Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah menyelesaikan urusan dapur, yakni memasak hidangan untuk mertua dan suaminya.
Masakan pagi yang sederhana namun lezat, dan memastikan ibu mertuanya makan dan minum obat.
Melina pamit ke kamarnya, untuk mengerjakan tugas kuliah.
Tugas kuliah mengenai ekonomi era Renaissance dalam bahasa Inggris sudah menunggunya.
"Mah aku ke kamar dulu ya, mau ngerjain tugas," ucap Melina.
"Oh ya, nanti piring biar pelayan aja yang nyuci," ucap Adisti tersenyum.
"Mama juga minum obat, besok mau kontrol...," kata Melina.
"Iya makasih ya," ujar Adisti.
Jujur saja sebenarnya Melina membutuhkan ketenangan untuk kejadian tadi di jalan, rasanya hati ini masih sakit saat Ihsan menghinanya di depan banyak orang.
Melina melangkahkan kakinya ke kamar baru yang di tempatinya, letaknya di dekat taman belakang----dekat kamar tamu.
Ishan baru saja selesai jogging dan segera ke dapur membuka kulkas, untuk mengambil air minum.
"Kamu baru pulang San?" tanya ibunya.
"Iya Mah," ucap Ishan dengan napas terengah-engah.
Adisti hanya menghela napas melihat putranya, "yaudah kamu duduk dulu, abis itu mandi dan makan," kata Adisti.
"Iya Mah," sahut Ishan dengan napas terengah-engah.
Mata Ishan menatap masakan yang ada di atas meja.
"Mah kok masakannya begini?" tanya Ihsan menatap heran campur jijik.
"Kamu cobain dulu," ucap Adisti menatap putranya yang biasa makan dengan masakan mewah.
Ihsan hanya menghela napas, dan sempat bertanya siapa yang memasak.
Namun, Adisti mengaku jika dirinya dan Bi Nisa---hal ini di lakukan agar Ihsan tak lagi mencaci istrinya.
Ihsan mencoba dengan sendok makanan di atas meja, ikan dan tempe.
Seketika lidahnya merasakan cita rasa yang enak, sungguh baru kali ini Ihsan makan masakan rumahan.
Padahal ihsan sendiri tak tahu jika yang masak itu adalah istrinya.
Setelah makan Ihsan segera ke lantai atas menuju kamarnya.
Di kamarnya, Ihsan langsung masuk kamar mandi lalu menyalakan shower, dan mandi di bawah guyuran air shower.
Deg.
Hatiku mengatakan jika tadi masakan dibuat oleh istrinya, karena dari bumbu dan rasa itu sangat khas.
Jika Bi Nisa rasanya berbeda, sedangkan ibunya---Adisti sangat suka memasak makanan Eropa yang rasanya hambar.
Hanya rosemary, lada dan garam.
Ihsan memejamkan matanya di bawah guyuran air shower yang hangat, dirinya mengingat bagaimana saat menindih Melina.
"Melina Khairunisa...," ucapnya lirih.
Ihsan tanpa sadar menyebut nama istrinya, hal yang tak pernah dilakukan selama menikah.
Setelah selesai mandi Ishan melangkahkan kakinya menuju cloting closet memilih baju santai.
Ihsan mengambil pakaian, tangannya meraih kaos lengan pendek berwarna biru dan celana pendek kargo hitam sampai lutut.
Rambutnya yang ikal masih basah, memberikan kesan segar.
"Mel!" panggil Ihsan tanpa sadar memanggil istrinya.
"Mel sisir di taruh mana?" tanya Ihsan.
Ucapan Ihsan terhenti saat membuka pintu kamar utama, dan mendapatkan ruangan kosong tanpa Melina.
Melina tak ada lagi di kamar ini setelah Ishan kemarin mengusirnya dengan kasar, melempar barang-barangnya.
Sunyi dan sepi.
