sangkal lagi, dan agar seluruh rakyat bisa melihat dengan mata kepala mereka sendiri betapa jahat dan berbahayanya orang-orang ini bagi keselamatan negeri kita.”
Elizabeth duduk di samping suaminya dan mendengarkan dengan saksama, lalu dia berbicara dengan suara yang lembut namun penuh wawasan. “Masalah ini tak hanya soal menangkap dan menghukum mereka, tapi juga soal menyembuhkan luka yang telah mereka buat. Selama bertahun-tahun mereka telah menyebarkan kebohongan, mereka telah membuat rakyat saling curiga, dan mereka telah membuat negeri ini terbagi-bagi. Kita harus menunjukkan pada semua orang bahwa kejahatan mereka tak hanya menyakiti kita, tapi menyakiti seluruh rakyat dan seluruh negeri. Kita harus menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang salah dan bertentangan dengan kebaikan dan keadilan yang kita semua junjung tinggi. Hanya dengan begitu, kita tak hanya akan menghukum pelakunya, tapi juga akan menghapus pengaruh jahat yang telah mereka tanamkan selama ini.”
Kata-kata Elizabeth membuat semua orang yang mendengarnya mengangguk setuju. Mereka sadar bahwa tugas mereka bukan hanya untuk mengalahkan musuh dengan pedang atau hukum, tapi juga untuk mengalahkan mereka dengan kebenaran dan pengertian, agar akar kejahatan itu bisa dicabut sampai ke dasarnya dan takkan pernah bisa tumbuh lagi di masa depan.
Setelah berjalan selama delapan hari, mereka akhirnya keluar dari hutan dan pegunungan dan kembali memasuki wilayah dataran rendah yang dekat dengan ibu kota. Berita tentang perjalanan mereka dan kemenangan yang mereka raih telah menyebar lebih dulu dari mulut ke mulut, dan begitu mereka terlihat di kejauhan, rakyat dari desa-desa dan kota-kota kecil di sepanjang jalan mulai berkumpul untuk menyambut mereka. Mereka berdiri di pinggir jalan dengan membawa bunga, bendera, dan obor, berteriak sorak-sorai dan melambaikan tangan, menyambut pahlawan mereka dengan sukacita yang meluap-luap.
“Mereka telah membawa kedamaian ke utara!” teriak seseorang dari kerumunan. “Mereka telah mengalahkan musuh yang berniat menghancurkan kita! Hidup Pangeran dan Putri!”
Suara teriakan itu bergema dari satu tempat ke tempat lain, menyebar seperti api yang menyala di musim kemarau, dan semakin banyak orang yang datang berkumpul untuk melihat dan menyambut mereka. Rakyat merasa bangga dan aman, karena mereka tahu bahwa pemimpin mereka adalah orang yang berani, orang yang adil, dan orang yang siap berjuang sampai titik darah penghabisan untuk melindungi mereka dan negeri mereka.
Saat mereka akhirnya sampai di gerbang ibu kota, pemandangan yang menanti mereka sungguh luar biasa. Ribuan orang telah berkumpul di sepanjang jalan menuju istana, membuat lautan manusia yang penuh dengan warna dan suara. Di depan gerbang berdiri Raja dan Ratu, berdiri tegak dan bangga, dikelilingi oleh para penasihat, pejabat tinggi, dan prajurit kerajaan yang berpakaian seragam dengan rapi dan gagah. Wajah Raja bersinar dengan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan, dan mata Ratu berkaca-kaca karena haru dan syukur, karena anak dan menantunya telah kembali dengan selamat, dan telah kembali dengan membawa kemenangan dan kebaikan untuk seluruh negeri.
Hunter berlari maju begitu melihat sosok ayah dan ibunya muncul di depan gerbang, berlari sekuat tenaga sambil berteriak gembira, dan segera terlempar ke dalam pelukan mereka. Anak kecil itu memeluk tubuh mereka erat-erat, tak ingin melepaskan pelukannya, seolah dia takut bahwa jika dia melepaskan, mereka akan pergi lagi ke tempat yang jauh dan berbahaya.
“Aku tahu kalian akan kembali,” kata Hunter dengan suara yang bergetar antara gembira dan lega. “Aku selalu berdoa setiap malam agar kalian selamat, dan aku tahu doaku akan dikabulkan. Kalian terlihat hebat sekali, Ayah, Ibu! Semua orang bercerita tentang keberanian kalian dan kebaikan yang kalian lakukan di tempat yang jauh itu.”
Taylor dan Elizabeth memeluk anak mereka dengan penuh kasih sayang, mencium kening dan pipinya, dan merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan di dalam hati mereka. Setelah melewati semua bahaya dan perjuangan, saat ini adalah momen yang paling indah dan berharga bagi mereka: berkumpul kembali dengan keluarga mereka, di tempat yang mereka sebut rumah, dikelilingi oleh orang-orang yang mereka cintai dan yang mencintai mereka.
