NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09 Bulan Madu

Nandini menarik ritsleting koper. Ia sudah selesai berkemas pakaiannya untuk bulan madu esok. Sebelumnya ia sudah merapikan kebutuhan Santaka. 

Pakaian serta kebutuhan milik Nandini dan sang suami, dimasukkan ke dalam koper yang sama. Latihan nyata menjadi istri salihah, telaten mengurus suami. Terasa seperti ospek baginya.

Santaka tersenyum simpul. “Dhuh, istriku telaten tenan.”

“Opo tho Gus, ndak ada siapa-siapa juga. Jangan akting lagi. Ndak capek akting terus?” Nandini mencibir.

“Siapa yang akting, Mbak? Kan ini upaya saya bikin Mbak nyaman. Biar rasa cinta di antara kita bisa tumbuh. Ini tanggung jawab saya.”

Nandini menyelipkan kepalanya ke bawah bantal. Frustasi. Bukannya ia tak suka dengan perlakuan manis laki-laki. Ia bisa terjebak dalam hubungan beracun dengan Alex juga karena manisnya mulut dan sikap Alex.

Masalahnya hati Nandini belum rela dengan pernikahan ini. Hatinya belum menerima jika kini ia adalah istri seorang gus—yang walaupun ganteng—tapi bukan sosok yang ia idamkan sebagai suami.

Santaka menipiskan bibirnya. Istrinya ini hobi sekali menguji imannya. Aksi stress Nandini itu terlihat menggoda baginya. Menungging di kasur dengan kepala tersembunyi bantal. 

Santaka memilih berwudu kemudian membaca mushaf. Berdoa, memohon kemudahan dari Allah agar ia bisa menjadi imam yang baik. Dan pastinya, meminta kelembutan hati istrinya. Bisa legowo dengan statusnya saat ini.

*

*

Santaka menarik kopernya menuju garasi mobil Ndalem. Nandini berjalan di sampingnya. Ia menengadahkan tangan kepada sang suami. Santaka mengernyitkan alisnya.

“Kenapa Mbak, mau minta jajan?”

“Ck, bukan. Biar saya yang panasin mobil. Please Gus, saya belum megang mesin berhari-hari. Hidup saya kosong Gus. Tolonglah saya...” Nandini bersikap dramatis.

Santaka tersenyum simpul. “Ada syaratnya. Mbak Dini boleh panasin mobil, tapi nanti Mbak Dini harus turutin permintaan saya. Gantian.”

Nandini memanyunkan bibirnya. “Segitunya tho Gus, perkara panasin mobil tok.”

“Yo wis, kalau ndak mau.” Santaka berjalan ke arah mobilnya.

Nandini memejamkan matanya. Gimana caranya aku bisa nyaman sama kamu, Gus, kalau apa-apa jadi modus?

“Iya, Gus Taka, kita tuker permintaan. Mana kunci mobilnya.” Dengan langkah menghentak Nandini menyusul Santaka.

Santaka tersenyum lebar. “Silakan, Mbak.” Nandini mengambil kunci itu dengan kasar. Mulutnya meruncing. 

Sang gus menggelengkan kepalanya. Ia berharap strateginya bertukar permintaan bisa sedikit demi sedikit melembutkan hati istrinya. Menerima pernikahan mereka.

Nandini memutar kunci kontak. Berada di dekat mesin, membuat suntuknya agak menguap. Ia membuka kap mobil. Mengecek kesiapan mesin sebelum perjalanan ke tempat bulan madu.

Santaka memasukkan koper ke dalam bagasi. Ia menghampiri istrinya di depan mobil.

Ahsan yang melintas di dekat garasi, menghampiri Nandini. “Dini...”

Santaka mengerutkan dahi melihat kehadiran Ahsan dan mendengar panggilan sang sepupu terhadap istrinya. “Mbak Dini, Gus Ahsan. Tolong dijaga adabnya.”

Santaka menggelengkan kepalanya. Sepupunya ini memang kurang adab. Membuatnya semakin tak suka saja.

Ahsan hanya tersenyum miring. “Enak ya Gus, mau jalan ada yang ngecekin mesinnya. Fii amanillah, semoga ada dalam lindungan Allah, Gus Taka, Mbak Dini.” Ahsan mengurungkan niatnya untuk mengajak ngobrol Nandini, si ukhti montir cantik. Ada pawangnya. Pawang yang klemer-klemer.

