NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang rahasia?

Happy Reading ❤️

Seorang gadis nampak syok dengan apa yang berada dihadapannya. Manusia tak bernyawa itu membelalakkan matanya besar seakan melemparkan tatapan benci kearahnya. Tubuh gadis itu terpaku, ia tidak bisa bergerak bahkan hanya untuk memundurkan langkahnya pun terasa sangat begitu berat. Nafasnya pun tercekat, terhenti ketika melihat manusia seperti zombie itu mulai bangun dan merangkak dengan mengerikan berjalan menuju kearahnya. Mulutnya mengeluarkan banyak darah. Tubuhnya sempoyongan berjalan semakin dekat. Hingga wajah mereka bertemu dan saling berhadapan.

"SEMUA INI SALAH MU!"

Teriak orang itu dengan lantang membuat telinga siapapun yang mendengarnya akan merasa sakit. Gadis itu mencoba menjauhinya dan menutup telinganya yang terasa berdengung menyakitkan.

"KAU HARUS IKUT BERSAMA KU!"

Manusia mengerikan itu hendak mencekik leher sang gadis. Hingga tiba-tiba...

"HAH?!"

"Lo mimpi buruk?" Pertanyaan sederhana yang membuat sang gadis terkejut. Dahinya berkeringat dingin dan suhu tubuhnya tiba-tiba panas. Ia mencoba mengingat kembali, apa yang sudah terjadi.

"Tidurlah lagi, malam masih panjang" Ucapnya dengan santai sembari membaca sebuah buku. Gadis itu menoleh padanya.

"Jam berapa sekarang kak?" Tanyanya dengan suara bergetar.

"Jam satu malam, tidurlah lagi. Gue akan berjaga buat lo" Ujarnya dengan tanpa menoleh sedikitpun dari buku yang sedang dibacanya. Gadis itu kesal.

"Gak mau! Nanti mimpi buruk lagi!" Ia malah beranjak duduk.

"Tidurlah Lily. Lo gak mau dengerin gue?" Kini dia menatapnya dengan dingin seakan tak mau terganggu.

"Kak Zevan kemana aja si? Terus, kak Zevan kenapa waktu itu nyuekin aku, kak Zevan sebenarnya benci ya, sama aku?"

Mendengar beberapa pertanyaan itu, membuat Zevan sedikit bingung. Darimana gadis ini mempelajari pertanyaan bodoh seperti itu? 

"Ya. Gue emang benci sama lo, puas?" Dengan tanpa rasa bersalah ia mengucapkan hal itu kepadanya.

"Aku juga sama, benci kak Zevan! Apalagi...."

Mendengar ungkapan itu, lantas Zevan menoleh dengan cepat padanya. Raut wajahnya terlihat tidak suka dengan pernyataan tadi. Hei, dia pikir tadi gadis itu menyukai ungkapannya?

"Memang seharusnya seperti itu" Zevan pun merubah tampilan wajahnya seperti biasa lagi.

"Kak Zevan jahat!" 

"Lo bener-bener amnesia, Lily?"

Entahlah, kedua mata Zevan seakan menyala dikegelapan. Membuat nyali Lily menciut untuk menatapnya.

"Kalo begitu, kak Zevan boleh pergi dari kamarku. Kak Zevan gak perlu lagi jagain aku"

"Haha emangnya siapa juga yang mau jagain lo! Dasar bodoh! Gue melakukan semua ini atas dasar perintah papa!"

Lily tertegun mendengarnya. Ia merasa hatinya tertusuk oleh duri. Ia kadang tak faham dengan hatinya, Zevan memang seperti dicerita itu. Ternyata, semuanya mungkin akan berjalan sesuai alurnya.

"Lagi-lagi lo bikin suasana hati gue lebih buruk, kalau begitu urus aja hidup lo sendiri" Dengan sekali gerak, Zevan pun melangkah pergi meninggalkan Lily yang sedang mematung heran. Tak terasa, pipi gadis itu telah basah oleh air matanya.

