NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Pelarian dari Black Forest menyisakan luka yang dalam, baik pada raga maupun jiwa klan serigala. Di dalam sebuah gua tersembunyi yang terkubur di bawah jaringan akar pohon kuno, sisa-sisa kawanan Joan mencoba mengatur napas dan beristirahat.

Udara di dalam gua terasa lembap dan dingin, namun bagi Joan, hawa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa terbakar di dalam dadanya.

​Luka tembak dari peluru partikel perak nano milik Unit H.A.R.T di bahunya mulai menghitam. Energi antivirus dari Lucian di dalam tubuhnya terus bekerja seperti jutaan tentara mikroskopis yang berperang melawan racun kimia yang mencoba mengkristalkan aliran darah Alpha-nya.

Di bawah pengaruh racun dan kelelahan ekstrem setelah menahan seluruh penderitaan dunia, kesadaran Joan akhirnya runtuh juga. Ia ambruk di atas hamparan lumut kering dan tenggelam ke dalam kegelapan yang pekat.

​Namun, kegelapan itu tidak membawa kedamaian padanya. Kegelapan itu justru menarik jiwanya mundur menembus koridor waktu yang tak berujung.

​Joan membuka matanya dan mendapati dirinya tidak lagi berada di gua yang dingin. Ia berdiri di atas sebuah bukit yang megah di bawah langit malam yang bersih tanpa polusi.

Di atas sana, bulan tidak berwarna merah, tapi berwarna perak murni yang memancarkan cahaya begitu lembut sampai menghangatkan kulitnya. Dunia di sekitarnya tampak asing, sebuah peradaban kuno dengan kuil-kuil batu putih yang menjulang tinggi yang dikelilingi oleh hutan-hutan yang belum terjamah oleh tangan manusia.

​"Indah, bukan?"

​Sebuah suara yang sangat ia kenali terdengar dari belakangnya. Joan berbalik dengan cepat. Di sana di atas altar batu yang dikelilingi bunga-bunga malam ada seorang wanita yang sedang duduk sambil menatap bulan. Wajahnya adalah wajah Selena. Namun, ada perbedaan yang mencolok. Matanya tidak memancarkan kekosongan ilahi yang kejam seperti dewi di stratosfer dan juga tidak memiliki ketakutan seperti Jessy. Matanya penuh dengan kedamaian, kebijaksanaan, dan cinta yang murni.

​Ia mengenakan gaun sutra perak dan di tangannya, ia memegang sebuah mahluk kecil berbentuk serigala yang terbuat dari untingan cahaya murni.

​"Selena?" panggil Joan.

Ia mencoba melangkah lebih dekat, tapi kakinya terasa berat, seolah ia hanya sebatas hantu yang dipaksa menonton sebuah proyeksi masa lalu.

​Wanita itu tidak menoleh padanya dan pandangannya tetap tertuju pada mahluk cahaya di tangannya. Joan menyadari bahwa wanita ini bukan sedang berbicara kepadanya, tapi sedang berbicara pada memori yang tersimpan di dalam ruang waktu.

​"Manusia terlalu rapuh, Riven," ucap wanita itu lembut.

​Dari balik bayang-bayang kuil, seorang pria melangkah maju. Itu Riven yang memakai pakaian zirah kuno yang dihiasi ukiran perak. Wajahnya tampak lebih muda dan bebas dari guratan penyesalan yang ia miliki di masa sekarang.

​"Mereka terus diburu oleh mahluk-mahluk malam, Adikku," jawab Riven. "Jika kita tidak memberikan mereka perlindungan pada manusia, peradaban manusia yang baru lahir ini akan musnah sebelum mereka sempat berkembang."

​Wanita itu, sang Pencipta dalam wujud aslinya ribuan tahun lalu, tersenyum sedih. Ia meniup mahluk cahaya di tangannya dan membiarkannya terbang dan membelah menjadi ribuan kunang-kunang perak yang melesat jatuh ke bumi.

​"Aku telah membagi setetes Darah Bulan ke dalam tubuh manusia-manusia pilihan," bisiknya. "Mereka akan memiliki taring untuk mencabik kegelapan, kecepatan untuk melampaui badai, dan insting untuk melindungi sesamanya. Mereka akan menjadi pelindung fana. Aku menamai mereka kaum serigala."

​Joan terengah-engah mendengar kalimat itu. Jurnal ibunya tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Kutukan serigala pada awalnya bukanlah sebuah eksperimen biologi yang gagal, itu adalah sebuah hadiah kasih sayang dari sang Pencipta untuk melindungi manusia yang lemah.

​Namun, pemandangan indah itu mendadak berputar dengan cepat. Langit perak berubah menjadi merah marun. Kuil-kuil putih runtuh dan terbakar oleh api yang membubung tinggi.