Nandini tersenyum ke arah Ahsan. Berusaha menghargai saja. Bagaimanapun lelaki itu sepupu suaminya.

Santaka menatap geram kepergian sepupunya. Ia selalu dianggap pemberontak hanya karena tidak mengajar di pondok. Padahal ada sosok yang liar di dalam pondok, bahaya latennya lebih nyata. Sepupu Santaka, Ahsan.

*

*

Santaka melirik istrinya yang tampak sibuk mengunyah. Pipinya membulat. “Enak, Mbak?” 

“Enak, Gus.” Nandini meringis sampai giginya terlihat. “Terima kasih ya, sudah bikinin bekel roti bakar seenak ini.” 

“Saya bisa buatin itu buat Mbak selamanya. Itu tekad saya sejak awal bisa masak. Saya akan senangkan perut istri saya dengan keahlian saya.”

Nandini menunduk dan menggigit bibirnya. Ini lagi ngasih informasi apa ngerayu sih. Samar-samar kedengerannya.

Santaka menarik rem tangan mobilnya. Mereka telah tiba di tempat bulan madu. Tawangmangu. 

Dari sekian banyak destinasi wisata, Danendra memberikan paket glamping bagi mereka. Sungguh pengertian—bagi Santaka—namun sangat mengerikan bagi Nandini.

“Masih muat makanan lagi ndak Mbak? Kita makan sate kelinci dulu.”

“Gas, Gus!” Dengan ceria, Nandini turun dari mobil. Santaka tersenyum. Lucu juga istri dadakannya itu.

Sate kelinci sukses menjadi pengikat mereka di pagi menuju siang itu. Santaka dan Nandini mengobrol ringan sambil mengunyah daging lembut binatang bergigi besar itu. 

Obrolan mereka seputar Al Fatih, bengkel Surbakti dan toko kue Santaka. Topik umum saja namun suatu kemajuan bagi sepasang suami istri yang masih asing itu.

Setelah kenyang mereka menuju ke air terjun Grojogan Sewu. Ada lebih dari seribu anak tangga yang masih harus mereka titi. 

Nandini dan Santaka menuruni anak tangga menuju air terjun. Tiba-tiba Nandini berseru, "ayo Gus, lomba, yang kalah joget depan Gus Yasa.” Nandini langsung berlari, mencuri start.

Santaka langsung mengejar istrinya. Mereka tiba hampir bersamaan, dalam derai tawa. Santaka menubruk tubuh Nandini.

“Dhuh, ini tempat luas, pake nubruk saya. Modusmu, Gus!” semprot Nandini. Santaka tergelak.

“Saya menang! Gus, joget ya nanti depan Gus Yasa. Pasti mukanya langsung kayak batu, kaku, liat Gus joget, hahaha...”

“Saya sengaja kalah. Saya ndak rela Mbak Dini joget depan laki-laki lain.” Santaka tersenyum simpul. Nandini mencebikkan bibir. Ia memalingkan wajahnya dari sang suami.

“Gus, saya copot rok ya. Repot tenan ini.” Nandini menggunakan rok panjang dan tunik. Satu set dari sekian set baju yang disediakan Lastri untuknya.

“Jangan... nanti saja di kamar.” Santaka tersenyum usil. 

“Hihh... kenapa jadi ke kamar? Saya pake celana legging kok. Panjang. Jadi ketutup.”

Santaka menipiskan bibir. “Menurut Mbak Dini pakai legging di tempat umum, sesuai syariat ndak?” Nandini terdiam. Kepalanya perlahan menggeleng.

“Nah sudah tau kan alasannya apa. Jadi nanti saja kalau mau dicopot... di ka-mar.” Santaka tersenyum sambil mengangkat alisnya. 

Nandini merengut. Kamar lagi. Ampun modusmu, Gus. Alimnya cuma depan orang, aslinya otaknya berkabut.

Jangan bayangkan tiket glamping yang diberikan Danendra adalah glamping di semacam villa. Kakak kedua Santaka itu memesankan paket Korean Glamping. Tidur di tenda modern.

Nandini melongo melihat tenda itu. Tempat tidurnya—yang langsung menjadi fokus utama Nandini— terdiri dari dua kasur tunggal disatukan. Ada dua bantal dan dua selimut. Tak ada guling! 

