NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"

Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.

Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.

Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Perjamuan yang Membara

Setelah kejadian di museum, atmosfer di Mansion Tarkan berubah total. Hamdan benar-benar menerapkan "pengawasan 24 jam". Namun, kali ini Amora tidak lagi melawan dengan kemarahan. Ada kecanggungan yang manis sekaligus menyesakkan setelah pelukan di pinggir jalan malam itu.

Pagi ini, Zahra menyerbu kamar Amora dengan pasukan pelayan, penata rias, dan berkotak-kotak perhiasan.

"Hari ini adalah Perjamuan Teh Tahunan keluarga Tarkan," ujar Zahra sambil menarik Amora ke depan cermin. "Abang Hamdan secara khusus memerintahkanku untuk membuang semua baju lamamu. Dia bilang, 'Amora tidak boleh terlihat kurang dari seorang Ratu'."

Amora hanya bisa pasrah. Selama tiga jam, ia menjalani perawatan intensif. Rambutnya yang biasanya hanya diikat asal kini ditata menjadi sanggul modern yang elegan dengan beberapa helai jatuh membingkai wajah. Riasan wajahnya dibuat bold di bagian mata, menonjolkan sorot matanya yang kini terlihat lebih berani.

Puncaknya adalah saat Zahra mengeluarkan sebuah gaun couture berwarna emas pucat dengan aksen bordir tangan yang rumit. Gaun itu pas melekat di tubuh Amora, menonjolkan lekuk tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik baju longgar.

"Sempurna," puji Zahra. "Ayo, Abang sudah menunggumu di bawah."

Hamdan berdiri di kaki tangga utama, sedang menyesap kopi hitamnya sambil berbicara serius dengan Farid. Ia mengenakan setelan jas tiga potong berwarna arang yang membuatnya terlihat sangat berkuasa.

Suara langkah kaki di tangga kayu membuat Hamdan mendongak.

Deg.

Gelas kopi di tangan Hamdan hampir saja terlepas. Ia terpaku. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti bagi Hamdan Tarkan. Gadis "lusuh" yang ia temukan di pasar desa Sukawangi telah menghilang, digantikan oleh seorang wanita yang memancarkan keagungan kasta tertinggi keluarga Klan.

Amora berjalan menuruni tangga dengan hati-hati, tangannya sedikit gemetar memegang clutch emasnya. Saat ia sampai di anak tangga terakhir, Hamdan masih tidak bersuara. Ia hanya menatap Amora dengan intensitas yang bisa membuat siapa pun meleleh.

"Kenapa? Apa riasannya terlalu berlebihan?" tanya Amora gugup.

Hamdan meletakkan gelasnya ke meja samping, lalu melangkah mendekati Amora. Ia berhenti tepat di depan Amora, aroma parfum black oud-nya yang maskulin langsung menyelimuti Amora.

"Kau..." Hamdan menggantung kalimatnya. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat menyentuh dagu Amora, memaksanya untuk menatap matanya. "Kau membuatku ingin membatalkan perjamuan ini dan mengunci pintu mansion rapat-rapat agar tidak ada pria lain yang bisa melihatmu seperti ini."

Wajah Amora memerah panas. "Tuan Tarkan yang kaku ternyata bisa merayu juga?"

Hamdan tidak tersenyum. Tatapannya justru berubah menjadi gelisah. "Ini bukan rayuan, Amora. Ini peringatan. Jangan jauh-jauh dariku malam ini. Karena jika Farr Burhan atau pria lain mencoba mendekat..." Hamdan mendekatkan bibirnya ke telinga Amora, "...aku tidak menjamin bisa bersikap sopan."

Hamdan kemudian menyodorkan lengannya. "Mari, Tuan Putri."

Amora menyambut lengan kokoh itu. Mereka berjalan menuju ruang perjamuan.

Aula perjamuan Mansion Tarkan telah disulap menjadi taman dalam ruangan yang dipenuhi wangi melati dan suara denting harpa. Namun, keindahan itu tidak mampu menenangkan kegelisahan Hamdan. Meski tangannya merangkul pinggang Amora, matanya terus menyapu ruangan dengan waspada.

"Tuan Hamdan, selamat atas kesuksesan ekspansi Anda ke Eropa," seorang kolega menyapa, mencoba mengalihkan perhatian Hamdan.

Hamdan menjawab sekadarnya. Fokusnya hanya satu: Amora yang kini menjadi pusat perhatian. Banyak mata pria yang memandang Amora dengan penuh minat—sebagian kagum, sebagian lagi menyimpan rencana.