"Kenapa kamu jadi dingin? Setelah kejadian malam itu... Aku seharusnya membencimu...." Monolognya ketika meraba kedua pipinya yang basah. Lagi-lagi dia terlihat seperti anak kecil yang tidak tau apa-apa.

•••••

"Hallo cantik! Udah siap belajar?"

Seorang gadis cantik yang sedang menggambar dibukunya pun terhenti ketika mendengar sapaan itu. Ia merasa kenal dengan suara yang dirasa tak asing ditelinganya. Perlahan ia pun mendongkrak menatap sang empu yang kini telah duduk dihadapannya.

"Kak Austin! Kok bisa disini?! Guru privat Lily kan ibu-ibu semua?!" Kagetnya ketika melihat sang pacar gadungannya datang ke kamarnya sebagai guru privat.

"Ssst!! Jangan keras-keras! Aku kangen kamu, kenapa gak sekolah?" Tanyanya sambil tersenyum lembut membuat sang gadis tak mau lama-lama melihatnya.

"Hm, aku keluar hehe" Jawabnya malu-malu.

"Kenapa pesan-pesanku tidak kau balas? Teleponku juga kenapa tidak dijawab? Kau tau, itu sungguh menyiksaku!" Ucapnya membuat Lily bingung harus menjawab apa. Toh mereka kan tidak ada hubungan apapun?

"Kak Austin aneh" Lily malah meneruskan gambarannya dibuku.

"Kamu gak kangen sama aku? Aku pacar kamu lho, masa gitu?" Austin meraih tangan Lily dengan lembut. Mendapati itu, Lily mengerutkan keningnya semakin heran. Kenapa Austin sebegitunya ngotot kalo mereka mempunyai hubungan?

"Kak? Kita gak pernah punya hubungan apapun" Ia menepis tangan Austin kasar membuat sang empu menggeram tak suka.

"Lily..."

"Mendingan kakak nyari cewe lain aja deh, lagian kan..."

"TIDAK! Itu tidak akan pernah terjadi! Tidak ada dalam kamus ku perempuan kedua! Tidak ada!" Dengan cepat Austin memotong ucapan Lily.

Lily yang heran lantas bertanya. "Kenapa kak Austin bisa suka sama aku? Jujur" Dengan tegap ia menghadap kearahnya. Menatap berani kedua bola mata sang pemuda. Pasalnya ia tidak merasakan ketulusan dari pemuda yang katanya mencintainya itu.

"Bukankah cinta itu tak perlu alasan?" Ucapnya sembari tersenyum miring dan terkesan mengintimidasi. Ia tidak suka ketika seseorang yang sedang berurusan dengannya tidak bisa ia kontrol seperti yang diharapkannya. Biasanya setiap gadis akan menuruti apapun kemauan dirinya untuk mencari muka termasuk gadis ini dulu. Namun semuanya berubah ketika hari itu. Bahkan bukankah dulu Lily senang membully Sarah? Seorang gadis yang sengaja ia dekati sebagai tameng dari rayuan Lily? Mengapa sekarang ia melepaskan dirinya begitu saja seperti tidak pernah terjadi apapun diantara mereka?

"Tidak. Kak Austin salah. Pepatah mengatakan, cintailah seseorang karena ada apanya, bukan apa adanya. Bohong jika seseorang itu mengatakan bahwa ia mencintai apa adanya, pasti akan selalu ada apanya. Entah itu dari fisik, harta, atau pun pribadinya yang unik"

"Waw!!! Kau bijak sekali dalam urusan cinta Lily! Kau sudah siap menikah?"

"Menjalin hubungan itu harus dengan persetujuan kedua belah pihak, bukan satu pihak!"

"Apa maksudmu?"

"Kak Austin dengan seenaknya bilang aku sebagai pacar ka Austin itu sepihak! Tanpa persetujuanku! Dan itu sebenarnya gak sah! Kak Austin gak mencintaiku dengan tulus"

"Jadiku tanya, apa yang kak Austin suka dariku?" Tanyanya dengan terus mendesak berharap mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini. Sebenarnya Lily yakin ada yang janggal dengan Austin, apakah jatuh cinta sesederhana yang ia pikirkan?

