"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Saran Tia
"Gila! Benar-benar gila si Elang itu!" teriak Tia histeris dari seberang sana, terdengar suara gebrakan meja yang cukup keras. "Dia itu CEO startup terkemuka atau pria pecundang sih?! Bisa-bisanya dia lebih membela mantan pacarnya yang manipulatif itu ketimbang menjaga perasaan kamu sebagai istri sah yang baru dinikahinya semalam! Hanya karena ada anak, bukan berarti dia bisa menginjak-injak harga diri kamu dan membawa perempuan itu tinggal satu atap, Alin! Itu namanya kurang ajar!"
"Hatiku sudah terlanjur patah dari kemarin, Ti. Sejak melihat perempuan itu menggendong anak di depan pelaminan kita," ucap Alin lirih, senyum kecut terukir di bibirnya yang tanpa riasan. "Lagipula, Mas Elang tadi dengan sangat jujur menegaskan kalau dia masih mencintai mantan pacarnya. Jadi, semua harapan yang sempat aku susun sebelum menikah ... rasanya sudah menguap jadi abu."
"Alin, dengar aku baik-baik!" potong Tia, nadanya mendadak berubah menjadi sangat serius dan penuh kedewasaan seorang sahabat. "Kamu jangan sampai kalah dan menyerah begitu saja sebelum memberikan pelajaran yang setimpal buat mereka berdua! Mereka sudah bikin kamu dan keluarga besar kamu malu setengah mati di acara kemarin. Kalau kamu langsung mundur dan minta cerai sekarang, si pelakor itu yang bakal bersorak menang!"
Alin mengernyitkan dahi, mengubah posisi duduknya menjadi bersandar pada kepala ranjang. "Maksud kamu gimana, Ti? Aku harus bertahan di dalam lingkaran beracun itu?"
"Iya! Dan dengerin strategi aku. Kalau bisa, si pelakor itu jangan kamu usir atau biarkan dia pindah dulu dari rumah kalian!" sahut Tia bersemangat.
"Kenapa? Bukannya kalau dia ada di sana, rumah itu bakal jadi neraka buat aku?"
"Justru kebalikannya, Alin! Kalau perempuan itu tetap tinggal di sana, dia bakal berada di bawah pengawasan dan kendali penuh dari kamu sebagai nyonya rumah yang sah!" jelas Tia berapi-api. "Kalau kamu paksa pelakor itu keluar dari rumah sekarang, kamu bakal kesusahan memantau pergerakan mereka di luar sana. Mereka bisa saja sewa apartemen atau rumah mewah diam-diam dan malah makin bebas berselingkuh di belakang kamu. Tapi kalau dia ada di dalam rumahmu, kamu bisa melihat setiap gerak-gerik busuknya, kamu bisa membatasi ruang geraknya, dan kamu bisa menunjukkan siapa penguasa aslinya di rumah itu!"
Tia menjeda kalimatnya sejenak, suaranya melunak dipenuhi rasa ragu. "Tapi ... pertanyaannya sekarang kembali lagi ke diri kamu sendiri, Lin. Apakah kamu sanggup dan kuat kalau setiap hari harus melihat kemesraan suamimu dengan perempuan itu di depan mata kepalamu sendiri?"
Alin terdiam sejenak. Ia meremas ujung sprei kasur kamar tamu dengan cengkeraman yang sangat kuat, membayangkan wajah angkuh Elang dan senyum palsu Cindy. Namun, sedetik kemudian, binar matanya berkilat tajam—sisi barbarnya yang sempat ia tunjukkan pada Elang di koridor tadi kembali bangkit ke permukaan.
"Kalau masalah sanggup atau tidak ... aku pastikan aku sangat sanggup, Tia," jawab Alin dingin, tidak ada lagi nada rapuh dalam suaranya. "Rasa cintaku pada Mas Elang bahkan belum sempat tumbuh, jadi untuk apa aku menangisi pria yang hatinya cacat seperti itu? Aku sanggup menonton sandiwara mereka, dan aku akan memastikan mereka membayar mahal untuk setiap rasa malu yang aku tanggung semalam."
