NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baiklah..

Suasana aula kampus siang itu terlihat cukup ramai oleh suara para panitia event yang sibuk membahas berbagai persiapan acara.

Beberapa mahasiswa terlihat duduk melingkar sambil membuka laptop dan map proposal, sementara sebagian lain mondar-mandir membawa konsumsi dan perlengkapan rapat.

Di bagian tengah ruangan, Rhea duduk bersama beberapa panitia inti sambil memperhatikan rundown acara yang sedang dijelaskan.

“Untuk bagian media partner nanti kita pastikan lagi minggu depan,” ucap salah satu panitia sambil menunjuk catatan di depannya. “Karena masih ada dua pihak yang belum kasih konfirmasi.”

Rhea mengangguk kecil sambil menulis sesuatu di buku catatannya.

Di sebelahnya, Dito duduk sambil sesekali membantu menjelaskan pembagian tugas kepada panitia lain. Sesekali pria itu mencondongkan tubuh untuk menunjukkan beberapa revisi rundown kepada Rhea, membuat beberapa mahasiswa lain mulai saling melirik kecil penuh godaan.

“Dito sama Rhea serius banget dari tadi,” celetuk salah satu panitia sambil tertawa kecil. “Cocok sih kalau dijadiin ketua sama wakil sekalian.”

“Iya tuh,” sahut yang lain cepat. “Dari tadi duduknya juga sebelahan terus.”

Rhea langsung mendongak sambil mengernyit kecil.

“Kalau rapat fokusnya gosip terus ya?” ucapnya datar sambil menutup bukunya pelan.

Ruangan langsung dipenuhi tawa kecil.

Sementara Dito hanya tersenyum samar sambil menggeleng kecil melihat tingkah panitia lain yang semakin ramai menggoda mereka.

“Sudah, lanjut fokus rapat,” ucap Dito akhirnya tenang.

Beberapa saat kemudian suasana kembali serius membahas acara, meskipun sesekali candaan kecil masih terdengar di sela-sela pembicaraan mereka.

Hingga tiba-tiba... bunyi getaran ponsel di atas meja membuat perhatian Rhea teralihkan di tengah suasana rapat yang masih ramai oleh suara diskusi para panitia.

Gadis itu menunduk sekilas ke arah layar ponselnya yang menyala di samping buku catatannya. Dan seketika wajahnya berubah sedikit kaku.

Dosen Menyebalkan.

Entah kenapa, hanya melihat nama itu saja sudah cukup membuat suasana hatinya langsung berubah sejak tadi. Padahal beberapa menit lalu ia masih sempat tertawa mendengar candaan panitia lain.

Rhea langsung mengambil ponselnya lalu membuka pesan tersebut perlahan.

-Rhea datang ke ruangan saya.

Singkat. Tidak ada basa-basi. Sama seperti biasanya.

Tatapan Rhea tertahan beberapa detik di layar ponselnya sebelum akhirnya jemarinya mulai mengetik balasan singkat.

-Maaf pak saya masih ada rapat.

Ia menekan tombol kirim cepat lalu buru-buru meletakkan kembali ponselnya di atas meja, berusaha kembali fokus pada pembahasan acara di depannya.

Namun tak butuh waktu lama...layar ponselnya kembali menyala.

Rhea refleks menoleh lagi.

-Setelah rapat.

Dada Rhea langsung terasa sedikit sesak sendiri. Ia mengembuskan napas pelan lalu menggigit bibir bawahnya kecil sebelum kembali mengetik.

-Maaf pak, saya mau langsung pulang saya ada acara.

Kali ini balasannya tidak langsung datang. Dan anehnya, justru itu yang membuat Rhea semakin gelisah.

Tatapannya beberapa kali turun sendiri ke arah layar ponselnya yang masih diam. Sementara di sekelilingnya suara rapat tetap berjalan seperti biasa, membahas dekorasi, rundown, hingga pembagian tugas panitia. Namun pikiran Rhea sudah mulai tidak fokus ke mana-mana.

Hingga beberapa saat kemudian...layar ponselnya kembali menyala pelan. Rhea langsung membukanya cepat.

-Baiklah.

Hanya satu kata. Singkat. Datar. Tidak memaksa. Tidak juga terdengar marah.

Namun justru karena itu, dada Rhea terasa semakin tidak nyaman. Alisnya mengernyit kecil sambil menatap layar ponselnya lebih lama.

“Ini orang kenapa ngeselin banget sih…” batinnya pelan.

Entah kenapa ia justru lebih bingung melihat Arga bersikap santai seperti itu. Tidak menahan, tidak memaksa, bahkan tidak mengomel seperti biasanya.

Rhea akhirnya mematikan layar ponselnya lalu mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi.