Sekejap Austin hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia sekarang sadar bahwa Lily tidak sebodoh yang ia duga. Entah saat ini gadis itu sedang berakting atau tidak, yang pasti Lily yang sekarang sudah tidak sama lagi dengan Lily yang ia kenal dulu. Ia memang kadang terlihat bodoh, tapi di satu sisi ia mempunyai jiwa sarkasme dan terlalu spontan. Sejujurnya, Austin tak dapat menjawab pertanyaan itu. Ia pun termenung, mengingat kembali ketika perasaannya dimulai...

POV Austin

Saat itu, aku tengah berjalan-jalan santai dikoridor sekolah. Sebenarnya diriku tengah memantau kondisi setiap sudut, jikalau nanti ada hal yang tidak wajar, aku bisa segera mengatasinya.

Lalu, tak sengaja. Saat aku sedang asik berjalan, sorot mataku terpaku pada seorang gadis cantik yang sedang berlari mengelilingi lapangan dengan wajah berbagai ekspresi. Pandanganku seakan terkunci untuk yang kesekian kalinya. Jujur, aku tak bisa mengalihkan perhatianku dari gadis itu. Bulu matanya indah lentik, mata berbinar, pipinya yang putih bersih chubby diwarnai rona merah muda, dan bibir mungil berwarna pink alami membuat darahku berdesir. Ada gejolak tak wajar menjalar di jantungku hingga berdegup lebih kencang dari biasanya. Sesaat, diriku menepis perasaan itu. Bukan. Bukan untuk itu aku mendekati gadis itu saat ini. 

Sesekali diriku menyunggingkan seulas senyuman yang tak pernah ku tunjukkan pada siapapun. Melihat wajah gadis yang terlihat polos itu membuatku semakin gemas. Dia bahkan dengan penuh percaya diri berlari dengan bertenggernya papan tulis memalukan dileher indahnya. Perlahan, aku menghampiri gadis itu. Sembari memberikan sebotol minuman ion penyegar tubuh untuknya.

"Kalo capek istirahat dulu aja" Ucapku mencoba memulai pembicaraan pada dirinya yang terlihat kelelahan memperlambat lariannya. Itu sudah jelas terlihat dari raut wajahnya yang cantik. Oh aku tidak bisa berhenti memuji kecantikannya. Ada apa dengan diriku ini?! Dasar bodoh!

"Hehe hai kak!"

Lihatlah! Dia membalas sapaanku dengan wajah se-ceria itu walaupun dirinya tengah kelelahan?! Dia tak berhenti membuatku kagum sekarang.

"Eh, i-iya kak! Aku masih kuat kok hehe!"

Apa-apaan ekpresi wajahnya itu? Kenapa dia tiba-tiba terlihat takut padaku?  Bukankah ia katanya tertarik padaku? Apa ada yang salah dengan penampilanku yang tampan ini? Ah atau dia mengetahui rencanaku? Tapi itu tidak mungkin. 

"Lily!" Aku mencoba memanggilnya dengan keras agar dia berhenti berlari. Namun dia malah mempercepat langkahnya. Apa dia ingin dikejar oleh ku? Benar-benar menggemaskan! Pikirku mulai gila. Dia sepertinya ingin bermain tarik ulur dengannku.

"Maaf ya kak, aku mau ke kantin dulu!"

Dengan cepat ia pun pergi meninggalkan diriku yang belum juga selesai bicara dengannya. Benar-benar membuat orang semakin tertarik. Walaupun aku sudah tau dengan pasti latar belakang keluarganya, tapi tentang karakter dirinya masih abu-abu. Aku merasa ada suatu perubahan terjadi pada dirinya. Tapi apa?

Aku akui, ada sesuatu yang salah dengan hatiku. Perasaan tak ingin jauh, serta ingin memiliki. Aku tak bisa menampik semua itu. Bahkan aku rela mengkesampingkan misi penting dalam hidupku hanya untuk gadis itu. Bukankah itu gila untuk dikatakan bahwa semua ini adalah jatuh cinta? Hanya dengan pandangan pertama kali saja bisa membuat orang seperti itu? Bukankah aku sering bertemu dengannya setiap hari di sekolah? Kenapa rasanya hari ini aku baru pertama kali melihatnya? Apa aku benar-benar sakit?

