NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Sci-Fi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:52.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Arka melangkah menuruni tangga tepat saat pintu depan terbuka, menampakkan sosok Yuda yang tampak letih bersama Kenan yang mengekor di belakangnya.

Yuda, yang raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran, segera menghampiri putra sulungnya begitu mereka berpapasan di ruang tengah.

"Gimana keadaan ibu kamu?" tanya Yuda langsung tanpa basa-basi, suaranya terdengar berat dan penuh kecemasan.

Arka tersenyum tipis, mencoba menenangkan ayahnya agar tidak terlalu panik di depan anggota keluarga yang lain.

"Nanti bisa kita bicara, Yah. Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Arka pelan, memberikan kode bahwa ada hal serius terkait kondisi psikis ibunya yang tidak bisa dibahas di ruang terbuka.

Yuda hanya mengangguk mengerti, meskipun rasa ingin tahunya terpancar jelas dari matanya yang lelah. Ia menghela napas panjang dan memilih pamit ke atas untuk melihat istrinya secara langsung.

"Ayah! Aira ikut!" Aira, si bungsu, merengek ikut sambil berlari kecil mengejar langkah Yuda. Ia menarik ujung kemeja ayahnya, tidak mau ditinggal di bawah bersama kakak-kakaknya. Yuda pun akhirnya luluh dan menggandeng tangan kecil Aira untuk bersama-sama menuju kamar Kirana.

Sementara itu, Kenan mendekat ke arah Arka. "Ada masalah serius, Bang?" tanya Kenan pelan, menyadari gelagat Arka yang tidak biasa.

"Nanti saja, Ken. Bantu Zayn dulu di sana, aku mau ke dapur lihat Lilis," sahut Arka singkat sambil menepuk bahu adiknya.

Arka melangkah menuju dapur, aroma sup ayam yang sedap langsung menyambutnya. Ia melihat Lilis sedang menata mangkuk di atas meja bersama Tiara. Dengan langkah tenang, ia mendekati istrinya.

"Sayang, sudah selesai masaknya?" tanya Arka lembut.

Lilis menoleh dan tersenyum, meski gurat kelelahan sedikit terlihat di wajahnya. "Sudah, Mas. Gimana keadaannya Ibu?"

"Sudah baikan. Tadi sudah Mas cek sebentar, tapi memang butuh istirahat total," jawab Arka menenangkan. Ia lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu mandi.

"Mandi dulu yuk, sudah sore juga."

Tiara yang sedang mencuci tangan di wastafel langsung menoleh sambil tertawa kecil mendengar ajakan abangnya itu.

"Yah, mau mandi aja ngajak Lilis,"

Arka mendengus pelan, menatap adiknya dengan tatapan mengejek balik.

"Apaan sih kamu. Ya nggak masalah dong, Abang punya istri cantik," balas Arka bangga, membuat pipi Lilis merona seketika.

"Kamu tuh jangan dilama-lamain sama yang datang kemarin."

Wajah Tiara langsung berubah menjadi cemberut.

"Sudah, ayok Mas. Aku juga sudah nggak nyaman pakai baju ini," ucap Lilis pelan, ingin segera berganti pakaian karena sejak tadi ia memang merasa gerah setelah berkutat di depan kompor.

Arka terkekeh, lalu merangkul pundak Lilis menuju kamar mereka di lantai atas, meninggalkan Tiara yang masih mengomel sendirian di dapur.

Setelah makan malam keluarga selesai, suasana rumah menjadi lebih tenang. Tiara mulai menyiapkan nampan berisi sup ayam hangat dan air putih untuk dibawa ke kamar ibunya.

" biar aku saja yang antar makan buat Ibu ke atas," ucap Tiara sambil memegang pinggiran nampan.

Lilis segera menghampiri dan mengambil alih nampan tersebut dengan lembut. "Biar aku saja, Tiara. Pasti kamu sudah capek dari tadi siang sudah jaga Ibu terus lanjut masak, aku juga sekalian mau lihat kondisi ibu. Tadi belum sempat" kata Lilis.

Tiara tersenyum lega dan mengangguk. "Ya sudah kalau begitu. Makasih ya,Lilis."

Sementara itu, Arka dan juga ayahnya, Yuda, pergi ke teras belakang rumah. Udara malam yang sejuk menyambut mereka saat mereka duduk di kursi rotan yang menghadap ke arah taman kecil.

Di teras belakang, keheningan menyelimuti Arka dan Yuda untuk waktu yang cukup lama. Hanya terdengar suara jangkrik dan embusan angin malam yang menerpa pepohonan. Arka menunduk, menatap kosong ke arah lantai, sementara Yuda menyesap kopinya perlahan, menunggu putranya membuka suara.

"Yah... Ibu tadi cerita kalau dia mimpi bertemu Ayah Arya," ucap Arka memecah kesunyian, suaranya terdengar berat.

Yuda tertegun, cangkir kopi di tangannya tertahan di udara sejenak sebelum ia letakkan kembali ke meja. Sorot matanya berubah menjadi sulit diartikan, ada sedikit gurat luka yang coba ia sembunyikan.

"Ibu bilang, sosok Ayah Arya melambai ke arahnya. Ibu merasa itu sebuah pertanda," lanjut Arka. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan serius.

Yuda menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke kursi rotan. "Mimpi itu... Ayah tahu Ibu masih sangat menghargai kenangannya bersama Arya. Dan Ayah tidak pernah mempermasalahkan itu."