“Gus Nendra, uangnya kurang apa gimana, ndak kuat nyewa glamping villa?” Nandini mencibir. Santaka terkekeh.

“Biar kita makin deket maksudnya, Mbak.” Santaka mengerlingkan netranya. Ternyata Danendra benar-benar ingin membuat dirinya makin dekat dengan Nandini.

Nandini memutar bola matanya. Ia memilih keluar. Udara tenda terasa pengap baginya.

Karena modelnya adalah tenda maka buang hajat atau mandi menggunakan fasilitas umum. Santaka kukuh mengantar Nandini mandi sebelum Magrib. 

Pria itu sudah mandi duluan. Nandini tadi asyik makan sisa roti bakar buatan Santaka.

“Saya bisa sendiri, Gus.”

“Ndak, takutnya nanti ada yang ngintip.” 

Nandini mencebik. “Aman lah. Saya juga pasti cek cek dulu.”

“Ya ndak apa-apa. Lebih aman kalau ada saya,” tutur Santaka kalem.

“Malah saya khawatir, Gus yang ngintip.” Nandini memiringkan bibirnya. Santaka tergelak.

“Mbak, sampeyan baru kasih saya inspirasi.” Santaka menaik-turunkan alisnya. 

Nandini mendelikkan matanya. Ia langsung berlari. Santaka mengejarnya sambil tertawa kecil.

Malamnya, Santaka membuatkan makan malam berupa mie instan rebus. Jangan bayangkan mie instan standar warmindo. 

Dengan keahlian memasaknya, ia membuat racikan dari berbagai saus yang dibawa khusus dari rumah. Ditambah chili oil buatannya sendiri, cita rasa mie instan buatan Santaka adalah next level.

Nandini tersenyum tipis. Ia bagaikan putri yang dilayani oleh Santaka. Tak ada yang pernah memperlakukannya semanis ini.

Santaka menawari menyuapi Nandini. Alasannya sunnah. Nandini menolaknya. Alasannya, repot. Sungguh alasan yang sangat duniawi.

Hobi tenan sih, Gus, suap-suapan. Nandini risih. Santaka kadang-kadang mengelus bibirnya kalau menyuapi. Merinding Nandini dibuatnya.

Santaka tersenyum simpul melihat istrinya makan dengan lahap. Berarti masakannya cocok di lidah Nandini. Semoga ini bisa melembutkan hati gadis itu.

Setelah selesai salat Isya di dalam tenda, mereka bersiap tidur. Nandini merengut. Tak ada guling bagai tak ada perisai pelindung dalam berperang.

“Kenapa tho Mbak?” Santaka menghamparkan selimut di kakinya. Udara Tawangmangu makin malam makin dingin.

“Ndak ada guling, Gus. Inget janji sampeyan, ndak ada begitu-begitu sampai saya siap. 

Jadi jangan macem-macem ya malem ini. Dhuh, kasurnya sempit lagi.” Bibir Nandini mengerucut.

“Kalau pemanasan sebelum begitu, berarti boleh?” Santaka tersenyum usil.

“Boleh... boleh ditampar.”  Nandini menjulurkan lidahnya. Santaka terkekeh. Rasa gemas terhadap sang istri kembali berdesir di hatinya.

Mereka akhirnya tertidur dalam balutan selimut masing-masing. Semakin larut, dingin semakin mengigit. Menelusup ke celah tenda.

Nandini membuka matanya. Ia terdiam. Ia merasa mendengar detak jantung halus di telinga kirinya. 

Beban terasa melingkar diagonal dari punggung ke pinggul. Bantalnya empuk, empuk yang berbeda.

Mata Nandini mengerjap. Setelah kesadarannya pulih, ia terduduk cepat. Bagaimana bisa ia jadi tertidur di pelukan Santaka??

1
Nanik Arifin
jangan jatuh hati ma Syifa, Boy. sama Fiona aj. Syifa muna. Ning tapi suka munafik, bungkusnya doang yg baik. 11, 12, ma Gus Ahsan. cocok deh.
Inna Kurnia: kita jodohin aja apa ya, Syifa ama Ahsan 🤔🤔😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
Nanik Arifin
baby blues ini Ning Rini. harusnya Gus Agam berperan agar baby blues g berlanjut, kasihan bayinya
Inna Kurnia: betul bgt Kak Nanik, ning rini depresi abis lahiran ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!