POV Austin Off

"Kak Austin?" Lily melambaikan tangannya sopan kedepan wajahnya. Ia mengerjap beberapa kali dan mendapati Lily yang dihadapannya tengah menatap bingung kearahnya.

"Kak Austin mendingan buru-buru pulang deh! Kalo papa tau, pasti marah" Ucapnya sembari melanjutkan gambarannya dengan anteng.

"Aku ingin kau tau sesuatu! Ikut aku!" Tanpa berkata apapun lagi Austin langsung saja menarik tangan Lily keluar kamar. Ia berjalan cepat pada arah yang tak diketahui oleh sang gadis.

"Ini kemana si kak? Kok aku asing banget sama lorong rumah ini?" Herannya sembari terus berjalan mengikuti yang didepan. Bukanya menjawab, Austin malah mempercepat langkahnya hingga ia pun tiba pada sebuah pintu kecil berukuran 1 meter². Lily mengerutkan keningnya heran lalu menatap Austin seakan meminta penjelasan.

"Ada ruangan lain dibalik pintu kecil ini" Ucapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Oh?" Serunya dengan berbinar-binar tanpa tau apa yang ada dibalik pintu itu.

"Kau suka? Bagaimana jika dibalik pintu ini adalah neraka?" Austin menoleh padanya.

"Gak mungkin! Ini pasti cuman pintu buat penyimpanan sampah aja" Sanggah Lily.

"Pintunya terkunci" Ucap Austin ketika hendak membukanya.

"Kak Austin sebenarnya lagi nyari apa?"

"Kunci"

"Kunci apa?"

"Pintu ini"

"Hm"

"Bisa bantu aku?"

Lily terdiam. Ia bingung harus bantu apa. "Aku bukan pawang pintu, jadi gak punya kuncinya".

"Menepi, aku akan merusaknya saja!"

Brak!!

Brak!!

"Iiih kak stop! Kalo papa denger terus dateng kesini gimana?! Habis aku" Risaunya ketika Austin menendang-nendang gagang pintunya hingga menimbulkan suara ribut.

"Gak bakal tenang aja!"

Bruak!!

Bruak!!

Braak!!

• • • • •

Tak lama, akhirnya pintu pun terbuka. Lily dibuat cengo saat melihat ada tangga kecil yang menjulur kebawah.

"Mau ikut?" Tanya Austin pada Lily yang masih kagum.

"Mau!" Jawabnya dengan semangat membara karena ikut penasaran.

"Ingat, apapun yang terjadi, jangan pernah berteriak! Oke!" Pesanya sebelum benar-benar turun.

"Oke!" Lily pun ikut turun kebawah mempercayai Austin.

Dibawah sana ruangannya sangat begitu pengap dan menyesakan. Banyak debu-debu dan hewan-hewan kotor berada disana.

"Kak! Aku takut kecoa!" Jeritnya pelan dan menempel pada bahu Austin seolah meminta perlindungan.

"Gapapa, kalo mereka mendekat, aku injak lagi!" Ujarnya lalu mengusap tangan Lily yang menggantung dibahunya.

"Iiii kejamnya! Tidak berperi kehewanan tau!"

Srekk!!

Srek!

Tiba-tiba, sesuatu bergerak dibalik tumpukan kardus-kardus lapuk. Dengan berani, Austin mendekatinya mencoba melihat apa yang ada dibaliknya.

"Uhuk!! Uhuk!"

Suara orang lain terbatuk-batuk. Lily dan Austin pun saling pandang, menyadari bahwa bukan hanya mereka yang berada didalam sana. Lalu, dengan perasaan semakin yakin, Austin pun segera menghampiri tempat asal suara batuk itu. Dan ternyata...

"Austin..."

"Papa"

• • • • •

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!