NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TENTARA TIDAK SAMA LAGI

Kabut tipis yang berbau sangit menggantung rendah, menyelimuti sepanjang aspal retak di jalan utama distrik utara. Tidak ada gelombang suara yang terdengar selain deru rendah binasa dari mesin-mesin kendaraan militer yang merayap pelan membelah puing-puing kota. Ban-ban raksasa dan rantai baja tank menggilas rongsokan mobil serta sisa-sisa material bangunan di bawahnya, menciptakan bebunyian gesekan logam yang sukses membuat bulu kuduk berdiri.

Namun, bukan deru mesin berskala besar itu yang membuat kelompok Damar mendadak membeku di balik barikade beton jalanan.

Melainkan siluet sosok-sosok yang berdiri kaku di atas kendaraan tersebut.

Tentara.

Mereka masih mengenakan seragam loreng tebal yang compang-camping akibat robekan. Lengkap dengan rompi taktis, magasin yang berjejer, dan senapan serbu yang masih tersampir mantap di pundak. Namun, gestur tubuh mereka memberi tahu satu kepahitan: mereka bukan lagi manusia yang memegang sumpah jabatan.

Salah satu dari makhluk itu berdiri di atas kap tank dengan posisi tulang punggung membungkuk secara ganjil. Helm baja militernya pecah berantakan di bagian samping, mengekspos lapisan kulit kepala hitam membusuk yang berkedut-kedut pelan—seolah-olah ada sesuatu yang hidup dan sedang merayap di balik lapisan daging mati tersebut.

Sepasang matanya hanya menyisakan warna putih kosong tanpa pupil. Ganjilnya, jemari tangannya yang kurus berbalut sarung tangan taktis hitam masih menggenggam erat gagang senapan serbu dengan posisi siap tembak.

"Kapten..." bisik Alya, suaranya bergetar hebat, nyaris tenggelam oleh deru mesin tank.

Kapten Rendra tidak memberikan respons verbal. Seluruh fokus pandangannya terkunci rapat pada salah satu sosok berseragam yang berdiri di kendaraan paling depan. Setengah dari struktur wajah pria berseragam itu sudah hancur, menyisakan kerangka rahang yang terekspos.

Namun, Rendra mengenali potongan postur dan sisa tanda pangkat di pundaknya.

"Bagas..." gumam Rendra pelan, nyaris tak terdengar.

Damar menoleh cepat, menangkap perubahan emosi yang drastis pada gurat wajah sang kapten. "Lo kenal mereka, Pak?"

Rendra tidak langsung menjawab. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot pipinya menegang keras. "Itu... unit orisinil dari Pasukan Karantina Sektor Kota."

Suasana di balik beton persembunyian mereka mendadak berubah sedingin es. Pasukan karantina. Itu artinya mereka adalah unit tentara terlatih yang sengaja diterjunkan langsung ke pusat konflik pada hari-hari pertama wabah ini meletus. Namun kini, pertahanan terbaik yang pernah dimiliki kota ini telah tumbang, bermutasi menjadi entitas yang berbeda.

Dan bagian yang paling merusak mental adalah fakta fisik di depan mata: mereka tampak masih mempertahankan sisa-sisa insting bertempur dari memori otot mereka.

Mendadak, truk lapis baja di barisan depan berhenti dengan sentakan kasar. Deru mesinnya mendesis, membuang udara kompresi, lalu segalanya mendadak jatuh ke dalam kesunyian yang mencekam.

Lalu—

Sosok tentara yang berada di atas tank perlahan-lahan memutar lehernya, mengarahkan pandangan matanya lurus ke titik di mana kelompok Damar sedang bersembunyi. Gerakan lehernya patah-patah, mengeluarkan bunyi sendi yang bergeser, namun arah pandangannya terlalu presisi dan sadar untuk ukuran sesosok mayat hidup biasa.

Damar merasakan pasokan udara di tenggorokannya mendadak tercekat. "Sial... dia tahu kita di sini."

Kapten Rendra dengan cepat menyentakkan senapannya ke depan, mengunci target. "Mundur perlahan. Jangan buat gerakan kejutan."

Namun, kalkulasi taktis mereka kalah cepat.

Tentara bermutasi di atas tank itu tiba-tiba mengangkat laras senapan serbunya dengan akurasi yang mengerikan.