Tiba-tiba, kerumunan tamu terbelah. Farr Burhan melangkah masuk dengan senyum yang terlalu lebar untuk ukuran seorang kawan. Ia langsung menuju ke arah mereka, mengabaikan tatapan mematikan dari Hamdan.

"Hamdan, kau benar-benar menyembunyikan berlian paling berharga di mansion ini," ujar Farr. Ia beralih pada Amora dan membungkuk dalam. "Nona Amora, mawar di gaunmu sangat indah, tapi tidak sebanding dengan pemakainya."

Hamdan semakin mengeratkan rangkulannya pada pinggang Amora. Ia bisa merasakan tubuh Amora yang sedikit menegang.

"Farr, nikmati saja hidanganmu," potong Hamdan dingin.

Farr tertawa pelan. "Oh, aku akan menikmatinya. Tapi aku juga membawa sesuatu yang spesial. Sebuah janji untuk berdansa dengan 'Mawar Klan' kita malam ini."

Mendengar itu, Hamdan melakukan sesuatu yang mengejutkan seluruh tamu. Ia melepaskan genggamannya pada pinggang Amora, namun hanya untuk merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil.

"Amora, aku lupa memberikan ini tadi," ujar Hamdan dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka, termasuk Farr.

Ia membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin emas putih bertabur berlian dengan desain klasik yang sangat elegan. Kilau berliannya seolah menantang lampu kristal di langit-langit aula.

"Ini adalah pusaka keluarga Tarkan yang hanya diberikan kepada wanita yang paling berharga dalam hidup seorang Tarkan," ucap Hamdan sambil menarik tangan kanan Amora dan menyematkan cincin itu di jari manisnya.

Amora terpaku, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ini bukan sekadar perhiasan; ini adalah pengakuan publik. Di depan semua tamu, termasuk Farr Burhan yang kini wajahnya sedikit mengeras, Hamdan baru saja "menandai" Amora sebagai miliknya.

"Nah, Farr," Hamdan menatap Farr dengan kemenangan yang dingin. "Sepertinya 'Mawar' ini sudah memiliki pemiliknya untuk berdansa sepanjang malam."

Suasana aula seketika menjadi riuh rendah oleh bisikan para tamu. Tindakan Hamdan memberikan cincin pusaka di depan umum bukan sekadar pemberian hadiah, melainkan sebuah pernyataan perang bagi siapa pun yang berani mendekati Amora.

Farr Burhan hanya tersenyum kecut, meski matanya berkilat tidak puas. "Langkah yang cerdas, Hamdan. Kau selalu tahu cara mengunci pintu sebelum tamu lain masuk," sindir Farr sebelum akhirnya memilih mundur ke kerumunan sosialita lainnya.

Amora menatap cincin yang melingkar di jarinya. Beratnya berlian itu terasa nyata, namun beban emosional di baliknya jauh lebih berat. "Abang... kenapa melakukan ini di depan semua orang?" bisik Amora, wajahnya masih memerah.

Hamdan tidak langsung menjawab. Ia membawa Amora menuju balkon yang lebih sepi, jauh dari denting gelas dan musik harpa. Ia berdiri di belakang Amora, membiarkan tubuhnya yang hangat menjadi pelindung dari angin malam.

"Karena aku lelah melihat mereka memandangmu seolah kau adalah barang pajangan yang bisa ditawar," suara Hamdan rendah, kini terdengar lebih jujur daripada kaku. "Cincin itu adalah pesan bagi dunia: bahwa kau berada di bawah perlindunganku sepenuhnya."

Amora berbalik, menatap mata Hamdan yang kini tampak gelisah di bawah rembulan. "Hanya perlindungan? Atau ini cara lain untuk mengurungku, Hamdan?"

Hamdan terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar namun lembut mengusap punggung tangan Amora yang kini berhias berlian. "Mungkin keduanya. Aku tidak bisa membiarkanmu hilang lagi, Amora. Tidak setelah tujuh belas tahun aku mencarimu."

Tiba-tiba, dari arah aula, Zahra berlari kecil mendekat dengan wajah sedikit panik. "Abang! Farid baru saja menelepon. Dia menemukan sesuatu di gudang tua milik Bibi Nadia. Sesuatu yang berkaitan dengan stempel keluarga Klan."

Ekspresi Hamdan seketika berubah. Sisi "kulkas dua pintunya" kembali muncul dengan seketika. Ia melepaskan tangan Amora dan menatapnya dengan serius.

"Masuklah ke kamar dengan Zahra. Jangan lepaskan cincin itu. Aku harus pergi menemui Farid sekarang."

Amora ingin protes, tapi Hamdan sudah melangkah pergi dengan langkah cepat yang berwibawa, meninggalkan Amora yang kini dipenuhi tanda tanya besar.

To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!