Yuda menatap Arka dengan sungguh-sungguh. "Sampai kapan pun dia tetap Ayah kalian. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di hati kalian ataupun Kirana. Tapi Ayah juga di sini berperan menggantikannya, menjaga kalian, dan memastikan rumah ini tetap utuh," ucap Yuda.

Arka terdiam, rasa bersalah sempat melintas karena ia merasa pembicaraan ini mungkin menyinggung perasaan pria yang telah membesarkannya itu. Ia segera membalas dengan tulus.

"ayah sudah seperti ayah kandungku sendiri, Yah. Arka tidak pernah membeda-bedakan. Justru karena Arka sayang sama Ayah dan Ibu, Arka jadi sangat takut kehilangan salah satu dari kalian."

"Ketakutanmu itu wajar, Arka," sahut Yuda lembut.

"Ketakutan hanya akan membuat pikiranmu keruh, padahal saat ini Ibu butuh kamu yang paling tenang di antara kami semua."

Yuda menatap tajam ke depan, ke arah kegelapan taman belakang seolah sedang menembus masa depan.

"Nasehat Ayah, jangan biarkan dirimu larut dalam kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Tugas kita sebagai laki-laki di rumah ini adalah menjadi tiang. Kalau tiangnya goyah karena ketakutan, bagaimana dengan yang lain?"

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. "Urusan umur dan mimpi itu rahasia Tuhan. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memberikan yang terbaik selagi Ibu masih ada di depan mata kita. Buat dia merasa tenang, buat dia merasa dicintai, dan jangan tunjukkan wajah cemasmu itu di depannya."

Arka mendengarkan setiap kata itu dengan saksama. Nasehat dari pria yang selama ini menjadi sosok pengganti ayahnya itu perlahan-lahan meruntuhkan bongkahan kecemasan yang sempat membeku di hatinya. Arka sadar, ia harus kuat bukan hanya sebagai dokter, tapi sebagai seorang anak.

Setelah Arka berpamitan untuk masuk ke dalam, Yuda masih bergeming di kursinya. Ia kembali menatap langit malam yang kelam, mencoba mencari ketenangan di antara bintang-bintang yang bersembunyi.

Sebenarnya, hati Yuda tidak sekuat kata-kata yang baru saja ia sampaikan kepada Arka. Di balik ketenangannya sebagai kepala keluarga, ada ketakutan besar yang menghimpit sesak di dadanya. Yuda merasa tidak akan sanggup jika harus kehilangan Kirana, istri tercintanya, sosok yang telah mengisi hari-harinya dengan warna yang indah selama bertahun-tahun.

"Tidak, Kirana hanya demam biasa. Hanya kecapekan," gumamnya pelan, mencoba membuang jauh-jauh pikiran buruk yang menghantuinya.

Namun, pertahanan itu runtuh perlahan. Tanpa bisa ditahan, setetes air mata mengalir di sudut matanya, membasahi pipi yang mulai berkerut dimakan usia.

"Ayah nangis?"

Suara mungil itu mengejutkan Yuda. Ia segera menghapus air matanya dengan kasar dan menoleh ke arah pintu teras. Di sana berdiri Aira, putri bungsunya, yang menatapnya dengan wajah polos penuh rasa ingin tahu.

"Eh, putri Ayah," jawab Yuda dengan suara yang sedikit serak, mencoba tersenyum sealami mungkin.

"Ayah nggak nangis, Sayang. Tadi cuma kelilipan kena angin malam. Kok kamu turun? Siapa yang jagain Ibu di atas?"

"Ibu udah selesai makan sama Kak Lilis tadi. Terus Ibu suruh Aira manggil Ayah. Katanya Ibu mau bicara sama Ayah."

Yuda menarik napas dalam, mencoba menormalkan kembali perasaannya. Ia menggendong Aira dan mencium keningnya. "Ya sudah, ayo kita ke atas temui Ibu."

1
Melki
menceritakan kehidupan sehari"
suka aja sama ceritanya.
Melki
next...
sitanggang
terlalu lebay dan bodoh ceritanya
Siti Masriati
Arka lohhhh, berkali-kali bikin salah yg sama, maaf thor jd kesel 🤭
Nice1808
trnyata arka bukan hnyq dokter tapi pemilik minimarket👍👍👍mantap lis km brhenti jadi gurupun gak akan kelaparan🤣🤣🤣
Melki
semangat 💪💪
Melki
next kak
Melki
tegas juga Lilis....👍
Sri Supriatin
tks up 2 babnya Thor 🙏🙏💪💪
Nice1808
Arka mah aneh baca pesan cemburu sampai diam kyk gitu, ditanya baik2 ke lilis atai gmna buka langsung diam😃
Melki
kok sedih rasanya.....
Aidil Kenzie Zie
berarti cinta Kirana sama mending suaminya lebih besar y dari pada k Yuda 🤔🤔🤔
Wardah Saiful
bagus ceritanya semamgat thor❤️💪
Sri Supriatin
tks upnya thor n sehat selalu 🙏🙏🙏
Melki
next
Arin
Hati-hati dokter Arka..... itu udah ada bibit wanita penggoda...... Yang mulai mendekat. Awal memberi perhatian dengan membuatkan kopi..... Lama-lama kalau tidak menolak dan membiarkan seolah memberi harapan. Kasih tau dia kalau dirimu tidak sendiri lagi.... udah beristri
Melki
next....
Arin
Iya tuh firasat suami..... harus hati-hati Lis dengan anak Pak Yasir si Elham.... Kayaknya dia ada perasaan kepadamu 😁😁😁😁
Shabrina Darsih
blm upfate lg cerita nya ya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴢʜͫᴀᷴɴͫɢᷴ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
syafa kamu kasian sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!