*DUAR!*

Satu dentuman peluru kaliber besar menghantam bodi mobil terbengkalai tepat beberapa senti di samping kepala Alya, memercikkan bunga api dan serpihan karat.

"TIARAP! JANGAN ADA YANG BERDIRI!" raung Rendra.

Semua orang langsung menjatuhkan diri ke atas aspal yang kotor. Detik berikutnya, rentetan tembakan balasan langsung menyusul bertubi-tubi dari arah jalan raya.

*DUAR! DUAR! DUAR!*

"Bangsat! Mereka bisa make senjata?! Mereka nembak?!" teriak Rudi dengan suara melengking panik, menutup kepalanya dengan kedua tangan di balik roda mobil.

Damar mencoba membalas, dia mengintip dari celah bagasi mobil rusak dan melepaskan dua tembakan spekulatif. Namun, tentara *infected* itu dengan lincah melompat turun dari kap tank. Gerakannya meluncur sangat mulus, jauh lebih cepat daripada varian *infected* laboratorium yang mereka hadapi sebelumnya.

Mata Kapten Rendra terbelalak melihat manuver tersebut. "*Super infected*... sistem motorik taktis mereka gak rusak."

Makhluk itu berlari dengan pola zig-zag, memanfaatkan bangkai-bangkai kendaraan di jalanan sebagai perlindungan alami dari peluru Damar, seolah-olah memori otaknya masih memahami betul dasar-dasar teknik menghindari tembakan runduk.

"Ini gila..." gumam Damar, tangannya gemetar saat mengokang kembali senjatanya.

Di belakang makhluk pertama, beberapa tentara bermutasi lainnya mulai bergerak turun dari bak truk militer. Ada yang mencabut pistol sekunder dari holster di pahanya, ada pula yang menggenggam pisau komando dengan posisi siap menusuk. Dan pemandangan yang paling merusak logika adalah cara mereka bergerak: mereka maju seperti satu unit infanteri sungguhan. Saling melindungi celah, bergerak bergantian untuk menutupi posisi kawan.

"LARI KE GEDUNG DI KANAN! SEKARANG!" bentak Kapten Rendra, memberikan tembakan perlindungan untuk memotong jalur maju lawan.

Tanpa berpikir dua kali, mereka langsung berhamburan menuju pintu masuk sebuah gedung perkantoran berlantai kaca yang sudah hancur di sisi jalan.

*DUAR!*

Satu peluru merobek sisa kaca jendela di atas kepala mereka, menghujani punggung mereka dengan pecahan kaca tajam. Pak Rangga menyeret tubuh Rania sekuat tenaga, sementara Alya memapah seorang survivor terluka yang terus merintih. Damar menjadi orang paling terakhir yang melompat masuk sebelum membanting pintu kayu pembatas lobby dengan keras.

*BRAKK!*

Napas semua orang memburu hebat, bergaung di dalam lobby gedung yang gelap, pengap, dan dipenuhi lapisan debu tebal. Namun, sebelum sempat mereka mengatur ritme jantung—

*DUARRR!*

Pintu kayu dan sisa kaca di bagian depan hancur berkeping-keping akibat berondongan peluru dari arah luar jalan.

"Jangan bertahan di lobby! Naik ke tangga darurat!" teriak Rendra, mengarahkan senter senapannya ke arah lorong hijau di sudut ruangan.

Mereka kembali memacu kaki menaiki anak tangga beton darurat. Dari arah bawah, gema suara langkah boots militer terdengar mengejar dengan ritme yang teratur dan konstan. Langkah kaki yang mantap, mantap, dan beriringan. Bukan seretan kaki monster liar yang kelaparan; mereka mengejar layaknya regu likuidasi yang sedang membersihkan target operasi.

Lantai dua terlewati. Lantai tiga. Mereka terus memaksa tubuh mereka mendaki tanpa jeda.

Damar sempat melongokkan kepalanya ke sela-sela pagar tangga bawah dan melihat salah satu tentara bermutasi melompat melewati pegangan besi pembatas dengan gerakan brutal namun terukur untuk memangkas jarak.

"Cepat naik! Mereka makin dekat!" bentak Damar.

Begitu rombongan berhasil menapakkan kaki di lantai lima, Kapten Rendra langsung berdiri di ambang pintu lorong dan menghentikan langkah. "Cukup! Kita gak akan kuat naik sampai atap. Tahan mereka di sini!"