Suara jeritan, lolongan penuh keserakahan, dan denting pedang memecah keheningan masa lalu.

​Joan mendapati dirinya berada di tengah medan pertempuran yang mengerikan. Manusia-manusia serigala yang diciptakan untuk menjadi pelindung justru berdiri di atas tumpukan mayat manusia biasa.

Mata mereka yang dulunya memancarkan kesetiaan sekarang berubah menjadi emas yang haus darah dan kekuasaan.

​"Kita adalah predator sejati! Kita bukan anjing penjaga bagi mahluk fana yang lemah!" teriak seorang Alpha kuno yang wajahnya sangat mirip dengan Lucian.

Di tangannya, ia memegang sebuah pedang hitam yang menyerap cahaya sekitar, Void-Bringer.

​Di depan altar yang telah hancur, Sang Pencipta berdiri dengan gaun yang telah ternoda oleh darah ciptaannya sendiri. Di sampingnya, Riven bersimbah darah sembari memegang dadanya yang terluka.

​"Kalian mengkhianati tujuan awal kalian," suara Sang Pencipta tidak lagi lembut, suara itu mulai mengeras, bergetar dengan amarah.

"Aku memberikan kalian kekuatan untuk melindungi bukan untuk menindas."

​"Kekuatan ini milik kami sekarang!" raung Alpha kuno itu. "Kami telah membentuk Dewan. Kami yang akan mengatur dunia ini dan kamu hanyalah sejarah yang harus dikurung!"

​Joan melihat bagaimana kaum serigala purba itu menggunakan Void-Bringer untuk menyerap energi Darah Bulan dari Sang Pencipta secara paksa dan mencoba merantainya ke dalam keabadian yang menyiksa.

Di tengah pengkhianatan itu, Sang Pencipta menatap Riven, kakaknya, dengan air mata perak yang mulai mengalir untuk pertama kalinya.

​"Jika keteraturan tidak bisa dijaga dengan kasih sayang," desis Sang Pencipta dan tubuhnya mulai memancarkan pendaran liar yang meretakkan bumi di bawah mereka, "Maka aku akan membagi diriku. Aku akan mengutuk kekuatan kalian dengan benang perak rasa sakit dan aku akan kembali sebagai manusia yang lupa hingga hari di mana kalian membuktikan bahwa kalian layak untuk dimusnahkan."

​Dengan satu ledakan energi yang membutakan, memori itu pecah menjadi jutaan serpihan kaca.

​"Joan! Bangun, Joan!"

​Joan tersentak dan matanya terbuka lebar. Napasnya memburu dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah panik Jessy yang sedang mengompres keningnya dengan kain basah.

Di belakang Jessy, Riven sedang memeriksa luka di bahu Joan yang anehnya pendaran hitamnya telah berhasil menekan racun perak tersebut.

​Joan mencengkeram lengan Riven dengan erat dan membuat Riven sedikit meringis.

​"Aku melihatnya, Riven," bisik Joan.

"Aku melihat awal dari semuanya. Aku melihat pengkhianatan Dewan pertama kali. Aku melihat alasan kenapa Selena membagi jiwanya menjadi dirimu, dirinya, dan Jessy."

​Riven tertegun, lalu perlahan menurunkan pandangannya.

"Gema masa lalu selalu kembali pada mereka yang memegang Antivirus, Joan. Sekarang kamu tahu, bukan? Kebencian Selena pada kita tidak lahir dari kekosongan. Kebencian itu adalah warisan dari luka yang kita berikan padanya ribuan tahun lalu."

​Jessy menggenggam tangan Joan yang lain dan mencoba menyalurkan kehangatan manusianya.

"Tapi itu bukan salahmu, Joan. Itu bukan salah kawanan kita yang sekarang."

​Joan menggelengkan kepalanya yang masih terasa pening. "Bagi Selena, kita semua sama, Jessy. Setiap kali kita melolong karena insting liar dan setiap kali kita membunuh manusia, kita hanya mengulang sejarah pengkhianatan itu di kepalanya. Dia tidak sedang menghancurkan dunia karena dia jahat, tapi dia sedang mencoba menghapus trauma masa lalunya."

​Joan perlahan berdiri, meskipun tubuhnya masih terasa lemah. Pengetahuannya tentang masa lalu tidak membuatnya membenci Selena, itu justru membuat penyesalannya sebagai seorang Alpha semakin dalam.

Ia sekarang memahami bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan kiamat ini bukan dengan menghancurkan takhta Selena, tapi dengan menyembuhkan luka yang selama ini merantai jiwa Sang Pencipta dalam lingkaran kebencian.

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!