"Nah! Ini baru sahabatku yang tangguh!" seru Tia, merasa gemas sekaligus bangga mendengarnya. "Ingat ya, Lin, aku beri kamu dudukkan mental yang kuat sebagai sesama perempuan. Jangan sampai posisi istri sah kalah telak dengan pelakor murahan seperti dia. Pelakor zaman sekarang itu emang udah berasa jadi istri sah kelakuannya, baru dikasih hati sedikit langsung ngelunjak mau menguasai seluruh rumah! Kamu tunjukkan ke mereka, kalau di bawah wajah teduhmu, ada singa yang siap mencabik-cabik ketenangan mereka kalau mereka berani macam-macam!"
Alin tersenyum kecil, kali ini sebuah senyuman yang sarat akan rencana besar yang mulai tersusun rapi di dalam otaknya. "Terima kasih banyak, Tia. Omonganmu benar-benar membuka mataku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan setelah kondisi Nenek stabil nanti."
"Sama-sama, Sayang. Pokoknya kabari aku terus setiap ada perkembangan. Jangan mau diinjak-injak sama CEO sombong itu, mengerti?"
"Mengerti, Ti. Aku tutup dulu ya teleponnya, takut Nenek di kamar sebelah terbangun," ucap Alin sebelum akhirnya mengakhiri sambungan telepon tersebut.
Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu menyugar rambut panjang hitamnya ke belakang pundak dengan gerakan yang teramat mantap. Kamar tamu itu mendadak terasa tidak lagi dingin bagi Alin. Di dalam dadanya, api perlawanan telah menyala dengan sangat terang. Jika Elang mengira Alin akan kembali ke rumah baru mereka nanti sebagai istri yang pasrah dan penurut demi Nenek Aisyah, maka pria arogan itu harus bersiap menghadapi kejutan terbesar dalam hidupnya. Alin akan kembali, bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk menjadi penguasa yang memegang kendali atas rantai takdir mereka bertiga
Sementara itu, di ruang makan kediaman Nenek Aisyah yang luas dan berplafon tinggi, Elang masih duduk mematung sendirian di kursinya. Piring porselen di hadapannya baru tersentuh beberapa suap nasi putih tanpa lauk. Kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran meja kayu jati hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang mendidih di dalam dada.
Pria itu ditinggalkan begitu saja oleh Alin. Ditinggalkan dengan sikap yang menurutnya terlampau berani, angkuh, dan terang-terangan menantang posisinya sebagai seorang suami sekaligus kepala rumah tangga. Elang benar-benar tidak menyangka, bahkan tidak pernah membayangkan dalam skenario terburuknya sekalipun, bahwa gadis berusia dua puluh dua tahun yang ia kira lugu dan penurut itu bisa menjelma menjadi sosok yang begitu tajam. Kata-kata dingin Alin yang meremehkan martabatnya sebagai CEO masih terngiang-ngiang di telinga, menghancurkan seluruh harga diri lelakinya. Akibat konfrontasi yang menguras emosi itu, nafsu makan Elang seketika hilang menguap tanpa sisa. Hidangan sup iga sapi yang mewah di hadapannya kini terasa hambar dan memuakkan.
Di tengah kesunyian ruang makan yang mencekik, sebuah getaran panjang dari atas meja marmer memutus lamunan kasarnya. Ponsel pintar milik Elang berdering nyaring, memecah keheningan dengan kilatan cahaya layar yang berkedip-kedip. Elang melirik malas ke arah layar.
Cindy.
Melihat nama sang mantan kekasih tertera di sana, Elang menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Bahunya yang tegap tampak sedikit merosot, didera rasa lelah yang bertubi-tubi sejak semalam. Ia menggeser ikon hijau di layar, lalu menempelkan gawai itu ke telinganya.
"Ya, Cindy?" ucap Elang, berusaha menekan nada bicaranya agar terdengar sepadat dan setenang mungkin.
Bersambung ...