Damar dan Alya dengan sigap memanfaatkan situasi. Mereka bahu-membahu mendorong sebuah lemari arsip besi tebal yang melintang di koridor, menjatuhkannya tepat di depan pintu masuk tangga sebagai barikade darurat. Sementara itu, Rudi dengan panik memukulkan pipa besi ke arah kepala *sprinkler* kebakaran di langit-langit hingga pecah, menyemburkan air bertekanan tinggi ke lantai semen.

"Kalau lantai ini basah, setidaknya manuver sepatu boots mereka bakal licin!" seru Rudi, napasnya tersengal-sengal.

Kapten Rendra berdiri di barisan paling depan, memosisikan tubuhnya di balik pilar beton dengan laras senapan yang mengarah lurus ke pintu tangga. Tatapannya dingin berwibawa, namun Damar yang berdiri tepat di belakangnya bisa melihat kilatan emosi yang lain di sudut mata pria paruh baya itu. Ada rasa pedih yang mendalam di sana. Monster-monster berseragam yang sebentar lagi akan dia bantai adalah orang-orang yang dulunya mungkin pernah bertukar rokok dan berbagi tawa dengannya di barak militer.

Dan beberapa detik kemudian, pintu tangga darurat itu jebol. Tentara bermutasi pertama muncul di ujung koridor dengan senjata teracung.

Kapten Rendra langsung melepaskan tembakan presisi.

*DUAR!*

Peluru menembus tepat di tengah dahi makhluk itu, menghancurkan batok kepalanya. Namun, bagian tubuh bawahnya yang dipicu oleh mutasi saraf gila masih sempat melangkah maju dua kali sebelum akhirnya ambruk menabrak lemari arsip.

"Sialan..." gumam Rendra, tangannya bergerak cepat mengisi ulang peluru.

Belum sempat mayat pertama jatuh sepenuhnya, tentara bermutasi kedua langsung melompati punggung rekannya sambil melepaskan berondongan tembakan balasan secara membabi buta.

*DUAR! DUAR!*

Peluru-peluru berkaliber mini itu menghantam permukaan pilar beton tepat beberapa senti di atas telinga Damar, menciptakan cipratan kerikil tajam yang menggores pipinya.

"Mereka beneran masih bisa gunain pelatuk!" teriak Alya panik, mencoba melindungi wajahnya di belakang lemari arsip.

Kapten Rendra membalas dengan tembakan beruntun. Pertempuran jarak dekat yang brutal dan bising pun pecah tak terhindarkan di lantai lima gedung perkantoran tersebut. Suara dentuman senapan bergema memekakkan telinga di dalam ruangan tertutup. Pecahan kaca jendela dan selongsong peluru beterbangan di udara, sementara ceceran darah hitam mulai mengotori dinding-dinding sekat ruangan.

Namun, matematika pertempuran tidak berpihak pada mereka. Jumlah lawan terlalu masif. Satu demi satu tentara bermutasi terus merangsek naik dari lantai bawah, merayap melewati celah barikade tanpa memperedulikan kematian rekan mereka yang bertumpuk. Mereka benar-benar tidak memiliki kalkulasi tentang rasa takut mati.

Tiba-tiba—

*BRAKK!*

Salah satu jendela kaca besar di sisi kanan koridor pecah berantakan dari arah luar. Semua orang sontak membeku.

Sesosok tentara bermutasi berhasil masuk ke dalam ruangan dengan cara melompat ekstrem dari atap gedung sebelah yang posisinya sedikit lebih tinggi.

"APA-—"

Belum sempat Damar menyelesaikan seruannya, makhluk itu sudah meluncur deras, menerkam tubuh seorang survivor pria di barisan belakang hingga terjerembap keras ke lantai. Tanpa ada jeda manuver, rahang monster itu langsung merobek sisi leher korban dengan gigitan yang sangat masif. Blood spray segar langsung menyembur, membasahi lantai semen. Rania yang melihat kejadian itu dari jarak satu meter langsung menjerit histeris hingga suaranya serak.

Kapten Rendra langsung memutar badannya, berlari mendekat, dan dengan sekuat tenaga menghantamkan popor senapannya ke arah pelipis monster tersebut hingga terdengar bunyi tulang retak. *BRAK!* Makhluk itu tersungkur ke samping.

Namun, sebelum Rendra sempat menegakkan kembali posisi tubuhnya, siluet tentara bermutasi lainnya mulai terlihat bersiap melompat dari celah jendela-jendela luar yang lain.