Namun sejak saat itu pikirannya benar-benar tidak lagi tenang.

Rhea meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dengan gerakan sedikit kasar, lalu membetulkan posisi duduknya. Ia menarik napas panjang, berusaha keras memusatkan seluruh perhatiannya kembali ke pembahasan di depan mata, meski rasanya sangat sulit. Matanya memang menatap ke arah teman-temannya, tapi pikirannya entah sudah melayang ke mana.

Di sisi lain meja, salah satu panitia sedang menjelaskan revisi konsep dekorasi sambil menunjuk beberapa desain di layar laptopnya. Suara diskusi terdengar saling bersahutan, memenuhi ruang aula yang luas itu.

“Kalau warna backdrop nya terlalu gelap begini, nanti panggungnya malah kelihatan sempit,” ucap seorang gadis sambil mengerutkan kening menilai sketsa di layar.

“Iya juga,” sahut temannya di sebelah. “Lagipula pencahayaan di sini memang kurang terang. Kalau dasarnya udah gelap, nanti suasananya malah jadi suram kan?.”

Rhea membuka kembali buku catatan di hadapannya, jari-jarinya menyusuri halaman yang penuh tulisan. Ia memegang pulpennya cukup erat, berusaha menjaga fokusnya tetap di sini.

Tapi tak bisa dipungkiri, matanya beberapa kali beralih curi-curi ke arah ponsel yang layarnya sudah mati diam di samping tangan kanannya.

“Rhea?”

Panggilan Dito membuatnya menoleh cepat, jantungnya sempat berdegup kencang karena kaget.

“Hah? Iya?” jawabnya agak tergagap, matanya berkedip-kedip menyadarkan diri.

Dito menatapnya sambil tersenyum tipis, terlihat tahu kalau gadis itu tak benar-benar mendengarkan. “Kamu kenapa gak fokus begitu. Kamu dengar yang kita bahas kan?.”

Rhea buru-buru merapikan posisi duduknya, berusaha terlihat wajar. “Dengar kok, Mas.”

“Terus pendapatmu gimana?” tanya panitia yang duduk di seberang. “Kamu kan biasanya paling peka soal tampilan begini.”

Rhea diam sejenak, berusaha mengingat potongan pembicaraan yang sempat tertangkap telinganya. Ia mengusap ujung pulpennya pelan, lalu menjawab dengan nada tenang dan tegas.

“Menurutku, backdrop nya jangan dibuat terlalu ramai atau penuh hiasan. Konsep acara kita kan isinya udah padat, ada penampilan, ada pembicara, dan lain-lain. Kalau latarnya juga penuh warna dan ornamen, nanti yang nonton malah jadi pusing dan fokusnya pecah.”

Beberapa orang langsung mengangguk setuju.

“Nah, bener juga,” sahut salah satu teman sambil menepuk meja pelan. “Lebih baik simpel aja tapi elegan, biar pusat perhatiannya tetap ke panggung.”

Rapat kembali berjalan lancar. Sesekali terdengar candaan ringan, terutama saat pembagian tugas mulai dibahas.

“Terus urusan konsumsi sama survei katering siapa yang ambil?” tanya seseorang sambil mencatat poin baru.

“Dito aja yang urus,” jawab salah satu teman dengan cepat.

“Kenapa aku lagi?” protes Dito sambil tertawa kecil.

“Ya soalnya siapa lagi yang paling cocok keliling survei makanan kalau bukan kamu? Ajak aja Rhea.” celetuk seorang gadis sambil tersenyum jahil. “Berdua kan lebih enak, nanti makanannya bisa dicoba bareng-bareng.”

“Setuju! Sambil jalan-jalan dikit tuh!” seru yang lain menimpali.

Rhea langsung mendecih pelan, wajahnya sedikit memerah karena jadi bahan omongan lagi. Ia mengambil botol plastik mineral kosong di meja lalu melemparnya pelan ke arah mereka.

“Kalian ini rapat kerja apa cari bahan gosip sih?” serunya kesal, meski ujung bibirnya sedikit tertahan naik. “Nggak beres-beres juga kerjanya.”

Ruangan itu kembali riuh oleh tawa kecil.

Namun di balik ekspresi kesal dan senyum yang ia tunjukkan, di dalam hatinya Rhea sama sekali belum tenang. Ada sesuatu yang masih mengganjal dan tak mau hilang.

Entah kenapa, satu pesan singkat yang dikirimkan Arga tadi terus berputar di kepalanya, menempel erat dan tak mau lepas. Satu kata yang terlalu biasa, namun entah mengapa terasa begitu dingin dan membuat rasa bersalah di dadanya makin membesar tanpa sebab.

-Baiklah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!