Raja dan Ratu berjalan maju dan memeluk mereka satu per satu, dengan senyum yang lebar dan mata yang penuh dengan kebanggaan dan kasih sayang. “Kalian telah melakukan lebih dari apa yang kami harapkan,” kata Raja dengan suara yang dalam dan penuh emosi. “Kalian tak hanya pergi untuk menyelesaikan masalah, tapi kalian pergi untuk menyatukan hati, untuk membawa kebenaran, dan untuk menunjukkan kepada seluruh negeri apa makna menjadi pemimpin yang sesungguhnya. Kalian telah membuat kami bangga, dan kalian telah membuat seluruh rakyat bangga. Negeri ini berada di tangan yang aman dan kuat.”
Malam itu, istana diterangi dengan ribuan obor dan lilin, menerangi setiap sudut bangunan megah itu sehingga terlihat bersinar seperti bintang yang turun ke bumi. Perayaan besar diadakan untuk menyambut kepulangan mereka, dihadiri oleh para bangsawan, pejabat, tokoh masyarakat, dan rakyat biasa dari berbagai lapisan. Makanan dan minuman disajikan dengan melimpah, musik dimainkan dengan gembira, dan tarian serta nyanyian memenuhi ruangan dan halaman istana. Semua orang berbicara dengan penuh semangat tentang perjalanan mereka, tentang keberanian mereka dalam pertarungan, dan tentang kebaikan yang telah mereka lakukan di wilayah utara.
Namun di tengah keramaian dan kegembiraan itu, ada sekelompok orang yang berdiri diam di sudut ruangan, wajah mereka dipenuhi amarah dan kekhawatiran yang berusaha mereka sembunyikan dengan senyum palsu. Mereka adalah para pendukung dan pengikut para bangsawan di selatan, dan mereka telah mendengar kabar tentang apa yang telah terjadi, mereka telah mendengar bahwa rencana majikan mereka telah gagal total, dan mereka telah mendengar bahwa orang yang mereka kirim untuk membunuh Taylor dan Elizabeth justru telah ditangkap dan kini menjadi saksi kunci yang bisa menghancurkan mereka semua. Mereka menyadari bahwa bahaya kini sedang berbalik mengancam mereka, dan mereka menyadari bahwa waktu mereka kini semakin sedikit.
Di tempat yang jauh di selatan, kabar buruk itu juga akhirnya sampai ke telinga Lord Marcus dan teman-temannya. Saat mereka mendengar bahwa rencana mereka telah gagal, bahwa pasukan mereka telah dikalahkan, dan bahwa pemimpin mereka telah ditangkap dan berjanji untuk mengungkap segala rahasia mereka, kemarahan dan ketakutan meledak di dalam hati mereka. Wajah mereka yang tadinya penuh keyakinan dan kekuasaan kini berubah menjadi pucat dan penuh keputusasaan. Mereka menyadari bahwa mereka tak bisa lagi bertindak dengan cara diam-diam dan licik, karena rahasia mereka sudah hampir terungkap, dan mereka menyadari bahwa mereka hanya memiliki dua pilihan: menyerah dan menerima hukuman, atau bertindak dengan cara yang paling berbahaya dan mematikan, dengan mempertaruhkan segalanya dalam satu langkah terakhir yang nekat.
“Kita tak bisa lagi menunggu,” kata Lord Marcus dengan suara yang bergetar karena amarah dan ketakutan, matanya menyala dengan api kegilaan dan ambisi yang tak lagi bisa dikendalikan. “Jika kita diam saja, mereka akan datang dan menangkap kita, dan kita akan mati dengan cara yang memalukan. Kita harus bertindak sekarang, sebelum mereka sempat mengumpulkan bukti dan mengatur segala sesuatunya. Kita akan mengumpulkan semua pasukan yang kita miliki, kita akan bergerak menuju ibu kota, dan kita akan merebut kekuasaan dengan kekerasan. Jika kita menang, maka segala sesuatu akan menjadi milik kita. Jika kita kalah, maka setidaknya kita akan mati seperti orang yang berjuang, bukan seperti orang yang tak berdaya menunggu kematian datang menjemput.”
Di dalam ruangan yang gelap itu, para bangsawan itu saling berpandangan, dan dalam pandangan mereka terlihat keputusan yang telah diambil. Perang saudara kini tak lagi bisa dihindari. Pertarungan antara kebenaran dan kejahatan, antara keadilan dan keserakahan, antara persatuan dan perpecahan kini akan segera mencapai puncaknya. Negeri yang selama ini mereka cintai dan perjuangkan kini berdiri di tepi jurang, dan nasib ribuan orang tergantung pada hasil dari pertarungan yang akan datang.
Malam itu, saat perayaan masih berlangsung di istana, saat orang-orang masih tertawa dan bersukacita, awan gelap mulai berkumpul di langit di selatan, membawa serta angin badai yang akan datang, membawa pertanda bahwa perjuangan mereka belum berakhir, dan bahwa ujian terbesar masih menanti mereka di depan mata.