"Kita dikepung dari jalur luar gedung, Kapten!" teriak Rudi dengan suara melengking putus asa.

Situasi di lantai lima langsung berubah menjadi kekacauan total. Damar terpaksa mengayunkan kapak daruratnya, menebas lengan salah satu *infected* yang mencoba meraih kerah bajunya. Di sampingnya, Alya menggunakan sisa tenaganya untuk menghantam rahang monster lain dengan sebatang pipa besi tebal. Pak Rangga terus melepaskan tembakan pistol pendeknya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mendekap erat Rania di belakang punggungnya.

Namun, semakin detik berjalan, semakin jelas bahwa pertahanan mereka berada di ambang batas runtuh. Mereka kalah dalam segala lini jumlah dan posisi taktis.

Kapten Rendra mengedarkan pandangannya dengan cepat ke seluruh sudut ruangan yang mulai dipenuhi asap mesiu, lalu tatapannya terkunci pada celah jendela yang menghadap langsung ke arah kompleks bangunan sebelah. Dia langsung mengambil keputusan krusial.

"Kita potong jalur! Lompat ke atap gedung sebelah!" perintah Rendra keras.

Semua orang langsung menoleh dengan tatapan tidak percaya.

"Lo gila, Kapten?! Itu tinggi banget!" teriak Rudi di tengah deru tembakan.

"Bertahan di sini artinya lo menyerahkan diri jadi santapan mereka, Rudi! Pilih mana?!" gertak Rendra.

Jarak antar ambang jendela gedung ini dengan pembatas atap gedung sebelah berkisar sekitar dua meter lebih sedikit. Secara teori fisik, jarak itu masih mungkin dilewati dengan lompatan penuh. Namun, jika akurasi pendaratan mereka meleset beberapa senti saja... taruhannya adalah jatuh bebas ke jalanan aspal di bawah.

Namun, opsi itu tetap terasa jauh lebih rasional ketimbang harus tercabik-cabik oleh unit *super infected* di dalam koridor ini.

Kapten Rendra langsung menyergap tubuh Rania dari dekapan Pak Rangga, mengangkat bocah itu ke ambang jendela yang pecah. "Aku takut, Om... takut jatuh..." tangis Rania, seluruh tubuhnya gemetar dengan mata terpejam erat.

Pak Rangga ikut memanjat ke bingkai jendela, memegang kedua belah pipi putrinya dengan tatapan mata yang mendalam. "Dengar kata Ayah, Rania. Pegang Om Rendra yang kuat. Kamu pasti bisa. Jangan buka mata sampai mendarat."

Di belakang mereka, suara patahan lemari arsip besi menandakan barikade utama sudah jebol sepenuhnya. Suara langkah boots para tentara itu sudah berada di koridor dalam.

Damar menarik bahu Alya agar naik ke bingkai jendela sebelah kanan. "Kaki lo... kira-kira kuat buat tumpuan lompat, Al?"

Alya mengangguk kuat-kuat, walau gurat wajahnya tampak sangat pucat menahan rasa nyeri di pergelangan kakinya. "Gue sanggup, Mar. Jangan tinggalin gue."

Kapten Rendra melemparkan pandangan terakhirnya ke arah seluruh anggota tim yang tersisa. "Begitu kaki kalian menapak di seberang, jangan pernah berhenti buat liat ke belakang. Terus lari!"

Tepat pada detik itu, barisan tentara bermutasi berhasil merobek barikade besi terakhir dan berhamburan masuk ke dalam ruangan kantor dengan senjata terhunus.

"SEKARANG!! LOMPAT!!"

Pak Rangga menjadi orang pertama yang meluncur ke depan bersama dengan Rendra yang mendekap Rania. Tubuh mereka melayang sesaat di udara sebelum akhirnya mendarat dengan bunyi deburan keras, bergulingan di atas permukaan dak beton atap gedung sebelah.

Damar menyusul berikutnya, disusul oleh Alya yang melompat dengan ringisan menahan sakit. Rudi menjadi yang paling terakhir; langkah kakinya sempat tergelincir di bibir jendela hingga tubuhnya menggantung miring di udara, namun tangan kekar Damar berhasil menyambar pergelangan jaketnya di detik-detik kritis dan menariknya naik ke atas dak beton.

Di seberang celah gedung—

Kapten Rendra ternyata belum melompat. Dia masih berdiri sendirian di dalam ruangan kantor yang hancur, memosisikan dirinya sebagai tameng terakhir untuk menahan gerombolan yang merangsek maju.