Ishan terduduk di tepi ranjang king size yang semalam menjadi saksi bagaimana dirinya mengusir Melina dengan kasar.
Seketika bayangan wajah Melina yang menangis saat di tampar dan di pukul dengan tangannya, sekaligus hinaan yang diterima Melina di depan Livia kembali muncul.
Tangan Ishan tiba-tiba memegang dadanya, lalu merasakan perasaan bersalah yang tak terduga.
"Melina...," ujar Ishan lirih.
Namun, tiba-tiba Ishan memukul kepalanya sendiri entah rasa bersalah atau rasa tak suka pikirannya selalu memikirkan istrinya.
"Kenapa gue jadi mikirin dia terus, sih?" gumam Ishan dengan kesal sambil memukul kepalanya.
Menghela napas panjang, lalu memutuskan mencari keberadaan Melina----untuk meminta maaf atau setidaknya melihatnya.
Pria itu memutuskan keluar kamar lalu menuruni anak tangga satu per satu.
Matanya melihat Bi Nisa di ruang tengah, wanita itu tengah sibuk menyapu lantai bersama pelayan lainnya.
"Bi!" panggil Ishan, lalu Bi Nisa menoleh ke belakang.
"Iya, Den? Ada apa?" tanya Bi Nisa sopan.
Bi Nisa mendekat sambil membawa kemoceng di tangannya.
"Kamar Melina di mana ya? Soalnya... ada barang saya yang tanpa sengaja terbawa olehnya," ujar Ishan berbohong.
Ishan berusaha memberikan alasan yang logis untuk mengetahui di mana kamar yang di tempati istrinya, setelah dirinya mengusir Melina kemarin.
"Oh kamar Non Melina, aden lurus aja ke lorong sana. Kamarnya dekat taman belakang," jawab Bi Nisa tanpa sedikit pun rasa curiga.
"Oke, makasih Bi."
Ishan berjalan dengan langkah cepat dan berhati-hati, langkahnya menuju lorong dan ada taman belakang.
Lalu langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berwarna putih, tanpa mengetuk perlahan membuka pintu dan masuk ke dalam.
Ishan menutup pintu dengan pelan, matanya melihat pemandangan istrinya sedang duduk di lantai.
Menggunakan sofa sebagai meja untuk laptop dan buku-bukunya.
Punggungnya menghadap membelakangi pintu, sehingga tak menyadari ada Ishan yang masuk kamarnya.
Melina terlihat fokus dengan tugas kuliahnya, jari-jemarinya menari di atas keyboard laptop, dengan banyak website terbuka.
"Bi Nisa ya?" ucap Melina tanpa menoleh, mengira pelayan itulah yang datang.
Matanya masih fokus akan tugas kuliahnya.
"Baju kotor nanti saya cuci sendiri aja Bi, Bi Nisa bantu mama aja."
Ishan berdiri mematung di belakang, dan untuk pertama kalinya dirinya melihat sisi Melina.
Melina terlihat sopan, kuat dan mandiri, perlahan senyum tipis yang tak di sadari terbit di bibirnya, melihat bagaimana cara Melina bicara dan bekerja.
"Oh ya Bi, Mama siang ini harus minum obat, ya.Tolong diingatkan kalau saya lupa."
Melina terus bicara tanpa menyadari itu bukan asisten rumah tangga yang biasanya akrab dengannya, melainkan suaminya.
"Soalnya besok saya sekalian habis pulang kuliah mau antar Mama kontrol ke dokter," lanjut Melina lagi dengan suara lembutnya.
Hati Ishan berdesir hebat, di saat dirinya terus menerus menyiksa bahkan menyakiti Melina.
Justru istrinya tetap memikirkan kesehatan ibunya dengan sangat tulus.
Ternyata rasa kagum dan bersalah kini seolah menyatu hebat di dalam dada pria itu, pilihan ibunya sudah benar.
Pilihan Adisti dalam memilih istri.
*
*
*
*
*
*
*