*DUAR! DUAR! DUAR!*

Tiga sisa peluru terakhir di dalam magasin senapannya dimuntahkan dalam jarak dekat, menghancurkan dada dua tentara bermutasi sekaligus hingga tumbang. Namun, puluhan siluet berseragam lainnya sudah membanjiri ruangan dari arah pintu tangga darurat.

"KAPTEN! AYOH LOMPAT! JANGAN KONYOL!" teriakan Damar bergaung membelah jarak antar gedung.

Rendra menolehkan kepalanya sesaat ke arah Damar yang berdiri di seberang dak beton. Dan untuk pertama kalinya sejak hari pertama Damar bergabung dalam kelompok pelarian ini... dia melihat seulas senyum tipis, datar, namun penuh ketenangan terukir di wajah pria paruh baya yang keras itu.

"Bawa mereka pergi, Mar," ucap Rendra dengan intonasi yang sangat tenang.

Detik berikutnya, Rendra membalikkan tubuhnya dan melompat bebas melewati jendela. Langkah kakinya yang berat menghantam dinding pembatas luar gedung sebelah dengan benturan keras yang tak terhindarkan, sebelum akhirnya kedua tangannya berhasil disambar dan dicengkeram dengan sangat kuat oleh Damar dan Rudi secara bersamaan.

Dengan sisa tenaga yang hampir habis, mereka berdua menarik tubuh kekar sang kapten naik melewati pembatas dak beton. Mereka semua akhirnya tumbang, jatuh bergulingan di atas lantai atap dengan napas yang sudah putus-putus.

Di seberang celah bangunan yang memisahkan mereka...

Puluhan sosok tentara bermutasi tampak berdiri berjajar dengan kaku di sepanjang tepian jendela gedung yang pecah.

Mereka semua diam.

Tidak ada satu pun dari makhluk berseragam itu yang mencoba nekat melompat mengejar, tidak ada pula yang mengeluarkan raungan kemarahan atau desisan lapar. Mereka hanya berdiri tegak dalam posisi formasi yang rapi, mengarahkan sepasang mata putih kosong mereka lurus ke arah rombongan Damar yang terkapar di seberang. Mengamati dengan detail gerakan mereka.

Dan pemandangan statis itu justru terasa jauh lebih merusak mental ketimbang sebuah serangan brutal. Karena gestur itu mengonfirmasi satu hal: mereka tidak lagi bergerak atas dasar dorongan lapar yang instingtif. Mereka sedang mengalkulasi situasi. Mereka sedang berpikir.

Kapten Rendra perlahan-lahan menegakkan kembali tubuhnya yang memar, bersandar pada dinding pembatas beton sambil terus memandangi barisan mantan anak buahnya di seberang sana. Sorot matanya tampak sangat gelap dan redup.

"Sekarang... saya akhirnya paham betul apa yang sedang terjadi di kota ini..." bisik Rendra dengan nada suara yang hancur.

Damar ikut menoleh, menatap wajah sang kapten dengan dahi berkerut. "Maksud lo apa, Pak?"

Rendra mengetatkan kepalan tangannya yang bersarung tangan di atas beton hingga terdengar bunyi gesekan material yang pelan. "Struktur virus ini... fungsi utamanya dari awal bukan dirancang untuk menciptakan mayat hidup yang membusuk tanpa arah."

Angin malam yang berbau karat dan debu berembus dingin membelah keheningan di antara puing-puing distrik utara. Dan di bawah siraman cahaya pucat dari bulan yang mulai naik, sepasang mata para tentara bermutasi di seberang sana tampak memancarkan kilatan warna kuning samar yang ganjil, menyerupai sorot mata kawanan predator yang sedang mengunci posisi mangsanya dari kegelapan.

Kapten Rendra melanjutkan kalimatnya dengan intonasi yang sangat berat dan penuh keputusasaan:

"...Virus jahanam ini sedang memaksa ras kita berevolusi untuk menciptakan jenis peradaban militer yang baru."

Semua orang di atas atap itu mendadak terdiam, tidak ada satu pun yang sanggup mengeluarkan interupsi. Karena jauh di dalam lubuk hati mereka yang terdalam, mereka semua menyadari satu kebenaran yang teramat sangat mengerikan malam ini:

Kiamat yang sesungguhnya... baru saja dimulai dari tempat ini.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!